PETUALANGAN KECIL DI YOGYAKARTA (2): Menelusur Borobudur

Matahari siang melotot judes di atas langit. Untunglah, hadir sebungkus es krim vanila berbalut kesegaran jeruk nipis untuk meredakan efek gerahnya. Masih di hari yang sama dengan offroad lahir batin di lereng Merapi. Setelah di sana berkesempatan ‘mencicipi’ program format ulang perangkat lunak bernama kemanusiaan yang selama ini mengalami banyak kelumpuhan akibat terserang bugs, trojan, virus duniawi, kami berangkat menuju Candi Borobudur dengan perasaan baru.

Menurut ingatan yang agak meragukan ini, terakhir saya datang ke Borobudur adalah sekitar 20 tahun yang lalu dalam rangka study tour bersama kawan-kawan sekolah. Panas, tandus, mandi peluh, haus, lelah, dan bosan. Itulah kesan yang masih tertinggal dalam kenangan. Rasanya ingin sekali segera masuk ke dalam bus yang sejuk ber-ac dan mengakhiri sesi kunjungan di Borobudur. Toh, keperluan saya di sana cuma untuk membelikan sebuah dompet pesanan Nenek. Mempelajari relief Borobudur? Ah, saya tak tahu apa menariknya situs purbakala tersebut, selain karena heboh terkenal di mana-mana, dan untuk menjawab soal ujian tentang 7 Keajaiban Dunia.

“Jangan bayangkan Borobudur seperti dulu. Sekarang sudah hijau.” tutur Bapak.

Benar sekali. Sesampainya di sana, saya mendengus lega melihat wajah (lingkungan) Borobudur yang baru. Hawa khasnya yang panas masih tetap bertahan, namun dengan adanya pepohonan dan rerumputan di sana-sini, intensitasnya sudah banyak berkurang. Selama kami tak bersua, Borobudur telah banyak berbenah. Begitu pun saya. Walaupun tak sebanyak yang dilakukan Borobudur, sedikit demi sedikit saya juga berusaha membenahi pola-pola pikir yang sempit dalam memandang berbagai hal, termasuk sejarah. Sejarah adalah bagian dari diri kita. Dengan tangan dan kakinya yang telah melalui belaian dan hantaman peristiwa, sejarah membentuk siapa kita yang sekarang, dan meletakkan kita pada posisi masa kini.

Jalan masuk Candi Borobudur

 

Membaca Komik Batu

“Aku bosan.”

Baru saja kami menyusuri lorong relief dasar, Anak sudah menunjukkan ketidaktertarikannya pada Borobudur. Terus terang, saya tidak tahu apa yang harus saya katakan untuk bertahan di sini. Toh, saya sendiri baru saja ‘melek’ untuk belajar menghargai apa-apa yang diwariskan oleh masa silam. Bila saya mengatakan indah, itu karena saya sudah terpapar oleh berbagai ulasan mengenai keluhuran peradaban nenek moyang kita. Tapi, Anak memiliki dunia berbeda. Kesehariannya lebih lekat dengan topik alien, mobil-mobilan, game Minecraft, komik Smurf, ensiklopedia sejarah umum, dibandingkan dengan relief-relief nyata Borobudur.  Apa yang harus saya ucapkan?

“Ngomong-ngomong, Borobudur ini mirip komik, ya? Relief-relief sedang bercerita pada kita.” Saya nekat meretas jarak jaman antara Borobudur dan Anak, sambil mendorongnya meraba lekukan relief.

“Coba lihat relief yang ini. Ada orang naik kuda, ada prajurit membawa busur panah, ada macam-macam hewan dan tetumbuhan. Menurutmu, apa yang sedang diceritakan relief ini?”

“Mereka pergi ke hutan. Tapi, aku tidak tahu mereka mau apa.” jawab Anak.

“Ibu rasa, mereka hendak pergi berburu.”

“Oh iya ya. Benar juga.”

Relief yang, menurut imajinasi kami, menggambarkan raja yang sedang berburu ke hutan.

 

Usaha pertama mendapatkan respon mirip lilin ulang tahun. Menyala sebentar, kemudian mati.

“Ayo cepat ke puncak, Bu. Aku sudah bosan di sini.” komentarnya, ketika kami mencoba mengeksplorasi relief-relief lain.

“Ah, lihat, lihat. Kok dari tadi banyak orang yang berpenampilan seperti ini, ya? Menurutmu, mereka orang Jawa, bukan?”

