Cerpen BOS: THE TFA (TALL FRIENDLY ALIEN)

Penulis & Ilustrator: Paksi Bhumisena (8 tahun)
Editor EYD & Tata Letak: Ibu


Suatu malam di Antartika, Pingut si pinguin sedang tidur. Paginya, bangun-bangun dia dalam gendongan makhluk coklat dan imut berhidung monyet. Makhluk itu berkata, “Namaku TFA — Tall Friendly Alien dari Mars. Kau siapa?”
“Pingut.” kata Pingut.
TFA berkata, “Cepat bumi mau diinvasi!”
Pingut berkata, “Kenapa aku harus ikut kamu?”
“Aku butuh asisten pinguin.” kata TFA.
“Aku beritahu bapakku ya?”
TFA berkata, “Oke.”
Sepuluh menit kemudian, Pingut berkata, “Sudah!”
“Berangkat!” kata TFA.
“Ke mana?” kata Pingut.
“Luar angkasa.” kata TFA.
Tiba-tiba, muncul pesawat Grey di depan mereka.
“Pesawat Grey! Tembak!” teriak Pingut.
Syuuung! Laser meluncur dan mengenai mesin pesawat Grey. Lalu, pesawat itu jatuh. Laser meluncur, karena pesawat grey lain muncul. Lalu, pesawat itu jatuh juga. Mereka berhasil!
“Daah, pulang dulu ya?” kata TFA.

*Fakta pendek sebelum tamat: Grey itu alien jahat.*

TAMAT

 

Advertisements

MEMASAK KEBENARAN, HIDANGKAN KEBAIKAN

Kebenaran itu ada tiga macam; kebenaran menurut diri sendiri (benere dhewe), kebenaran menurut orang banyak (benere wong akeh), dan kebenaran sejati (bener kang sejati). Ketika mengetahuinya pertama kali dari Mbah Nun, saya bereaksi manggut-manggut. Maksudnya, paham secara makna bahasa, namun gagal paham secara penghayatan makna. Hati tak mengirimkan getaran rasa apa-apa, sedangkan akal lemot memproses karena minimnya sinyal WiFi Ilahiah yang dapat ditangkap oleh receiver ubun-ubun.

Wis ta, Rek. Saiki koen gak paham opo sing tak omongne, gak popo. Mene-mene, lek koen onok masalah, utekmu otomatis manggil dhewe.” Beberapa kali, saya mendapati Mbah Nun mengungkap kalimat yang kira-kira berbunyi demikian. Boleh jadi saat Mbah Nun menjelaskan sesuatu, kita tidak dapat memahaminya. Tetapi, ucapan Mbah Nun tersebut akan tetap terekam dalam otak kita, dan muncul sebagai bahan solusi ketika kita menjumpai suatu masalah di kemudian hari. Berkaitan dengan Tiga Macam Kebenaran, saya membuktikan sendiri kata-kata Mbah Nun, gara-gara hal yang tampak sepele: pertengkaran anak-anak.

Sore yang sedikit pengap. Angin malas-malasan bergerak, sementara suhu udara asyik memanjat naik. Anak saya pulang bermain dengan wajah bersungut-sungut. Selidik punya selidik, ia baru saja mendapatkan lontaran kata-kata kasar dari teman-teman bermainnya. Ia diusir gara-gara menasehati teman-temannya supaya tidak bertelanjang bulat saat berenang di sebuah kali kecil. Tentu saja, ia kesal sekali. Anak merasa telah melakukan perbuatan benar, tetapi reaksi teman-temannya tidak seperti yang ia harapkan. Saya rasa, dunia orang dewasa pun tak jauh berbeda. Orang-orang yang mempertahankan idealisme seringkali mengalami benturan dengan kenyataan hidup yang tak sehitam-putih atau selinear idealisme yang mereka yakini. Tidak semua perbuatan baik, misalnya, akan mendapatkan respon baik dari orang lain. Seringkali, kebaikan yang polos malah dimanfaatkan orang lain, dikeruk sebesar-besarnya demi kemaslahatan pribadi. Sebaliknya, perbuatan buruk, seperti menyontek saat ujian, jika dilakukan secara massal sebab demi kepentingan mayoritas pula, akan dianggap sebagai suatu kewajaran. Barangsiapa yang mencoba meluruskan kebengkokan berjamaah tersebut akan digilas bersama-sama, dipojokkan dengan tudingan ‘pengkhianat’.

