PARENTING ‘NGEGAS & NGEREM’

Buku tentang pemikiran Mbah Nun yang satu itu dibaca-baca dan dibuka-buka. Layout bagian dalamnya memang eye-catching. Berwarna-warni dengan viarisi font yang secara natural menarik mata. Melihat anak saya yang berumur 7 tahun tertarik membuka-buka buku bersampul hijau pucat berjudul Hidup Itu Harus Pintar Ngegas & Ngerem, hati saya langsung berbunga-bunga penuh harap. Barangkali akan ada barang sebaris dua baris pitutur Mbah Nun yang nyantol entah dalam hati atau sekedar ingatan anak. Ketika ditanya tentang isi buku, jawabannya mengirimkan sensasi smack down pada perut saya, “Nggak tahu! Aku nggak ngerti!”

Ya, ya, baiklah. Salah saya sendiri yang terlalu baper di awal momen. Memang waktu itu, saya sedang diliputi rasa kagum pada konsep ‘Ngegas dan Ngerem’ yang dibeber Mbah Nun dalam buku tersebut. Dengan mengingat-ingat frasa ‘ngegas & ngerem’ saja, saya sudah merasakan manfaatnya. Ketika saya ngegas berkarya, saya belajar ngerem untuk mematuhi rambu-rambu biologis tubuh, psikologis pikiran, dan ruhani hati. Sehingga, proses kerja saya bisa lebih kontinyu mengalir daripada sebelumnya. Berkurang pula pola kerja semacam ledakan sesaat kembang api sebagai akibat pemforsiran diri tanpa perhitungan yang tepat. Ketika saya ngegas prihatin pada suatu topik, maka saya belajar ngerem dengan merenungkan sifatNya yang Maha Presisi dalam mengatur perputaran roda dunia. Sehingga, saya tidak terjebak rasa frustrasi dan sumbu pikir saya menjadi sedikit lebih panjang, Pun, ketika saya ngegas berbuat kebaikan, saya belajar ngerem dengan menimbang apakah perbuatan tersebut memang empan papan untuk dilakukan, dan bukan karena menuruti nafsu untuk ‘rakus surga’ atau ingin mendaku sebagai ‘orang baik’.

Maka, melihat anak saya membuka-buka buku tersebut, sekonyong-konyong ubun-ubun saya ditancapi keras-keras oleh sebilah ide, yaitu memperkenalkan konsep ‘ngegas dan ngerem’ padanya. Hanya saja, saya tak tahu harus mulai dari mana. Membacakan isi buku? Tentu saja konteks yang dipakai tidak akan nyambung dengan dunia anak. Jadi, saya hanya bisa rasan-rasan kepada Sang Guru Sejati, sambil berusaha jeli menangkap momen belajar yang diciptakanNya.

***

Bu, aku marah!”

Ledakan kalimat emosional dari mulutnya siang itu bak Big Bang dalam kepala saya. Inilah momentumnya! Di tengah gejolak hawa panas siang yang bercampur dengan tangis dan teriakan marah, saya berusaha mendinginkan kepala serta hati yang hampir ikut meledak karena situasi. Saya tak mengatakan apapun saat dia marah. Saya ngerem segala amunisi nasehat yang sudah siap direntetkan dari mulut ini. Seberapa benarpun nasehat itu, anak saya tidak akan mendengarkan. Sebab, dia tengah dipenuhi oleh rasa marah. Kemudian, situasi berubah lebih tenang. Maka saya mulai ngegas pelan-pelan.

Kamu ingat buku Mbah Nun yang berjudul Hidup Itu Harus Pintar Ngegas & Ngerem?” tanya saya seraya meraih kepalanya dalam pelukan. Dia mengangguk. Namun dari jawabannya, saya tahu dia tak punya interpretasi khusus terhadap judul tersebut. Jadi, saya lanjut menginjak pedal gas lebih dalam. Saya berikan ilustrasi tentang sebuah mobil van warna hijau yang sedang dia kendarai. Persis seperti dalam imajinasi favoritnya. “Marah tak terkendali itu sama dengan ngebut. Apa yang terjadi ketika kamu menyetir, ngegas terus, tapi tidak mau ngerem?”

Kecelakaan. Masuk jurang, menabrak pohon, atau kendaraan lain. Brak-bruk-brek-brok!”

