Ayo Menulis, BOS! Guk, Guk, Guk!


BOS. Bocah Ora Sekolah. Ora Sekolah, Tetep Sinau.

wp-1488731652802.jpg

“Aku tidak suka belajar menulis. Tapi, hari ini jadi lebih menyenangkan, karena aku belajar sambil bertugas sebagai seorang polisi. Ibuku… eh… anjing polisi pendampingku selalu menemani aku. Dia anjing yang pintar, seperti Chase dalam film Paw Patrol favoritku. Dia memberitahuku, mana tulisan yang harus diperbaiki dengan cara melolong panjang. Lucunya, setiap satu tulisan selesai, dia akan menggonggong riang. Guk, guk, guk!”

 

Setidaknya,  ada dua alasan mengapa saat menginjak pertengahan usia 7 tahun, Ibu dan Bapak memutuskan untuk mengajak BOS belajar menulis:

Pertama, belajar ketaatan. BOS memasuki Fase ke-2 dari 3 Fase Perkembangan Anak menurut Rasulullah, dimana ia memang sudah saatnya belajar taat; lebih mempertegas lagi gambaran, bahwa dalam hidup ini ada aturan-aturan yang harus dipatuhi, terutama untuk kebaikan BOS sendiri. Tidak semua hal dilakukan hanya karena enak/suka. Ada kalanya, sesuatu itu dilakukan karena memang ‘wajib’ /penting untuk dilakukan, meskipun tidak suka. Bukan bermaksud sewenang-wenang, tetapi karena memang itulah yang terbaik untuk dilakukan anak.

Kedua, tentu supaya BOS terampil menulis. Ketrampilan menulis pasti amatlah berguna bagi hidupnya di kemudian hari. Ibu dan Bapak berusaha menumbuhkan motivasi yang berasal dari kepentingan pribadinya. Jika ingin menjadi polisi seperti cita-citanya, maka BOS perlu belajar menulis supaya bisa menulis surat tilang, catatan investigasi kasus kejahatan, dll. Untuk tujuan kedua, kami tidak menarget BOS harus lekas bisa menulis lancar (apalagi bagus!). Yang perlu ia lakukan, seperti prinsip-prinsip aktivitasnya yang lain, adalah bekerja dengan sungguh-sungguh; menulis sepenuh hati. Toh, penentuan kapan BOS bisa menulis dengan lancar mutlak berada dalam TanganNya, bukan mutlak terletak pada metode dan usaha yang digunakan.

Awalnya, belajar menulis berlangsung alot. Ada momen menyenangkan, tetapi lebih banyak momen konflik karena BOS merasa tersiksa jika harus menulis. Akhirnya, Ibu memasuki dunia imajinasinya dengan menjadi seekor anjing polisi untuk menyemangatinya. Cara ini cukup efektif, hingga timbul ide baru menggabungkan kegiatan belajar menulis dan menonton video (sambil tetap menggonggong!), agar suasana lebih menyenangkan lagi. Maka, muncullah: Proyek Belajar Menulis. Berikut 4 buah dokumentasinya:

PROYEK BELAJAR MENULIS (Hari ke-1)
Tema: Ekspedisi Indonesia Biru

‘Proyek Belajar Menulis’ ini menggunakan kumpulan video Ekspedisi Indonesia Biru milik Watchdoc. Tujuannya adalah melatih ketrampilan menulis, sekaligus mengenal Indonesia dari sisi yang unik dan inspiratif. Tugas anak yaitu menuliskan kesan pribadi dalam 5 kalimat, mengenai setiap episode yang telah ia tonton. Hari ini dimulai dengan Video #1: Tanah Badui (https://youtu.be/ZKiEkC-BB1c).

“Aku menyebut orang kanekes sebagai orang badui. Aku suka videonya. Kok bisa orang badui jalan tanpa sandal. Aku heran-sekali. Aku jugga heran kok perjalananya nggak naik pesawat.”

–Keep it simple. Keep it consistent.–

wp-1488713250947.jpg

 

PROYEK BELAJAR MENULIS (Hari ke-2)
Tema: Ekspedisi Indonesia Biru

Menginjak Video #2 Urang Kanekes:
https://youtu.be/wepVphdWWb0, anak menemukan banyak hal menarik yang bisa ditulis. Seperti tentang Urang Kanekes yang mandi tanpa sabun dan bahan fabrikasi sejenis, melainkan menggunakan dedaunan dan air. Juga, tentang cara mereka bertahan menggunakan pupuk dedaunan untuk merawat tanaman pangan tanpa menggunakan pupuk kimia. Namun, keheranan terbesar anak tak berubah, “Mengapa mereka tidak memakai sandal bila bepergian?”

Setelah mengulang video sekali lagi dengan semangat, anak berinisiatif menuliskan impresinya dalam bahasa Inggris. Ia menerapkan taktik menulis kalimat pendek-pendek, karena ingin segera pergi bermain ke luar rumah. Untung, ada ‘anjing polisi’ yang terus menggonggong, menyemangatinya, supaya menuliskan kalimat yang lebih lengkap. 😁

Narasi:

“Good video. I like it. They must use gas stove. How they could do that. I wonder why they use wood fire as stove.”

–Keep it simple. Keep it consistent.—

wp-1488713229534.jpg

PROYEK BELAJAR MENULIS (Hari ke-3)

Tema: Ekspedisi Indonesia Biru

Pada proses menulis kesan Video #3: Tapak Kaki Baduy (https://youtu.be/mnkwofuBty8), anak mencoba menuliskan kalimat yang lebih panjang. Ia ingin menulis, mengapa orang-orang mengambili durian yang jatuh ke tanah tanpa seijin pemilik pohon?

