Membuat Tempat Mainan dari Botol Bekas

Ada beberapa botol besar bekas air mineral Cle* berjajar di samping rumah. Hendak dibuang sayang, tidak dibuang kok jadi menimbun barang. Pada saat yang sama, kardus tempat mainan anak sudah rusak terkena air sewaktu bermain perahu-perahuan. Hmm, sepertinya dua kondisi tadi bisa dijodohkan supaya bisa melahirkan sebuah manfaat.  Sambil menemani anak membongkar pasang pesawat jet mainannya, saya menyiapkan bahan-bahan berikut:

1 buah botol besar bekas Cle*

2 buah cincin gantungan kunci

solder

cutter

gunting

setrika

seutas tali elastis

Tahukah apa yang hendak saya buat? Tentu saja tahu, kan sudah disebutkan dalam judul di atas. Hihihi. Nah, bagaimanakah cara membuat sebuah tempat mainan dari botol bekas tersebut? Silakan ikuti catatan di bawah ini. Percayalah, jauh lebih mudah dan lebih cepat membuatnya daripada mencatatnya!

PEMOTONGAN

1. Bersihkan botol

2. Gunakan cutter untuk memotong bagian atas botol. Sebagai perkiraan ukuran, potong beberapa senti di bawah bagian ‘bahu’ botol (sekitar pada garis teratas pola yang tercetak di badan botol) 

3. Rapikan dengan gunting bila perlu

4. Kini, ada 2 bagian botol yang siap dikreasikan. Bagian botol yang lebih besar digunakan sebagai wadah mainan; selanjutnya disebut Wadah.  Bagian yang lebih kecil digunakan sebagai penutup wadah; selanjutnya saya sebut Tutup.  Letakkan Tutup di atas Wadah untuk memastikan bahwa tempat mainan bisa tertutup dengan baik (meskipun tak bisa rapat seperti kotak mainan di toko).

5. Supaya bekas potongan pada Wadah dan Tutup berkurang ketajamannya, tumpulkan tepian tersebut menggunakan setrika panas. Caranya, gerakkan setrika melingkar mengikuti bentuk tepian Wadah dan Tutup, sambil ditekan lembut. Hati-hati, jangan terlalu lama dan kuat menyetrika, karena bisa menyebabkan tepiannya meleleh.

 

PEMASANGAN ‘ENGSEL’ & TALI ELASTIS

‘Engsel’ yang sudah terpasang. Abaikan lubang-lubang di luar engsel yang tampak pada gambar. Mereka adalah efek samping proses trial and error.

 

Buat ‘engsel’ untuk menautkan Tutup dan Wadah supaya tempat mainan bisa dibuka-tutup dengan baik. Caranya:

1. Panaskan solder.

2. Tautkan Tutup dan Wadah. Tentukan bagian mana yang akan menjadi bagian ‘Depan’  dan bagian ‘Belakang’.

3. Pada bagian Belakang, lubangi tepi Tutup-Wadah secara lurus dan bersamaan dengan solder (tembus). Sekitar 5 cm (sejajar horizontal) dari lubang tadi, buatlah lubang yang sama.

4. Lanjutkan dengan membuat 2 lubang pada bagian Tutup, sejajar vertikal dengan lubang sebelumnya.

5. Pisahkan Tutup dan Wadah. Pada bagian Depan Wadah, buat dua lubang sejajar horizontal, berjarak sekitar 3 cm dari satu sama lain.

6. Hasilnya, pada Wadah terdapat 2 lubang Belakang dan 2 lubang Depan. Pada Tutup terdapat 2 lubang Belakang.

Penampakan lubang Wadah bagian Depan. Tali yang dipakai pada gambar ini semuanya bekas. Satu tali elastis dan satu tali biasa. Jadi, saya gabungkan saja mereka.

 

7. Tautkan kembali Tutup dan Wadah dengan titik lubang Belakang yang sesuai. Masukkan ring secara sejajar vertikal sebagai ‘engsel’.

