KICAU: Tradisional vs Moderen

photogrid_1478388369360

Sebenarnya, apa yang membuat manusia moderen merasa lebih beradab hidupnya daripada manusia yang cara hidupnya masih ‘tradisional’? Apakah kita merasa lebih beradab dari nenek moyang kita yang menggunakan daun untuk pembungkus makanan, sementara kita menyampah plastik hingga memenuhi lautan-daratan. Sebagaimana tidak semua tradisi itu bagus dan harus dilestarikan, begitupun yang kita sebut dengan modernitas beserta teknologinya yang konon ‘paling mutakhir’.

Mengapa kita tidak berusaha melangit sekaligus mengakar? Melejitkan potensi manusia dan alam dengan mengetahui batas-batas. Mengeksplorasi tanpa harus mengeksploitasi. Mengelola materi-materi namun terus menggali kedalaman spiritual, sehingga tak kehilangan esensi diri. Membangun peradaban dengan mengikuti bahasa-bahasa alam.

Apakah manusia moderen dengan teknologi gedung pencakar langitnya sudah berhasil memecahkan misteri pembangunan piramida kuno atau Borobudur yang majestic? Mengapa kereta kuda dianggap ketinggalan jaman daripada mobil? Karena kalah cepat dalam bergerak. Memang. Tapi, dalam hal menjaga kelestarian lingkungan, teknologi mobil masih kalah jauh dibandingkan teknologi kereta kuda. Tradisional dan moderen adalah dua jenis peradaban yang memiliki teknologi berbeda. Yang satu tidak lebih baik dari yang lain. Keduanya harus saling tarik-menarik untuk membuat keseimbangan baru. Peradaban yang baru.

……
It’s never too late to reinvent the bicycle
……
(System Of A Down-Innervision)

Rumah Pecinta Daun Mint

Pecinta Mint

Rumah yang satu itu nampak remeh, sekaligus mencuri perhatian laiknya helai daun mint segar di atas susu kocok vanila. Di sepanjang jalan, rumah-rumah bersaing meninggikan bangunan dan meniadakan halaman depan maupun belakang, kecuali lantai semen sempit untuk meletakkan pot-pot tanaman ala kadarnya. Sungguh monoton. Semonoton penampilan segelas susu kocok vanila. Perilaku rumah-rumah itu sama. Bersolek sekota mungkin dan tak peduli pagar garasinya memakan badan trotoar.

Tapi, rumah yang satu itu berbeda. Memilih mempertahankan halaman depannya yang bertanah coklat dan ditumbuhi berbagai macam tanaman hijau; kemangi, luntas, kenikir, pohon pepaya, pohon jambu, bebungaan mawar melati, cocor bebek, dan kemuning. Rumah satu lantai itu bertahan untuk menjadi dirinya sendiri dengan gentingnya yang sudah lama ditumbuhi lumut kering dan ubin lantai yang berusia hampir dua puluh tahun. Ia tidak ‘wah’ dan terkesan udik. Namun, orang-orang lewat yang menoleh kemari, hampir selalu menarik napas lega melihat rumah ini. Mereka membatin; jika saja tidak ada prestis yang harus dipertahankan di mata masyarakat yang tengah mengagungkan modernitas, rumah seperti inilah yang mereka rindukan sebagai tempat pulang.

Yah, senikmat-nikmatnya dan sekeren-kerennya meminum susu kocok vanila, lama-lama rasa eneg itu pasti datang juga. Supaya tidak muntah, harus sesekali mengunyah kesegaran daun mint. Maka, jangan heran, jika tempat-tempat wisata alam selalu dijubeli pengunjung saat liburan tiba. Sebab pada asalnya, manusia adalah pecinta kesegaran dan warna hijau. Pecinta daun mint.

(Eryani Widyastuti)


Renungan-renungan singkat lain dalam Kicau, klik di sini.