ANAK ADALAH RAJA: Fase Pertama Perkembangan Anak (0-7 Tahun)- Bagian II


 

photogrid_1466262787465.jpg

Pada artikel ANAK ADALAH RAJA: Fase Pertama Perkembangan Anak (0-7 Tahun)- Bagian I sebelumnya, kita telah mengetahui gambaran dasar 3 Fase Perkembangan Anak dan perspektif yang saya gunakan dalam memaknai Fase Pertama: Anak adalah Raja. Sekarang, saatnya kita membahas mengenai bagaimana orangtua mengasuh Sang Raja kecil. Pembahasan akan saya bagi menjadi 3 bagian, yaitu Sang Raja di Masa Awal (bayi), Sang Raja di Masa Puncak (2-5 tahun), dan Sang Raja di Masa Peralihan (5-7 tahun).

Selamat menyimak! 🙂

Sang Raja di Masa Awal

Sang Raja kecil harus diberi kesempatan untuk melakukan eksplorasi dan kebebasan beraktivitas. Orangtua hanya menjaga agar kebutuhan anak akan kebebasan senantiasa terpenuhi tanpa harus melupakan keamanan dan keselamatannya. (Orangtuanya Manusia, halaman 32)

Mari kita cermati kondisi umum anak dalam rentang usia 0-7 tahun. Yang termasuk dalam golongan ini adalah bayi, batita, balita, dan anak masa peralihan dari kondisi ‘bayi’ ke ‘anak-anak’ (5-7 tahun).

Pada usia awal, anak cenderung bereaksi menurut naluri dasarnya, yang karakteristiknya mirip reaksi hewan. Tampaknya, reaksi instingtif ini berkaitan erat dengan perkembangan otak dan jiwanya yang belum mencapai perkembangan tingkat berpikir logika, memori, dll. Bahkan, anak juga belum bisa mengenali dan memahami ragam emosi. Anak akan cenderung mempertahankan diri dengan defensif ataupun menyerang, mengedepankan naluri memenuhi kebutuhan/keinginan, dan naluri mencari rasa aman, tanpa adanya proses berpikir yang lebih tinggi/bijak. Pada fase ini, orangtua harus mampu seoptimal mungkin memuaskan kebutuhan otak dan jiwanya. Secara garis besar, kebutuhan tersebut bisa digolongkan menjadi 2, yaitu kebutuhan fisik, seperti kebersihan diri, makan, minum, bermain, dan lain-lain; dan kebutuhan spiritual, seperti sentuhan/ungkapan kasih sayang dari orangtuanya. Bila terpenuhi, akan menimbulkan perasaan nyaman dan aman pada anak. Bila otak dan jiwa tidak terpuaskan, sifat dasarnya yang mirip hewan itu akan terbawa di sepanjang kehidupan anak dan menyulitkan anak untuk mengakses tingkat proses berpikir yang lebih tinggi lagi. Mereka akan menjadi orang dewasa secara fisik, namun dengan pola pikir dan olah rasa yang masih ‘kekanak-kanakan’, sehingga kesulitan bila dituntut untuk berpikir dan berperilaku bijaksana dalam menghadapi masalah serta mengelola kehidupan.

Jadi, kebutuhan dasar seorang bayi bersifat amat krusial untuk dipenuhi, sebab inilah yang akan menjadi dasar kehidupannya kelak di masa mendatang. Untuk memenuhi kebutuhan dasar ini, bayi tidak memiliki kemampuan untuk memenuhinya. Oleh karena itu, biasanya bayi disetel (oleh Tuhan) ‘bersikap’ menuntut perhatian sangat besar dari kedua orangtuanya, lewat kerewelannya. Jelas sekali bayi membutuhkan pelayanan penuh dari kedua orangtuanya.

Sang Raja kecil sebenarnya membutuhkan kuantitas pertemuan yang banyak dengan orangtuanya, bukan kualitasnya. Tujuh tahun pertama usia anak kita, usahakan mempertahankan bertemu dengan anak kita pada momen-momen spesial setiap harinya. (Orangtuanya Manusia, halaman 44)