Saya mencoba bertahan. Memantik ketertarikannya lagi dengan menunjukkan hal unik yang saya temukan. Relief-relief sosok berkalung tasbih, dan (sepertinya) bermata sipit. Rambutnya, sebagaimana jenggot dan kumis panjangnya, bertipikal lurus.

“Bukan orang Jawa. Tapi aku tidak tahu siapa mereka.”

“Berarti, dari jaman dulu, orang Jawa sudah go international, ya? Bersahabat dengan orang-orang luar negeri.”

Bandingkan ciri-ciri fisik orang yang berdiri sebelah kiri dan orang-orang di sebelah kanan. Apa saja perbedaannya? Mengapa yang satu berdiri dan yang lainnya duduk merendah? Diantara begitu banyak manusia, mengapa ada seekor monyet ‘nangkring’ di atas?

 

Pohon apakah ini? Kelapa? Siwalan? Sepertinya sangat ‘nge-hits’ pada era pembuatan Borobudur, sehingga seringkali disertakan dalam relief-reliefnya.

 

Bagaimana dengan relief ini? Barisan hewan berbagai rupa sedang ‘sowan’ kepada seorang lelaki. Mengingatkan pada sebuah kisah? Mengapa pula tipikal bagian kepala (wajah dan rambut) sepertinya tidak menyerupai orang Jawa?

 

“Ayo cepat, Bu. Aku mulai bosan lagi.” kata Anak, saat saya mulai kehabisan bahan untuk diceritakan. Cukup sedih juga mendengar komentarnya. Sebab saya juga belum berhasil menemukan jenis tali yang bisa menyambungkan antara Anak dan Borobudur. Sementara, saya mulai kehabisan akal, Telunjuk Inspirasi menyentuh ubun-ubun saya.

Makhluk mitos: manusia setengah burung.

 

“Hei, ingat tidak. Dalam buku ensiklopediamu yang menceritakan peradaban-peradaban kuno, selalu saja ada makhluk manusia setengah burung. Kenapa ya? Kenapa hampir di seluruh peradaban kuno dunia, termasuk Borobudur ini, ada makhluk manusia setengah burung? Simbol apakah itu?”

Anak tertegun. Kemudian, suaranya meninggi. “Aku tahu! Itu adalah bukti adanya alien! Makhluk dari langit!

Saya tersenyum. Penafsiran Anak memang tidak sesuai dengan penafsiran para akademisi. Tapi, tak jadi masalah. Yang terpenting, Borobudur mulai mengambil porsi kecil dalam ruang imajinasinya, dan mungkin suatu hari, dalam ruang hatinya. Samar-samar, saya mulai melihat seutas tali yang terjalin antara masa kini dan masa silam.

“Bisa jadi begitu. Ibu sendiri juga tidak tahu, karena Ibu belum pernah menelitinya. Ah, ada juga manusia-manusia yang menaiki kendaraan terbang!”

“Mereka pasti alien! Lihat, yang ini mengendarai awan!Oh, yang ini juga! Aku jadi tambah yakin, kalau alien itu benar-benar ada!”

Demi menghemat waktu dan tenaga, serta menjaga antusiasme Anak yang baru saja lahir, kami memutuskan untuk memusatkan energi menuju puncak Borobudur. Di sana, ia memungkasi imajinasinya.

“Di gunung itu ada portal menuju dunia alien. Biasanya terbuka di malam hari. Kalau sedang terbuka, ia akan mengeluarkan cahaya.”

Puncak Borobudur

 

Borobudur adalah bagian dari sejarah bangsa. Bangsa adalah kita. Borobudur adalah bagian dari kita semua. Tapi, apa yang akan sanggup kita katakan kepada generasi setelah kita, anak-anak kita, tentang Borobudur yang hanya kita pandang sebatas ikon kebanggaan? Kita yang mengenal keindahan Borobudur dari stigma umum, dan bukannya penghayatan pribadi, sanggupkah menautkan tali cinta antara Borobudur dan kepada anak-anak kita? Agar kelak, mereka menyadari Borobudur sebagai sebuah warisan yang harus terus dipelajari dan dipelihara, bukan sekedar tempat destinasi wisata.

Perjuangan ada di tangan kita!

Keindahan relief Borobudur. Bukan sekedar ukiran. Jika dilihat dari sudut pandang tertentu, beberapa relief seolah hidup, hendak keluar dari dinding candi.

