3 Mutiara Jawa dalam Lumpur Jaman


wp-1475804750563.jpg

Dari membaca buku Psikologi Raos, saya mengenal beliau-beliau; 3 tokoh Psikologi Jawa (menurut saya, lebih cocok disebut 3 tokoh Filsafat Jawa), yaitu Ki Ageng Suryo Mentaram (Kawruh Begja), Pakdhe Soenarto (Pangestu). dan Raden Sosrokartono (Catur Murti, Ilmu Kanthong Bolong, dll.). Sebagai seseorang yang ditakdirkan Allah untuk lahir sebagai manusia Jawa: berdarah Jawa, makan dari tetumbuhan dan binatang yang hidup di tanah Jawa, minum dari sumber mata air Jawa, dan menghirup udara di bumi Jawa, tentu saja saya amat tergugah untuk mengenal ketiganya lebih jauh. Mungkin ini dikarenakan blue print yang dicetakNya dalam DNA saya telah menjelma menjadi sebuah kerinduan yang memanggil-manggil untuk lebih mengenal bagian fitrah yang selama ini tergilas arus jaman. Sebuah kerinduan usang untuk mengenal diri sendiri. Meminjam syair lagu Candra Malik berjudul Shiratal Mustaqim: Siapakah aku sesungguhnya? Untuk apa aku di dunia? Bagaimana aku hidup tanpa tahu akan ke mana? Bila tidak keliru memahami, inilah yang saya rasa disebut Sangkan Paran oleh manusia Jawa sejak dulu. Maka, mulailah saya menelusur ke masa lalu dan berkenalan dengan tiga eyang tersebut lewat buku-buku yang saya kumpulkan sedikit demi sedikit.

Dalam proses berkenalan dan mencoba memahami pemikiran ketiga tokoh tersebut, saya seolah menemukan pelita. Pelita yang membimbing saya untuk belajar kembali mengenai keluhuran budi manusia Jawa dan kedalaman pemikirannya. Teliti mengenal diri sendiri (Ki Ageng Suryo Mentaram), bersetia manembah kepada Sang Pencipta (Pakdhe Soenarto), dan menolong sesama tanpa pamrih (Raden Sosrokartono). Bagi saya, prinsip-prinsip hidup yang mereka wedar, menawarkan solusi bagi keruwetan akhir jaman yang semakin jauh dari kejernihan batin dan sikap.  Saya memandang, suatu hal penting bagi kita, para generasi penerus, untuk menghargai dan mewarisi pemikiran-pemikiran itu, supaya kita tetap menjadi manusia utuh sesuai ketentuanNya yang telah menciptakan kita bersuku-suku bangsa. Kita butuh menemukan kembali kemuliaan bawaan bangsa kita, sehingga tak perlu silau memandang bangsa lain. Sampai-sampai guna memiliki aji pribadi, harus mengidentifikasi diri sebagai mereka. Biarlah nangka memenuhi fitrahnya sebagai nangka dan menjadi sebaik-baiknya nangka, tanpa perlu gelisah ingin menjadi kurma, anggur, atau apel. Berangkat dari semangat tersebut, sedikit demi sedikit, saya akan menuliskan sekelumit riwayat hidup dan pemikiran ketiga tokoh di atas, dengan segala keterbatasan saya.

“Yang mengenal dirinya sendiri, akan mengenal Tuhannya.”

 

(Eryani Widyastuti)

 

Untuk artikel pertama ini, akan saya khususkan untuk menulis tentang Raden Sosrokartono, yang merupakan kakak kandung Raden Ajeng Kartini; seorang jenius, poliglot, spiritualis, indigo, dan salah satu pelopor berdirinya negara Indonesia. Dengan semua kehebatan yang disandangkan Tuhan, ia hanya memilih panggilan sederhana namun penuh makna: Mandor Klungsu.

Klik di sini untuk mulai membaca >>> Raden Sosrokartono (I): Pangeran Jawa yang Jenius dan Humanis

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s