Ya, betul. Amarah yang tidak tahu batas, jika tidak direm, akan merusak. Membuat celaka, tak hanya si pengendara mobil, tetapi juga orang lain. Amarah bisa merusak sel-sel otakmu, menaikkan tekanan darahmu, dan mengacaukan irama detak jantungmu. Bisa jadi, kamu juga menyakiti hati orang yang menyayangimu. Seperti tadi ketika kamu membentak Ibu.” singkatnya, saya berkata begitu. Berulang-ulang di kemudian hari, saya mengungkapkann inti pesan yang sama dengan berbagai variasi kata-kata. Rem, rem, rem! Ibu di sini untuk mendengarkan keluh kesahmu. Ungkapkanlah isi hatimu dengan cara yang baik. Ingat pesan Mbah Nun untuk pintar ngegas dan ngerem. Belajar mengerem adalah belajar mengendalikan diri. Dalam contoh situasi ini adalah mengendalikan amarah. Silakan marah. Sebab menekan rasa marah sama saja dengan menimbun bom waktu atau menyalakan titik api dalam sekam. Tetapi, penyaluran rasa marah harus tahu batas. Sebelum mencapai garis batas itu, pedal rem harus diinjak.

***

Saya mengerem, sementara dia mengegas. Saya mengegas, ketika dia sudah bisa mengerem. Tapi, terkadang situasi terlalu runyam. Saya harus mengegas cara saya mengerem. Sikap saya yang cenderung banyak ngerem malah memberikan ruang baginya untuk ngegas amarah. Pada momen-momen seperti inilah, saya belajar mengenai ketegasan. Setelah melewati proses trial and error, saya menemukan beberapa cara untuk menginjak rem dengan keras. Ada kalanya, saya menggunakan kalimat: Mau sampai kapan kamu akan marah? Satu jam lagi atau sampai besok? Atau mau dicukupkan sampai sekarang saja? Setelah itu kamu bisa cerita pada Ibu. Pernah juga saya melontarkan kata-kata sewibawa mungkin: Ini siapa?Ini Ibu! Dengarkan Ibu!

Sekilas, bersikap tegas sama dengan marah. Padahal, sesungguhnya dua hal tersebut berbeda jauh. Ketegasan tidak boleh dipakai sebagai topeng ‘demi kebaikan anak’, padahal di balik itu, orangtua sedang melampiaskan kejengkelan kepada anak. Ketegasan adalah konsistensi tindakan yang dilatarbelakangi oleh niat positif dan pertimbangan sejernih mungkin. Dalam kepengasuhan anak, bersikap tegas memang berpotensi membuat orangtua melepas pedal rem dan ngegas kemarahan. Anak akan menjadi frustasi, sehingga merenggangkan hubungan keluarga. Sementara ngerem berpotensi membuat orangtua menjadi mudah diombang-ambingkan situasi, lambat-laun menjadi orangtua yang gampang dimanipulasi oleh kepentingan sang anak. Bila diberlakukan secara kaku, keduanya akan mengakibatkan bimbingan-bimbingan orangtua kepada sang anak menjadi layu sebelum berkembang. Supaya tidak kebablasan ngegas atau kebablasan ngerem, keluwesan amat dibutuhkan.

Ekspresi kemarahanmu sudah melewati batas. Kamu terus mengebut, padahal di depanmu ada jurang. Karena kamu tidak mau injak rem, Ibu yang ambil alih menginjak rem, supaya kamu selamat, Ibu selamat, kita semua selamat.” ucap saya suatu ketika, seraya memeluk anak saya. Ada rasa marah dan jengkel yang terselip dalam ketegasan saya. Untuk itu, secara jujur, saya meminta maaf kepadanya. Lalu, kami berdua berjanji untuk sama-sama tidak menyerah memperbaiki diri sembari saling mengingatkan. Sampai nanti, kami bisa terampil ngegas dan ngerem dengan ukuran tekanan serta tempo-tempo yang bervariasi, layaknya jemari pianis yang menari lincah di atas tuts-tuts piano, melahirkan rangkaian nada indah.

Ngegas & ngerem, dan ucapan-ucapan Mbah Nun yang lain, meski hanya sekecap dua kecap, mengandung keluasan dan kedalaman makna serta laku. Sehingga membuka pula keragaman cara mewujudkannya. Sebagai seorang ibu rumahtangga, saya memilih cara sederhana. Saya sadar tidak mampu mengubah keterpurukan bangsa, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, atau mempengaruhi percaturan politik nasional. Tetapi setidaknya, saya bisa berjuang untuk mengubah keluarga dan diri sendiri menjadi lebih baik lagi.