8. Periksa apakah sudah bisa dibuka tutup dengan baik.

9. Pasang tali elastis pada lubang Depan Wadah, lalu ikat ujungnya hingga membentuk sebuah lingkaran.

10. Tutuplah Wadah dengan baik, kemudian kaitkan lingkaran tali elastis ke bagian leher belakang botol.

11. Tempat Mainan siap digunakan!

Kaitkan tali elastis ke belakang leher botol, seperti cara orang mengenakan kalung.

 

Tempat mainan ini bisa dibuka dengan 2 cara.  Pertama, jika ingin memasukkan mainan berukuran besar, silakan buka tali elastis tadi. Kedua, jika ingin memasukkan mainan berukuran kecil, tidak perlu repot membuka tali.  Buka saja tutup original botol (dalam gambar warna oranye)! Mudah, kan? 

Selamat mencoba! 😍

(Eryani Widyastuti)

 

RESENSI BUKU: Suta Naya Dhadhap Waru

Resensi Buku
Judul: SUTA NAYA DHADHAP WARU
Penulis: Imam Budhi Santosa

 

... ketika wong cilik harus belajar kokoh menerima tekanan hidup dari atas bawah dan kanan kiri, mereka bisa belajar dari alang-alang. Ribuan kali ilalang harus rebah mati oleh sabit, cangkul, serta herbisida kimia, namun ribuan kali pula ia tumbuh kembali menjadi fenomena sepanjang masa. (hal. 43)

 

Jangan terburu-buru melompat ke ‘Bab 3: Tumbuhan dan Nama Desa di Jawa’ yang memang menjadi bahasan utama buku ini. Menjadi amat penting untuk menyimak ‘Bab 1: Manusia Jawa dan Tumbuhan’, karena bagian inilah yang menjadi jiwa dari keseluruhan isi buku. Tanpanya, penghayatan isi buku menjadi gamang. Penyajiannya yang ringan, mengalir, dan ringkas pada bahasan tiap jenis tumbuhan, memang membuka pintu prasangka bahwa buku ini sama dengan artikel-artikel tentang tumbuhan yang bertebaran di internet. Namun, itu tidak akan terjadi jika Bab 1 tadi disimak baik-baik, apalagi jika dilengkapi dengan membaca Kata Pengantar dan ‘Bab 2: Tumbuhan dalam Peribahasa Jawa’.

Pada Bab 3, kita bisa menemukan berbagai jenis bambu, karakteristik, dan manfaatnya. Atau, menjadi tahu bahwa ilalang yang dianggap gulma itu ternyata menjadi menanda kesuburan tanah, abu bakarannya bisa dipakai untuk pupuk kompos, dan bisa dijadikan obat mimisan. Kendati demikian, bukan berarti buku ini melulu bernilai informatif.

Lebih dalam lagi, buku ini berkisah tentang kilasan interaksi antara tumbuhan dan manusia Jawa selama mengarungi perjalanan waktu. Di antara tumbuhan-tumbuhan itu ada yang dimuliakan hingga keberadaannya mampu bertahan. Ada yang nyaris sirna, disingkirkan oleh manusia Jawa, karena dianggap merugikan. Ada pula yang berkali-kali disingkirkan, namun terus bangkit kembali.

Secara garis besar, manusia Jawa tidak hanya mengambil berbagai manfaat fisik dari tumbuhan bagi kehidupannya, tetapi juga merumuskan filosofi perilaku tumbuhan, yang kemudian diadopsi menjadi sikap hidup: bagaimana manusia Jawa bisa pasrah menerima keadaan, sementara di sisi lain memiliki akar menghunjam yang tak tergoyahkan dan terus memberi manfaat pada kehidupan di sekitarnya sampai dirinya benar-benar sirna.

Membaca buku ini dari kacamata manusia Jawa masa kini yang awam terhadap tanaman, kemungkinan besar akan menumbuhkan kesadaran bahwa manusia Jawa pernah memiliki ilmu yang luas dan mendalam mengenai tumbuhan. Bisakah kita membayangkan apa jadinya jika warisan ini dihidupkan kembali, baik secara sains maupun filosofis? Mungkinkah akan kita temukan solusi-solusi baru bagi banyak problem hidup manusia Jawa di masa modern; sebuah kurun masa di mana manusia Jawa ‘ketlingsut’ dari keluhuran peradabannya sendiri?

(Eryani W.)