KUDA-KUDA MENJADI IBU RUMAHTANGGA


Perenungan khusus untuk perempuan-perempuan yang berkehendak menjadi Ibu Rumahtangga

photogrid_1484168936929

==============================

Artikel ini tidak dimaksudkan untuk mengontra suatu pendapat/cara pandang tertentu, atau untuk mengurangi derajat perempuan-perempuan lain yang berbeda pilihan karena kondisi masing-masing. Gunakanlah untuk memantapkan dan memperteguh pilihan hati, bukan untuk mempertajam perselisihan ataupun beradu menang-kalah argumentasi.

==============================

 

Kebanyakan dari kita lebih memilih jalan yang tampak mulus bebas resiko/aman meski tak sesuai hati nurani, dibandingkan memilih jalan yang tampak berbatu penuh onak-duri meski di sanalah hati nurani berada. Ketakutan-ketakutan akan rasa sakit, keterasingan, kegelapan, bagaikan hantu yang terus membisiki kita untuk memunggungi suara hati demi kenyamanan. Seorang bijak pernah berkata, bahwa negasi dari ‘berani’ bukanlah ‘takut’, melainkan ‘nyaman’. Keberanian adalah kesediaan untuk berjuang keluar dari zona nyaman. Sementara ketakutan ada untuk diolah menjadi kewaspadaan, bukan untuk dibunuh, sehingga menciptakan manusia-manusia nekat, ngawur, tanpa pertimbangan.

Bagi perempuan jaman sekarang, memutuskan berhenti bekerja karena ingin mengabdi sepenuhnya pada keluarga di rumah adalah salah satu contoh jalan yang tampak berbatu penuh onak duri itu. Tak heran bila ada perempuan yang setiap hari berperang dengan diri sendiri, sambil dikelindani berbagai keraguan untuk memutuskan. Suami sudah mendukung, keinginan pribadi pun telah ada; tetapi mengapa keputusan belum juga diambil?

 

Degradasi Nilai Perempuan

Entah bagaimana awalnya sehingga Ibu Rumahtangga diidentikkan dengan pekerjaan mirip pembantu rumahtangga, suatu status yang dianggap menandakan keterbelakangan perempuan, dan hal-hal lain yang dipandang sebelah mata, sehingga memunculkan frasa popular ‘cuma’ ibu rumahtangga, dengan diiringi bahasa tubuh malu-malu dan tidak percaya diri. Padahal, Ibu Rumahtangga adalah peran yang amat kompleks untuk dijalankan. Kita semua pasti sudah mahfum; tidak ada libur, dituntut lincah berubah peran dengan singkat dari koki, tukang antar jemput, psikolog anak, ahli pendidikan, tukang laundry, tempat curhat suami, dan masih banyak lagi; yang semuanya menuntut totalitas fisik dan hati.

Mungkin, pandangan tak berimbang mengenai Ibu Rumahtangga memang perkara stigma masyarakat. Namun sangat tidak menutup kemungkinan, si Ibu Rumahtangga sendiri memang gagal menghayati dan mengkreatifi peran hidupnya, hingga memperkuat stigma yang telah kadung beredar tadi. Bahwa, menjadi seorang Ibu Rumahtangga berarti turunnya ‘harga’ seorang perempuan.

Pola pikir mengenai letak berharganya seorang perempuan adalah dari titel pendidikan/level jabatan/prestis pekerjaan/jumlah harta, apalagi bila diperoleh secara mandiri, gemilang, dan penuh prestasi, memang telah merasuk ke dalam tulang sumsum hampir setiap manusia masa kini. Tetapi, patut dipertanyakan, benarkah demikian nilai sejati seorang perempuan?

Barangkali kita menolak disuruh menilai seorang perempuan dari penampilan lahiriahnya saja. Kita menyebutkan ‘inner beauty’ untuk perkara penampilan. Namun lupa bahwa juga ada ‘inner value’ yang tidak terukur oleh materi dan prestis. Apakah seorang sarjana lebih terhormat dari seorang lulusan SD? Apakah pekerjaan kantoran lebih berharga daripada pekerjaan rumahtangga? Apakah perempuan kota lebih bermartabat daripada perempuan desa/pedalaman? Apakah pebisnis lebih bernilai daripada petani? Coba bayangkan apa jadinya kehidupan ini tanpa ada orang yang bertani dan mengurus pekerjaan rumahtangga. Jadi, adilkah menentukan nilai sejati seorang perempuan berdasarkan anggapan-anggapan material, sementara kita sesungguhnya tidak mampu mengukur inner value-nya, seperti kekokohannya menghadapi seribu badai kehidupan dan ketulusan pengorbanannya dalam mengabdi pada keluarga?

