MUTIARA KELUARGA: Pelajaran Bungkus Permen


 


(Cerita ini adalah fiksi, namun bisa terjadi kepada siapa saja)

photogrid_1485889742306

Lolipop. Permen bulat aneka rasa dengan tusuk plastik warna putih sebagai pelengkap sensasi asyik saat menikmati manisnya. Kembang gula bulat berbentuk mirip kepala Upin-Ipin ini memang menjadi salah satu jajanan favorit dia. Apalagi, hanya di hari-hari tertentu saja dia kuijinkan mencecap. Lengkaplah sudah status lolipop sebagai Dewa Jajanan baginya.

“Bukakan, Bu.”

“Oke.”

Awalnya, aku sama sekali tak keberatan memenuhi permintaan dia untuk membuka bungkus lolipop. Apa sih susahnya membuka bungkus permen? Sekali, dua kali, tiga kali…

“Bukakan, Bu. Bukakan ini. Tolong bukakan. Mau dibukakan.”

Meski sepele, lama-lama, acara buka-membuka bungkus lolipop ini cukup menjengkelkan juga, ya? Terutama, saat aku sedang sibuk-sibuknya mengerjakan sesuatu. Ditambah, dia tidak mau menunggu, minta segera dibukakan bungkusnya.

“Aduuuhh, bisa nggak kamu buka sendiri? Ibu sedang repot, nih!”

“Nggak mau! Pokoknya aku mau dibukakan sekarang!”

Alarm telah berbunyi. Yap, itulah manfaat perilaku menjengkelkan anak; supaya orangtua menyadari bahwa ada sesuatu yang harus diperbaiki. Sesuatu yang keliru, dan tanpa sadar sudah menjadi kebiasaan.

“Mulai sekarang, kamu harus belajar membuka sendiri bungkusnya.” Kalimat itulah yang seharusnya kuucapkan sejak awal.

“Aku nggak bisa.”

“Bisa.”

“Sulit.”

“Coba dulu.”

“Nggak bisa! Sulit! Uuuuhhh!”

Dan, meledaklah bom waktu yang selama ini diselimuti oleh sikap abai. Aku dan dia bertengkar, hanya gara-gara bungkus permen.

Peristiwa ironis ini tak ingin kuperpanjang. Selain amat menyebalkan, aku juga merasa bersalah. Tidak adil rasanya, bila aku menuntut dia berhasil melakukan sesuatu yang belum pernah aku bimbingkan. Memang, mendidik anak tidak bisa hanya dengan omongan di mulut. Harus ada tindakan nyata.

“Oke.” kataku, usai mengambil oksigen banyak-banyak. “Coba cari titik lemah-nya. Seperti jika kita ingin mengalahkan musuh dalam peperangan. Cari titik lemahnya.”

“Titik lemah?”

Ya Tuhan. Wajarlah jika dia tidak mengerti apa itu titik lemah. Memangnya dia Sun Tzu?

“Maksud Ibu, meskipun bungkus permen ini tampak kuat dan tidak bisa dibuka, pasti dia punya bagian yang paling lemah. Nah, coba teliti. Kira-kira, di mana letak titik lemah itu? Tempat yang paling mudah untuk disobek.” Aku merasa, penjelasanku amat mudah dimengerti dan terdengar amat keren. Pasti berhasil!

“Uuuuuh! Suliiit! Bungkusnya kuat sekali! Tidak punya titik lemah!”

“Apa kamu yakin? Semua hal di dunia ini pasti punya kelemahan. Cari terus!” Aku terus memberi semangat. Sebenarnya, aku menahan gemas untuk mengambil alih urusan ini.

“Oh iya ya. Kan, cuma Allah yang tidak punya kelemahan.” Dia meringis. Sepasang matanya memancarkan eureeka.

Seolah tersuntik energi ekstra, dia berjuang membuka bungkus lolipop dengan lebih kuat. Tepatnya, dengan cara barbar; mengerahkan tangan, kuku, dan gigi. Entah karena kebetulan lolipop ini terkemas terlalu lemah, atau karena tenaga dia yang terlalu kuat, perjuangan membuka bungkus lolipop berakhir tragis.

“Yaah! Permennya copot, Bu!” serunya, kesal sekali. Hasil berbanding terbalik dengan harapan dan usaha.

“Nah, sudah Ibu bilang, cari titik lemahnya–!”

Aku marah dan putus asa. Mataku nanar menatap ‘kepala’ lolipop yang baru saja ‘terpenggal’, dan tergeletak malang di lantai dengan kondisi bungkus compang-camping. Ya Tuhan, cara apalagi yang harus aku pakai, supaya dia bisa membuka sendiri bungkusnya?

