CATATAN PERJALANAN ‘CULTURAL TRIP TO GRISSEE V’ (6): Pungkasan di Leran-Kemasan

Minggu, 24 September 2017. Meninggalkan Pulau Mengare, membawa kenangan menembus hutan bakau dan jelajah Benteng Lodewijk. Menjelang siang, barisan minibus membawa para peserta Cultural Trip To Grissee V menuju Leran. Tepatnya, ke kawasan makam Siti Fatimah binti Maimun.

Jalan setapak panjang yang diapit hamparan batu-batu nisan, menghubungkan langsung pintu masuk dengan makam putri Sultan Mahmud Mahdad Alam dari Malaka tersebut. Menurut cerita, Siti Fatimah menyanggupi keinginan ayahandanya untuk dijodohkan dengan seorang raja Jawa yang beragama Budha, demi menyebarkan agama Islam. Namun baru saja sampai di sebuah tempat pemberhentian di pesisir pulau Jawa, beliau terserang wabah penyakit, lalu meninggal. Daerah pemberhentian tersebut dinamai ‘Leran’; berasal dari bahasa Jawa ‘lerenan’ atau ‘tempat berhenti/istirahat’. Raja Jawa yang dituju oleh Siti Fatimah pun merasa menyesal dengan wafatnya sang putri. Sebagai penghormatan, sang raja membangunkan cungkup menyerupai rumah batu berundak bagi makam Siti Fatimah. Pintu masuknya lebih rendah dibandingkan ukuran manusia dewasa. Jadi, siapapun yang hendak berziarah harus membungkukkan diri, menandakan Siti Fatimah adalah perempuan terhormat.

Cungkup makam Siti Fatimah binti Maimun

Makam Siti Fatimah binti Maimun dengan pintu rendah

Kawasan makam Siti Fatimah binti Maimun sering pula disebut Makam Panjang. Sebab di dalamnya terdapat beberapa makam yang ukuran panjangnya tak lazim, hingga 9 meter. Mengapa dibuat seperti itu? Menurut sebuah penafsiran, ukuran makam yang panjang ini digunakan untuk menyimpan harta almarhum, supaya tidak menjadi bahan rebutan, karena tidak adanya ahli waris. Penafsiran lain mengatakan bahwa panjang makam menyimbolkan panjangnya perjuangan almarhum dalam menyebarkan agama Islam. Pukul 11 siang, peserta bergegas meninggalkan kawasan makam, karena telah dinanti kedatangannya di Kampung Kemasan.

Makam Panjang

 

 

Mintalah Kepada Allah: Mengunjungi makam untuk menyambung rasa dengan para leluhur dan mendoakan mereka, bukan untuk meminta sesuatu kepada mereka

Tenda panjang memayungi jalan masuk Kampung Kemasan sepanjang beberapa meter. Pada kedua tepi jalan itu pula, di depan rumah-rumah lawas megah berarsitektur campuran Cina-Eropa-Arab, para peserta Pameran Ekokraf (Ekonomi Kreatif) Gresik menata karya-karya orisinal mereka. Makanan-minuman lokal, kerajinan dari barang bekas, kain batik khas Gresik, kreasi patung-patung kaca, dan lain-lain.

Sementara itu, para peserta Cultural Trip To Grissee V telah tiba dari Leran, dan disambut atraksi lincah macan, monyet, dan genderuwo. Ketiga karakter tersebut dimainkan para penari Pencak Macan, sebuah seni pertunjukan khas pesisir yang diangkat dari seni arak-arakan pengantin. Macan simbol suami, monyet simbol istri, dan gendruwo simbol gangguan. Perpaduan keluwesan gerak tari dan kelincahan akrobatik ini mengandung kearifan, bahwa sebuah rumahtangga harus mau berjuang mengatasi gangguan-gangguan tersebut. Permainan rancak musik tradisional pengiring Pencak Macan telah sampai pada nada terakhir. Menandakan tarian telah usai. Kini, giliran Bapak Oemar Zainoeddin (kerap disapa Pakdhe Noot) menceritakan asal-usul Kampung Kemasan.

Pameran Ekokraf di Kampung Kemasan: Replika motor, bangunan, dan masih banyak lagi. Semua dari barang-barang bekas

 

 

Pencak Macan: sebuah seni pertunjukan khas pesisir

Rumah yang dibangun Bak Liong, seorang pengrajin emas dari etnis Cina, pada tahun 1850 merupakan cikal Kampung Kemasan. Dengan segera, keahlian Bak Liong memperbaiki perhiasan dan membuat karya seni berbahan emas terkenal ke mana-mana, hingga orang-orang ramai berkunjung kemari dan menyebut kawasan ini sesuai profesi Bak Liong, ‘kemasan’. Namun sepeninggal Bak Liong, Kampung Kemasan tak terurus lagi.

Tahun 1855, Kampung Kemasan dihidupkan kembali oleh kedatangan kakek Pakdhe Noot, yaitu H. Oemar bin Ahmad. Beliau membuka toko kulit di sini dan terus dikembangkan para putranya hingga menguasai pulau Jawa. Hasil kemajuan usaha kulit tersebut digunakan untuk membangun rumah-rumah keluarga besar H. Oemar bin Ahmad; secara otomatis menjadikan Kemasan sebagai sebuah kampung keluarga.

