PENDAR-PENDAR MAIYAH: Sebuah Pengalaman Pribadi selama 2 Tahun Bermaiyah


dok. Wenda Febrianti

Sekarang, aku ikut pengajian. Sebenarnya, bukan arti pengajian secara awam, sih. Selain pembacaan ayat Al-Qur’an dan sholawat, di sini juga ada musik, guyonan, dan diskusi. Tentang agama, politik, masalah hidup… pokoknya, apa saja bisa dibahas di sini. Pokoknya…”

Sahabat saya berdecak. Dalam telepon, ia terdengar kehabisan kata.

Pengajian Kyai siapa, sih?” tanya saya penasaran.

Ia terdiam sejenak. Lantas balik bertanya, “Kamu tahu Cak Nun?”

Pendar-Pendar Bermunculan

Diri saya di masa kini pastilah terbahak jika bertemu dengan diri saya di masa lalu. Bagaimana bisa, dulu saya sempat merasa asing mendengar nama Cak Nun? Bahkan saat itu, nama dan wajah beliau hanya terekam sayup-sayup. Rasa asing itu berlipat ketika sahabat saya menyebutkan nama Maiyah. Tanda tanya mengenai Cak Nun dan Maiyah menghujani kepala saya bersama beribu tanda tanya lain mengenai berbagai makna dan fenomena kehidupan.

Beberapa hari kemudian, jawaban pembuka pun tiba. Sahabat saya menghadiahkan sebuah buku berjudul Tuhan pun Berpuasa. Buku itu membolak-balik konsep-konsep awam yang kadung teramini selama ini. Saya tak tahu; menuju kelokan dan turunan macam apa, pikiran dan hati saya akan dibawa oleh kalimat-kalimat Cak Nun? Jika ada yang pernah naik rollercoaster, kira-kira begitulah perasaan saya ketika pertama kali mencicipi rasa Maiyah.

Terguncang, tegang, penasaran, dan tiba-tiba saja merasa amat lega ketika sudah sampai pada suatu titik pemahaman tertentu. Semuanya diliputi oleh perasaan asyik yang menenangkan. Begitu juga ketika saya mulai mengakses online video-video acara Maiyah. Entah rumus apa yang digunakan untuk meracik acara yang isinya orang berbicara berjam-jam, tanpa aksi thriller atau drama ala industri hiburan, tapi mampu membuat semua yang tengah menyimak, termasuk saya, merasa sedang teraduk-aduk perasaannya. Kadang tertawa, kadang tercenung, kadang tersenyum-senyum tengsin, dan tak jarang mendadak mewek sendiri. Tak terlihat, namun terasa, pendar-pendar cahaya lembut dan kecil bermunculan dari hati. Kegembiraan yang hangat dan tidak membakar. Lantas, pelan-pelan, saya pun dibawa aliran takdirNya untuk semakin mengenal Maiyah.

Pendar-Pendar yang Menyebar

Benar-benar di luar bayangan. Menjelang akhir tahun itu, salah seorang penggiat Maiyah yang kebetulan merupakan kawan sekomunitas pendidikan alternatif, mengajak saya dan keluarga untuk menghadiri acara Forum Maiyah Bangbang Wetan. Pada kurun waktu itu pula, saya dan suami sedang getol-getolnya mematangkan konsep pendidikan keluarga kami. Katakanlah, anak saya tidak bersekolah. Tetapi, ia belajar, di mana saja, kapan saja, kepada apa dan siapa saja, dengan cara tersendiri.

Tentu hal ini dianggap kurang lazim dalam masyarakat dan mendapatkan beberapa pertentangan. Saya sadar, menempuh jalan yang tidak banyak dilalui orang memang berisiko dihinggapi perasaan sepi. Saat itulah, Cak Nun yang alhamdulillah hadir dalam acara, mengatakan kepada saya dan suami, kurang lebih begini, “Aku mendukungmu.” Kata-kata yang singkat. Namun, sanggup menjadi peledak, meruntuhkan banyak hambatan psikologis. Hambatan yang sejatinya saya lahirkan sendiri. Namun, tidak berarti bimsalabim masalah hidup langsung sirna. Masalah-masalah tetap ada dan harus diselesaikan. Hanya saja, kuda-kuda dalam menghadapinya telah semakin mantap, hingga seolah ada beban yang diangkat.

