CATATAN PERJALANAN ‘CULTURAL TRIP TO GRISSEE V’ (5): Petualangan Eksotik menuju Benteng Lodewijk


Menembus hutan bakau menuju Benteng Lodewijk

Kemarin, Sabtu pagi menjelang siang, perahu biru yang ditumpangi 13 peserta ‘Cultural Trip To Grissee V’ memasuki kanal sungai yang berkelok-kelok. Rapatnya batang dan akar bakau di kedua sisi dan dedaunan di atas kepala yang saling silang menghalangi terik mentari, membentuk lorong vegetasi. Sebuah ekosistem pantai yang masih murni, tak tersentuh deru mesin industri dan pekatnya residu proses pabrikasi Kabupaten Gresik. Di sinilah monyet-monyet pesisir berlompatan dari dahan ke dahan, burung-burung bangau mencari makan, dan satwa-satwa air bersarang.

“Dari atas sampai bawah, pohon bakau Daun Api-Api bisa dimanfaatkan. Akarnya, jelas, untuk menangkal abrasi. Batangnya dijadikan furnitur berkualitas. Rantingnya dibakar guna membersihkan kerak di perahu nelayan. Daunnya dipakai sebagai pupuk tambak bandeng dan pakan kambing. Lihat, gemuk-gemuk, kan? Padahal mereka tidak makan rumput, lho.” Pak Gatot menunjuk tepi kiri kanal sungai. Kambing-kambing putih berperut buncit sedang berlarian searah laju perahu.

Pantai Ayang-Ayang

Beberapa menit kemudian, tibalah peserta di Pantai Ayang-Ayang. Pasir putih bertekstur kasar, didominasi pecahan cangkang-cangkang kerang, mengucapkan selamat datang. Ditemani gemuruh rendah suara ombak Selat Madura yang menghantam pondasi tepian Benteng Lodewijk, peserta terus berjalan masuk ke dalam bangunan militer karya HW Daendles pada tahun 1808.

Venue yang disiapkan panitia di dalam benteng mengharuskan peserta menembus sebuah hutan tropis yang agak meranggas. Cukup unik, mengingat lokasi ini berada di pantai. Selama perjalanan, peserta menemukan beberapa sumur kuno, dan sebuah pohon langka berukuran besar yang menurut informasi tinggal 3-5 batang di seluruh dunia. Lelahnya jelajah hutan terbayar ketika sampai di venue yang teduh dan lapang. Seraya beristirahat, peserta menyimak penjelasan dari Mas Eko Jarwanto.

Pohon langka, tinggal beberapa saja di dunia

 

Venue yang rindang dan nyaman untuk beristirahat

Setelah berhasil menundukkan Kerajaan Belanda, Napoleon Bonaparte (Perancis) mengutus sang adik, Louis (Lodewijk – dalam bahasa Belanda), untuk memerintah di sana. Pada saat yang sama, Belanda sedang berusaha mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Kerajaan Inggris. Maka, Raja Louis mengutus HW Daendels menjadi Gubernur Jawa. Misi utamanya, memperkokoh kekuatan militer, salah satunya dengan membangun Benteng Lodewijk berkapasitas sekitar 800 prajurit dan 100 meriam. Pada masa damai, sebagai contoh masa Tanam Paksa (1857), Benteng Lodewijk hanya berfungsi sebagai pos. Persenjataannya dipindahkan ke Surabaya, sampai akhirnya benteng ini benar-benar ditinggalkan.

Monyet Pesisir di hutan dalam Benteng Lodewijk

Alih-alih melestarikan benteng bersejarah tersebut, masyarakat sekitar malah menghancurkan bagian-bagian bangunannya untuk dijadikan material pendirian rumah pribadi. Untunglah, kegiatan merusak tersebut sudah tidak dilakukan lagi. Namun, abrasi air laut turut mempercepat kerusakan sang benteng. Oleh karena itu, melalui kegiatan Cultural Trip To Grissee V yang dinaungi oleh Kemendikbud, Bapak Kris Adji AW (Ketua Yayasan Mata Seger) berharap keberadaan Benteng Lodewijk diperhatikan secara serius oleh Pemerintah. Benteng bersejarah di tengah eksotiknya pemandangan pantai; sebuah anugerah yang amat pantas disyukuri.

(Eryani W)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s