RESENSI: Ketika Emak Memakai Celana Dalamku

IMG_20180218_174216

 

Saya bukan pembaca yang baik, itulah mengapa saya sering bertanya-tanya apakah “suka membaca” masih pantas disematkan dalam kolom “hobi”. Saya sering gagal bertahan membaca sampai selesai buku-buku bagus semacam How The World Works (Noam Chomsky), Emotional Intelligent (Daniel Goldman), Hari-Hari Terakhir Socrates (Plato), atau Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (Peter Carey).

Kadang, saya memang berhasil bertahan membaca sampai selesai buku-buku recommeded seperti beberapa karya Kahlil Gibran, Muhammad-nya Karen Armstrong, Bahkan Malaikat Bertanya (Jeffrey Lang), atau buku-buku Emha Ainun Nadjib. Tapi jujur, sedikit saja esensi yang berhasil saya pahami dari buku-buku tersebut. Seperti buku-buku Kahlil Gibran yang saya baca ketika SMA; saya menikmati kata-katanya, namun tak begitu memahami apa maksudnya. Apalagi jika mengingat kecepatan baca saya yang rendah; jangan ditanya betapa ingin rasanya saya bakar buku-buku itu, mencampurkan abunya ke dalam air, lalu meminumnya. Namun, sensasi marem dan padhang ketika berhasil menyelesaikan satu buku atau bahkan ketika hanya berhasil menyelesaikan beberapa lembar saja, tetapi mendapat berkah dengan menemukan satu-dua mutiara makna, adalah salah satu alasan mengapa saya selalu memilih berlama-lama di toko buku daripada masuk toko baju.

Alasan lain, karena ada buku-buku yang pilihan kata-katanya manis, rangkaian kalimatnya mudah dipahami, alur kisahnya mengalir, namun berhasil mengajak saya menyelami dunianya tanpa harus merasa kehabisan napas. Sekaligus menghidangkan bercangkang-cangkang kerang yang mengandung mutiara untuk dibawa ke permukaan—jika bersedia menguaknya, tentu. Buku ini, Ketika Emak Memakai Celana Dalamku, adalah contoh dari buku-buku yang membuat saya bertahan untuk tetap memasukkan “suka membaca” ke dalam kolom “hobi”.

Saya meminjam buku yang diterbitkan oleh Indie Book Corner tahun 2017 ini dari kakak perempuan saya—kebetulan adalah sahabat sang penulis, Ahmad Zaenudin. Emak adalah tokoh sentralnya, dan judul yang kontroversial itu membuat saya langsung bertanya-tanya, “Apa gerangan yang terjadi dalam kehidupan Emak, sehingga kolu (tega) memakai celana dalam anak lelakinya? Atau ini cuma konotasi?”. Setelah membacanya, saya jadi mengerti bahwa hidup Emak (dan anak-anaknya) memang tidak mudah, bahkan bisa dikatakan pahit dan berat. Seperti tokoh “Ibuk” dalam novel Ibuk karya Iwan Setyawan, Emak harus mengokohkan kuda-kuda kakinya agar tak mudah tumbang oleh gempuran nasib, mengembangkan kedua sayapnya untuk melindungi anak-anaknya, dan menggerakkan paruhnya dengan cekatan untuk memberi makan anak-anaknya. Sedikit spoiler, Emak adalah seorang single parent dengan banyak anak.

Meski sama-sama berjuang demi anak-anaknya, tapi Emak berbeda dengan tokoh “Ibuk”, atau tokoh-tokoh ibu yang digambarkan “manis” dalam banyak cerita. Emak menghadapi gelombang kehidupan in Roald Dahl’s way. Ada aroma kejahilan kreatif dan kebulatan tekad di situ, setidaknya demikian kesan saya saat membacanya. Tokoh-tokoh dalam cerita Roald Dahl (penulis Charlie and The Chocolate Factory dan The Big Friendly Giant yang populer itu) selalu punya solusi out of the box dan tak jarang kontroversial untuk menyelesaikan masalah-masalahnya. Masih ingat Metode Sumbat Bulu Kuda yang dipakai Dad untuk menangkap burung-burung pegar di Hutan Hazell dalam novel Danny The Champion of The World? Ia memakai umpan kismis yang ditusuk sehelai bulu kuda sepanjang setengah inci.  Jika burung pegar memakannya, maka unggas itu tidak akan mati. Tetapi terhenti geraknya, kecuali lehernya yang bergerak turun naik seperti piston, karena tenggorokannya sereten (kesulitan menelan) dan kegelian oleh ujung bulu kuda.