Nah, bukankah amat sesuai bila pada awal usianya ini, anak diposisikan sebagai Raja, sementara orangtua adalah Pelayan? Sebagai seorang pelayan yang baik, orangtua harus setia meladeni segala keperluan Raja. Tak peduli apapun yang ia lakukan, Pelayan tidak diperkenankan marah-marah pada Raja. Sebab hal itu akan berakibat buruk bagi perkembangan Raja. Pelayan haruslah membuang egonya, mengabdi tulus pada Raja, dan mengedepankan kepentingan Raja, meskipun harus mengorbankan kepentingan pribadi Pelayan. Bukankah seringkali kita temui para orangtua yang harus bangun malam-malam untuk mengganti popok, menyusui, bahkan mengorbankan karirnya yang cemerlang di luar rumah, atau mengabaikan passion yang ditekuninya supaya bisa fokus mengasuh bayi? Di sini, ego ‘AKU’ sang pelayan dilindas habis-habisan, demi ‘DIA’ sang anak/Raja. Masa yang sangat berat. Barang siapa yang rela/mengikhlaskan ‘keakuan’-nya, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan baru yang lebih besar, yaitu menjadi pelayan Raja. Namun, barangsiapa yang tidak/kurang merelakan ‘keakuan’-nya disembelih, maka masa-masa ini terasa bagai neraka. Sebab akan ada perebutan/pertentangan terus-menerus antara memenuhi kebutuhan Raja dan memenuhi kebutuhan ‘keakuan/ego’ Pelayan. Ki Hadjar pernah menyatakan dalam bukunya, bahwa pendidikan sesungguhnya adalah penghambaan kita pada sang anak.

Sang Raja di Masa Puncak

Ada dua tahap penting yang terjadi pada sang Raja kecil, yaitu tahap pemenuhan kebutuhan rasa ingin tahu dan tahap pengalaman belajar menjadi kebiasaan. Orangtua harus memenuhi tahap pertama, sedangkan pada tahap kedua, untuk membangun kebiasaan yang baik dibutuhkan peraturan dan kedisiplinan untuk membangun karakter positif anak. (Orangtuanya Manusia, halaman 33)

“Jangan lari! Nanti jatuh!”

“Jangan main air! Nanti sakit!”

Mungkin puluhan kali dalam sehari, orangtua meluncurkan kata-kata larangan pada anak mereka yang berusia batita-balita. Berapa kalipun dilarang, anak akan tetap bersikukuh melanggar larangan tadi. Inilah yang membuat orangtua sering habis kesabaran dan lupa posisinya sebagai Pelayan bagi Raja. Lalu, apakah orangtua harus membiarkan saja anak-anak mereka tanpa kontrol?

Pertama, Pelayan (orangtua) perlu memahami penyebab di balik tindakan-tindakan sang Raja kecil. Anak usia 0-7 tahun memang memiliki fitrah/kodrat untuk aktif, banyak bergerak, mencoba ini-itu, dan lain-lain. Apa yang mereka lakukan bukanlah kenakalan, melainkan sebuah aktifitas ekplorasi. Mereka mengeksplorasi dan melatih kemampuan fisik dengan berlari ke sana ke mari, serta melompat-lompat di atas kasur dan sofa. Mereka sedang mempelajari hukum sebab-akibat dan prinsip ruang ketika berkali-kali melempar remote televisi hingga rusak. Mereka sedang mengenal apa itu air ketika asyik main guyur-guyuran air selang di halaman. Dengan cara seperti itulah, sang Raja kecil mempelajari dunia ini secara nyata lewat permainan/aktivitas mereka. Ya, belajar bukan berarti harus duduk manis mengerjakan soal-soal, memainkan permainan khusus edukasi, dan membaca buku-buku.

Nah, yang harus dilakukan oleh orangtua adalah memberikan kesempatan dan ruang seluas mungkin bagi Raja untuk terus belajar, terus berlatih, dan terus bereksplorasi. Bila aktivitas sang Raja menjurus pada hal berbahaya atau merugikan, barulah Pelayan bertindak untuk mengamankan atau mengarahkan, sehingga sang Raja tetap terjaga keselamatannya tanpa harus terlalu banyak kehilangan kesempatan bereksplorasi.

Memberikan banyak ruang dan kesempatan bagi sang Raja, bukan berarti tak membawa efek samping. Dengan kebebasan seperti itu, tentu saja sang Raja kecil ini akan percaya diri untuk menolak apa-apa yang tidak sesuai dengan kemauannya. Bila perlu, sang Raja akan meledakkan bom tantrum (kemarahan meledak-ledak) yang pasti akan membuat Pelayan kalang kabut. Bila intimidasi ini berhasil dan Pelayan menuruti semua keinginan sang Raja, maka di lain waktu, sang Raja akan menggunakan jurus bom tantrum yang sama untuk mendapatkan keinginannya.

Supaya hal di atas tidak terjadi, Pelayan harus melakukan sesuatu. Seraya memberikan kesempatan dan ruang, Pelayan harus mulai mengamati dan menandai (niteni) kecenderungan-kecenderungan Raja dalam bersikap dan beraktifitas. Pengamatan ini akan menjadi sumber informasi yang amat berharga dalam menyelami karakter sang Raja. Semakin Pelayan memahami karakter/watak sang Raja, semakin mudah Pelayan menangkis bom tantrum sang Raja dan menemukan taktik cerdik untuk menaklukkan kemauan keras sang Raja, tanpa perlu bermain kasar.

