PERTEMUAN ISTIMEWA: 3 Hari 2 Malam Bersama Anak-Anak SOS Children’s Villages Semarang


Pertengahan Januari 2017, SOS Desa Taruna, Kelurahan Pedalangan, Banyumanik, Semarang.

 

wp-1484669887856.jpg

 

Di balik tirai gerimis sore itu, rumah-rumah berdinding bata merah ekspos dengan halaman depan asri yang ditumbuhi pohon-pohon rambutan, tampak seperti seorang ibu yang tengah menunggu kedatangan anak-anaknya dengan tenang.

Jalan setapak basah mengantarkan saya ke salah satu rumah tersebut. Kakak (ipar) yang sedang saya kunjungi memang merupakan seorang ibu asuh di panti sosial yang digagas oleh Hermann Gmeiner, seorang pria berkebangsaan Austria.

Pada awalnya, sungguh, saya tak memiliki niatan atau rencana apapun selain mengunjungi saudara. Tetapi, Tuhan begitu cerdik mempersiapkan ‘bahan ajar’-Nya.

Melewati pagar luar dan memasuki area SOS lebih dalam merupakan titik permulaan pelajaran. Gambaran klise mengenai ‘panti asuhan’, yaitu sebuah gedung /rumah besar berisi banyak kamar yang ditinggali oleh anak-anak tak beribu-bapa, langsung runtuh.

Pandangan mata saya menangkap gambaran lain; sebuah kompleks yang sangat luas, di mana berdiri berbagai macam bangunan yang rata-rata dipisahkan oleh halaman-halaman berumput hijau. Beberapa diantaranya; kantor, pendopo, taman bermain, gedung taman kanak-kanak, serta yang paling mengesankan dari semua bangunan itu adalah rumah-rumah ‘homey’ berbata ekspos merah tadi: jantung SOS Desa Taruna Semarang. Tempat harapan-harapan baru berdetak.

Di sini, anak-anak yang kehilangan/terancam tidak mendapatkan kepengasuhan orangtua, bersama-sama mengisi hari, menjalin hati sebagai sebuah keluarga besar, dan merajut masa depan, bersama sang ibu asuh. Sementara di belakang mereka, SOS Desa Taruna telah menyiapkan para pendamping yang siap menyokong kapanpun dibutuhkan.

wp-1484673754464.jpg

Rumah yang ditinggali kakak saya beserta anak-anaknya. Di sekitarnya, masih ada belasan rumah lain yang setipe. Semua rumah berada dalam kompleks SOS Desa Taruna Semarang.

 

Anak-Anak yang Tangguh

Anak-anak berbagai usia menyambut saya dan keluarga di teras rumah. Dengan cekatan, anak-anak remaja menghidangkan teh, pisang goreng, dan tahu isi. Sementara anak-anak yang lebih muda mendekat malu-malu.

Ada sekitar 10 anak yang diasuh di rumah itu dengan rentang usia yang bervariasi. Mereka datang dari berbagai latar belakang kehidupan. Anak-anak diserahkan kemari dengan macam-macam alasan; karena orangtua tidak sanggup membiayai kebutuhan hidup dan pendidikan, orangtua tersangkut masalah hukum sehingga tidak bisa mengasuh, ada pula yang sedari awal tidak diketahui siapa sang orangtua.

Tak ada yang lebih bisa diandalkan selain diri sendiri. Mungkin, begitulah kerasnya hidup mengajarkan mereka. Anak-anak asuh yang sudah menginjak remaja, barangkali berkesadaran lebih matang, bisa memahami situasi ini. Sehingga, mereka terpacu untuk mandiri. Rata-rata, mereka berpembawaan tenang, menunjukkan perangai terampil, serta bisa diandalkan; terutama dalam membimbing adik-adik supaya mampu belajar mengurus diri sendiri.

Memasak, mencuci baju, dan menyetrika sudah menjadi hal biasa bagi mereka. Anak-anak usia TK pun sudah bisa mandi dan makan sendiri dengan tenang tanpa harus ditunggui. Sungguh salut!

wp-1484674097128.jpg

Kakak-adik Mila dan Zahra. Mila yang diam-diam suka merenung, sempat membaca buku ‘Spiritual Journey Emha’ yang saya bawa. Zahra, si kecil yang super aktif dan lihai memanjat, suka sekali bermain dengan anak lelaki saya.

Percaya atau tidak, anak-anak yang lahir pada masa sulit biasanya memiliki surplus ketangguhan dibandingkan anak-anak yang lahir dalam situasi mapan.