Kalau sudah begini situasinya, parameter benar-salah menjadi semakin kabur. Yang benar menjadi salah, yang salah menjadi benar. Sungguh rumit untuk dijelaskan kepada seorang anak usia sekolah dasar. Namun, saya tidak bisa menghindar dari kewajiban membantu Anak untuk menemukan perspektif yang tepat dalam memandang masalahnya. Ketika merasa terpojok itulah, otak saya bereaksi spontan memanggil sebuah file usang: Tiga Macam Kebenaran. Tentu saja tak lepas dari skenarioNya, bahwa ‘kebetulan’ pada malam sebelumnya, saya dan anak membaca salah satu artikel CakNun.com di mana terselip topik yang sama. Syukurlah, ketika kami mendiskusikan masalah yang tengah dihadapinya, Anak masih dapat mengingatnya dengan baik. Tetapi, bagaimana strategi penyampaiannya? Harus menggunakan teknik parenting yang mana? Saya tidak tahu. Pun, tidak ada keinginan untuk menggurui Anak. Bagaimana mau menggurui, lha wong saya sendiri juga belum paham. Kami akan menemukan jawabannya bersama-sama. Batin saya.

Berenang tidak boleh bertelanjang bulat itu termasuk kebenaran yang mana?” Oleh karena tidak tahu apa yang hendak dikatakan kepada Anak, saya mulai saja dari bertanya.

Kebenaran sejati.” jawab Anak mantap.

Duh, matilah aku! Kalau kebenaran sejati, urusannya sama Allah. Tidak bisa diutak-atik lagi. Kebuntuan pikir itu berkelebat. Lantas, disusul kelebatan lain mengenai fenomena orang-orang yang menganggap dirinya paling tahu apa yang diinginkan Tuhan dan paling berhak menafsirkan FirmanNya. Namun, jika direnungkan lagi, bukankah saya, anda, atau dia pasti mempunyai versi kebenaran masing-masing? Perbedaannya ada pada sikap apakah kebenaran menurut diri sendiri itu dipaksakan kepada orang lain atau disimpan untuk diri sendiri. Kemudian, saya teringat konten dari sebuah video yang tadi dikirimkan oleh Suami. Setelah menontonnya, tiba-tiba saja, saya memahami perasaan Archimedes saat meneriakkan eureka!

Tentulah setiap orang menganggap kebenaran yang ia yakini sebagai kebenaran sejati.” sahut saya. “Tapi, kamu tahu nggak siapa yang paling tahu kebenaran sejati itu yang bagaimana?”

Allah.” jawab Anak.

Saya mengafirmasi jawabannya. Kebenaran sejati adalah kebenaran versi Allah. Hanya Allah yang mengetahuinya secara sempurna. Makhluk serba terbatas yang bernama manusia berada pada ranah perjuangan untuk terus mendekati kebenaran sejati, bukan untuk mengklaimnya. Ketika saya sedang menuliskan cerita ini, beberapa larik pemikiran ikut terlintas. Kebenaran menerangi, bagaikan cahaya. Cahaya itu berlapis-lapis. Demikian pula kebenaran. Setiap merasa telah meraih satu kebenaran sejati, kita tak boleh berhenti mencari. Sebab, di atas kebenaran yang telah kita raih, masih ada kebenaran yang lebih sejati lagi. Begitu terus, sampai tak terhingga kemungkinannya, sebagaimana Sang Pemilik Kebenaran.

Tapi, teman-temanku tetap salah!” Anak bersikukuh, meskipun ia berkata mengerti penjelasan saya.

Pelan-pelan, kami mencoba mengidentifikasi bersama mengenai kebenaran ‘berenang bertelanjang bulat itu diperbolehkan’. Termasuk macam kebenaran yang manakah ia? Karena yang meyakini kebenaran tersebut ada tiga dari 4 orang anak, maka kami sepakat menggolongkannya sebagai ‘kebenaran menurut orang banyak’.

Misalnya, kamu dipaksa teman-temanmu untuk menyakini bahwa ‘berenang bertelanjang bulat itu diperbolehkan’, apakah kamu mau?” tanya saya.