Lebih jauh lagi, diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara, ada dua cara (alat pendidikan) yang tepat digunakan oleh Pelayan guna menghadapi sang Raja; yaitu memberi contoh (teladan) dan pembiasaan (Bagian I: Pendidikan, halaman 28-29). Teladan dan pembiasaan ini tentunya dilandasi oleh kasih sayang, bukan oleh kemarahan terhadap sang Raja. Harus disadari bahwa orangtua adalah teladan yang paling efektif bagi anak. Sebagai contoh, bila menginginkan anak suka membaca, orangtua harus mencontohkan bahwa mereka banyak/suka membaca. Bila menginginkan anak bertingkah sopan, maka contohkan bagaimana tingkah laku sopan tersebut.

Sementara untuk pembiasaan, tentukanlah aktifitas yang ingin dijadikan kebiasaan pada anak. Lalu, kenalkan bagaimana aktifitas itu berjalan dan jelaskan bagaimana aturan mainnya. Tak perlu tergesa-gesa melakukan banyak pembiasaan sekaligus pada anak. Tergesa-gesa dalam pembiasaan akan berujung pada tuntutan terhadap anak, yang biasanya berakhir dengan kericuhan antara orangtua dan anak. Fokuslah pada sedikit pembiasaan saja, yang sekiranya paling mudah dilakukan oleh anak dan memiliki kemungkinan paling besar bagi orangtua untuk konsisten membimbing dalam waktu yang lama. Dalam melakukan teladan dan pembiasaan, selalu sertakan pendekatan menyenangkan dan penuh kasih. Misalnya dengan pembukaaan seperti: duduk di dekat anak, mengobrol ringan terlebih dahulu, atau iringi dengan sentuhan/belaian lembut. Berlakulah seperti seorang pelayan yang baik. Hindari sikap memerintah atau membuat ajakan sambil lalu tanpa mempedulikan aktivitas/kondisi anak pada saat itu. Setelah semua hal tersebut dilakukan, jangan kaget bila anak masih saja melawan dan memberontak terhadap teladan dan pembiasaan yang coba diterapkan orangtua. Begitulah sifat seorang Raja; tidak suka diatur-atur. Yang dibutuhkan di sini adalah waktu dan konsistensi dalam berproses. Bersabar, berusaha, dan berdoa. Terdengar klise, namun memang itulah yang butuh dilakukan oleh orangtua pada masa-masa ini.

Sang Raja di Masa Peralihan

Kala orangtua berhasil menjadikan anak pada usia 7 tahun pertamanya menjadi RAJA, banyak mu’jizat yang akan muncul: terpantiknya bakat terpendam anak, tumbuhnya rasa percaya anak pada orangtua, serta kesiapan anak dan ketenangan psikologis anak untuk memasuki ‘masa ketaatan’ pada tujuh tahun berikutnya(Orangtuanya Manusia, halaman 48)

Ketika anak mulai menginjak usia 5-7 tahun, biasanya mulailah tampak hasil kerja keras orangtua selama fase pertama. Orangtua sudah mulai bisa memahami pola-pola perilaku hingga cara berpikir anak; sementara anak sudah banyak berkurang pemberontakannya terhadap teladan dan pembiasaan yang diterapkan orangtua. Bahkan, berkat tekun niteni anak dalam berbagai aktifitas dan konflik, orangtua mulai menemukan satu atau mungkin beberapa minat dan bakat dari anak. Mengetahui hal ini, orangtua menunjukkan dukungan dengan cara ikut terlibat dalam dunia kegemaran anak dan berusaha mencari pintu-pintu untuk mengembangkannya.

Komunikasi antara Raja dan Pelayan berjalan semakin baik. Sikap Sang Raja kecil menjadi semakin positif dan penuh semangat dari hari ke hari karena rasa sayang dan percaya yang tumbuh dalam dirinya ini. Jiwa yang meledak-ledak selama ini mulai mereda karena telah mendapatkan pemenuhan kebutuhannya selama tujuh tahun. Seiring dengan itu, perkembangan otaknya mulai memasuki sistem berpikir yang lebih tinggi lagi, sehingga membantu anak untuk lebih memahami dunianya.