Kakak saya bercerita, jika anak-anak yang ia asuh pada awal periode, sekarang sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ada yang mulanya melewati masa kenakalan remaja, kemudian tumbuh menjadi orang yang bertanggungjawab dan mempunyai kepedulian terhadap keluarga SOS. Masih sering menelepon ibu asuhnya dan mengirim uang saku untuk adik-adiknya.

“Jadilah orang baik. Apapun pekerjaanmu. Jadilah orang baik.” pesan kakak saya, setiap kali anak tersebut menelepon.

Ada pula anak yang mulanya tak mengenal alat makan, tak mengenal kasur, karena sebelumnya tinggal di tempat amat terpencil. Setelah ‘lulus’ dari SOS, ia tak segan bekerja sebagai kuli panggul pasar. Saking rajinnya bekerja dan menabung, ia bisa membeli kambing. Lalu, kambing-kambing itu ia tukarkan dengan sapi. Hingga akhirnya, sapi-sapinya dijual. Uang hasil penjualan ia gunakan untuk membeli tanah dan menanam tembakau. Setelah mapan pun, pekerjaan sebagai kuli panggul tetap ia tekuni.

Foto bersama sebelum berangkat sekolah. Anak-anak yang lebih besar sudah berangkat lebih pagi.

Foto bersama sebelum berangkat sekolah. Anak-anak yang lebih tua sudah berangkat lebih pagi.

Cerita-cerita tersebut mengajarkan saya, bahwa seburuk apapun peristiwa yang pernah dialami manusia, suluh harapan tak akan pernah padam. Tangan Ilahi selalu menjaga nyalanya. Terang, sesumringah wajah anak-anak yang saya jumpai di rumah ini.

Anak-anak berusia remaja mulai mantap menapaki masa depan; dua di antara mereka bergabung dengan sekolah pelayaran dan penerbangan. Lokasi sekolah yang jauh, mengondisikan keduanya untuk belajar ‘lepas’ dari rumah.

Biarpun anak-anak yang lebih muda belum mampu lepas dari rumah, bersekolah tak jauh dari situ, masih bebas bermain dengan riang, suka bermanja, laiknya anak-anak lain; bocah-bocah kecil itu juga menempa ketangguhan diri, seperti kakak-kakaknya.

Mereka terlihat sungguh-sungguh berusaha mematuhi bimbingan ibu asuh. Mencoba ‘menjinakkan’ diri sendiri, sembari masih terbentur-bentur dengan keterbatasan kemampuan dan kekurangmatangan jiwa.

Di mata saya, anak-anak tersebut sedang berjuang menjalani kehidupan sebaik-baiknya, meski dunia telah bersikap jauh dari kata ‘baik’ kepada mereka di masa lampau.

wp-1484674157179.jpg

Mengantar Putra dan Syifa ke sekolah. Taman Kanak-Kanak tempat mereka belajar, berada dalam kompleks SOS, hanya berjarak beberapa puluh meter dari rumah.

 

Ini Rumahmu, Ini Keluargamu

Tentu merupakan suatu pekerjaan berat mengasuh anak sebanyak itu. Anak-anak bukan robot yang bisa diprogram otomatis. Ibu asuh juga bukan manusia super yang luput dari kekurangan.

Kondisi ini tak berarti mustahil untuk membuahkan hasil yang positif. Sebab, ibu asuh memiliki ketelatenan yang dapat senantiasa ditingkatkan, kesabaran yang terus diperluas setiap kali menyentuh batas, dan keikhlasan dalam mengabdikan diri pada kehidupan anak-anak. Layaknya seorang ibu sejati yang tak putus memberikan bimbingan kepada anak-anaknya sendiri.

wp-1484673817450.jpg

“Makan dulu, ya? Semur ayam masakan Ibu memang lezaaat!”

Memang, atmosfer kekeluargaan sangat kental terasa di sini. SOS Desa Taruna tidak sekedar menyediakan tempat tinggal, melainkan menyediakan sebuah rumah. Tidak sekedar memenuhi kebutuhan fisik saja, melainkan mengisi kebutuhan hati anak-anak akan kehangatan sebuah keluarga.

Tempat ini benar-benar sebuah tempat untuk tumbuh dan tempat untuk pulang bagi mereka. Tidak ada suasana formal bak asrama di sini. Tidak ada ruangan besar dengan jajaran panjang dipan-dipan, melainkan kamar-kamar tidur berukuran wajar dengan dipan bertingkat yang diisi sekitar tiga orang anak. Tidak ada dapur umum atau ruang makan khusus. Ruang dapur pun tak ada bedanya dengan ruang dapur keluarga pada lazimnya, dan ruang makan bermeja kayu panjang itu menyatu dengan ruang keluarga.