(Eryani Widyastuti)

Membuat Tempat Mainan dari Botol Bekas

Ada beberapa botol besar bekas air mineral Cle* berjajar di samping rumah. Hendak dibuang sayang, tidak dibuang kok jadi menimbun barang. Pada saat yang sama, kardus tempat mainan anak sudah rusak terkena air sewaktu bermain perahu-perahuan. Hmm, sepertinya dua kondisi tadi bisa dijodohkan supaya bisa melahirkan sebuah manfaat.  Sambil menemani anak membongkar pasang pesawat jet mainannya, saya menyiapkan bahan-bahan berikut:

1 buah botol besar bekas Cle*

2 buah cincin gantungan kunci

solder

cutter

gunting

setrika

seutas tali elastis

Tahukah apa yang hendak saya buat? Tentu saja tahu, kan sudah disebutkan dalam judul di atas. Hihihi. Nah, bagaimanakah cara membuat sebuah tempat mainan dari botol bekas tersebut? Silakan ikuti catatan di bawah ini. Percayalah, jauh lebih mudah dan lebih cepat membuatnya daripada mencatatnya!

PEMOTONGAN

1. Bersihkan botol

2. Gunakan cutter untuk memotong bagian atas botol. Sebagai perkiraan ukuran, potong beberapa senti di bawah bagian ‘bahu’ botol (sekitar pada garis teratas pola yang tercetak di badan botol) 

3. Rapikan dengan gunting bila perlu

4. Kini, ada 2 bagian botol yang siap dikreasikan. Bagian botol yang lebih besar digunakan sebagai wadah mainan; selanjutnya disebut Wadah.  Bagian yang lebih kecil digunakan sebagai penutup wadah; selanjutnya saya sebut Tutup.  Letakkan Tutup di atas Wadah untuk memastikan bahwa tempat mainan bisa tertutup dengan baik (meskipun tak bisa rapat seperti kotak mainan di toko).

5. Supaya bekas potongan pada Wadah dan Tutup berkurang ketajamannya, tumpulkan tepian tersebut menggunakan setrika panas. Caranya, gerakkan setrika melingkar mengikuti bentuk tepian Wadah dan Tutup, sambil ditekan lembut. Hati-hati, jangan terlalu lama dan kuat menyetrika, karena bisa menyebabkan tepiannya meleleh.

 

PEMASANGAN ‘ENGSEL’ & TALI ELASTIS

‘Engsel’ yang sudah terpasang. Abaikan lubang-lubang di luar engsel yang tampak pada gambar. Mereka adalah efek samping proses trial and error.

 

Buat ‘engsel’ untuk menautkan Tutup dan Wadah supaya tempat mainan bisa dibuka-tutup dengan baik. Caranya:

1. Panaskan solder.

2. Tautkan Tutup dan Wadah. Tentukan bagian mana yang akan menjadi bagian ‘Depan’  dan bagian ‘Belakang’.

3. Pada bagian Belakang, lubangi tepi Tutup-Wadah secara lurus dan bersamaan dengan solder (tembus). Sekitar 5 cm (sejajar horizontal) dari lubang tadi, buatlah lubang yang sama.

4. Lanjutkan dengan membuat 2 lubang pada bagian Tutup, sejajar vertikal dengan lubang sebelumnya.

5. Pisahkan Tutup dan Wadah. Pada bagian Depan Wadah, buat dua lubang sejajar horizontal, berjarak sekitar 3 cm dari satu sama lain.

6. Hasilnya, pada Wadah terdapat 2 lubang Belakang dan 2 lubang Depan. Pada Tutup terdapat 2 lubang Belakang.

Penampakan lubang Wadah bagian Depan. Tali yang dipakai pada gambar ini semuanya bekas. Satu tali elastis dan satu tali biasa. Jadi, saya gabungkan saja mereka.

 

7. Tautkan kembali Tutup dan Wadah dengan titik lubang Belakang yang sesuai. Masukkan ring secara sejajar vertikal sebagai ‘engsel’.

8. Periksa apakah sudah bisa dibuka tutup dengan baik.

9. Pasang tali elastis pada lubang Depan Wadah, lalu ikat ujungnya hingga membentuk sebuah lingkaran.

10. Tutuplah Wadah dengan baik, kemudian kaitkan lingkaran tali elastis ke bagian leher belakang botol.

11. Tempat Mainan siap digunakan!

Kaitkan tali elastis ke belakang leher botol, seperti cara orang mengenakan kalung.

 

Tempat mainan ini bisa dibuka dengan 2 cara.  Pertama, jika ingin memasukkan mainan berukuran besar, silakan buka tali elastis tadi. Kedua, jika ingin memasukkan mainan berukuran kecil, tidak perlu repot membuka tali.  Buka saja tutup original botol (dalam gambar warna oranye)! Mudah, kan? 

Selamat mencoba! 😍

(Eryani Widyastuti)