Yang jelas Allah, Yang Maha Mengetahui tentang kesejatian, tidak pernah menilai manusia berdasarkan berapa banyak kekayaannya, lulusan universitas manakah dia, dan apa jabatannya di kantor. Apa-apa yang menjadi kriteria penilaian Allah, itulah yang seharusnya kita jadikan tolok ukur dalam menentukan ‘harga diri’ kita masing-masing. Menjadi Ibu Rumahtangga tidak akan kalah mulia dengan peran lain, bahkan bisa lebih mulia. Semua tergantung pada motivasi, ketulusan, dan kesungguhan dalam menjalankannya.

Maka, pastikan motivasi memilih peran Ibu Rumahtangga bukan karena keterpaksaan atau ingin enak-enakan, tapi karena kesadaran demi kepentingan keluarga, dan bahwa Allah akan lebih meridhoi jika kita memilh jalan  ini dibandingkan memilih jalan yang lain. Berjuanglah untuk berharga di mata Allah, bukan di mata manusia.

 

Kehilangan Potensi Diri

Terjebak mengurus anak-anak. Terpenjaranya kebebasan. Terpasungnya potensi. Kehilangan diri sendiri. Singkatnya, tidak ada ruang untuk aktualisasi diri adalah salah satu momok yang menghalangi seorang perempuan untuk memilih menjadi Ibu Rumahtangga.

Perlu disadari sebelumnya, bahwa peran Ibu Rumahtangga bisa jadi amat menyiksa bagi orang yang mengharapkan keuntungan dan terkabulnya mimpi-mimpi pribadi. Ini adalah kerja pengabdian. Ego tidak akan menemukan tempatnya di sini. Terutama pada awal-awal masa (dan anak-anak masih kecil-kecil), seorang perempuan harus rela egonya, kepentingan pribadinya, disembelih habis-habisan, dipaksa puasa terus-terusan, tanpa ada kepastian berbuka.

Perempuan harus punya keyakinan, bahwa pilihan menjadi Ibu Rumahtangga, mengurus keluarga, terutama mendidik anak-anak adalah bentuk pengabdian mulia kepada Tuhan. Orang yang mengabdi dengan keikhlasan penuh tidak akan sempat lagi memikirkan jatah aktualisasi diri. Ia akan berusaha untuk terus kreatif, belajar tanpa henti, senantiasa merenungi makna setiap perbuatan yang ia lakukan, supaya bisa memberikan pengabdian terbaik dengan seikhlas mungkin.

Ketika sudah sampai pada titik tersebut, jangan kaget kalau ternyata Tuhan malah membukakan pintu-pintu potensi yang sebelumnya terkubur oleh rutinitas karir. Bisa jadi jalannya sebuah bisnis yang bisa kita kerjakan di rumah, terbongkarnya sebuah bakat besar yang terpendam, meningkatnya kehangatan hubungan antar anggota keluarga, atau berkurangnya masalah kepengasuhan anak yang selama ini menjadi beban hati. Ujung-ujungnya, pengabdian yang kita lakukan membuahkan kebahagiaan bagi kita pribadi dan menjadi jalan bagi berkembangnya potensi diri.

Tetapi, jika mengabdi begitu rupa, adakah kesempatan bagi Ibu Rumahtangga untuk meraih kesuksesan hidup seperti perempuan-perempuan karir?

Di sinilah salah satu fungsi belajar serta merenung, supaya kita tidak mudah termakan jargon-jargon populer yang belum tentu benar. Apakah makna sukes yang sejati? Karir yang moncer, segudang prestasi, anak-anak yang pintar dan soleh, popularitas? Seandainya itu semua adalah ukuran kesuksesan kita, maka hal tersebut hanyalah kesuksesan semu yang belum teruji kesejatiannya.

Dunia bukanlah tempat untuk menentukan sesorang sukses atau tidak. Manusia baru akan tahu bahwa selama hidup di dunia ia sukses atau gagal, ketika sudah berada di akhirat. Di sanalah akan tampak kesuksesan sejati. Juga, bukan pada tempatnya kita bersaing untuk lebih unggul atau berusaha mengunggul-ungguli orang lain. Untuk apa? Bukankah Nabi selalu mengajarkan untuk menjadi pribadi rendah hati dan menekankan untuk bahagia serta sejahtera secara sosial (bersama), sehingga kita bisa jadi ikut berdosa kalau ada tetangga yang kelaparan sementara kita tidur dalam keadaan kenyang?

