CNKK: NGAJI KEBANGSAAN DI ALUN-ALUN BUMI WALI, TUBAN

25 Nopember 2017.

Aku sedang menyeberang jalan ketika serombongan besar orang, rata-rata berbaju putih dan memakai topi khas Maiyah, membelah kepadatan lalu lintas dari sisi jalan yang sama denganku. Awalnya hanya karena mencari “barengan buat nyebrang”, maka aku berbaur dengan rombongan panjang tersebut memasuki pintu masuk Alun-Alun Tuban, bak aliran air yang berderap mantap. Kemudian dari kejauhan, mataku menangkap sosok Lik Ham, adik Cak Nun. Hatiku “mak tratap”, dan kerinduan menggerakkan bola mataku untuk mencari-cari sosok itu.

Di depan sana aku melihatnya sekilas, berjalan menuju panggung bersama orang-orang yang mengawalnya. Aku melihat punggungnya yang terbalut pakaian putih seperti biasa, melihat gelombang rambutnya yang keperakan, dan seri wajahnya saat menoleh ke samping. Raut yang sama dengan yang pernah menyambutku berbulan-bulan lalu di sebuah acara sinau bareng di Surabaya, ketika aku hendak bersalaman dengannya. Raut cerah penuh penerimaan itu seakan berbicara kepadaku tanpa kata-kata, “Kemarilah, kemarilah, Nak. Aku mengerti apa yang merisaukan hatimu. Tenanglah. Semua akan baik-baik saja.” Aku sudah lama tak berjumpa dengannya; dan malam ini, meskipun hanya untuk beberapa menit, aku berada dalam aliran gerak yang sama dengannya, Sang Guru Kehidupan.

Konsep Kebahagiaan

Di tepi panggung tamu undangan yang terletak beberapa meter di sebelah kiri panggung utama, aku nempil sedikit tempat untuk duduk. Posisi ini tidak begitu strategis sebenarnya, karena sosok orang-orang yang berada di atas panggung utama kurang jelas terlihat. Posisi speaker yang memunggungiku, mengirimkan suara keras namun tak jelas pula artikulasinya. Tapi tak mengapa, kerinduan bisa dipadamkan oleh setetes air yang disyukuri.

Acara Ngaji Kebangsaaan bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng dengan “bintang tamu” Yok Koeswoyo dan Sudjiwo Tedjo telah dimulai. Karena kendala suara tadi, aku hanya menangkap penjelasan Mbah Nun secara sepotong-sepotong. “Sekarang, orang gampang melontarkan kata, tapi tapi tidak pernah melihat asal katanya. Seperti orang yang memakan mangga, tapi tidak pernah mempelajari pohon yang telah menghasilkannya.” Aku mengangguk-angguk, teringat carut-marut berbagai isu serta komentar sadis yang kusaksikan setiap hari di media sosial. Bak burung-burung berebut bangkai yang mereka pikir sebagai gumpalan-gumpalan daging segar.

…yang membuat orang tidak bahagia adalah kebanyakan ‘I’ dan kebanyaan ‘want’.” kata salah seorang narasumber mengupas frasa ‘I want to be happy‘. Tak bisa kulihat wajahnya dan tidak bisa kutangkap penjelasan tentang nama serta latar belakangnya, kecuali sepotong informasi bahwa beliau adalah teman sekolah Mbah Nun. Namun, hal tersebut tak menghalangi gelombang adem yang beliau kirimkan kepadaku dan orang-orang yang memadati alun-alun di Bumi Wali. “Syukur adalah kebahagiaan instan. Anda bersyukur detik ini, maka anda bahagia detik ini. Ingat rumus bahagia: tidak kakehan ‘I’, tidak kakehan ‘want’, dan selalu eling Gusti Allah.”

Rumus kebahagiaan di atas aku sambungkan dengan analogi Mbah Nun berikutnya, “Siapa yang menentukan warna dalam lukisan? Si pelukis atau lukisan itu sendiri? Siapa yang menentukan kepedasan suatu masakan? Si tukang masak atau masakan itu sendiri? Bisakah lukisan menentukan warna bagi dirinya dan masakan menentukan tingkat kepedasannya? Kamu hanya lukisannya si pelukis, masakannya si tukang masak; yang menentukan warna lukisan adalah si pelukis dan yang menentukan kepedasan masakan adalah si tukang masak. Jadi, siapa yang menentukan tujuan hidupmu? Allah!”

