RESENSI: Lukisan Kaligrafi (Kumpulan Cerpen Karya Gus Mus)


Gus Jakfar sedang diuji berupa anugerah kemahiran membaca tanda-tanda. Ia tertampar telak oleh Kiai Tawakkal yang pada keningnya terpasang tanda ‘Ahli Neraka’. “…pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia mau memasukkan diriku ke sorga atau ke neraka. Untuk memasukkan hamba-Nya ke sorga atau neraka, sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan.” (Gus Jakfar, hal. 11). Sebuah cerita yang menghentak ritme santai kita, amat cocok membuka Kumpulan Cerpen Lukisan Kaligrafi karya Gus Mus, dan genting dimasukkan dalam lembar resep obat untuk menyembuhkan hobi buruk kita yang baru; ‘membaca tanda-tanda’ (judging) surga-neraka, kafir-beriman, dll. pada diri orang lain.

Di halaman 13, peristiwa Gus Muslih menolong seekor anjing akan menggugah betapa lucunya kita, selalu ingat untuk menyebut asma Allah yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang, tapi di saat yang sama lupa mewujudkannya dalam perbuatan. Amplop-Amplop Abu-Abu, Lukisan Kaligrafi, Mbok Yem mengirimkan kesannya yang ganjil, samar-samar meremangkan permukaan kulit dan rambut-rambut tipis yang tumbuh di atasnya. Kita jadi termangu-mangu memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dalam cerita-cerita tersebut. Ada saja hal-hal di dunia ini yang gagal dijelaskan oleh logika. Barangkali, memang tidak semua hal harus masuk akal dan bisa penjelasan. Bahkan misteripun memiliki keindahannya sendiri.

Buku bersampul hijau tua ini pertama kali diterbitkan tahun 2003 dan memuat 15 cerpen. Ia tidak menawarkan ‘kemewahan’ alur alias tidak njlimet, sehingga mudah dipahami. Penamaan karakter dan latar belakang cerita yang dipilih juga tidak jauh dari keseharian kita, terutama bagi yang pernah mengenyam pendidikan pesantren. Misalnya, Bidadari Itu Dibawa Jibril, Lebaran Tinggal Satu Hari Lagi, Mbah Sidiq mengingatkan kita pada fenomena semangat menggebu-gebu dalam beragama, dan dengan jenaka Ngelmu Sigar Raga menyorot ulah ‘nakal’ seorang (yang mengaku sebagai) wakil rakyat. Lalu, Ning Ummi, Iseng, Kang Amin, Mubalig Kondang seolah menuturkan tentang kawan, saudara, atau tetangga kita sendiri dengan pernak-pernik yang tak jauh dari soal jodoh dan kenangan masa silam.

Dengan kesederhanaan yang dimilikinya, sungguh mengherankan bahwa kisah-kisah di dalamnya bisa meninggalkan kesan dramatis. Seperti aliran sungai kecil yang jernih; tampak tenang sekilas. Tetapi jika diperhatikan, kita akan menemukan kelokan-kelokan lembut dan pusaran-puran kecil di dalamnya. Justru di situlah letak kekuatan cerpen-cerpen Gus Mus. Kekuatan yang terbungkus  terbungkus dalam kesahajaan; itu pula yang dipelajari Kang Kasanun dari Singkek Tua. Kekuatan sebesar apapun, kelanjutan pesan Singkek Tua, tidak ada gunanya jika tidak membawa manfaat bagi sesama. Kemuliaan, sebagaimana kekuatan, tidak perlu ditampak-tampakkan seperti mengembangnya ekor merak di musim kawin. Ndara Mat Amit malah memilih dianggap gila untuk menyembunyikan fakta bahwa ia adalah kekasih Allah.

(Eryani Widyastuti)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s