Selanjutnya, petualangan kecil kami di Yogyakarta pada hari berikutnya berjalan tidak sesuai rencana. Karena pengemudi yang membawa kami berkeliling tak mengetahui letak destinasi yang kami inginkan, seperti makam Ki Ageng Suryomentaram, Ki Hadjar Dewantara, dan Jenderal Soedirman, waktu kami pun banyak dihabis dengan berkeliling saja. Selain kesan merinding disko di salah ruang lukisan Keraton, tak ada hal menarik lain yang bisa dicatat. Meskipun begitu kami tetap merasa senang, Merapi dan Borobudur telah menorehkan kenangan istimewa dalam jiwa kami. Sepertinya, lain kali kami harus kembali ke Yogyakarta untuk melanjutkan petualangan.

(Eryani Widyastuti)

PETUALANGAN KECIL DI YOGYAKARTA (1): Offroad Lahir Batin di Lereng Merapi

Pertengahan April 2017. Kapas-kapas mendung menggumpal di langit musim kemarau, menurunkan barisan rintik air yang kerap, namun tipis saja. Hujan salah musim menyambut begitu saya sekeluarga tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta. Kami pun memutuskan untuk berteduh sejenak di pelataran stasiun, sambil melepaskan kekakuan otot-otot tubuh usai menempuh 5 jam perjalanan dari Stasiun Gubeng, Surabaya. Tak sampai 30 menit, hujan mereda. Menyisakan gerimis yang kian menyirna. Mungkin, ia kesal karena tak mampu menyejukkan hawa jelang sore Yogyakarta yang menyengat.

Sebuah sore yang panas menuju penginapan, “Uuuuh, kapan sampainya? Aku capeek!”

 

Dari Stasiun Tugu, kami berjalan menuju sebuah penginapan di Jl. Dagen, Malioboro,  yang telah direservasi jauh-jauh hari. Bapak memimpin di depan seraya mencocokkan kondisi jalanan dengan aplikasi Google Maps di tangan. Sementara, saya dan Anak menyusul di belakang.

Sesuai arahan Google Maps, kami memasuki gang-gang sempit yang, sungguh di luar dugaan, tidak kumuh, tergolong bersih, bahkan diramaikan oleh penginapan dan tempat makan bernuansa etnik yang cukup menggoda wisatawan.

“Masih jauh, ya?” keluh Anak.

Cukup jauh kami berjalan. Keringat sudah membasahi punggung dan butiran-butirannya berjatuhan dari kening. Secara digital, kami sudah tiba di lokasi penginapan. Tetapi, secara nyata, tak ada papan yang menunjukkan nama penginapan kami.

“Peta ini salah. Seharusnya tadi kita belok ke kiri.” kata Bapak yang baru saja menanyakan petunjuk arah pada orang sekitar. 

Google Maps, oh Google Maps. Secanggih apapun, engkau hanyalah pemberi petunjuk fana yang tak luput dari kesalahan. 😁

Ada yang sengaja pasang pose ‘ngowoh’ karena ogah diajak berfoto saat berkeliling Malioboro dengan becak.

 

Malamnya, kami  bertiga menikmati suasana malam di jalanan Malioboro yang padat oleh pejalan kaki, kendaraan, dan pedagang. Pengayuh becak kami, Mas Ari, menjadi guide dadakan. Ia giat bercerita tentang tempat-tempat yang kami lewati, seperti Masjid Kauman (tempat Sultan rutin mengikuti Sholat Jumat) dan Keraton Yogyakarta. Ia juga menyelipkan cerita tentang dirinya. Mas Ari masih terhitung pengantin gress (baru). Ia menikah pada 28 Maret kemarin dengan seorang perempuan Ngawi yang berjualan pakaian di pasar.

Mengapa Yogyakarta? 

Memilih Yogyakarta sebagai destinasi perjalanan kami mengandung 10% niat berwisata belanja, karena ingin membelikan oleh-oleh untuk keluarga. Sisanya, 90% mengandung muatan yang sedikit filosofis. Membaca buku-buku Ki Hadjar Dewantara, Ki Ageng Surya Mentaram, Jenderal Sudirman, dan ‘hero’  Jawa lain, membuat kami berpikir tentang pentingnya menyambungkan kembali tali rasa beda generasi yang tergolong amat rantas ini. Mereka, sekalipun tanpa persambungan darah, adalah ‘Simbah’ para manusia Jawa. Mereka telah membabat alas baik secara spiritual, intelektual, maupun fisik, disertai harapan besar generasi berikutnya, yaitu kita, bisa hidup di atas tanah yang merdeka dengan jiwa dan semangat yang merdeka pula, tanpa perlu kehilangan jati diri.