Aku mengamati pedagang minuman yang tengah lewat di depanku. Ia memakai baju batik lusuh yang terbuka kancingnya, menawarkan tiga botol minuman dingin dalam genggamannya yang mengacung ke arah langit kelam. Sedangkan tangan yang satunya memanggul karung besar berisi stok botol-botol minuman dingin. Apa bedanya dia, aku, orang-orang di atas panggung, dan seluruh orang yang berada dalam alun-alun ini, bahkan di dunia ini? Kurenungkan kata-kata Cak Nun kemudian, bahwa manusia gemar membuat identitas dan label-label. Suka sekali ‘menghias-hias’ keakuannya dan gampang sekali ‘ngaran-ngarani‘ orang lain. Manusia meng’aku’-‘aku’, merasa lebih tinggi derajatnya daripada orang lain, merasa paling eksis dan sukses kalau sudah mendapatkan jabatan atau capaian tertentu, saking asyiknya, sampai lupa bahwa dirinya cuma sebatas lukisan, masakan, atau hologram dari Aku yang Sejati. Perilaku semacam ini malah memperumit jalan manusia untuk memperoleh kebahagiaan. Aku merasa konyol!

Siapakah yang Berhak Disebut Bangsa Indonesia? 

Tiba waktunya Mbah Nun mengupas tentang wawasan kebangsaan, namun sengaja tidak tuntas. Mbah Nun memberikan sangu untuk kemudian diolah oleh nalar dan rasa kita, para gentho. Mbah Nun tidak sedang ‘menyuapi’, namun mengajak kita melatih diri untuk berpikir yang benar serta sepresisi mungkin. Kita selalu meributkan, lagi-lagi label-label, “pribumi-non pribumi”, “radikal-liberal”, padahal kita tak pernah mempelajari sungguh-sungguh atau menelusuri asal katanya/epistemologinya. Kita hanya mengambil pemahaman dari citra dan definisi bentukan media atau dari tembung “jarene”, kemudian merasa berhak menjadi hakim atas orang lain dan permasalahan yang ada. Maka dari itu, dalam berbangsa, kita perlu belajar ulang mengenai definisi bangsa Indonesia.

Bangsa berasal dari kata Sansekerta “wangsa” yang kemudian diadopsi oleh bahasa Indonesia menjadi “bangsa”. Dahulu, orang-orang di Nusantara berkumpul dan membuat perjanjian bersama untuk saling mengamankan. Aman jiwanya, aman sandang-pangan-papannya, dan aman martabatnya. Hasil perjanjian itu diberi nama “Indonesia”. Dalam tasawuf, ada istilah zat dan sifat.

Jika dihubungkan dengan topik kebangsaan, maka Indonesia adalah zat, bukan sifat. Jadi siapapun, apapun sukunya (Arab, Cina, Jawa, dll) bisa menjadi bangsa Indonesia, asalkan sifatnya sama, yaitu mau ikut dalam perjanjian bersama untuk saling mengamankan tadi. Lantas, dikaitkan dengan analogi pelukis-lukisan dan tukang masak-masakan di atas, seharusnya yang menentukan tujuan bangsa Indonesia ini adalah Allah. Oleh karena itu, para bapak bangsa merumuskan Pancasila yang keempat silanya didasarkan pada sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

Atas dasar tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa kita tidak akan bisa ber-Pancasila, kecuali jika kita mengacu kepada agama. Sebab agama yang membuat adalah Allah. “Kalau yang bikin manusia, itu bukan agama namanya, tapi bakpao!” kelakar Mbah Nun.

Demikian pula sila berikutnya mengenai kemanusiaan dan keadilan; jika memang menjalankan sila pertama, ke manakah seharusnya kita merujuk? Kepada nilai-nilai asing atau nilai-nilai yang terdapat dalam kitab suci?