“Ini rumahmu. Ini keluargamu.” Begitulah pesan kakak saya kepada anak-anak asuhnya, yang selalu ia sebut ‘anak-anakku’. Saat hari raya tiba, seringkali kakak saya juga membawa mereka berombongan untuk mudik ke kampung halamannya dan merayakan lebaran bersama keluarga besar.

wp-1484674149262.jpg

Bermain di atas ‘tempat tidur terbang’ bersama Putra, salah satu adik SOS. Ia duduk di bangku TK dan suka membaca ensiklopedia.

Mencicip tinggal di rumah SOS, mengingatkan saya mengenai konsep ‘yatim’ yang pernah dijelaskan oleh seorang ulama.

Beliau mengatakan, bahwa sebutan yatim bukan hanya dinisbatkan pada anak-anak yang tidak memiliki orangtua. Lebih prinsipil, anak yatim adalah anak-anak yang tidak mendapatkan hak-haknya sebagai anak, termasuk hak untuk diasuh oleh orangtua, kehilangan figur ‘ayah-ibu’, meskipun secara fisik orangtua kandungnya masih hidup dan tinggal bersama.

Beliau juga mengupas mengenai ‘panti asuhan anak yatim piatu’, yang seharusnya tidak perlu digunakan untuk melabeli tempat tinggal anak-anak tersebut.

“Jangan membuat anak-anak itu merasa yatim dengan label panti asuhan anak yatim piatu. Dengan potensi yang dimiliki masyarakat dan pemerintah, seharusnya tidak ada lagi anak-anak yatim piatu di Indonesia.”

Saya rasa, hal yang sama sedang diperjuangkan oleh SOS Desa Taruna. Sementara saya pribadi merasa amat tertampar merenungkan pesan tersebut.

Belum ada langkah nyata yang saya tempuh untuk menjawab persoalan keyatiman anak-anak di luar lingkup keluarga saya. Apalagi, persoalan pelik ini tak akan selesai hanya dengan memasukkan sejumlah uang dalam kotak donasi.

wp-1484674125386.jpg

Secara spontan, anak-anak mengikuti gerakan suami saya yang sedang sholat. Mungkinkah mereka tengah bergembira, karena menemukan figur bapak?

 

Kesan Tak Terlupakan

“Buk, sandalmu aku minta, ya?”

“Buat apa?”

“Buat aku lihat-lihat, kalau Ibuk sudah pulang.”

Percakapan pendek dengan Syifa membuat hati saya berdesir ngilu. Ia, Putra, dan Zahra tampak keberatan ketika tahu kami sekeluarga harus pulang esok hari. Anak-anak menerima kami apa adanya, meskipun saat datang tak membawa buah tangan apapun untuk mereka.

Selama tinggal di sana, tiga anak kecil tersebut sering bergelayut manja pada saya, serta memperlakukan anak lelaki saya seperti seorang kakak, sekaligus teman bermain. Sedangkan Mila yang malu-malu mengungkapkan keinginannya mengobrol dengan suami saya, memanfaatkan keberanian Syifa untuk mengutarakan maksud hatinya.

Syifa, si anak ceria dan pintar mandi sendiri

Syifa, si anak ceria dan pintar mandi sendiri

Saya menganggap, keping-keping perilaku ini mencerminkan kerinduan mereka akan figur-figur yang terdapat dalam sebuah keluarga. Sikap mereka seolah menjadi corong yang meneriakkan suara anak-anak seluruh dunia tentang kebutuhan dasar mereka: keluarga.

Tanpa kehadiran keluarga kandung, kebutuhan emosional ini amat sulit dipenuhi. Oleh karena itu, topi kehormatan layak diangkat tinggi-tinggi atas perjuangan kakak saya yang telah bersedia memberikan seluruh dirinya untuk menyayangi, serta membesarkan anak-anak asuhnya.

Dua puluh empat jam setiap hari, selama lebih dari duapuluh tahun, ia harus bergelut dengan berbagai permasalahan masing-masing anak dengan kompleksitas tinggi, akibat variasi usia, latar belakang, dan karakter.

Rasa salut yang sama besar juga layak ditujukan bagi lembaga SOS Children’s Villages, beserta para pengabdi kemanusiaan yang bekerja di dalamnya.

"Seperti janjiku, foto-foto ini akan segera kukirimkan pada kalian. Semoga kita bisa bersua lagi!"

“Seperti janjiku, foto-foto ini akan segera kukirimkan kepada kalian. Semoga kita bisa bersua kembali!”

 

(Eryani Widyastuti)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s