Anak yang mulai meningkat kesadarannya sebagai individu, pelan-pelan menyadari bahwa orangtua begitu peduli, sayang, dan menerima dirinya apa adanya. Bahkan, ketika ia berbuat buruk, orangtua tidak menghakiminya, tetapi membuka kedua tangan lebar-lebar untuk memberinya rasa aman dan nyaman, serta berjuang bersamanya untuk menyelesaikan masalah. Hubungan batin Raja dan Pelayan semakin menguat, sebagai hasil dari kebersamaan mengarungi badai pada hari-hari yang lalu. Lantas, melalui dukungan terhadap minat dan bakatnya, anak juga menemukan bahwa orangtua dan dirinya merupakan satu kesatuan dan tidak terasing dari satu sama lain. Akhirnya, tertanamlah pada diri anak, rasa percaya yang dalam terhadap orangtua. Ia percaya bahwa orangtua sangat menyayanginya (bukan cuma ucapan belaka). Ia percaya apapun yang dibimbingkan orangtua kepadanya pastilah untuk kebaikan dirinya, sebesar apapun ketidaksukaannya pada bimbingan itu. Kepercayaan dan keterikatan batin anak terhadap orangtua inilah yang menjadi bekal anak untuk memasuki masa ketaatan/fase kedua. Salah satu tanda bahwa anak telah siap memasuki fase kedua adalah ketika  anak melayani orangtua atas dasar inisiatif sendiri dan dengan hati yang senang, sesuai teladan yang diberikan oleh orangtua sebagai Pelayan.

Pada masa peralihan dari fase pertama menuju kedua ini anak sebaiknya mulai diberi gambaran dan dikenalkan pada hal-hal yang berkaitan dengan fase kedua, di mana anak bukan lagi seorang Raja, melainkan seorang Pembantu.

Sekilas Fase Kedua dan Ketiga

Fase Kedua ( Anak adalah Pembantu) adalah fase yang mengandung potensi konflik paling besar antara orangtua dan anak, meski mungkin anak tidak akan sering rewel seperti pada Fase Pertama. Ini dikarenakan ia sudah semakin menyadari ‘keakuan’/ego diri, serta sudah lebih cerdik dalam menunjukkan protes atau ketidaksetujuannya. Ia akan banyak menggunakan argumen, sikap melawan dalam diam, dan lain-lain, yang mungkin akan diselingi dengan nada-nada tinggi sebagai ekspresi sisa egonya dari fase menjadi Raja sebelumnya serta sebagai ekspresi harga dirinya sebagai seorang individu. Merupakan kesalahan fatal bila orangtua memperlakukan anak pada fase kedua ini sebagai obyek ‘lucu-lucuan’ dan tidak memperlakukan anak secara hormat. Secara singkat, yang dibutuhkan anak pada fase kedua ini adalah orangtua yang mau menghargai, melandaskan ketegasan pada perasaan kasih sayang (bukan kemarahan, frustasi), sekaligus bisa bersikap fleksibel (tidak kaku) mengikuti kecenderungan/fitrah perkembangannya.

Keberhasilan mengatasi konflik pada Fase Kedua ini sangat tergantung pada tingkat keberhasilan yang dicapai pada Fase Pertama. Semakin tinggi ikatan kepercayaan antara orangtua dan anak, serta semakin tinggi tingkat kepuasan seorang anak terhadap pemenuhan kebutuhannya pada Fase Pertama, semakin ringan pula orangtua-anak menjalani Fase Kedua. Hasil yang dicapai pada Fase Kedua nantinya akan mempengaruhi kesiapan anak melakukan perjalanan pada Fase Ketiga. Bila pada Fase Kedua, orangtua berhasil membimbing dan mendidik anak untuk taat (menjadi Pembantu yang baik), maka pada Fase Ketiga, anak akan menjadi seorang Menteri yang terampil serta menjadi seorang sahabat yang bisa diandalkan. Ia akan tumbuh menjadi pribadi penyayang, matang, dan tenang, sebagai hasil keluwesan orangtua dalam membimbing sang anak selama ini. Memberi petunjuk dengan bimbingan, memberi bingkai/kerangka dengan ketegasan dan konsistensi, namun tetap tak kehilangan ekspresi kasih sayang. Pada Fase Ketiga, konflik yang mendominasi hidup anak tidak lagi bersumber pada hubungan orangtua-anak, namun pada hubungan anak dengan orang lain/pihak luar. Setelah berhasil membangun keharmonisan hubungan bersama orangtua, saatnya anak belajar membangun keharmonisan dengan dunia luar. Ia juga harus fokus belajar menyokong serta mengelola kehidupan pribadinya dan tidak lagi mengandalkan orangtua. Pada penghujung fase terakhir, anak sudah siap terbang dengan sepasang sayapnya yang kokoh, mengarungi luasnya bentangan dunia dan menjawab kerasnya tantangan jaman.

“Betapa baiknya masa kecil seorang anak yang dilalui dengan penuh aktivitas dan penuh kenakalan sehingga masa dewasanya akan menjadi orang yang tenang dan penyabar.” (Sabda Rasulullah yang dicantumkan dalam buku Orangtuanya Manusia, halaman 49)

-oleh Eryani Widyastuti-

 

 


*Daftar Referensi:

-Orangtuanya Manusia (Cetakan I, 2012). Munif Chatib. Penerbit Kaifa.

-Bagian I: Pendidikan (Cetakan II, 1977). Ki Hadjar Dewantara. Penerbit Majelis Luhur Taman Siswa Yogyakarta.


 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s