Kekuatan Lokal, Iman, dan Kesempurnaan

Pukul 21.57 WIB. Dua orang lelaki berpakaian warna gelap menggotong sebuah speaker besar dan diletakkan sekitar 1-2 meter di depanku, menghadap ke arahku. Begitu kotak hitam manis itu menyala, suara Mbah Nun yang tadinya putus-nyambung menjadi jelas sejelas-jelasnya. Horeee! Jadi, aku tidak ketinggalan mendengarkan suara lugas penuh semangat Mbah Yok Koeswoyo saat menyanyikan lagu Kolam Susu dan sempat memlesetkan syairnya, “Orang bilang tanah kita tanah surga, tapi sayangnya salah kelola…

Mbah Yok Koeswoyo bercerita tentang lagu yang diciptakan tahun 1974 ini. Lewat Kolam Susu, Koes Plus ingin menunjukkan kekayaan laut Indonesia. Tetapi, tidak ada (pemerintah) yang menanggapi pesan tersurat dari lagu tersebut. Barulah di era pemerintahan Gus Dur, dibentuklah Departemen Kelautan.

Keseruan musik dilanjutkan oleh penampilan Mbah Sudjiwo Tedjo yang mengekspresikan lagu Titi Kala Mangsa, Asmaul Husna, dan Sugih Tanpa Banda. Aku tidak mengatakan “menyanyi”, karena Mbah Sudjiwo Tedjo melagukan ketiganya dengan gerakan, mimik wajah, dan gerak secara teatrikal. Sangat keren! Apalagi kemudian di nomer Asmaul Husna, Mbah Sudjiwo Tedjo sempat berkolaborasi dengan Mbah Nun. Ketika menirukan gerakan Semar di nomer Sugih Tanpa Banda, entah sengaja atau tidak, Sang Semar berdiri menghadap samping, lurus ke arah masjid besar di seberang sana.

Temukan kekuatan lokalmu!” seru Mbah Sudjiwo Tedjo, memungkasi cerita tentang Bambang Ekalaya. Ia adalah tokoh wayang yang Drona untuk berguru kepadanya. Kemudian, Bambang Ekalaya berinisiatif membuat patung Drona di tengah hutan dan memperlakukannya seolah-olah patung itu benar-benar Drona yang sedang membimbingnya. Inilah kekuatan keyakinan. Kekuatan iman. Sebagaimana kita meyakini keberadaan Allah dan bahwa kita adalah ciptaannya berangkat dari keyakinan/iman kita bahwa Muhammad SAW adalah utusannya. Jadi sesungguhnya yang mengantar kita kepada Allah adalah iman yang ada dalam diri kita ini.

Antara kamu dan Allah ada hal yang tidak bisa dijangkau dengan ilmu, maka jembatanilah dengan keyakinan atau iman.” kata Mbah Nun, menggarisbawahi kalimat Mbah Sudjiwo Tedjo. “Di dunia ini, ada dua jalan untuk menjadi ‘weruh‘, yaitu jalan ilmu dan jalan keyakinan. Ilmu dipakai untuk memahami apa yang bisa dipahami. Sisanya, hal-hal yang tak bisa kamu pahami, jangkaulah dengan iman. Alat iman adalah tawakal. Tawakal artinya ‘diwakilkan atau dipercayakan’. Bagaimana kamu bisa tahu kalau istrimu mencintaimu kalau tidak dengan keyakinan?”

Tentang lokalitas, Mbah Nun berpesan, “Jangan percaya pada virus yang disuntikkan ke otakmu, bahwa kalau lokal itu kecil, dan global itu besar. Tidak ada nasional tanpa lokal, tapi lokal bisa ada tanpa nasional.”

Usai Kiai Kanjeng mengajak jamaah menyanyikan nama aksara/huruf dan nama hari dalam bahasa Arab, Inggris, Indonesia, dan Jawa, Mbah Nun menyambung dengan harapan bahwa jangan sampai kita melupakan Hanacaraka. ”Berhentilah berpikir dengan sistem kasta, bahwa kalau Sunday-Monday lebih tinggi derajatnya daripada Legi-Pahing.” lanjutnya.

Dari penjelasan Mbah Nun, aku menyimpulkan. Kita tidak boleh minder, atau sebaliknya, merasa paling unggul di antara bangsa lain. Kita juga tidak perlu anti asing. Sebab, setiap bangsa/kebudayaan memiliki tempat/manfaatnya masing-masing. Silakan notasi doremi memainkan musiknya, asalkan memberi toleransi kepada bentuk-bentuk notasi lain, dan tidak mengharam-haramkan yang berbeda dengannya. Karena baik-tidaknya,  halal-haramnya, atau benar-salahnya sesuatu tergantung pada konteks. Kotoran sapi itu kotor dan menjijikkan kalau dimakan; tapi jika dijadikan pupuk, ia akan membawa manfaat yang besar. Kain gombal itu kotor, tapi mengapa malah dipakai mengelap meja, dan hasilnya meja bisa menjadi bersih?

