HAPPILY (NOT) EVERAFTER: Chapter 3 Part 4


photogrid_1485346590451

THE JOURNEY BEGINS (4)

============================

ArtiKata>> Cheonggyecheon: nama sungai di Korea Selatan;  Nuna: panggilan kakak perempuan yang diucapkan oleh adik lelaki; Eonni: panggilan kakak perempuan yang diucapkan oleh adik perempuan; Eomma-Appa: ibu-ayah; Bogosippeo: rindu

============================

34 derajat Celsius. Real Feel 40 derajat Celsius. 

Begitu memasuki apartemen sepulang kerja, Yeonghun langsung mengecek layar smartphone yang tengah menunjukkan status suhu udara. Malam ini gerah seperti biasa. Rasanya selalu lebih panas daripada suhu sesungguhnya, akibat tingginya tingkat kelembaban. 34 bagaikan 40. Siang tadi bahkan lebih gila, 36 bagaikan 47.

“Heissh… Sial. Dia tidak menerima pesanku. Seharusnya kutelepon tadi pagi sebelum aku sibuk rapat seharian– ah, di mana dia sekarang? Selalu saja membuatku khawatir.”

Lelaki berkacamata bingkai hitam itu mendengus lemah. Tulangnya seolah lepas dari engsel-engsel, saat mengetahui nasi goreng wortel buatannya tadi pagi masih utuh tak tersentuh di meja makan. Lembar pesan yang ia tempelkan juga tidak menunjukkan gurat kusut sedikitpun, menandakan belum terjamah sama sekali. Jelas, Alin tidak menerima pesannya. Berarti, pertengkaran tadi malam masih berlanjut hingga sekarang. Pantas saja, smartphone istrinya tidak bisa dihubungi sejak tadi.

Heissh… Dia pasti menyangka, aku sengaja tidak datang ke Cheonggyecheon karena masih marah padanya– oh, Nuna?”

Kening Yeonghun berkerut. Jarinya kembali menyaput layar smartphone yang baru saja mengeluarkan bunyi blup-blup. Sebuah pesan masuk. Dari Boram.

Yah, Kim Yeonghun! Apa yang telah kamu lakukan pada adik suamiku, hingga dia menangis?! Istrimu di sini sekarang. Dia tidak mau pulang ke apartemen!

Mweo? Kenapa harus pergi ke sana?! Lagi-lagi… semaunya sendiri! Tidak mempertimbangkan posisiku! Sekarang bagaimana aku sanggup menatap wajah Nuna? Wajah Beuram-ssi?”

Yeonghun menekan-nekan screen keyboard penuh ketegangan. Membalas pesan dari Boram. Seketika, kulit wajahnya memerah. Dahinya mengembunkan keringat. Berkali-kali, terdengar helaan dan desahan napas berat dari mulutnya.

“Pokoknya, dia harus pulang bersamaku malam ini–”

Beuram-ssi bilang, besok pagi, baru jemput istrimu. Sekalian kita makan bersama. 

Boram mengirimkan pesan final. Yeonghun sendiri tak berani membantah sang kakak. Apalagi pesan tersebut membawa-bawa nama lelaki yang dihormatinya. Namun sesungguhnya, ia bingung.

Di satu sisi, merasa harus mematuhi pesan Boram dan Bram. Di sisi lain, rasa tanggungjawabnya sebagai seorang suami terus mendorong untuk menjemput Alin detik ini juga. Ia berkeyakinan, masalah rumahtangga harus diusahakan untuk diselesaikan oleh suami-istri itu sendiri. Pantang dicampuri oleh pihak luar, walaupun oleh saudara. Tetapi, dengan kondisi emosional Alin, apapun yang ia katakan pasti cuma akan memperparah situasi.

Mas Yeonghun tidak tahu bagaimana aku harus berjuang menghadapi kesepian di apartemen ini setiap hari!

Nak Yeonghun, tolong jaga dan bimbing Alin baik-baik, ya? Kami percaya dan mengandalkanmu. 

Aku benci diperlakukan seperti anak kecil!

“Kamu tahu dia belum siap untuk menikah! Kenapa tak memilih sabar seperti rencana semula?! Apa sebenarnya kamu juga sama terburu-burunya dengan dia?! Aarrrgh!”

Gelegar teriakan Yeonghun seolah menggetarkan langit-langit apartemen, sebagai pelampiasan amarah, penyesalan, dan perasaan serba salah.

Diiringi emosi meluap-luap, ia naik ke kamar atas, mengeluarkan buku-buku bertema pernikahan dari dalam rak. Bola matanya bergerak kalut, memindai lembar-lembar kertas itu. Dari buku ke buku.

