MUTIARA KELUARGA: Aku Ingin Mainan!


(*cerita ini adalah fiksi, namun bisa terjadi pada siapa saja dalam kehidupan nyata)

inginmainan

“Bu, aku ingin beli mobil-mobilan!” katanya suatu hari, ketika kami berbelanja di supermarket. “Yang ini.” Ia menunjuk sebuah mainan mobil-mobilan warna biru.

“Oh, bagus ya mobil-mobilannya. Modelnya asyik, pintunya bisa dibuka tutup.” komentarku. Aku sedang mencoba mengulur waktu untuk berpikir.

Aku ingin sekali membelikan mainan itu untuknya. Aku ingin melihat senyum bahagianya hari ini, karena mainan itu. Aku tak ingin membuatnya sedih. Sebab, kebahagiaan dan kesedihannya adalah kebahagiaan dan kesedihanku juga. Sebenarnya, isi dompetku menyatakan bahwa aku bisa membelikannya satu-dua mainan hari ini. Namun ada hal lain yang harus kupikirkan masak-masak.

“Hmmm. Kamu kan tahu, bila ingin sesuatu harus apa?” Aku melempar tanya.

“Bekerja.” Bibirnya mulai melengkung ke bawah.

Oh, tidak. Aku tidak suka melihat anakku bersedih. Apakah sebaiknya aku belikan saja? Khusus untuk hari ini? Toh, ia sudah dua bulan tidak membeli mainan. Sebab, setiap kali ingin membeli mainan, selalu aku syaratkan untuk bekerja. Walhasil, ia langsung menolak. Ia lebih memilih membuat mobil-mobilan dari kardus bekas bersamaku daripada harus susah-susah bekerja untuk membeli mobil-mobilan.

“Nah, betul. Apakah kamu mau bekerja pada Ibu? Gajinya seperti biasa, empat ribu rupiah setiap pekerjaan.” Aku memutuskan untuk konsisten terhadap peraturan.

Pertimbanganku, bila aku menurutinya kali ini, akan menjadi pintu pelanggaran terhadap pembiasaaan yang sudah kami bangun susah payah selama ini. Lain hari, ia akan menuntut untuk dibelikan mainan tanpa bekerja. Akupun juga akan jadi lemah iman untuk memilih shortcut membelikan mainan ini, supaya anakku tidak rewel. Tidak, aku tidak mau begitu. Suatu hari, kalau aku sudah bisa melihat kebiasaan bekerja untuk mendapatkan mainan ini berjalan dengan baik, maka itulah saat yang tepat untuk memberinya hadiah mainan. Jadi, aku siapkan saja diriku melihat dan menghadapi ekspresi kecewa beratnya hari ini. Ya, membangun kebiasaan memang tidak mudah.

“Aku harus bekerja berapa kali untuk membeli mainan ini?” Tanpa kusangka, ia tertarik pada tawaranku tadi.

“Coba kamu lihat harganya.”

“Delapan puluh ribu.”

“Berarti, kamu butuh bekerja dua puluh kali untuk membeli mobil-mobilan jenis ini.” kataku, seraya menjelaskan hitungan matematisnya.

“Ha? Aku tidak mau bekerja dua puluh kali!” Ia menggeleng-geleng enggan.

“Kamu bisa mencicilnya, kok. Misalnya, hari ini dua pekerjaan, besok dua pekerjaan, sampai genap dua puluh pekerjaan. Kalau kamu setuju, Ibu akan membeli mobil-mobilan ini. Ibu akan menyimpannya, dan memberikan mobil-mobilan ini setelah kamu genap bekerja dua puluh kali.”

Ia tampak berpikir keras. Bagiku jelas sekali isi benaknya. Ia sedang mencari cara supaya tidak usah terlalu susah payah untuk mendaptkan mainan. “Bagaimana kalau aku bekerja satu kali saja? Jadi uangku empat ribu.”

“Ada tidak mobil mainan seharga empat ribu? Coba cek dulu.” Aku berusaha tidak mematahkan argumennya secara langsung. Biarlah kenyataan yang langsung menjawab pertanyaannya. Itu lebih efektif.

Setelah memeriksa satu per satu label harga di sepanjang rak mainan, ia berkata. “Tidak ada, Bu…”

“Iya. Ibu lihat, paling murah harganya duapuluh ribu rupiah.”

“Aku harus berapa kali bekerja?”

Sekali lagi, aku menjelaskan hitungan matematisnya, lalu menjawab, “Lima kali bekerja.”

“Ouh…. baiklah… aku akan bekerja lima kali! Aku akan pilih mobil-mobilan yang harganya duapuluh ribu saja!” jawabnya membulatkan tekad, mengusir rasa enggan, dan mendegradasikan keinginan sesuai dengan kesanggupan kerjanya.

Aku berjongkok, supaya bisa menatap wajah anakku secara sejajar. “Ibu akan memberimu lima pekerjaan. Kamu boleh mencicilnya. Tapi, Ibu tidak mau mendengar orang mengeluh saat bekerja. Bagaimana?”

Ia memutar bola matanya ke atas, mencari ide. “Aku tidak akan mengeluh. Nanti, kalau aku ingin mengeluh, lebih baik aku menyanyikan lagu favoritku saja!”

“Ide bagus!” kataku senang. Ia juga tampak senang dengan kesepakatan kami.

“Aku akan menyelesaikan lima pekerjaan hari ini. Tidak usah dicicil, Bu! Aku ingin cepat-cepat menunjukkan mainan baru pada teman-temanku. Mereka pasti suka melihat mainanku.”

“Teman-temanmu boleh meminjamnya?”

“Tentu saja boleh, asalkan mereka tidak berebut. Aku pasti mau meminjamkan.”

Sepulang dari supermarket, anakku segera menagih janji untuk bekerja. Ia bahkan tidak mau buang-buang waktu untuk beristirahat. Aku tersenyum lega melihat semangatnya. Kuberikan selembar kertas berisi daftar pekerjaan yang harus ia lakukan, yaitu menyapu, menyiram tanaman, mengelap kaca jendela, membereskan tikar-tikar, dan memasukkan pakaian-pakaian yang sudah disetrika ke dalam lemari. Ia juga menepati janji untuk tidak mengeluh selama bekerja. Meskipun masih sempat mengeluh beberapa kali, tapi aku tahu ia sedang berusaha untuk mengendalikan diri. Begitu kuingatkan untuk tidak mengeluh, ia langsung menghela napas;  berhenti mengeluh, lalu menyanyikan lagu favoritnya sambil bekerja.

“Bu, aku akan menyimpan daftar pekerjaan ini. Lain kali, kalau aku mau bekerja lagi, aku sudah tahu apa yang harus aku kerjakan.”

Aku mengangguk lega. Membangun kebiasaan memang membutuhkan konsistensi, keteguhan hati, dan waktu yang panjang untuk dititi. Namun, sekali tertanam baik-baik… it stays forever.

(Eryani Widyastuti)

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s