RESENSI BUKU: Suta Naya Dhadhap Waru


Resensi Buku
Judul: SUTA NAYA DHADHAP WARU
Penulis: Imam Budhi Santosa

 

... ketika wong cilik harus belajar kokoh menerima tekanan hidup dari atas bawah dan kanan kiri, mereka bisa belajar dari alang-alang. Ribuan kali ilalang harus rebah mati oleh sabit, cangkul, serta herbisida kimia, namun ribuan kali pula ia tumbuh kembali menjadi fenomena sepanjang masa. (hal. 43)

 

Jangan terburu-buru melompat ke ‘Bab 3: Tumbuhan dan Nama Desa di Jawa’ yang memang menjadi bahasan utama buku ini. Menjadi amat penting untuk menyimak ‘Bab 1: Manusia Jawa dan Tumbuhan’, karena bagian inilah yang menjadi jiwa dari keseluruhan isi buku. Tanpanya, penghayatan isi buku menjadi gamang. Penyajiannya yang ringan, mengalir, dan ringkas pada bahasan tiap jenis tumbuhan, memang membuka pintu prasangka bahwa buku ini sama dengan artikel-artikel tentang tumbuhan yang bertebaran di internet. Namun, itu tidak akan terjadi jika Bab 1 tadi disimak baik-baik, apalagi jika dilengkapi dengan membaca Kata Pengantar dan ‘Bab 2: Tumbuhan dalam Peribahasa Jawa’.

Pada Bab 3, kita bisa menemukan berbagai jenis bambu, karakteristik, dan manfaatnya. Atau, menjadi tahu bahwa ilalang yang dianggap gulma itu ternyata menjadi menanda kesuburan tanah, abu bakarannya bisa dipakai untuk pupuk kompos, dan bisa dijadikan obat mimisan. Kendati demikian, bukan berarti buku ini melulu bernilai informatif.

Lebih dalam lagi, buku ini berkisah tentang kilasan interaksi antara tumbuhan dan manusia Jawa selama mengarungi perjalanan waktu. Di antara tumbuhan-tumbuhan itu ada yang dimuliakan hingga keberadaannya mampu bertahan. Ada yang nyaris sirna, disingkirkan oleh manusia Jawa, karena dianggap merugikan. Ada pula yang berkali-kali disingkirkan, namun terus bangkit kembali.

Secara garis besar, manusia Jawa tidak hanya mengambil berbagai manfaat fisik dari tumbuhan bagi kehidupannya, tetapi juga merumuskan filosofi perilaku tumbuhan, yang kemudian diadopsi menjadi sikap hidup: bagaimana manusia Jawa bisa pasrah menerima keadaan, sementara di sisi lain memiliki akar menghunjam yang tak tergoyahkan dan terus memberi manfaat pada kehidupan di sekitarnya sampai dirinya benar-benar sirna.

Membaca buku ini dari kacamata manusia Jawa masa kini yang awam terhadap tanaman, kemungkinan besar akan menumbuhkan kesadaran bahwa manusia Jawa pernah memiliki ilmu yang luas dan mendalam mengenai tumbuhan. Bisakah kita membayangkan apa jadinya jika warisan ini dihidupkan kembali, baik secara sains maupun filosofis? Mungkinkah akan kita temukan solusi-solusi baru bagi banyak problem hidup manusia Jawa di masa modern; sebuah kurun masa di mana manusia Jawa ‘ketlingsut’ dari keluhuran peradabannya sendiri?

(Eryani W.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s