Sebagaimana ukuran-ukuran lain, kemungkinan kebenaran itu sangat luas, sebanding dengan luasnya hidup ini. Selama masih magang di dunia, manusia tidak disuruh Tuhan untuk mencapai kebenaran final, melainkan berjuang mencari kebenaran. Manusia harus terus berhijrah setiap hari, berusaha untuk semakin presisi terhadap kehendak Allah. Itulah kesempurnaan. 

Nobody is perfect; tapi kita punya konsep Insan Kamil (manusia sempurna). Sempurna adalah ketepatan/presisi, bukan hebat atau linuwih. Sempurna adalah menjadi dirimu setepat-tepatnya seperti yang dihendaki Allah. Sempurnanya orang lapar adalah makan, sempurnanya orang kenyang adalah berhenti, dan sempurnanya orang penjahat adalah dihukum.” kata Mbah Nun, “Sempurna bukan berarti tidak punya kelemahan. Jika tidak punya kelemahan, penderitaan, kesedihan, kesulitan, itu namanya bukan manusia. Itu Tuhan.”

(Eryani Widyastuti)

 

Advertisements

ARTIKEL BOS: Sejarah Perang Dunia I & II

 
PERANG DUNIA I
Oleh: Paksi Bhumisena (8 tahun), Juru Ketik: Ibu, Referensi: Why? Perang Dunia I & II yang Mengguncang Dunia
PERANG DUNIA II
Penulis: Paksi Bhumisena (8 tahun), Penggali Ide & Editor EYD: Ibu, Referensi: Why? Perang Dunia I & II yang Mengguncang Dunia
Perang Dunia I mulai karena pembunuhan Franz Ferdinand dan istrinya di Sarajevo, Bosnia. Franz Ferdinand adalah putra mahkota Austria. Pembunuhnya adalah pemuda Serbia. Pelakunya sudah ditangkap. Beberapa hari kemudian, Austria marah besar dan menyatakan perang terhadap Serbia. Jerman membantu Austria karena memiliki suku yang sama. Sementara, Rusia bekerjasama dengan Serbia karena memiliki suku yang sama, yaitu Slavia. Rusia mengajak Perancis dan Inggris untuk bekerjasama. Akhirnya, seluruh dunia ikut berperang.
Seharusnya, setelah pembunuhan itu, Serbia harus meminta maaf pada Austria dan mengganti rugi uang. Tapi, Austria harus memaafkan, dan minta maaf karena Austria sudah marah keterlaluan, yaitu menyatakan perang.

Kronologi Perang Dunia I (sumber gambar: buku WHY? Perang Dunia I & II yang Mengguncangkan Dunia)

Pada 1 September tahun 1939, Jerman menyerang Polandia secara mendadak. Namun Perancis dan Inggris tidak tinggal diam. Pada tahun yang sama, 3 September, Inggris dan Perancis melawan Jerman. Inggris dan Perancis memihak Polandia. Austria memihak Jerman. Akhirnya, perang meluas menjadi Perang Dunia II. Seluruh dunia rusuh. Dor-dor di mana-mana. Jepang ikut membantu Jerman. Sedangkan Amerika Serikat membantu Triple Etente (Inggris-Rusia-Perancis). Jepang menyerang pelabuhan Pearl Harbor milik AS di Hawaii tahun 1941. Pada tahun 1945, Kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang dibom atom oleh AS dengan pesawat Enola Gay. Jepang jadi hancur dan menyatakan menyerah. Radiasinya ke mana-mana. Perang Dunia II pun berakhir.
Catatan kecil, Indonesia merdeka karena Jepang menyerah. Menurutku, penyebab Perang Dunia II adalah ketamakan negara adidaya (Jepang, Jerman,dll.) untuk menguasai negara lemah. Saranku, para pemimpin negara jangan tamak.

Ilustrasi penyerangan Pearl Harbor (sumber gambar: buku WHY? Perang Dunia I & II yang Mengguncangkan Dunia)