Sebuah rumah bekas sarang walet di Kampung Kemasan: Dari tiga buah jendela, hanya satu yang asli, dua lainnya merupakan ukiran.

Perjalanan menelusuri situs sejarah dan budaya Kota Gresik telah tuntas hari ini. Tetapi, perjalanan menyingkap lebih banyak lagi kandungan misteri bumi Giri Kedhaton tidak boleh berhenti di sini. Sebuah tugas besar dan panjang yang harus dipikul tidak hanya oleh Pemerintah, akademisi, budayawan, namun oleh kita semua yang masih merasa sebagai anak-anak kandung Ibu Pertiwi. [selesai]

Acara penutupan Cultural Trip To Grissee V di Kampung Kemasan

(Eryani W.) 

Advertisements

CATATAN PERJALANAN ‘CULTURAL TRIP TO GRISSEE V’ (5): Petualangan Eksotik menuju Benteng Lodewijk

Menembus hutan bakau menuju Benteng Lodewijk

Kemarin, Sabtu pagi menjelang siang, perahu biru yang ditumpangi 13 peserta ‘Cultural Trip To Grissee V’ memasuki kanal sungai yang berkelok-kelok. Rapatnya batang dan akar bakau di kedua sisi dan dedaunan di atas kepala yang saling silang menghalangi terik mentari, membentuk lorong vegetasi. Sebuah ekosistem pantai yang masih murni, tak tersentuh deru mesin industri dan pekatnya residu proses pabrikasi Kabupaten Gresik. Di sinilah monyet-monyet pesisir berlompatan dari dahan ke dahan, burung-burung bangau mencari makan, dan satwa-satwa air bersarang.

“Dari atas sampai bawah, pohon bakau Daun Api-Api bisa dimanfaatkan. Akarnya, jelas, untuk menangkal abrasi. Batangnya dijadikan furnitur berkualitas. Rantingnya dibakar guna membersihkan kerak di perahu nelayan. Daunnya dipakai sebagai pupuk tambak bandeng dan pakan kambing. Lihat, gemuk-gemuk, kan? Padahal mereka tidak makan rumput, lho.” Pak Gatot menunjuk tepi kiri kanal sungai. Kambing-kambing putih berperut buncit sedang berlarian searah laju perahu.

Pantai Ayang-Ayang

Beberapa menit kemudian, tibalah peserta di Pantai Ayang-Ayang. Pasir putih bertekstur kasar, didominasi pecahan cangkang-cangkang kerang, mengucapkan selamat datang. Ditemani gemuruh rendah suara ombak Selat Madura yang menghantam pondasi tepian Benteng Lodewijk, peserta terus berjalan masuk ke dalam bangunan militer karya HW Daendles pada tahun 1808.

Venue yang disiapkan panitia di dalam benteng mengharuskan peserta menembus sebuah hutan tropis yang agak meranggas. Cukup unik, mengingat lokasi ini berada di pantai. Selama perjalanan, peserta menemukan beberapa sumur kuno, dan sebuah pohon langka berukuran besar yang menurut informasi tinggal 3-5 batang di seluruh dunia. Lelahnya jelajah hutan terbayar ketika sampai di venue yang teduh dan lapang. Seraya beristirahat, peserta menyimak penjelasan dari Mas Eko Jarwanto.

Pohon langka, tinggal beberapa saja di dunia

 

Venue yang rindang dan nyaman untuk beristirahat

Setelah berhasil menundukkan Kerajaan Belanda, Napoleon Bonaparte (Perancis) mengutus sang adik, Louis (Lodewijk – dalam bahasa Belanda), untuk memerintah di sana. Pada saat yang sama, Belanda sedang berusaha mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Kerajaan Inggris. Maka, Raja Louis mengutus HW Daendels menjadi Gubernur Jawa. Misi utamanya, memperkokoh kekuatan militer, salah satunya dengan membangun Benteng Lodewijk berkapasitas sekitar 800 prajurit dan 100 meriam. Pada masa damai, sebagai contoh masa Tanam Paksa (1857), Benteng Lodewijk hanya berfungsi sebagai pos. Persenjataannya dipindahkan ke Surabaya, sampai akhirnya benteng ini benar-benar ditinggalkan.

Monyet Pesisir di hutan dalam Benteng Lodewijk

Alih-alih melestarikan benteng bersejarah tersebut, masyarakat sekitar malah menghancurkan bagian-bagian bangunannya untuk dijadikan material pendirian rumah pribadi. Untunglah, kegiatan merusak tersebut sudah tidak dilakukan lagi. Namun, abrasi air laut turut mempercepat kerusakan sang benteng. Oleh karena itu, melalui kegiatan Cultural Trip To Grissee V yang dinaungi oleh Kemendikbud, Bapak Kris Adji AW (Ketua Yayasan Mata Seger) berharap keberadaan Benteng Lodewijk diperhatikan secara serius oleh Pemerintah. Benteng bersejarah di tengah eksotiknya pemandangan pantai; sebuah anugerah yang amat pantas disyukuri.

(Eryani W)