“Bukakan, bukakan! Pokoknya, Ibu yang buka!”

Badai rengekannya terus memaksaku membukakan bungkus lolipop. Membuat aku amat tergoda memakai jalan pintas; yaitu membukakan bungkus permen untuknya, sambil mengomel marah. Tidak usah bimbingan-bimbingan segala! Atau, tetap memaksa dia memakai cara tadi. Aku tidak mau susah payah untuk memikirkan ide lain. Capek!

‘Mendidik anak merupakan sebuah pengabdian terhadap sang anak itu sendiri.’

Untung saja, aku segera teringat sebuah pesan dari seorang sesepuh pendidikan. Orang yang sedang mengabdi sudah semestinya mengutamakan ketelatenan. Jadi, aku tak boleh putus harapan dalam menemukan metode bimbingan yang tepat buatnya. Harus terus berjuang, selelah apapun dan sebuntu apapun situasinya.

“Coba perhatikan pilinan bungkus lolipop ini.” kataku beberapa hari kemudian, setelah aku berhasil menemukan ide baru. Sesuatu yang lebih kentara untuk dirasakan oleh panca inderanya, dibandingkan konsep titik lemah yang mungkin terlalu abstrak.

Kudekatkan sebuah lolipop di depan matanya, dan kugunakan telunjukku untuk menelusuri garis-garis berpilin yang terbentuk pada bungkus. “Setiap hal pasti punya pola. Bahkan untuk sesuatu yang tampak rumit dan ruwet sekalipun. Coba, perhatikan pola bungkus permen ini.”

Kami sama-sama memperhatikan bahwa pola pilinan tersebut pada akhirnya melilit batang tusuk. “Gunakan tangan dan matamu untuk menemukan garis tepi bungkus ini. Raba dan rasakan. Telitilah di mana ia berada. Sudah ketemu? Bagus! Nah, coba kupas pelan-pelan.”

Pada tarikan pertama, dia berhasil melepaskan bagian garis tepi bungkus yang menempel pada tusuk permen. Namun, begitu menginjak tarikan berikutnya, aku segera menghentikan dia.

“Jangan ditarik keras tanpa mengikuti pola. Ikuti pola pilinannya, supaya bungkus lebih mudah terbuka, dan tidak membuat copot permen dari tusuknya. Ikuti fitrah bungkus ini.” ucapku spontan, seraya menunjukkan cara membuka yang kumaksud. Dia tampak menyimak dan mencoba mempraktekkan semirip mungkin.

“Horeee! Berhasil, Bu! Hmmm… rasanya…surrrgaaaa….” serunya, sambil mengulum lolipop.

Dengan sedikit bantuan dariku pada bagian-bagian tersulit, akhirnya, bungkus lolipop itupun berhasil dibuka. Aku juga gembira sekali, segembira dia. Walaupun, aku tidak ikut makan permennya.

Jujur, dalam perasaan gembira itu, sesungguhnya aku sedang dibuat termenung oleh kata-kataku sendiri tadi. Ikuti fitrah bungkus ini. Pikiranku spontan mengibaratkan dia sebagai permen lolipop.

Apa yang akan terjadi seandainya aku membuka paksa bungkus anakku, tanpa mempedulikan fitrah/pola yang sudah dicetak Tuhan pada dirinya? Memarahi dia atau memaksakan suatu cara, tanpa mau mempelajari kecenderungan dia? Berputus asa mencari cara lain yang mungkin lebih sesuai dengan dirinya? Cara-cara berlandaskan pertimbangan jangka pendek nan emosional itu, membuatku teringat cara barbar yang digunakan anakku pada percobaan pertamanya membuka bungkus lolipop.

Aku ngeri membayangkan, dia bernasib seperti lolipop sebelumnya. Tercabik-cabik bungkusnya, dan lebih buruk lagi, ‘terpenggal kepalanya’. Tersia-siakan.

 

(Eryani Widyastuti)

Advertisements

One thought on “MUTIARA KELUARGA: Pelajaran Bungkus Permen

  1. Inspiratif mbak, ikuti pola yg sudah digariskan Tuhan atas si anak, saya jd teringat Kyai Maemoen Zubair kalo mau jadi guru jangan berniat ingin membuat anak2 pintar kalo murod gk pintar jd kurang ikhlas mengajarx, pun seperti apa kata cak Nun stiap anak sudah ada rencana2 Tuhan pd anak, orangtua perlu belajar utk tak memaksakan anak harus begini harus begitu, cukup mjd panutan yg baik, itupun spertix sudah sulit bagi ortu 😅😅

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s