Ibu menjelaskan, menurut video tersebut, suku Baduy memang memiliki konsep kepemilikan yang berbeda dengan kita. Buah yang telah jatuh ke tanah boleh diambil siapa saja yang menemukan. Hal ini menyiratkan pesan, bahwa manusia tidak perlu menumpuk/menimbun aset bila memang tidak sanggup mengelolanya. Sungguh, sebuah warisan karakter yang jauh dari sifat tamak.

Setelah mendengar penjelasan tersebut, anak malah jadi batal menuliskan ide pertamanya. Sebab, ia memperkirakan kalimatnya akan terlalu panjang, sehingga membuat tangan pegal. Ups! Ternyata, over explaining bisa menghasilkan discouragement. 😁

Narasi:

“Orang-orang Badui aneh sekali. Kok bisa mereka tidak makan camilan. Aku heran, kok bisa mereka tidak menggunakan listrik. Apakah mereka menulis? Waktu main lempar sandal, mereka lucu sekali.”

–Keep it simple. Keep it consistent.–

wp-1488713214250.jpg

 

PROYEK BELAJAR MENULIS  (Hari ke-4)

Tema: Ekspedisi Indonesia Biru

Pada Video #4: Banten Selatan (https://youtu.be/IlRhbX2rV_o), Anak belajar menuangkan ide dengan bantuan pertanyaan pemantik dari Ibu; siapa yang melakukan perjalanan, ke mana perginya, untuk apa, dan bagaimana keadaan jalan yang mereka lewati. Karena fokus pada penuangan ide, maka aturan penulisan huruf pada kalimat baku untuk sementara diabaikan dahulu.

Proses belajar menulis rata-rata berlangsung hingga satu jam lebih. Sesungguhnya, menuliskan 5 kalimat sederhana tidak membutuhkan waktu selama itu. Tetapi, yang memakan banyak waktu serta tenaga adalah proses meruntuhkan halangan-halangan mental, seperti keengganan untuk menggoreskan pensil, kesulitan menuangkan ide dalam tulisan, dan keputusasaan saat melakukan kesalahan berulang kali. Guna menghadapi situasi, senjata yang paling efektif tetaplah berimajinasi sebagai polisi dan anjing polisi.

Narasi:

“Dua jurnalis keliling Indonesia. Mereka mencari kearifan budaya. Mereka pergi ke Banten Selatan. Jalanan sangat berbatu dan naik. Sampai sepeda motornya bersuara mirip orang tertawa.”

wp-1488713199960.jpg

Selain 4 buah catatan di atas, sebenarnya masih ada beberapa catatan lagi yang tidak terdokumentasikan.

Proyek Belajar Menulis sempat berhenti pada hari ke-7, kemudian berlanjut lagi beberapa hari kemudian dengan format berubah-ubah, seperti: tidak lagi menggunakan video Ekspedisi Indonesia Biru, tetapi memakai video-video favoritnya. Cara ini dilakukan demi mengangkat semangat menulis BOS yang terus mengalami penurunan. Ia seringkali melancarkan protes. Apalagi setiap hari, BOS masih harus berjuang berat mematuhi bimbingan sholat lima waktu dan mematuhi satu-dua tanggungjawab pekerjaan rumahtangga. Too much burden for his little shoulders? We think so. Kami rasa, cukuplah belajar ketaatan secara rutin bersumber dari dua hal tersebut untuk kondisi sekarang.

Tentu, lewat Proyek Belajar Menulis, Ibu dan Bapak mengharapkan kebaikan untuk BOS. Tetapi tetap harus diingat; jamgan sampai memaksakan kehendak dan cara untuk meraih kebaikan tersebut bagi sang anak. Jika memang cara yang digunakan tak cocok, buang gengsi, intenskan komunikasi orangtua-anak, supaya tercapai sebuah solusi. Setelah menyimpulkan bahwa BOS memang tidak cocok belajar menggunakan metode di atas, Ibu dan Bapak berusaha mengevaluasi situasi dan potensi yang ada. Orangtualah yang harus menyesuaikan cara membimbing mereka dengan karakter anak. Usai evaluasi, didapatkan kesimpulan bahwa Proyek Belajar Menulis ini terlalu kaku formatnya bagi BOS, sehingga tidak bisa luwes mewadahi kecenderungan minat dan tingkat perkembangan kejiwaannya sekarang.

Dilihat dari sudut pandang yang berbeda, ketidaksukaan BOS pada menulis memberikan warna kontras pada aktifitas-aktifitasnya yang lain, sehingga apa yang ia sukai menjadi makin tampak ke permukaan. Minat menggambarnya semakin kuat, begitu pula minatnya untuk bercerita secara lisan. Ia juga tidak anti menulis sebenarnya, karena selalu dengan senang hati menuliskan judul gambar-gambarnya, nama-nama karakter  ciptaannya, dan menuliskan isi balon percakapan seperti dalam komik. Melalui hal-hal kecil tersebut, seolah-olah, Sang Maha Guru memberi pertanda pada Pelaksana Mandat Keramat (orangtua), bahwa ada cara lain yang harus dicoba bersama. Mungkin, sebuah proyek baru yang lebih sejalan dengan fitrah BOS dan lebih banyak mengembangkan senyum kami bertiga.

(Eryani Widyastuti)

Advertisements

2 thoughts on “Ayo Menulis, BOS! Guk, Guk, Guk!

    • Eeh… ada Om Chabib! 😁
      Iya, Paksi nulis bagian ‘narasi’. 5 kalimat iso sejam-dua jam dewe iku. Hahaha. Suwun sudah mampir ke blogku. 😊👍

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s