“Tidak ada… tidak ada… tidak ada! Yah!” teriaknya amat frustasi.

Dulu, buku-buku ini sangat menginspirasinya mengenai konsep pernikahan. Sekarang, mengapa ia seakan tak bisa menemukan apa-apa di dalamnya; paling tidak, tips atau kerangka berpikir untuk menghadapi situasi ini? Semua kalimat indah dalam buku-buku tersebut terasa kosong tanpa makna. Yeonghun benar-benar merasa buntu.

Apartemen ini terlalu membosankan. Boleh aku gambari dindingnya? Dinding ruangan atas juga boleh? Bagaimana dengan tas kerjamu? Sepatumu juga terlalu hambar. Boleh aku gambari sedikiiiit saja…

Beberapa menit setelah mengembalikan buku-buku ke dalam rak, Yeonghun sudah berdiri di depan lukisan dinding setengah jadi yang dibuat Alin. Di tengah usaha kerasnya berpikir utuk menemukan solusi, lelaki berperawakan jangkung itu sedang terkenang tingkah laku Alin yang kadang menggelikan, sekaligus menjengkelkan.

“Bagus. Dengan begini, kamu tidak akan membuat kekacauan… menggambari sepatu, tas kerjaku, dan telur-telur di kulkas.” gumamnya. Ia merasakan kelelahan akut secara mendadak.

Heissh… bogosippeo… apa yang harus kulakukan untuk membawamu pulang? Lihatlah, kamu membuatku menjadi lelaki yang payah dan tidak berguna– Yah-issshhh!

Cairan kental warna kuning menciprati ujung celana dan punggung kaki Yeonghun. Baru saja, ia tak sengaja menyandung kumpulan kaleng cat di atas lembar koran yang terbentang menutupi lantai sekitar dinding. Salah satunya, tanpa tutup.

… wawancara dengan Imam Masjid Itaewon, tentang Nabi Muhammad… 

Begitu berjongkok untuk membersihkan cat, mata Yeonghun menangkap selarik kalimat yang tercetak pada koran bekas, alas kaleng-kaleng cat itu. Sebagian besar bagian artikel berhuruf hangeul tersebut telah tertutup cat kering.

“Rasulullah… Muhammad Rasulullah…”

Aneh. Sekitar dua tahun belakangan, nama Muhammad yang selalu ia ucapkan dalam setiap sholat, berpuluh kali, tak bisa menyentuhnya seperti kali ini. Namun, di depan todongan permasalahan rumahtangganya, nama itu tiba-tiba jadi terasa begitu berarti. Seperti masa lampau. Masa-masa penuh kilau gairah, menggilai buku-buku tentang lelaki bernama Muhammad. Bagaikan seorang musafir dahaga yang terus minum dari oase terjernih. Itulah masa-masa yang telah ia kubur di bawah tumpukan pekerjaan dan kenikmatan hidup.

Ya Nabi salam ‘alaika… Ya Rasul salam ‘alaika…” bisiknya dalam derai airmata yang menderas tanpa diundang. Di tengah kelelahan dan kekalutan, ia merasakan kepalanya dibelai lembut oleh tangan bercahaya yang tak terlihat. Apakah ini sebuah perjumpaan, ataukah imaji semu belaka? Ia tak peduli lagi.

Maaf… maafkan aku, karena telah begitu lama berhenti merindukanmu. Sekarang aku rindu; rindu untuk merindukanmu lagi!

Belaian itu memudar, lantas menghilang. Mendadak, isi kepalanya yang dikusutkan oleh denyar nyeri dan permasalahan, berubah jernih. Kabut hatinya tersibak.

Yeonghun segera bangkit dengan semangat baru. Setengah berlari, ia kembali menaiki tangga ke ruang atas.

Ada sebuah fase kehidupan Rasulullah yang butuh ia serap unsur spiritualnya. Kemudian, mewujudkan kandungan rasa itu ke dalam tindakan nyata, sesuai versinya sendiri.

“Siap atau tidak siap… terburu-buru atau tidak… tak akan mengubah kenyataan bahwa kami telah menikah.”

Beberapa jam usai bergulat dengan kisah pernikahan Muhammad-Khadijah, Yeonghun menutup buku tebal itu dengan tepukan mantap. Mendengus pendek.

“Permasalahan ini adalah panggilan istimewa untuk kami, supaya lebih mendekat lagi kepadaNya. Sekarang tinggal bagaimana kami akan menjawabNya.”

