CATATAN PERJALANAN ‘CULTURAL TRIP TO GRISSEE’ V (4): Menjaring Harapan di Pulau Mengare


Pemandangan tambak Pulau Mengare di pagi hari

Bicara Pulau Mengare pasti bicara tentang cita rasa bandengnya yang, kata banyak orang, lebih gurih dan tidak ‘bau tanah’ dibandingkan bandeng dari daerah-daerah lain. Dari Giri Kedhaton, para peserta berangkat ke Mengare, tujuan nomer 5 dari Cultural Trip To Grissee V. Untuk mencapai salah satu pulau milik Kabupaten Gresik ini, tujuh mini bus yang dinaiki para peserta harus melalui jalan sempit, agak bergelombang, dan diapit petak-petak tambak. Kemudian, menyeberangi Kali Kramat menggunakan jembatan.

Penari Tengur menyambut kedatangan peserta di Mengare

Gerak atraktif penari Tengur di panggung menyambut kedatangan para peserta. Mengenakan kaos seragam warna merah bertuliskan Cultural Trip To Grissee V, mereka berkumpul di halaman basecamp Exotic Mengare usai matahari tenggelam. Di atas panggung kecil itu pula, kemarin malam, harapan-harapan besar mulai dirajut. Bapak Camat Bungah berharap acara semacam Cultural Trip To Grissee V bisa menggeliatkan sektor pariwisata daerahnya, sehingga penghidupan rakyat tidak melulu tergantung pada dunia industri.

Bapak Kris Adji AW, Ketua Yayasan Mata Seger (Masyarakat Pecinta Sejarah dan Budaya Gresik) menyepakati harapan Bapak Camat. Beliau menambahkan pesan bagi para peserta, agar mulai menulis tentang sejarah-sejarah lokal di daerah masing-masing. Materi sejarah lokal akan memperkaya khasanah sejarah nasional Indonesia.

“Orang yang buta sejarah, tidak akan punya masa depan.” kata Bapak Kris Adji AW, menggarisbawahi akronim ‘Jas Merah’ Bung Karno: jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Selanjutnya, perwakilan dari Direktorat Sejarah Kemendikbud yang turut memberikan sambutan, menegaskan kembali pesan tersebut dan memberikan respek terhadap kegiatan Cultural Trip To Grissee V.

Sebuah bangunan kuna yang halamannya menjadi titik kumpul peserta. Pertanyaannya, bagaimana dahulu bangunan semegah dan seindah itu bisa didirikan, padahal lokasi Pulau Mengare cukup terisolir dari dunia luar pada masa silam?

Berjalan-jalan di tepian tambak yang dipagari pohon bakau Daun Api-Api

Pasar Tanjungwidoro

Pagi ini, para peserta berkeliling pulau Mengare secara berkelompok, didampingi Pak Gatot, dan beberapa pemandu lain. Mereka melewati rumah-rumah warga pada satu sisi, dan petak-petak tambak yang dipagari pohon-pohon Mangrove pada sisi lainnya. Mereka menyaksikan pula keseharian warga Mengare. Ada yang berangkat ke sungai, berjualan di warung, berbelanja ke pasar, dan membuat terasi di rumah.

“Bisa dikatakan, Pulau Mengare ini terbagi menjadi tiga kebudayaan, akibat letak geografisnya. Desa Watu Agung condong ke Manyar, Tanjungwidoro condong ke Bungah, dan Desa Kramat condong ke Socah-Bangkalan.” jelas Pak Gatot. Bersama kawan-kawannya, ia aktif menginisiasi geliat pariwisata Mengare dengan slogan ‘Exotic Mengare’ dan aktif memelihara kebersihan pulau serta situs sejarah-budaya Mengare, semacam Benteng Lodewijk.

Pak Gatot mengungkapkan, salah satu permasalahan di Mengare adalah abrasi. Pulau kecil ini berada tepat di depan Selat Madura. Ia terus dihantam oleh arus dan ombak laut. Akibatnya, luas Pulau Mengare mengecil. Banyak area tambak yang berbatasan dengan laut, pada akhirnya tidak dapat digunakan lagi. Pak Gatot berharap permasalahan serius tersebut segera ditangani oleh Pemerintah.

 

Perahu-perahu berbaris di sungai tengah desa yang sedang surut airnya.

Ikatan besar rerantingan pohon Daun Api-Api, masih dijemur untuk dibakar nanti guna menghilangkan kerak perahu.

Irisan terasi yang masih basah dijemur di tepi tambak.

Sekitar pukul 9 pagi, ketika air laut telah pasang, para peserta bergegas menuju dermaga. Perahu-perahu nelayan telah siap mengantar mereka ke daratan seberang. Sejuknya angin laut menerpa permukaan wajah. Sementara, sungai Cemara menghampar luas di depan mata. Riak-riaknya mendebur hati yang semakin tak sabar menyaksikan lebih banyak eksotisme Pulau Mengare dalam perjalanan menuju Benteng Lodewijk.

(Eryani W)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s