PERMAINAN ‘BIJI AMMO’ ala BOS


Bocah Ora Sekolah. Ora Sekolah Tetep Sinau

Siang ini panas seperti biasa. Sinar matahari menggigit kulit dan aktif melelehkan keringat. Seperti biasa pula, BOS mengayuh sepedanya, mengelilingi lingkungan rumah sambil bermain ‘Pom Bensin’ bersama Ibu.

Ketika iseng mencari rumput untuk dijadikan umbul-umbul pada sepeda BOS, Ibu menemukan satu jenis tanaman liar yang amat familiar. Ibu tak tahu apa namanya, tetapi biji tanaman tersebut adalah sumber keasyikan masa kecil Ibu. Biji berbentuk runcing tersebut bisa meletus bila terkena air. BOS kegirangan saat Ibu memperagakan caranya.

“Waaah! Biji ini aku namai Biji Ammo!” kata BOS. Istilah ‘Biji Ammo’ diambil BOS dari kata ammunition (amunisi), karena efek ledakan yang dihasilkan biji tersebut. “Ayo kita cari yang banyak!”

“Boleh! Coba perhatikan dulu ciri-ciri tumbuhannya, supaya kita lebih mudah mencari. Bentuk daunnya lebar seperti ini dan bunganya seperti terompet warna ungu.”

BOS dan Ibu mulai menyisir dan memeriksa setiap gerombolan tanaman di tepian jalan. Mencari biji-biji yang sudah tua, umumnya berwarna hijau gelap atau coklat. Bila masih terlalu muda, biji-biji itu tak akan dapat meledak.

Setelah mendapatkan banyak biji, BOS mulai merancang permainan. Ia membasahi pelataran rumah dengan air, lalu berkata.

“Aku dan Ibu taruh satu biji di air bersama-sama. Biji siapa yang meledak duluan, dialah yang menang.”

BOS dan Ibu sama-sama meletakkan satu biji. Kadang-kadang, BOS menang. Kadang-kadang, Ibu yang menang. Ledakan-ledakan liar yang terjadi beberapa kali mengagetkan kami. Beberapa kali, isi biji-biji tersebut (yang mirip biji cabai bentuknya) meledak hingga masuk ke mulut BOS atau mengenai matanya. Sempat pula mengenai wajah Ibu dan membuat kaget setengah mati. BOS dan Ibu tergelak-gelak.

“Ah, sekarang, Uji Keberanian, ya?” usul Ibu.

Dalam genggaman BOS, Ibu meletakkan sebuah biji yang sudah dibasahi, lalu bersama-sama, menghitung sampai lima. Jika belum meledak, biji itu harus pindah ke tangan Ibu. Bergantian terus hingga biji itu meledak dalam genggaman. Nah, sensasi was-was biji akan meledak ini yang membuat kami berdua meringis ngeri seperti pengecut, dan hampir saja kabur dari permainan. Terkadang, baru dipegang jari saja, biji itu sudah meledak. Berdua, BOS dan Ibu tertawakan kepengecutan dan kekonyolan ini.

“Ternyata, mainan tidak hanya ada di toko-toko, ya? Alam pun juga punya toko mainan yang seru.” komentar Ibu.

“Betul! Toko Mainan Alam! Besok kita main lagi, ya!” sahut BOS.

BOS dan Ibu mengakhiri permainan dengan menyeruput sebotol susu coklat dingin yang dibeli di toko tetangga. Segar sekali memang. Tetapi, saat membaca bagian ‘komposisi’, terdapat tulisan misterius ‘pewarna makanan’, ‘perisa makanan’, dll. Mungkin jaman sekarang, susu murni dan coklat masih belum cukup untuk membuat sebotol susu coklat.

(Eryani Widyastuti)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s