PETUALANGAN KECIL DI YOGYAKARTA (2): Menelusur Borobudur


Matahari siang melotot judes di atas langit. Untunglah, hadir sebungkus es krim vanila berbalut kesegaran jeruk nipis untuk meredakan efek gerahnya. Masih di hari yang sama dengan offroad lahir batin di lereng Merapi. Setelah di sana berkesempatan ‘mencicipi’ program format ulang perangkat lunak bernama kemanusiaan yang selama ini mengalami banyak kelumpuhan akibat terserang bugs, trojan, virus duniawi, kami berangkat menuju Candi Borobudur dengan perasaan baru.

Menurut ingatan yang agak meragukan ini, terakhir saya datang ke Borobudur adalah sekitar 20 tahun yang lalu dalam rangka study tour bersama kawan-kawan sekolah. Panas, tandus, mandi peluh, haus, lelah, dan bosan. Itulah kesan yang masih tertinggal dalam kenangan. Rasanya ingin sekali segera masuk ke dalam bus yang sejuk ber-ac dan mengakhiri sesi kunjungan di Borobudur. Toh, keperluan saya di sana cuma untuk membelikan sebuah dompet pesanan Nenek. Mempelajari relief Borobudur? Ah, saya tak tahu apa menariknya situs purbakala tersebut, selain karena heboh terkenal di mana-mana, dan untuk menjawab soal ujian tentang 7 Keajaiban Dunia.

“Jangan bayangkan Borobudur seperti dulu. Sekarang sudah hijau.” tutur Bapak.

Benar sekali. Sesampainya di sana, saya mendengus lega melihat wajah (lingkungan) Borobudur yang baru. Hawa khasnya yang panas masih tetap bertahan, namun dengan adanya pepohonan dan rerumputan di sana-sini, intensitasnya sudah banyak berkurang. Selama kami tak bersua, Borobudur telah banyak berbenah. Begitu pun saya. Walaupun tak sebanyak yang dilakukan Borobudur, sedikit demi sedikit saya juga berusaha membenahi pola-pola pikir yang sempit dalam memandang berbagai hal, termasuk sejarah. Sejarah adalah bagian dari diri kita. Dengan tangan dan kakinya yang telah melalui belaian dan hantaman peristiwa, sejarah membentuk siapa kita yang sekarang, dan meletakkan kita pada posisi masa kini.

Jalan masuk Candi Borobudur

 

Membaca Komik Batu

“Aku bosan.”

Baru saja kami menyusuri lorong relief dasar, Anak sudah menunjukkan ketidaktertarikannya pada Borobudur. Terus terang, saya tidak tahu apa yang harus saya katakan untuk bertahan di sini. Toh, saya sendiri baru saja ‘melek’ untuk belajar menghargai apa-apa yang diwariskan oleh masa silam. Bila saya mengatakan indah, itu karena saya sudah terpapar oleh berbagai ulasan mengenai keluhuran peradaban nenek moyang kita. Tapi, Anak memiliki dunia berbeda. Kesehariannya lebih lekat dengan topik alien, mobil-mobilan, game Minecraft, komik Smurf, ensiklopedia sejarah umum, dibandingkan dengan relief-relief nyata Borobudur.  Apa yang harus saya ucapkan?

“Ngomong-ngomong, Borobudur ini mirip komik, ya? Relief-relief sedang bercerita pada kita.” Saya nekat meretas jarak jaman antara Borobudur dan Anak, sambil mendorongnya meraba lekukan relief.

“Coba lihat relief yang ini. Ada orang naik kuda, ada prajurit membawa busur panah, ada macam-macam hewan dan tetumbuhan. Menurutmu, apa yang sedang diceritakan relief ini?”

“Mereka pergi ke hutan. Tapi, aku tidak tahu mereka mau apa.” jawab Anak.

“Ibu rasa, mereka hendak pergi berburu.”

“Oh iya ya. Benar juga.”

Relief yang, menurut imajinasi kami, menggambarkan raja yang sedang berburu ke hutan.

 

Usaha pertama mendapatkan respon mirip lilin ulang tahun. Menyala sebentar, kemudian mati.

“Ayo cepat ke puncak, Bu. Aku sudah bosan di sini.” komentarnya, ketika kami mencoba mengeksplorasi relief-relief lain.

“Ah, lihat, lihat. Kok dari tadi banyak orang yang berpenampilan seperti ini, ya? Menurutmu, mereka orang Jawa, bukan?”

Saya mencoba bertahan. Memantik ketertarikannya lagi dengan menunjukkan hal unik yang saya temukan. Relief-relief sosok berkalung tasbih, dan (sepertinya) bermata sipit. Rambutnya, sebagaimana jenggot dan kumis panjangnya, bertipikal lurus.

“Bukan orang Jawa. Tapi aku tidak tahu siapa mereka.”