*****

Arirang, Arirang, Arariyo…
Saya melewati jalur Arirang
Dia yang meninggalkan diriku disini
Takkan berjalan sampai 4 kilometer hingga kakinya terluka

Lembut, perlahan, namun penuh keyakinan. Begitulah cara Boram menyisiri rambut Alin di ruang keluarga. Bibirnya menyenandungkan lagu khas Korea berjudul Arirang. Sementara, Bram berada di balik meja makan, membaca buku.

“Jika sedang rindu Ibu, rindu rumah, tak usah ragu datang kemari. Aku akan mengajarimu membuat Kimchi, samgyetang… Malamnya, aku akan menyisir rambutmu seperti ini. Mau kukepangkan?”

Alin mengangguk kecil. Setelah makan malam, ia memutuskan menerima tawaran kakak iparnya untuk sedikit bermanja-manja. Untunglah, Hana bersedia meminjamkan Eomma-nya dan ditemani Appa-nya hingga terlelap.

“Eonni, bukankah orang yang sudah menikah itu seharusnya bahagia selamanya?”

Boram tertawa kecil. “Omo… kamu juga suka menonton drama seperti aku? Bukankah suamimu melarang?”

Terdengar deheman Bram. Lelaki itu diam, namun sesungguhnya menyimak pembicaraan. Ia memang sengaja membiarkan Boram yang melakukan pendekatan terhadap Alin, sebagai sesama perempuan.

“Ahaha, sebenarnya, Beuram-ssi juga tidak suka aku menonton hiburan semacam itu. Sejak ada Hana, kebiasaan itu sudah banyak berkurang. Aku tidak mau Hana mencontohku. Tidak sehat untuk pertumbuhan jiwanya. Tidak berlaku untuk semua drama, memang. Tapi, kebanyakan begitu.”

“Aku tidak menonton drama. Tapi, aku mulai membaca komik-komik bertema cinta sejak menikah. Padahal sebelumnya, aku lebih suka komik aksi dan fantasi. Habis… aku kesepian di rumah. Itulah yang kulakukan untuk…  nggg… meredakan rinduku pada Mas Yeonghun.” Alin berbisik lirih, malu-malu, untuk frasa yang terakhir.

“Mweo? Jujur sekali.” Tangan Boram menjalin-jalin rambut Alin dengan cekatan. “Memang, kisah-kisah itu terasa indah dan amat manis, bukan? Tentu saja. Aku sudah mengamatinya selama ini. Kisah-kisah itu memang dibuat untuk memuaskan ego para perempuan. Sayangnya, kenyataan kehidupan cinta bukan seperti itu. Bertengkar dan saling menyakiti rasanya sulit sekali untuk dihindarkan, semanis apapun janji yang telah kalian buat. Terutama kalau kalian gagal merendahkan diri untuk memahami satu sama lain.”

“Jadi, aku dan Mas Yeonghun… gagal untuk saling memahami?”

“Untuk sekarang; iya. Tapi, ini bukan akhir. Pernikahan adalah sebuah perjalanan. Kalian punya banyak kesempatan untuk memperbaiki keadaan.”

“Kalau begitu… masih banyak kemungkinan bagi kami untuk bertengkar dan bertengkar lagi. Eonni, aku tidak mau. Aku mau kami bahagia selamanya. Bukankah seharusnya pernikahan yang benar seperti itu? Bertemu, saling mencintai, menikah, hidup bahagia selamanya.”

“Itulah ego kita. Terimalah kalau kenyataan tidak berjalan seperti itu. Siapkan hatimu. Tidak ada yang namanya… happily everafter.

“Ah, Eonni… aku takut… aku takut kami saling membenci dan berpisah…” Alin memeluk Boram ketika kepangannya selesai. Suaranya terdengar bergetar. “Tapi, ini bukan sepenuhnya salahku! Aku sudah menuruti semua yang diminta Mas Yeonghun; dia yang—”

Kalimat Alin terpotong tangis. Bram melihatnya. Ia sungguh tak tega melihat adik kecilnya terluka. Namun, ia harus berkepala dingin.

“Kamu takut? Kalau begitu, besok, pulanglah ke apartemen bersama Yeonghun. Semakin lama kamu di sini, situasi kalian akan semakin memburuk. Apa yang sudah kamu katakan pada Eonni-mu, katakan juga pada suamimu. Dia yang wajib dan berhak mengetahui perasaan terdalammu. Supaya dia tahu cara melindungimu.”

