BOS: At School Hours


(Bocah Ora Sekolah. Ora Sekolah Tetep Sinau)

“Mau terus nggak sekolah atau mau sekolah?”

Dalam beberapa kali kesempatan, BOS ditanya mengenai jalan pendidikan yang ingin ia tempuh. Umurnya sudah menginjak tujuh tahun (hampir delapan, malah).  Kesadaran dirinya pasti sudah lebih meningkat dibandingkan sebelumnya. Inilah waktunya ia memutuskan secara lebih sadar lagi, apakah terus tidak bersekolah atau bersekolah seperti teman-teman lain. Dapat diduga, bahwa jawaban BOS adalah tetap menjadi Bocah Ora Sekolah. Memang selama ini, BOS tidak pernah meminta sekolah, meskipun teman-temannya semua bersekolah dan BOS sendiri pernah juga ‘menyicipi’ suasana sekolah.

Salah satu tantangan yang harus dijawab oleh BOS dan orangtuanya atas keputusan tersebut adalah kenyataan ketika lingkungan menjadi amat sepi saat teman-teman bersekolah. BOS yang terbiasa bermain ramai-ramai bersama teman, tentu merasa kehilangan.

Maka, yang harus kami lakukan adalah menemukan pola-pola dan ide-ide kegiatan sesuai karakter kami (BOS dan orangtua) sendiri dan bisa konsisten melakukannya. Terlalu banyak perencanaan dan terlalu terstruktur seringkali menghasilkan rasa frustasi bagi kami. Sementara, spontanitas biasanya malah mampu menjadi sumber keceriaan.

Sebagaimana kehidupan sewajarnya, kadang hari-hari yang kami lewati membosankan dan penuh pertengkaran, kadang setengah membosankan-setengah menyenangkan, kadang pula santai-damai-tenggelam dalam buku-buku, kadang pula amat menyenangkan dan penuh semangat, seperti hari ini.

1. Bermain Pom Bensin dan Bersepeda

BOS bersepeda keliling, lalu berhenti di depan salah satu pohon, di mana seorang petugas pom bensin (Ibu) sudah menunggu.

“Pertamax, premium, atau pertalite, Pak?” tanya si petugas.

“Premium, satu liter.” jawab BOS.

Petugas pom bensin memencet-mencet mesin (batang pohon). “Mulai dari nol ya, Pak?”

Lalu, si petugas mengisi bensin (memberikan botol minum berisi air putih kepada BOS untuk diminum). Glup, glup, glup.

“Satu liter, 50.000.”

Lalu BOS membayar. Beberapa kali, BOS mampir ke pom bensin ini. Kadang membeli dua liter, kadang tiga liter. Mau tak mau, BOS pun menghitung berapa uang yang harus ia bayarkan.

Puas bermain pom bensin, Bos mengajak Ibu berkeliling. Dengan riang, ia bersepeda di depan. Sementara Ibu menyusul dengan memakai sandal Bapak yang jelas kebesaran dan memikirkan nasib sayur-mayur yang belum sempat diolah di dapur.

2. Membantu Ibu di Dapur


Pulang bersepada, BOS membuat minuman coklat hangat kesukaannya, lalu membantu Ibu menguleg bawang dan merica untuk masakan siang ini. Ibu senang, kegiatan menguleg berjalan tanpa didahului protes BOS seperti yang biasa terjadi. Semoga, ini merupakan tanda-tanda BOS ‘munggah level’.

3. Membaca Buku


Sambil menunggu menu makan siang matang, BOS membaca buku. Hari ini, ia memilih ‘Aruk-Aruk’ karya Roald Dahl, dan tertawa terbahak-bahak melihat gambar ilustrasinya dan membaca isinya.

Untuk setiap pilihan hidup, selalu ada konsekuensi yang harus ditanggung. Alih-alih panik menghindarinya, let’s do it together as a family. 

(Eryani Widyastuti)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s