Meski hanya sekali itu berinteraksi langsung dengan Cak Nun, tetapi saya tetap merasa beliau menemani langkah-langkah saya melalui nilai-nilai Maiyah yang beliau wedarkan. Kisah beliau mengenai ‘jalan sunyi’ begitu menginspirasi, meneguhkan hati saya untuk tidak risau jika berseberangan pandang dan tindakan dengan banyak orang demi menjaga kesetiaan orbit pada gravitasiNya. Dalam Maiyah, saya jadi mengenal pula, bahwa kemudahan selalu meyertai kesulitan, bukan muncul setelahnya. Ternyata, ada terang di dalam gelap, dan derai hujan memiliki ruang sela yang lebih luas daripada hujan itu sendiri.

Beberapa masa setelah malam penghujung tahun itu, saya dan suami memutuskan untuk perlahan mengadopsi nilai-nilai Maiyah ke dalam pendidikan keluarga kami. Pendar-pendar cahaya yang sebelumnya bermunculan dari dalam hati, kini mulai menyebar acak, dan mulai berani melewati garis terluar diri. Saya merasakan kegembiraan yang aneh. Tidak menggelora, namun menenangkan dan memantapkan.

Ingin datang lagi, bisik saya dalam hati. Inikah yang dinamakan rindu?

Pendar-Pendar yang Menyelubungi

Kamu datang ke Padang Bulan naik apa?”

Sepeda motor. Suami, anak-anak, dan aku.”

Dua orang dewasa dan dua anak kecil?Malam-malam naik sepeda motor dari Kediri ke Jombang?”

Sahabat saya mengangguk tanpa beban. “Sambil bawa tikar, bantal, dan keperluan anak-anak.”

Mungkin beginilah rupa kesungguhan yang dilandasi keikhlasan. Saya rasa, setiap jamaah pasti mengalami perjuangannya masing-masing untuk bisa bermaiyah, seperti sahabat saya. Ada yang harus menaklukkan kesulitan transportasi, keterbatasan dana, waktu, jarak yang jauh, atau menaklukkan keengganan dirinya sendiri. Yang mengagumkan, begitu banyak orang dengan beragam kondisi dan latar belakang, semuanya berakit-rakit menuju satu titik yang sama: Maiyah. Fenomena ini menyuntikkan semangat segar bagi saya sekeluarga untuk mengatasi rintang.

Tidak menutup mata, bahwa anak saya beberapa kali protes, mengapa kami sekeluarga harus bermaiyah. Menurutnya, acara tersebut berlangsung lama dan melelahkan. Setelah memarkir kendaraan agak jauh, kami bertiga berjalan menyusuri trotoar. Saya dan suami saling melempar cerita mengenai kerinduan kami bermaiyah. Lantunan sholawat, diskusi yang senantiasa menumbuhkan kesadaran baru, serta orang-orang yang duduk lesehan, bersedia mengosongkan gelasnya masing-masing untuk belajar ilmu baru. Dinaungi keanggunan bulan purnama yang kadang berbinar malu disaput awan kelabu.

Tanpa sadar, si kecil ikut menyimak percakapan kami. Rupanya, ia bisa merasakan semangat orangtuanya, sehingga membuat cara jalannya yang semula agak gontai, menjadi beritme riang. Ketika acara berlangsung setengah jalan, ia pun mulai mengantuk. Saya tahu, ia berusaha menyaman-nyamankan diri supaya bisa tidur dengan kondisi yang ada. Ia sedang berjuang. Saat matanya hampir terpejam, ayahnya membisikkan kata-kata Cak Nun; bisa jadi ia tertidur, tetapi sel-selnya sedang aktif merekam ilmu Maiyah. Tak lupa, ayahnya membisikkan ucapan terimakasih telah mengorbankan kenyamanannya demi kebahagiaan orangtua. Usai acara, secara mengejutkan, anak kecil itu terbangun. Seolah tak pernah dihampiri rasa kantuk, ia berjalan giat sambil bercerita panjang lebar tentang kucing-kucingnya yang tengah menunggu di rumah. Lalu berkata, “Aku mau maiyahan lagi.”

Saya merasakannya. Pendar-pendar cahaya bertambah jumlahnya, menyelubungi kami bertiga, menerbitkan kegembiraan yang mengandung rasa haru.

(Eryani W.)

*artikel pernah dimuat di Buletin Maiyah Jatim (BMJ) 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s