CERPEN: Manusia Bernama Marwah


(berdasarkan kisah nyata)

“Kenapa ya, hidup saya susah begini? Padahal, dulu saya paling rajin membantu Ibu dan menurut apa kata orangtua. Ini gara-gara saya dijodohkan dengan suami saya. Dulu, saya sempat menolak, tapi Ibu memaksa saya.”

Bagi Marwah, hidup adalah neraka. Suaminya lebih banyak menganggur di rumah, cuma tahu marah-marah, makan, dan minta uang rokok. Tak peduli pada uang beras dan biaya pendidikan yang semakin bermacam-macam tuntutannya. Anak-anak Marwah ada lima; empat lelaki dan satu perempuan. Dua telah bekerja, hidup mandiri, namun masih menadahkan tangan kepada ibunya untuk menambal kekurangan biaya hidup mereka. Tiga masih bersekolah; yang satu rajin membantu Marwah, seraya menyimpan gurat frustasi akibat kondisi keluarganya. Dua anak lain, kata Marwah, nakalnya bukan kepalang. Susah sekali diajak membantu mengurus rumah dan setiap hari merongrong meminta uang jajan.

“Andai suami saya punya pekerjaan tetap yang bisa diandalkan, tentu hidup saya tidak akan sengsara begini. Saya juga bisa tenang mengurus anak-anak dan rumah. Tidak usah capek-capek jadi buruh cuci-setrika.” katanya. Tiap hari, ia bekerja dengan wajah pucat dan berkeringat dingin, akibat penyakit sesak dan maag akut yang dideritanya.

Marwah menganggap, uang adalah sumber permasalahan yang membuat hidupnya seperti neraka. Kalau ia punya banyak uang, Anak-anaknya tidak perlu menunggak uang paket buku di sekolah, makan telur goreng pun tidak perlu dicampur tepung atau tahu supaya lebih tebal dan bisa dibagi beramai-ramai. Ia juga tidak perlu bingung berhutang sana-sini untuk membayar uang kos yang sering ditunggaknya itu.

“Duit… duit… duit…” suara Marwah bergetar getir, laiknya wirid yang mengiringi putaran untaian biji tasbih.

Atas semua pemasalahan hidup Marwah, mungkinkah hanya uang yang menjadi solusi tunggal? Sedangkal itukah tujuan Allah dalam menciptakan ujian bagi hamba-hambaNya? Marwah harus lebih ikhlas menjalani hidupnya. Semua kejadian, pasti ada hikmahnya. Ah, betapa mudahnya mengucapkan jawaban itu dalam kondisi perut kenyang dan dada lapang. Namun bagi manusia-manusia yang terhimpit seperti Marwah, jawaban semacam itu tersimpan di sebuah menara gading yang pongah dan tak teraih. Bukan berarti jawaban tersebut salah, hanya saja tidak bisa serta merta diucapkan tanpa pendekatan hati.

“Duh… kapan penderitaan saya ini akan berakhir? Mungkin lebih baik saya mati saja, biar suami tahu rasa bagaimana susahnya menjadi tulang punggung keluarga.”

Marwah seringkali mengeluh. Ia mengeluh sambil bekerja, mengeluh sambil mengobrol, mengeluh sambil berjalan kaki, dan mengeluh pula sambil berdoa. Sebenarnya, Marwah merasa malu jika terus-terusan mengeluh seperti ini. Malu pada Tuhan karena seakan tak ikhlas menjalani hidup dan malu pada orang lain yang menyediakan telinga mendengarkan curahan hatinya.

Tapi, adakah yang bisa Marwah lakukan selain mengeluh, bekerja, dan berdoa? Tak ada yang mau memberinya belai selain tangan-tangan kemalangan. Matahari terbit setiap pagi; namun bagi Marwah, matahari selalu tenggelam dan bintang-bintang tertutup awan mendung.

“Ya Allah, banyak sekali barangnya. Masih bagus-bagus.”

Mata Marwah bersinar-sinar, ketika menerima hibah barang-barang bekas dari tetangganya yang berkecukupan. Blender butut, tea set keramik yang patah gagangnya, piring porselain yang cuil pinggirannya, kontainer plastik warna-warni yang agak longgar tutupnya, dan masih banyak lagi. Marwah diperbolehkan memilih mana yang ia suka untuk dibawa pulang, atau mengambil semuanya sekaligus.

Barangkali karena terbiasa hidup dalam kegelapan, Marwah jadi lebih mudah tersentuh oleh hadirnya cahaya, meski hanya sepercik. Meski, apa yang ia anggap cahaya, sesungguhnya dianggap sampah kegelapan bagi orang-orang yang hidupnya bermandikan cahaya.

“Saya ambil ini saja.” Marwah membereskan separuh dari jumlah barang-barang itu. Sisanya juga masih tergolong bagus. “Sebenarnya, saya mau saja mengambil semua. Tapi… rasanya kok tidak pantas. Biar yang sebagian lain buat Mbak Shafa yang biasa mengangkut sampah di depan rumah itu. Sesama orang susah harus saling berbagi.” Ia tampak berkelakar.

Lain hari, Marwah mendapatkan proyek lumayan, membersihkan rumah tetangga dari luar sampai dalam, dari depan sampai belakang. Ia bersuka cita, karena sedang membutuhkan uang untuk membayar biaya ujian kenaikan kelas anaknya.

“Kemarin, saya diberhentikan dari rumah sebelah. Di sana, sudah ada asisten rumah tangga yang bisa bekerja sehari penuh. Saya sedih, karena penghasilan berkurang. Tapi, saya berusaha meyakin-yakinkan diri, bahwa yang namanya rejeki tidak akan tertukar. Yang penting saya mau terus berusaha. Yang penting halal.”

Marwah mengelap kaca jendela rumah tetangga dengan sungguh-sungguh. Ia semakin senang, karena si pemilik rumah membayar jasanya di muka. Dua ratus lima puluh ribu. Jumlah yang amat berarti baginya, sekaligus amat cepat ludes, mengingat banyak kebutuhan yang sudah menunggu untuk dibereskan.

“Setelah saya pikir-pikir, uangnya kebanyakan. Toh, yang saya kerjakan tidak banyak di sini.”

Pada hari terakhir proyek tersebut, Marwah mengangsurkan uang seratus ribu kepada si pemilik rumah. Sebuah sikap yang mengejutkan dari seseorang dengan himpitan ekonomi seperti Marwah. Ia tetap menolak ketika si pemilik rumah mengangsurkannya balik.

“Biar saja. Saya tidak tega kalau menerima semuanya. Apalagi selama ini, sampeyan baik pada saya. Sudah saya anggap saudara sendiri.”

Marwah tahu, ia memang kurang legawa menjalani hidup. Ia masih belum bisa menerima kenapa Tuhan menggariskan nasib yang begini sial kepada dirinya. Namun di tengah timpaan lapis demi lapis kegelapan itu, ia terus bertahan untuk tidak gilang kesadaran. Di antara sengalan napas saat penyakit asmanya menyerang sementara tugas cuci-setrika menggunung, ia menggelepar bertahan untuk tetap menjadi seorang manusia.

 

(Eryani Widyastuti)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s