Kecerdikan Emak lebih realistis, namun masih dengan rasa unik yang sama. Keberatan dengan hobi main sepak bola anak bungsunya, Emak menceritakan Tragedi Karbala—di mana kepala Sayyidina Hasan-Husein disepak ke sana-kemari oleh para pembunuhnya—sebagai asal-usul permainan sepak bola. Sontak sejak saat itu, si bungsu kapok bermain sepak bola, jadi semakin rajin belajar, dan semakin moncer prestasi akademiknya. Strategi Emak berjualan baju-baju bekas juga tak kalah kreatif. Supaya laris, baju-baju itu di-”iklan”-kan kepada para calon pembeli sebagai baju bekas penyanyi dangdut yang sudah taubat, dan bumbu-bumbu cerita heboh lain.

Dalam buku bersampul biru ini, “keajaiban-keajaiban” Emak terbungkus dalam 10 judul kisah yang diceritakan dari sudut pandang si anak bungsu tanpa “memalaikatkan” sosok Emak, namun “memanusiakan”nya. Manusia–bersama kelebihan, kekurangan, dan latar belakang masa lalu– tengah berdialektika dengan Tuhan lewat pergulatannya dengan susah-senang kehidupan.  Sangat menggelitik dikisahkan bagaimana Emak memasukkan “garam berbuih” pada masakannya, dan ketika Emak memakai celana dalam si bungsu—ternyata dalam artian denotatif. Karena penceritaannya begitu hidup, saya ikut merasa gelisah ketika emak diinterogasi di kantor Kodim dan gemas ketika Emak memutuskan menjual mesin jahit Mas Muslih. Juga, ketika penulis menceritakan detail kultur-kultur sosial, baik lokal maupun nasional, yang tengah berlangsung pada zaman tersebut. Lagi-lagi, dengan sangat hidup dan indah. Kalau saya orang asing, pasti langsung tertarik mengunjungi Indonesia. Makanya, pas banget buku ini ditulis dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris.

When something can be read without effort, great effort has gone into its writing.” Kutipan Enrique Poncela (novelis Spanyol) tersebut saya dapatkan saat membaca buku Jurnalisme Dasar karya Luwi Ishwara. Bila suatu (tulisan) tulisan dapat dibaca tanpa bersusah payah, itu disebabkan karena kesulitan yang besar telah hilang ke dalam penulisannya. Saya pikir, inilah proses yang telah terjadi selama buku ini ditulis. Saya bisa membaca dengan nikmat dan mudah, karena sang penulis telah melewati proses yang tidak mudah. Baik saat menuliskan kata-katanya, maupun saat mengolah jiwa tulisan ini dalam batinnya. Salam hormat dan doa dari saya—untuk sang penulis, untuk Emak, dan untuk para pejuang kehidupan di luar sana.

(Eryani Widyastuti)

 

Advertisements

Kasak-Kusuk Kaum Pelanduk

 
Kami ini cuma Kaum Pelanduk
Kaum jelata yang pergi ke mana-mana tanpa perlindungan tanduk
Memang, kami tak punya kehendak menyeruduk
Hanya ingin hidup tenang, makan kenyang, sembari duduk-duduk
Alah, kenapa kini nasib kami di ujung biduk
Terjebak pertikaian Kaum Gajah yang sedang mengamuk
Ah, terkutuk
Disuruhnya kami pilih, gajah mana yang berhak petik daun paling pucuk
Katanya demi perut pelanduk, biar tak lagi mengerucuk*)
Ah, mulut busuk bikin suntuk
Jika memang pikirkan pelanduk, buat apa menggaduh seperti bunyi geluduk*)
Geladak-geluduk!
Di akal Kaum Gajah, apa ini masuk?
Sebab pilih sana-sini, kami jadi saling tubruk, sampai jatuh tersuruk-suruk?
Bukannya mandek bergedebuk, kalian malah mau injak mati Kaum Pelanduk
Sedang gajah yang menang, joget girang ganyang daun terpucuk!
Sungguh buruk!
Sebelum tiba masa Kaum Pelanduk terpaksa cuma kunyah kerupuk
Mari buat perkara supaya benar-benar duduk
Kaum Gajah harusnya tunduk
Meringkuk
Jadi alas Kaum Pelanduk,
Agar kami bisa kunyah kenyang daun terpucuk
Ini bukan kemaruk atau merajuk
Tapi, soal siapa yang suapi Kaum Gajah hingga gemuk?
Ya ini kami, Kaum Pelanduk!
… yang beraninya cuma kasak-kusuk, sebab takut diinjak remuk
(Eryani Widyastuti)
*mengerucuk: berbunyi ‘krucuk-krucuk’ pada lambung, pertanda lapar
*geluduk: gluduk (bahasa Jawa): guruh
—-