Tentu saja tidak mau!” sahut Anak.

Nah, begitu juga teman-temanmu. Lalu, apa yang harus dilakukan jika kita melihat orang lain melakukan kesalahan? Memaksa mereka menerima kebenaran sejati versi kita?”

Nanti jadi bertengkar,dong!”

Saya tersenyum lebar, Teringat status-status ‘membakar’ yang bertebaran di media sosial belakangan ini. Salah satu sumbernya adalah saling paksa-memaksa kebenaran sejati versinya sendiri-sendiri. Mbah Nun, dalam video yang saya tonton tadi, memberikan kunci penyelesaiannya. Kebenaran menurut diri sendiri itu bagaikan alat masak yang harus diletakkan di dapur. Sementara yang disuguhkan kepada orang lain bukanlah alat masak tersebut, melainkan makanan yang sudah matang. Apakah yang dimaksud dengan ‘makanan matang’? Perbuatan baik! Begitu kata Mbah Nun.

Kita punya pisau, penggorengan, beras, daging ayam, sayur, dan bumbu-bumbu. Jika langsung diberikan pada orang lain, umumnya mereka akan menolak. Tetapi, kalau sudah kita olah menjadi nasi goreng yang lezat, pasti banyak yang mau menikmati, kan? Jadi, masaklah kebenaran menurut dirimu itu, baru hidangkan berupa kebaikan!” pesan saya kepada Anak.

Sreng-sreng-sreng! Memasak kebenaran!” Anak tertawa, berpura-pura sedang menggoreng.

Dan, Mbah Nun sangat terampil memasak kebenaran, sehingga banyak orang dengan suka cita mau menerima. Misalnya, Mbah Nun tidak perlu berkata ‘mabuk itu haram’ kepada pemabuk. Mbah Nun pintar memasak kebenaran ‘mabuk itu haram’, sehingga sang pemabuk malah tertawa-tawa mendengar larangan tersebut. Sampai suatu hari, ia sadar bahwa yang dikatakan Mbah Nun itu benar.”

Supaya semakin meresap, cerita tentang ‘memasak kebenaran’ tersebut kami lanjutkan dengan membuat beberapa simulasi peristiwa khas dunia anak, termasuk solusi untuk masalahnya barusan. “Coba, lain kali jangan tiba-tiba melarang. Pertama, ceritakan sesuatu yang lucu-lucu kepada teman-temanmu. Kemudian katakan dengan cara baik, ‘Eh, apa kalian tidak mau telanjang bulat dilihat orang? Kalian kan sudah besar, bukan adik bayi lagi’.”

Kalau mereka tidak mau dengar?” tanya Anak.

Tidak usah marah. Doakan saja, semoga teman-temanmu lebih memilih kebaikan daripada keburukan. Sedangkan tugasmu adalah terus berlatih memasak kebenaran!”

Saya mengepalkan tangan, memberinya semangat. Sekaligus menegaskan sebuah sikap bagi saya sendiri. Jika kelak saya menjumpai Anak masih bertengkar dengan teman-temannya, karena ia tidak ‘memasak kebenaran’ sesuai ekspektasi, maka saya harus legowo dan tidak berputus asa untuk menemaninya berproses. Tidak ada yang sia-sia. Seperti kata Mbah Nun, file tersebut telah terekam dalam otaknya dan akan terpanggil secara natural. Beberapa hari kemudian, saya membuktikannya lagi.

Bu, aku mau memberi masukan, nih! Dagingnya masih agak alot, dan bawang bombaynya terlalu banyak.” komentar Anak, ketika sedang menikmati semur daging buatan saya.

Bagaimana jika sebelum memberi masukan, kamu berterimakasih dulu karena sudah Ibu masakkan. Dengan begitu, masukanmu akan terdengar lebih menyenangkan bagi Ibu.” kata saya, agak kecewa.

Oh, iya ya. Aku masih belum pandai memasak kebenaran. Maaf ya, Bu?”

Kamu masih ingat?” penuh rasa haru, saya elus kepalanya, “Seiring bertambahnya pengalaman dan usiamu, kamu akan semakin terampil memasak kebenaran. Insya Allah. Ibu selalu berdoa untukmu.”

-Eryani Widyastuti-

(pernah dimuat di Buletin Maiyah Jatim, 2017)