“Berarti, dari jaman dulu, orang Jawa sudah go international, ya? Bersahabat dengan orang-orang luar negeri.”

Bandingkan ciri-ciri fisik orang yang berdiri sebelah kiri dan orang-orang di sebelah kanan. Apa saja perbedaannya? Mengapa yang satu berdiri dan yang lainnya duduk merendah? Diantara begitu banyak manusia, mengapa ada seekor monyet ‘nangkring’ di atas?

 

Pohon apakah ini? Kelapa? Siwalan? Sepertinya sangat ‘nge-hits’ pada era pembuatan Borobudur, sehingga seringkali disertakan dalam relief-reliefnya.

 

Bagaimana dengan relief ini? Barisan hewan berbagai rupa sedang ‘sowan’ kepada seorang lelaki. Mengingatkan pada sebuah kisah? Mengapa pula tipikal bagian kepala (wajah dan rambut) sepertinya tidak menyerupai orang Jawa?

 

“Ayo cepat, Bu. Aku mulai bosan lagi.” kata Anak, saat saya mulai kehabisan bahan untuk diceritakan. Cukup sedih juga mendengar komentarnya. Sebab saya juga belum berhasil menemukan jenis tali yang bisa menyambungkan antara Anak dan Borobudur. Sementara, saya mulai kehabisan akal, Telunjuk Inspirasi menyentuh ubun-ubun saya.

Makhluk mitos: manusia setengah burung.

 

“Hei, ingat tidak. Dalam buku ensiklopediamu yang menceritakan peradaban-peradaban kuno, selalu saja ada makhluk manusia setengah burung. Kenapa ya? Kenapa hampir di seluruh peradaban kuno dunia, termasuk Borobudur ini, ada makhluk manusia setengah burung? Simbol apakah itu?”

Anak tertegun. Kemudian, suaranya meninggi. “Aku tahu! Itu adalah bukti adanya alien! Makhluk dari langit!

Saya tersenyum. Penafsiran Anak memang tidak sesuai dengan penafsiran para akademisi. Tapi, tak jadi masalah. Yang terpenting, Borobudur mulai mengambil porsi kecil dalam ruang imajinasinya, dan mungkin suatu hari, dalam ruang hatinya. Samar-samar, saya mulai melihat seutas tali yang terjalin antara masa kini dan masa silam.

“Bisa jadi begitu. Ibu sendiri juga tidak tahu, karena Ibu belum pernah menelitinya. Ah, ada juga manusia-manusia yang menaiki kendaraan terbang!”

“Mereka pasti alien! Lihat, yang ini mengendarai awan!Oh, yang ini juga! Aku jadi tambah yakin, kalau alien itu benar-benar ada!”

Demi menghemat waktu dan tenaga, serta menjaga antusiasme Anak yang baru saja lahir, kami memutuskan untuk memusatkan energi menuju puncak Borobudur. Di sana, ia memungkasi imajinasinya.

“Di gunung itu ada portal menuju dunia alien. Biasanya terbuka di malam hari. Kalau sedang terbuka, ia akan mengeluarkan cahaya.”

Puncak Borobudur

 

Borobudur adalah bagian dari sejarah bangsa. Bangsa adalah kita. Borobudur adalah bagian dari kita semua. Tapi, apa yang akan sanggup kita katakan kepada generasi setelah kita, anak-anak kita, tentang Borobudur yang hanya kita pandang sebatas ikon kebanggaan? Kita yang mengenal keindahan Borobudur dari stigma umum, dan bukannya penghayatan pribadi, sanggupkah menautkan tali cinta antara Borobudur dan kepada anak-anak kita? Agar kelak, mereka menyadari Borobudur sebagai sebuah warisan yang harus terus dipelajari dan dipelihara, bukan sekedar tempat destinasi wisata.

Perjuangan ada di tangan kita!

Keindahan relief Borobudur. Bukan sekedar ukiran. Jika dilihat dari sudut pandang tertentu, beberapa relief seolah hidup, hendak keluar dari dinding candi.

Selanjutnya, petualangan kecil kami di Yogyakarta pada hari berikutnya berjalan tidak sesuai rencana. Karena pengemudi yang membawa kami berkeliling tak mengetahui letak destinasi yang kami inginkan, seperti makam Ki Ageng Suryomentaram, Ki Hadjar Dewantara, dan Jenderal Soedirman, waktu kami pun banyak dihabis dengan berkeliling saja. Selain kesan merinding disko di salah ruang lukisan Keraton, tak ada hal menarik lain yang bisa dicatat. Meskipun begitu kami tetap merasa senang, Merapi dan Borobudur telah menorehkan kenangan istimewa dalam jiwa kami. Sepertinya, lain kali kami harus kembali ke Yogyakarta untuk melanjutkan petualangan.

(Eryani Widyastuti)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s