 

Berkurangnya Rejeki

Di beberapa lingkup masyarakat, terdapat istilah ‘uang lelaki’ dan ‘uang perempuan’ dalam sebuah keluarga. Penjelasan sederhananya begini. Uang lelaki adalah uang milik suami yang bisa digunakan bebas tanpa seijin istri, dan biasanya adalah hasil dari bagian uang gaji, bonus, atau perjalanan dinas yang sengaja disembunyikan. Sementara uang perempuan adalah uang dari hasil jerih payah pribadi istri atau uang yang ‘dijatah’ untuk istri dari suami, bersifat bebas untuk dipakai tanpa seijin suami. Hal yang terdengar konyol dan sepele ini bisa menjadi sumber percekcokan dalam rumahtangga jika tidak disikapi secara bijak. Menyebabkan sebagian perempuan enggan melepaskan pekerjaannya dan menjadi Ibu Rumahtangga, sebab khawatir kehilangan otoritas atas keuangan.

Ada baiknya, karena suami istri adalah satu kesatuan, pemakaian uang diatur dan disepakati bersama, sehingga tak ada lagi yang perlu ‘main belakang’. Di dalam rejeki suami terkandung rejeki istri (dan anak-anak), begitu pula di dalam rejeki istri. Jika semangatnya adalah kebersamaan, maka meskipun hukum berkata ini ‘hak suami’ dan ini ‘hak istri’, rejeki yang diperoleh baik suami maupun istri, akan diatur dan digunakan untuk kebaikan bersama.

Faktor lain yang memberatkan perempuan untuk melepaskan pekerjaan adalah harga kebutuhan hidup yang semakin hari membumbung tinggi. Kebutuhan pangan, cicilan rumah, pendidikan, dan lain sebagainya. Situasi ini memaksa perempuan, mau tak mau, bekerja untuk mencari tambahan pemasukan, guna menyokong perekonomian keluarga. Maka sebelum memutuskan, harus ada perhitungan-perhitungan tertentu yang dilakukan bersama (suami-istri), sehingga keputusan menjadi Ibu Rumahtangga ataukah tetap bekerja merupakan keputusan keluarga, dan mengandung kesadaran untuk menjalani konsekuensinya bersama pula. Jika keputusan sudah mengarah pada peran Ibu Rumahtangga, sementara masih ada kekhawatiran mengenai rejeki, sebaiknya kita pelajari kembali tuntunan Allah dan Rasulullah mengenai jaminan rejeki bagi tiap manusia.

 

Penentangan Orangtua

Orangtua pada umumnya berpandangan bahwa perempuan juga harus bekerja, apalagi jika telah menempuh pendidikan tinggi. Sebagai anak, kita juga harus memahami bahwa penentangan orangtua terhadap keputusan kita untuk menjadi Ibu Rumahtangga penuh, merupakan reaksi wajar. Sebab, dengan melihat anak perempuannya bekerja, memiliki penghasilan sendiri, apalagi memiliki jabatan bergengsi, adalah kebanggaan tersendiri bagi mereka. Jadi sebaiknya, tetap komunikasikan keputusan kepada orangtua, sembari mempertahankan rasa hormat dan sayang kita kepada mereka.

Seandainya orangtua tetap bersikukuh melarang kita keluar dari pekerjaan, maka kita harus memiliki konsep berpikir, bahwa harus ada batas-batas yang jelas mengenai hal-hal yang harus diputuskan keluarga inti (suami, istri, anak-anak), dan tidak boleh dicampuri oleh pihak lain (termasuk orangtua & keluarga besar). Pada hal-hal yang menjadi wewenang keluarga inti, orangtua hanya bisa sebatas memberikan pandangan dan bimbingan. Batas-batas rumahtangga yang jelas akan mempermudah masing-masing pihak untuk saling menghormati.

Mengenai bakti kepada orangtua, tidak berarti kita harus menuruti semua keinginan orangtua. Berbakti kepada orangtua berarti berbuat baik kepada mereka. Kepatuhan kepada orangtua haruslah dimaksudkan untuk mematuhi perintah dan laranganNya.

 

Memutuskan menjadi seorang Ibu Rumahtangga tidak lantas otomatis membuat seorang perempuan menjadi mulia. Semua tergantung pada persambungan niat dan perbuatannya dengan Allah dan keluarganya, selama menjadi Ibu Rumahtangga. Di lain pihak, menjadi Ibu Rumahtangga bukanlah memasang belenggu pada tangan dan kaki perempuan. Menjadi Ibu Rumahtangga adalah pembebas perempuan untuk memantapkan langkah memenuhi panggilan fitrah dariNya dan melaksanakan peran utamanya dalam membangun kehidupan*.

 

(Eryani Widyastuti)

 

*silakan baca artikel KANCA WINGKING: Merenungkan Peran Lelaki dan Wanita dalam Rumahtangga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s