Perkataan Bram sebenarnya simpel. Namun, karena dibungkus oleh aura kebapakan yang tegas sekaligus penuh pengayoman, kalimat itu berhasil meruntuhkan sebagian besar ego yang merajai diri Alin.

“Baiklah… aku akan pulang besok…” Airmata Alin terus menggenang dan berjatuhan. Boram mengusap-usap bahunya.

“Assalamu’alaikum! Nuna, ini aku. Tolong buka pintu.”

Mendadak mendengar suara berat pada malam selarut ini, membuat Alin dan Boram sama-sama terjingkat. Kagetnya bak reaksi menonton film thriller. Sedangkan Bram hanya tersenyum lebar.

Tak lama kemudian, Yeonghun muncul di ruang keluarga dengan pakaian kasual serba putih. Gelagatnya tampak canggung dan serba salah.

*****

“Jujur, aku memang sengaja menciptakan jarak antara aku dan rekan-rekan kerjaku. Aku harus fokus mengejar karir. Hubungan personal antar rekan kerja akan memperumit tujuan itu. Tapi, kamu mengubah imej yang aku bangun selama ini, hanya dalam semalam. Hari ini, mereka sudah berani bercanda denganku.”

Poster atlet Taekwondo di dalam bekas kamar Yeonghun seolah sengaja membisu. Tegang mendengarkan ke mana percakapan pasangan beda bangsa ini akan mengalir. Ke lembah kedamaian, ataukah ke hulu ledak pertengkaran?

“Karir? Kenapa harus memakai topeng demi sesuatu yang… ah, bukankah itu tidak penting? Mau karir apapun, asalkan kita bekerja dengan sungguh-sungguh dan bahagia, bukankah itu lebih dari cukup? Aku menggambar–”

“Kita berbeda!” potong Yeonghun pedas. Dari tadi, ia sudah berusaha berhati-hati bicara. Namun, kata-kata Alin seakan sengaja menertawakan sikap hidup yang ia telah bangun sungguh-sungguh selama ini. “Kamu bekerja demi kepuasan hatimu sendiri. Aku bekerja untuk memastikan kelangsungan hidupku, istriku, dan anak-anakku nanti. Kamu pasti tidak pernah memikirkan itu, kan?”

Bak ditampar petir, Alin tersentak mendengar argumen Yeonghun. Kesiapan hati untuk memahami yang sudah disiapkannya sesuai saran Boram, luluh lantak. Ia terbakar amarah.

“Kepuasan hati— oh, Mas Yeonghun lupa kalau sebelum menikah, aku bekerja untuk menghidupi diriku sendiri meski belum sempurna seperti kamu. Gara-gara Mas Yeonghun melarangku mencari pekerjaan di luar rumah, melarangku Taekwondo… aku hanya bisa menunggu keberuntungan yang datangnya seperti tetes hujan di puncak musim panas! Memang, aku ini cuma bisa menggambar. Tidak seperti Mas Yeonghun yang pintar, bekerja di perusahaan besar, dan bisa menghasilkan banyak uang–”

Grep!

Tahu-tahu, Alin menemukan dirinya berada dalam pelukan erat Yeonghun. Rasa hangat dan nyaman membuat amarahnya mencair segera. Persetan dengan semua pertengkaran ini; Alin merasakan rindu telah merajai syaraf-syarafnya.

“Mengertilah… aku hanya ingin menjaga istriku. Dia suka bertindak tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Bagaimana kalau dia berada dalam bahaya di luar sana? Sedangkan aku, tidak bisa selalu berada di sampingnya. Sewaktu orangtuaku meninggal, aku amat menyesal mengapa aku tidak berada di sana untuk menyelamatkan mereka. Aku tidak mau kehilangan lagi, hanya karena aku tidak bisa menjaga dengan baik.”

Alin merasakan tubuh Yeonghun berguncang halus. Kehilangan orangtua, orang yang amat dicintai, rupanya diam-diam membekas menjadi semacam trauma dalam diri Yeonghun. Seharusnya ia menyadari lebih awal; Yeonghun adalah lelaki yang amat bertanggungjawab dan tidak mungkin bermaksud buruk terhadap dirinya. Dan, Boram benar; mereka berdua telah gagal untuk saling memahami.

“Mas Yeonghun…” Ia mendorong lepas tubuh suaminya, dan menatap wajah lelaki itu. Yeonghun sedang mengalirkan airmata tanpa suara. Seumur-umur, ia tak pernah melihat Yeonghun terlihat lemah, takut, apalagi menangis.