Kami juga membaca kisah tentang Mbah Maridjan (Juru Kunci Gunung Merapi yang meninggal tahun 2010). Kesan kami,  Mbah Maridjan merupakan salah satu referensi manusia Jawa yang utuh pada era sekarang, secara spiritual maupun budaya. Hal ini tergambar dalam kebersahajaan sikap hidup beliau yang membungkus nilai-nilai luhur budaya Jawa, termasuk keteguhan beliau menghargai alam. Memperlakukannya sebagai makhluk hidup, bukan benda mati seperti yang jamak dilakukan oleh manusia Jawa modern.

Seperti yang kita ketahui bersama, tokoh-tokoh di atas berasal dan dimakamkan di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Dari titik pusat ini pula, peradaban Jawa pernah bertunas, mengalami musim semi, lalu mengalami musim gugur. Kemudian, reruntuhannya tersaput kabut hingar-bingar perubahan jaman.

Menentukan Prioritas Tujuan

Keraguan untuk berkunjung ke Merapi sempat hinggap, mengingat kami buta terhadap medannya dan menghitung jumlah makam serta museum yang ingin kami kunjungi.

“Kunjungan ke makam dan museum besok saja, sebelum kita pulang ke Jawa Timur. Hari ini, kita prioritaskan ke Merapi dan Borobudur.” begitu bunyi hasil perundingan kami.

Merapi dipilih sebagai kunjungan pertama karena sebuah nama ‘Mbah Maridjan’. Sementara Borobudur menjadi lokasi wajib kunjung, karena Anak belum pernah menginjakkan kaki di bukit stupa tersebut. 

“Dari sini harus mengendarai jip untuk naik ke atas. Itu loket karcisnya.” ucap Pak Yanto, supir kami hari ini, saat tiba di lokasi persewaan jip di Desa Ngrangkah, sekitar 8 km dari puncak Merapi. 

Memang benar. Mobil Avanza yang kami tumpangi tak kuat meneruskan perjalanan. Ditandai dengan bau sangit yang khas akibat berkali-kali melewati tanjakan. Tanpa buang waktu, kami membeli tiket dan mendapatkan antrian no. 7 untuk naik jip. Sambil mengisi waktu, kami pergi ke sebuah warung bambu, memesan dua piring mi instan, segelas teh dan segelas jeruk hangat. Makanan dan minuman bersuhu hangat, ditambah jaket yang kami kenakan, membuat hawa terasa bertambah gerah. Di luar perkiraan kami, hawa Gunung Merapi ternyata cukup panas. 

Ada yang kegirangan dapat bonus jatah makan mi instan.

Selang satu jam dari tegukan terakhir minuman kami di warung bambu, nomer antrian kami dipanggil.  Kendaraan yang kami tumpangi sudah terparkir gahar di tepi jalan aspal. Sebuah jip klasik Willys kisaran tahun 1945-1972, beratap terbuka. Bekas lumpur kering warna cerah mencoreng-morengi bagian luar dan dalam kendaraan yang seolah bisa peretel dalam sekali guncang ini. Sopirnya, Mas Jontrot, tak kalah gahar. Bercelana doreng dan berkacamata hitam. Mas Jontrot adalah penduduk asli Desa Ngrangkah yang turut terkena imbas muntahan dan awan panas Merapi pada tahun 2010.

Museum Mini Desa Petung

Melompat, miring kanan, miring kiri, seringkali seolah hampir terjungkal. Sensasi rodeo. Menyenangkan sekaligus menegangkan. Inilah gerakan demi gerakan jip yang mengguncang-guncang badan serta adrenalin kami, akibat jalanan berbatu sekaligus berlumpur kering, disertai kelokan dan tanjakan tajam. Di bawah langit biru yang dijejali awan-awan putih dan terik matahari Merapi, kami saksikan jurang lebar menganga dan bongkahan batu-batu hasil karya gunung sahabat karib Mbah Maridjan. Kami juga melewati beberapa lokasi pemukiman penduduk yang menyisakan puing-puing dan telah tertutup rerumputan liar. Bila ada yang membangun kembali, itupun rata-rata menggunakan material non permanen seperti bambu, tripleks, dan seng. Seakan menguatkan pesan bahwa dunia ini hanya ‘tempat mampir minum’. Sewaktu-waktu Merapi meluluhlantakkan rumahnya, sang pemilik telah menyiapkan hati untuk kehilangan.

