DONGENG ANAK: Sahabat Baru untuk Moru


photogrid_1464418141054.jpg

O-oh! Moru, si mobil mainan, tenggelam di laut! Siapakah yang akan menyelamatkannya?

photogrid_1464649327246.jpg

Moru adalah sebuah mobil mainan jenis mini van berwarna biru yang terbuat dari besi. Pemilik Moru adalah anak lelaki bernama Pino. Pino membeli Moru dengan uang tabungannya sendiri. Setiap hari, mereka bergembira bersama. Bermain dalam bak air, meluncur di permukaan licin lantai, dan menderu di atas pasir berdebu. Selesai bermain, Pino selalu mengelap Moru dengan sayang dan menyimpannya baik-baik di atas lemari belajar.

Hari ini, Pino membawa Moru bermain ke pantai bersama Ayah dan Ibu. Sayang, ketika Pino lengah, Moru terseret ombak laut yang datang ke tepi pantai.

“Moru! Ayah, Ibu! Moru terbawa ombak!”

Itulah seruan terakhir Pino, sebelum akhirnya ombak laut yang dingin menelan Moru dalam sekali sapu. Kini, Moru tergeletak di dasar lautan yang gelap.

“Halo, Kawan Kecil! Kamu ini ikan atau kepiting?”

Sekelebat bayangan bulat bersirip mendekati Moru. Dia mendorong- dorong Moru dengan lembut. Membuat Moru terguling-guling di dasar laut.

“Hei, aku tahu!” Suara makhluk itu terdengar lagi. “Kamu adalah mainan kesayangan manusia. Anak lelaki yang memelihara aku dahulu, juga punya mainan seperti kamu. Hohoho! Baiklah. Kurasa, tempatmu bukan di sini.”

Hap! Mulut makhluk itu mengapit tubuh Moru. Keduanya meluncur ke atas. Perlahan-lahan, kegelapan air laut berubah. Dari biru pekat, menjadi biru terang. Kini, tampak jelas makhluk apa yang membawa Moru tadi. Rupanya, itu seekor penyu.

photogrid_1464649354655.jpg

“Kita sudah sampai di permukaan, Kawan Kecil! Kamu senang melihat sinar matahari lagi?” Penyu berbicara dengan mulut tetap mengapit Moru, sehingga suaranya mirip orang berkumur saat sikat gigi. Kepalanya menyembul ke permukaan air laut yang biru kehijauan. Sementara itu, sinar silau matahari menimpa kaca depan dan kap mesin Moru.

Tak jauh dari tempat Moru dan Penyu berada, sebuah perahu nelayan bergerak pelan. Di dalamnya, dua orang nelayan sedang sibuk mengurusi hasil tangkapan mereka. Dengan berani namun hati-hati, Penyu mendekat bersama Moru.

“Bersiaplah, Kawan Kecil! Aku akan mengantarmu kepada manusia!”
Usai berkata demikian, Penyu melemparkan Moru ke udara. Wuutt!! Klotak! Tahu-tahu, Moru sudah tergeletak di atas lantai perahu.

“Hei! Siapa melempar mobil-mobilan kemari?” seru salah seorang nelayan yang memungut Moru. Dengan marah, ia melemparkan Moru begitu saja ke laut.
Sebelum Moru tenggelam lebih dalam, Penyu menyambar Moru dengan mulutnya dan kembali ke permukaan laut.

“Mereka tak mau mengambilmu? Tak apa-apa, Kawan Kecil. Jangan menyerah!” kata Penyu.

Sepanjang hari, itulah yang dilakukan oleh Penyu. Setiap ada perahu nelayan datang, Penyu selalu melempar Moru ke dalam perahu mereka. Namun, tetap saja, akhirnya Moru dibuang kembali ke laut. Ketika matahari mulai tenggelam, Penyu membawa Moru kembali ke dasar laut, pulang ke sarang yang gelap.

“Anak lelaki yang memelihara aku dahulu, sangat menyayangi aku. Suatu hari, ia mengantarku ke tepi pantai sambil berkata, rumahmu ada di laut. Kebahagiaanmu ada di laut!” Penyu mengedip-ngedipkan mata. Dia merasa sangat mengantuk. Tapi, dia masih ingin bercerita. “Anak lelaki itu benar. Aku sangat bahagia bertemu laut. Aku ingin kamu juga bahagia bertemu dengan manusia yang menyayangimu. Teruslah berusaha dan sabar menunggu. Kebahagiaan pasti akan datang…”

Setelah berkata begitu, Penyu tertidur pulas. Arus bawah air laut mendorong-dorong bagian belakang badan Moru, sehingga dia semakin mendekat pada Penyu. Akhirnya, malam itu, Penyu terlelap dengan Moru menempel pada kepalanya.

photogrid_1464649366678.jpg

Keesokan paginya, ketika matahari bersinar lembut di atas laut, Penyu dan Moru kembali menyusuri birunya permukaan air yang luas. Kali ini, Penyu berenang lebih ke tepi, menuju tempat perahu anak-anak kecil biasa berkumpul untuk menyelam mencari mutiara.

“Akan kuantarkan kamu pada dua anak lelaki itu, Kawan Kecil!.”
Pelan-pelan, Penyu berenang mendekati dua anak berkulit legam dan bertelanjang dada yang sedang duduk dalam sebuah perahu kayu.

“Kak, ada penyu!”

Anak lelaki yang bertubuh lebih kecil menunjuk-nunjuk ke arah Penyu dan Moru. Anak lelaki yang lebih besar menoleh cepat, lantas menceburkan diri tiba-tiba. Penyu takut dan mencoba melarikan diri. Namun, tertangkap.

“Jangan takut. Coba kulihat. Tidak ada sampah plastik yang menjerat lehermu? Bagus!” Ternyata, anak lelaki itu tidak hendak menangkap atau menyakiti Penyu. Ia malah mengelus-elus Penyu dengan sayang. “Apa ini dalam mulutmu? Mobil-mobilan?”

Penyu meletakkan Moru di atas telapak tangan anak lelaki itu.

“Semoga kamu bahagia, Kawan Kecil! Sampai jumpa!” ucap Penyu pada Moru. Dia berenang mengitari Moru dan anak lelaki itu untuk beberapa saat. Lalu, pergi.

“Ini buatmu. Jaga baik-baik, ya?” Anak lelaki tadi membawa Moru naik perahu dan menyerahkannya pada anak yang lebih kecil.

“Waah! Terimakasih, Kak!” Anak kecil itu berseru girang. Mengelus Moru dengan sayang.

Anak kecil itu mengacungkan tubuh Moru ke arah laut. Ia membuka-tutup kedua pintu depan Moru, seolah-olah itu adalah tangan Moru yang sedang melambai. Mengucapkan salam perpisahan dan terimakasih kepada Penyu yang telah mengajari Moru untuk terus bersabar. Sebab, kebahagiaan pasti datang jika waktunya telah tiba.

(Eryani Widyastuti)

photogrid_1464649054260.jpg

—————————————————————————–

Ingin membaca dongeng-dongeng lain? Klik di sini.

—————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s