DONGENG ANAK: Mongki Menangkap Pelangi


mongki

Mongki, si monyet kecil, ingin menangkap pelangi. Bagaimana caranya?

photogrid_1464649327246.jpg

“Wuah! Ada jembatan lolipop, Bu!”

Hari ini, setelah hujan deras reda, Mongki, si monyet kecil berseru takjub melihat ke arah langit. Ada sesuatu di sana yang baru pertama kali ia lihat. Sebuah jembatan melengkung warna-warni mirip warna permen lolipop kesukaannya.

“Itu bukan jembatan lolipop, Mongki.” jawab Ibu yang sedang menyiapkan sepoci teh jahe hangat. “Itulah yang disebut pelangi.”

“Pelangi? Waah… indah…” Mongki betah berlama-lama duduk di dekat jendela seraya menatap pelangi. Namun seiring berlalunya waktu, keberadaan pelangi itu semakin memudar, dan akhirnya hilang. Mongki pun berseru panik. Ia menangis kecewa. “Oh, tidak! Pelanginya menghilang!”

“Memang. Pelangi hanya muncul sebentar, Mongki. Tunggulah bila hujan turun lain hari. Kamu akan bertemu pelangi lagi.” hibur Ibu.

Hilangnya pelangi di langit amat membekas di hati Mongki. Bahkan ketika tidur malam, ia masih memikirkannya. Tiba-tiba, sebuah ide brilian datang menghampirinya.

“Aha! Kalau begitu, sebelum pelangi menghilang, aku akan menangkapnya! Aku akan menempelkan pelangi itu pada dinding kamar tidurku. Jadi, aku bisa menatap keindahannya setiap hari, tanpa perlu takut hilang. Hm, tapi bagaimana caranya, ya?”

photogrid_1464649354655.jpg

Esok harinya, hujan turun lagi. Mongki senang sekali. Ia sudah menyiapkan sebuah rencana untuk menangkap pelangi. Oleh karena itu, begitu hujan reda dan pelangi muncul, Mongki segera berlari keluar rumah. Ia membawa sebuah kantung besar. Apa yang hendak dilakukan Mongki?

Hup, hup, hup! Mongki naik ke atas genting rumah. Kantung besar tadi ia selipkan di pinggang. Sampai di atas, Mongki mengambil kantung itu, dan mengayun-ayunkannya ke arah pelangi. Namun, tak ada hasil yang ia dapat.

“Ah, ternyata pelangi itu masih jauh di atas sana. Aku tak bisa menggapainya.” sesal Mongki. Ia pun turun dan masuk rumah.

Namun betapa terkejutnya Mongki, ketika melihat Ibu membawa sekeranjang benang wol berwarna-warni ke dalam kamar tidur. Jangan-jangan…..

“Apa Ibu juga mau menangkap pelangi dengan benang-benang itu?” tanya Mongki curiga.

“Rahasia.” sahut Ibu sambil tersenyum.

Hati Mongki semakin dag-dig-dug. Hm, jangan sampai Ibu mendahuluinya menangkap pelangi! Oleh karena itu, setiap ada pelangi muncul, Mongki selalu berusaha menangkapnya dengan berbagai cara. Mendaki bukit-bukit dan memanjat pohon-pohon tinggi. Namun, semua usahanya gagal. Pelangi itu benar-benar di luar jangkauan tangannya.

photogrid_1464649366678.jpg

Beruntunglah, Mongki tak perlu berlama-lama merasa sedih. Pada hari Minggu, Ayah mengajak Mongki naik balon udara! Ayah meminjamnya dari seorang teman. Kebetulan, sebuah pelangi besar sedang melengkung di atas langit.

“Asyik! Kali ini aku pasti berhasil menangkap pelangi!Ayo lekas berangkat, Ayah!”

Balon udara Ayah dan Mongki mulai melayang meninggalkan tanah. Lalu, naik, naik, dan semakin naik, sampai akhirnya benar-benar melayang di angkasa. Pemandangan di bawah sana jadi tampak serba mini. Rumah-rumah mini, pohon-pohon mini, kebun-kebun mini, dan…

“Oh! Itu pelanginya!” pekik Mongki girang.

Pelangi itu tampak begitu dekat di hadapan Mongki. Lebih besar dari yang ia kira. Kantung yang ia bawa tidak akan cukup mewadahi pelangi sebesar itu. Jadi, ia memutuskan untuk menangkap sepotong saja. Tangan Mopi berusaha menggapai bagian pelangi yang terdekat dengan dirinya untuk dimasukkan dalam kantong. Tapi anehnya, Mongki gagal lagi.

“Ouh… Aku tidak tahu kalau ternyata pelangi itu seperti udara. Tidak bisa ditangkap!” Mongki pulang dengan perasaan kecewa.

Ayah tahu Mongki kecewa karena gagal menangkap pelangi. Maka, ketika mereka turun dan pulang ke rumah, Ayah mengajak Mongki ke halaman depan. Mongki bertanya-tanya, apa maksud Ayah menyalakan selang air, dan mengarahkan aliran air tersebut ke arah berkas cahaya matahari?

photogrid_1464649381157.jpg

“Pelangi adalah lukisan langit yang terbuat dari tetes air dan cahaya matahari. Perhatikan baik-baik apa yang muncul.” kata Ayah.

“Hah? Pelangi kecil! Ayah membuat pelangi! Kereenn!” seru Mongki girang. “Bagaimana caranya supaya aku bisa menempelkan pelangi ini di dinding kamarku, Yah?”

“Kamu bisa menggambar pelangi di atas kertas dan menempelnya di dinding kamarmu.” Ibu datang ke halaman, menghampiri Mongki. Mendadak hujan turun dengan deras. “Ayo, kita masuk!”

Di dalam rumah, Ibu menyiapkan tiga gelas coklat hangat untuk mereka bertiga. Lalu, Ibu memberikan sebuah bingkisan untuk Mongki.

“Apa ini, Bu?” Mongki buru-buru membukanya. Oh! Rupanya, sebuah sweater bergaris warna-warni! Bagus sekali! Kok rasanya mirip…..

“Ibu berhasil menangkap pelangi?!” tanya Mongki heran.

Ibu tertawa. “Mongki, pelangi tidak bisa ditangkap. Tapi, kalau kamu suka pelangi, kamu bisa menangkap keindahannya. Ibu merajut sweater ini untuk menangkap keindahan pelangi.”

Mata Mongki berbinar, lalu memeluk Ibu dengan erat dan segera memakai sweaternya. Hangat dan nyaman.“Terimakasih, Bu! Sekarang, aku jadi monyet lolipop…eh, monyet pelangi! Hihihi.”

Tawa riang memenuhi rumah Mongki hari itu. Mereka menikmati minuman  coklat hangat bersama sambil memandangi rinai hujan di luar jendela dan menunggu pelangi muncul. Nanti jika pelangi itu hilang, Mongki tak akan sedih lagi. Sebab ia tahu cara membuat pelangi sendiri seperti yang diajarkan Ayah. Atau menangkap keindahan pelangi seperti yang diajarkan Ibu.

(Eryani Widyastuti)

photogrid_1464649054260.jpg

—————————————————————————–

Ingin membaca dongeng-dongeng lain? Klik di sini.

—————————————————————————–

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s