Belajar Menulis ala Bos: “Ngomik, yuk!”


BOS. Bocah Ora Sekolah. Ora sekolah, tetep sinau.

Beberapa waktu lalu, Ibu mencoba pendekatan belajar dengan gaya baru. Mewajibkan aktivitas ‘menulis’. Aktivitas ini dipilih karena selama ini BOS sering ‘terbentur masalah’ karena ia tidak terampil dalam menulis. Namun, ukuran urgensi anak berbeda dengan ukuran urgensi orangtua. BOS tidak merasa ada urgensi untuk menemukan solusi atas permasalahan ‘menulis’ ini. Ia merasa dunianya baik-baik saja, meskipun tak terampil menulis. Di sisi lain, Ibu berpikir amat berbeda; menulis adalah ketrampilan urgen yang harus BOS pelajari demi kebaikannya sendiri. Selain itu, Ibu berpikir, aktivitas menulis juga bisa digunakan sebagai sarana belajar ketaatan.

Perbedaan kepentingan inilah yang akhirnya membuat aktivitas menulis dengan berbagai gaya akhirnya kandas. Ya, harus ada hal perlu diingat oleh Ibu, bahwa ‘taat’ tidak sama dengan ‘patuh’. Taat didasarkan pada rasa sukarela melakukan sesuatu/ikhlas, sementara patuh didasarkan pada keterpaksaan. Baiklah. Buang dulu semua keinginan supaya BOS mau menulis. Kembali pada dasar; ikuti fitrahnya.

Malam ini, BOS mengajak Ibu menggambar bersama, tentu saja sambil berkhayal. Berimajinasi adalah salah satu aktivitas Β favorit keluarga.

“Bu, tambahkan gambar di sebelah gambar Creeper-ku. Ini Creeper gaya baru. Pakai topi dan sepatu. Namanya Mr. Handsome Creeper.” kata BOS. Baru-baru ini, ia suka memainkan Minecraft; Creeper adalah salah satu karakter di dalam game tersebut.

“Hmmm… Ibu bikin apa, ya? Aha!” Ibu segera menggambar sesuatu di samping Creeper. Apa saja, yang waktu itu terlintas di kepala. Seekor ular yang sedang berdiri dan memakai sepatu. “Namaku MSS.”

Setelah dua tokoh komik tersebut tergambar, maka balon-balon percakapan bermunculan secara spontan. Mengalir begitu saja. Pertama, BOS yang berinisiatif membuat balon percakapan. Tidak heran, sebab ia sangat suka bacaan dalam bentuk komik. Usai BOS menuliskan balon percakapan pertamanya, Ibu menyahut dengan balon percakapan berikutnya.

Jika dipikir-pikir, aktivitas inipun termasuk belajar menulis. Tanpa sadar, BOS belajar menulis dengan riang gembira, tanpa harus beradu otot leher. Ia tidak dituntut dengan standar menulis begini-begitu seperti sebelumnya. Dalam aktivitas membuat komik, BOS juga tidak melakukannya sendiri, seperti waktu ia diminta belajar menulis tempo hari. Malam ini, Ibu pun ikut terlibat di dalamnya.

Sambil memperhatikan pola baru yang terbentuk ini, Ibu mencoba mengingat pola belajar membaca BOS sebelumnya; BOS cinta membaca terlebih dahulu, hingga akhirnya BOS bisa membaca tanpa harus diajari. Kenapa kali ini, tidak menggunakan pola yang sama? Biarkanlah rasa cinta terhadap menulis tumbuh di hati BOS, baru sesudahnya, Ibu membimbing ia belajar menulis. Apa yang sering terlupakan dalam proses belajar, sehingga belajar menjadi sesuatu yang membosankan dan melelahkan (plus, ingin dihindari anak)? Mungkin, jawabannya adalah: kegembiraan dan kebersamaan.

“Kita beri judul apa, ya?”

“Aku tahu! Mr. Handsome Creeper and Mr. Standing Snake!”

—————–

πŸŽƒ: My name is Mr. Handsome Creeper.
🐍: Hi, Handsome Creeper! My name is MSS.
πŸŽƒ: Hello, MSS!
🐍: Do you know what MSS is?
πŸŽƒ: Snake sound.
🐍: Hmmm, that’s a good guess. But, it’s not the answer.
πŸŽƒ: Ms. Snake.
🐍: Almost! Guess again.
πŸŽƒ: Mr. Snake.
🐍: Almost!
M=Mr
S=?
S=Snake
πŸŽƒ: Mr. Standing Snake.
🐍: YEAH, RIGHT!


 

(Eryani Widyastuti)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s