“Jangan sedih seperti ini…” katanya bergetar. Tampak panik melepas kacamata Yeonghun dan mengusapi pelupuk mata suaminya. “Maafkan aku… aku akan menuruti semua kata-katamu… jangan sedih…”

“Ah, bodoh… seharusnya aku tidak boleh terlihat lemah seperti bayi di depanmu…” Yeonghun mendesis malu, sambil mengusapi airmatanya sendiri, dan airmata Alin.

“Pagi ini, aku membuatkanmu sarapan nasi goreng kesukaanmu, dan meninggalkan pesan ini. Tidak dibaca?”

Alin mengamati selembar kertas post it yang diulurkan Yeonghun. Ia ternganga. Lalu tersipu, sekaligus jengkel; pada situasi dan dirinya sendiri.

“Habis… Mas Yeonghun tidak berpamitan padaku saat berangkat kerja. Mana aku tahu kalau ada pesan ini?” rajuknya.

Yeonghun mengedikkan dagu dan mendesis. “Aigo… Aku membangunkanmu untuk sholat subuh, tapi kamu tetap diam seperti mayat. Aku menciummu untuk pamit berangkat kerja, kamu malah menimpuk kepalaku dengan bantal sambil tidur.”

“H-hah? Be-benarkah? Ma-maaf…” Spontan Alin hendak mengelus bagian samping kepala Yeonghun. Tak dinyana, Yeonghun malah merengkuhnya dalam pelukan.

“Dengarkan. Hari ini, tiba-tiba aku teringat Rasulullah dan membaca lagi tentangnya. Kisah pernikahannya dengan Khadijah membuka mataku, bahwa selama ini aku sangat materialistis dalam memandang pernikahan. Pernikahan tidak hanya tentang perasaan cinta dan pemenuhan kebutuhan hidup keluarga. Dalam pernikahan, juga ada level-level ruhani yang harus kita tempuh. Hanya saja, aku belum tahu apakah itu.”

“Apakah pernikahan juga…. mmmm…” Alin berpikir keras untuk menemukan kata-kata yang tepat. Kemudian, mendongak, mengamati raut Yeonghun yang kembali terlihat kokoh dan tenang. Membuatnya merasa terlindungi. Pertengkaran telah membuat dirinya lupa tentang hal ini.

“Sebuah perjalanan menuju Allah?”

“Ah, tepat sekali! Aku suka kata-katamu.” Yeonghun menunduk, menatap Alin. Matanya berbinar di balik kacamata.

“Kamu bisa melihat gambaran besarnya sekarang? Kebahagiaan, cinta kita berdua, mimpi masa depan… semuanya penting. Tapi, ada yang lebih penting lagi; yaitu bagaimana pernikahan ini bisa membawa kita bersama-sama menuju Allah.”

Tiba-tiba Alin mengacak rambutnya sendiri. Ia sebal dan gemas; pada dirinya sendiri.

“Jadi, aku benar-benar payah. Semenjak menikah, yang kupikirkan hanyalah bahagia bersama Mas Yeonghun. Sedangkan Allah, entah aku letakkan di mana. Rasulullah juga entah hilang ke mana. Padahal setiap hari sholat lima waktu–”

“Kamu juga merasakannya? Heishhh… Kita ini benar-benar… ” Yeonghun menumpukan dagunya di atas kepala Alin. ” La ilaha illa Allah… Tapi kita menuhankan yang lain, selain Allah. Pekerjaan, pasangan, uang… entah berapa banyak lagi yang telah kita tuhankan tanpa sadar. Banyak sekali yang harus kita perbaiki.”

“Mas Yeonghun… ” ucap Alin pelan. Semakin pasrah bersandar pada tubuh suaminya. “Mulai sekarang, kita tidak boleh sembarangan berpikir dan bertindak. Apapun itu, kita harus bisa mencari sambungan online-nya dengan Allah dan Rasulullah. Atau kita benar-benar akan terlempar dari jalan keselamatan; Jalan yang Lurus. Pasti sangat sulit melakukannya. Tapi, kita harus berjuang bersama!

Aigo… dewasa sekali kamu malam ini!” Yeonghun mengecup puncak kepala Alin. “Berdoalah. Semoga kita senantiasa diperjalankan oleh Allah.”

“Apa itu artinya?”

Yeonghun menghela napas panjang. “Artinya, akan ada lebih banyak petualangan… warna… dalam perjalanan hidup kita; menujuNya. Hanya Dia.”

 

photogrid_1485348623359

 

==============================

Lanjut baca CHAPTER FOUR [My Ego], Part 1>>>  (on progress) 

==============================

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s