Museum mini di Desa Petung

 

Kunjungan pertama kami adalah sebuah museum mini, di mana benda-benda mati, seperti alat makan dan sepeda motor yang meleleh, kerangka sapi, dipajang untuk menceritakan dalam diam kisah ‘Pesta Merapi’. Museum ini berlokasi di Desa Petung, memanfaatkan ruang-ruang dari puing-puing rumah mantan Kepala Desa Petung. Meski siang itu terang, namun suramnya aroma kematian masih tertinggal.

Batu Alien dan Desa yang Terkubur

“Tiga meter di bawah kaki kita ini sebenarnya adalah Desa Jambu.” ucap Mas Jontrot. Ia rajin memberikan penjelasan dan telaten menjawab pertanyaan-pertanyaan kami seputar letusan Merapi. “Begitu Merapi meletus, desa ini terkubur material dari gunung.”

Rasa miris mengiris saat mendengar perkataan Mas Jontrot. Kami memandang sekeliling. Lokasi Batu Alien terletak di sebuah padang tandus berbatu dan tampak mati. Bergetar hati kami ketika membayangkan bahwa di bawah pijakan kami, ada kehidupan komunal yang terkubur hingga tak menyisakan sedikit pun bekas-bekasnya sebagai sebuah tempat yang pernah dihuni manusia.

Masih di lokasi Batu Alien, di belakang kami tampak jalan lahar Merapi yang fantastis bak setting film LOTR. Sedangkan Desa Jambu terkubur 3 m di bawah telapak kaki kami.

 

“Kenapa disebut Batu Alien?” tanya saya di depan sebuah batu utuh super besar yang dijadikan obyek foto oleh pengunjung. Kata Mas Jontrot, batu tersebut berasal dari letusan Merapi. 

“Karena, batu ini aneh,  menyerupai wajah manusia.” jawab Mas Jontrot. Ia menunjukkan sisi pandang yang menggiring imajinasi kami supaya mendapatkan gambaran wajah manusia yang dimaksud. Memang benar. Batu Alien memiliki lekukan-lekukan mirip wajah manusia yang (menurut saya) seolah meleleh terkena panas. Ataukah itu merupakan ekspresi kesedihan? Silakan mengimajinasikan sendiri gambar yang bersumber dari situs Jeep Wisata Kaliurang di bawah ini:

Batu Alien yang jatuh di Desa Jambu

 

Sowan ke Rumah Simbah

Sebenarnya dengan mengambil Short Route (Rute Pendek) seharga Rp 350.000, kami ‘hanya’ mendapatkan jatah mengunjungi Museum Mini, Batu Alien, dan Bungker Kaliadem. Tetapi, karena ingin mengunjungi petilasan Mbah Maridjan, Mas Jontrot menyarankan untuk meniadakan kunjungan ke Bunker Kaliadem. Tentu saja, kami langsung sepakat. Mbah Maridjan adalah alasan utama kami mengunjungi Merapi.

Desa Kinahrejo, tempat tinggal Mbah Marijan, terletak 4 km dari puncak Merapi. Berbeda kesan dengan dua tempat yang kami kunjungi sebelumnya, lokasi rumah Mbah Maridjan menyiratkan geliat kehidupan. Turun dari jip, kami mendatangi sebuah bangunan rumah bernuansa desa yang berbentuk memanjang. Di terasnya, meja-meja ditata rapi dengan berbagai dagangan makanan minuman tergelar di atasnya.

“Jadah tempe satu, Mbah. Berapa harganya?” tanya saya dalam bahasa Jawa halus.

“Tiga ribu, Nak. Ini enak, lo.”

Jadah Tempe, lebih mudah dibayangkan dengan menyebutnya ‘Burger Jawa’, merupakan seiris tempe bacem goreng yang diapit oleh dua lapis jadah dan dibungkus oleh daun pisang. Cita rasa tempe yang legit pas sekali berpadu dengan kegurihan jadah yang terbuat dari ketan putih punel yang diramu bersama kegurihan kelapa. Penjualnya adalah seorang perempuan sepuh usia 82 tahun, berpenampilan sederhana dengan pakaian kebaya dipadu kerudung. Pada wajahnya yang bersih, sumringah, dan menyimpan kedalaman makna hidup, terulas senyuman ramah yang menenangkan hati. Membuat kami teringat Nenek di Kediri yang sekarang sudah berusia 89 tahun. Semakin kuat rasa hati ini untuk terus mendekat, mengajak mengobrol, dan tak lupa bersalaman dengan khidmat.

“Kok mirip Mbah Maridjan ya?” batin saya. Ah, mungkin saya terlalu berimajinasi.

Pikiran itu pun terabaikan segera. Saya dan Anak lanjut menyusuri sebuah tanjakan pendek berupa tangga menuju petilasan Mbah Maridjan. Sementara Bapak masih asyik mengambil foto-foto di bawah. Kompleks memanjang tempat tinggal Mbah Maridjan terdiri atas beberapa bangunan dengan pelataran berpasir di tengahnya. Dari jalan masuk, kami mendapati rumah yang dijadikan tempat penjualan souvenir, sedangkan sebelah kiri terdapat sebuah pos, display barang-barang memorabilia letusa Merapi, petilasan Mbah Maridjan, dan tepat di depan kami berdiri tegak sebuah pendopo bertuliskan Joglo Hargo Merapi.

Mobil evakuasi yang menjadi saksi keteguhan hati Sang Juru Kunci Merapi

 

“Ini adalah mobil yang hendak mengevakuasi Mbah Maridjan, tetapi ditolak oleh beliau.” jelas Mas Jontrot, menunjuk pada sebuah rongsokan mobil. Mungkin, pada ruang dalam tiap molekul logamnya yang telah berkarat itu, terekam berbagai emosi manusia saat peristiwa letusan. Takut, panik, putus asa, harap, dan pasrah.

“Buk, buk. Tahu tidak siapa mbah yang kita ajak mengobrol tadi?” bisik Bapak yang datang menyusul. “Itu adik perempuan Mbah Maridjan!”

Adik dan istri Mbah Maridjan (ki-ka)

 

Dada saya bergetar halus namun dalam. Kami berdua saling berpandangan dalam haru. Sosok adik Mbah Maridjan merupakan pengabulan dari keinginan tak terucap kami yang tak mungkin terlaksana, yaitu bertemu dengan Sang Juru Kunci Merapi.  Tak cuma itu, kami juga beruntung bisa bertemu dengan istri Mbah Marijan yang memiliki sikap lebih kalem daripada sang adik yang terkesan ceria dan penuh semangat. Paduan kebaya dan kerudung bersahaja yang dikenakan kedua perempuan sepuh itu berpesan dalam kebisuan pada kami, bahwa selalu ada cara untuk menjadi seorang muslim yang baik tanpa harus meninggalkan identitasnya sebagai manusia Jawa.

Tanpa mengalami langsung, hanya membaca poster kronologi letusan Merapi tahun 2010 yang terpampang di sana, serta pajangan foto-foto para korban, sudah sanggup meninggalkan rasa pilu dan trenyuh dalam hati. Bagaimana dengan orang-orang yang mengalaminya sendiri?

Poster yang mengabadikan kronologi salah satu peristiwa saat Merapi meletus tahun 2010

Sampeyan dulu juga ikut mengungsi waktu erupsi?” tanya saya di tengah-tengah cerita Mas Jontrot mengenai letusan Merapi.

“Iya. Ikut mengungsi. Satu tahun kemudian, baru saya kembali ke desa.” jawabnya.

Entah, apakah ini hanya perasaan saya, tetapi getar kegetiran samar-samar terasa dalam setiap nada suara Mas Jontrot ketika menceritakan perisriwa memilukan tersebut.

“Apa sampeyan tidak merasa sedih setiap kali harus menceritakan letusan Merapi pada pengunjung? Sampeyan kan ikut mengalami juga.”

Mas Jontrot tertawa pelan. “Awalnya sih sedih. Tapi, lama-lama terbiasa.” katanya sambil membuang muka. 

Saya terdiam. Mungkin, dalam hidup ini memang ada jenis-jenis luka batin yang tak bisa disembuhkan oleh basuhan aliran waktu. Luka itu melekat dan menjadi bagian dari diri kita. Seperti Mas Jontrot, bisa disembuhkan atau tidak, luka masa lalu memang harus dihadapi dengan kepala dan punggung tegak. Merangkulnya dengan hangat bukanlah pekerjaan mudah. Namun, selama napas masih berhembus, manusia tak memiliki pilihan lain.

Petilasan Mbah Maridjan, serta beberapa peninggalan beliau termasuk mushaf Alquran, buku catatan, dan perlengkapan pakaian yang terkena efek letusan Merapi

(Eryani Widyastuti)