PENGALAMAN BELAJAR: English Holiday Camp di Kampoeng Sinaoe, Sidoarjo


img-20170101-wa0014

Tuk! Tuk! Tuk! 

Sejumlah ketukan pada layar smartphone saat menjelajahi dunia maya, mempertemukan saya dengan poster digital English dan Math & Science Holiday Camp milik Kampoeng Sinaoe. Acara macam apakah itu? Tempat apakah itu? Saya pun mencoba menggali informasi lanjutan.

 

Kampoeng Sinaoe, Sebuah Alternatif Pendidikan

Kampoeng Sinaoe berdiri sejak sekitar 10 tahun yang lalu. Tak sedikit stasiun televisi dan media berita lokal maupun nasional yang telah meliput berbagai kegiatannya. Dipandegani oleh Bapak Muhammad Zamroni dan Ibu Ida Nurmala, Kampoeng Sinaoe memberikan alternatif bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pendidikan.

Tempat belajar yang berlokasi di Siwalan Panji, Sidoarjo, ini tak melulu berkutat dalam pendidikan akademis. Kegiatan pendidikan Kampoeng Sinaoe merambah ke pemutaran film sains, fotografi, kelas inspirasi, kepedulian lingkungan, dan lain-lain, hingga mampu menorehkan beberapa prestasi.

Energi besar Kampoeng Sinaoe untuk berbagi dan mengabdi secara kreatif, terutama demi menyokong pendidikan anak yatim dan dhuafa yang sering terpinggirkan haknya, telah menjadi magnet tersendiri yang menarik berbagai kalangan untuk datang sebagai siswa, pengajar, maupun sebagai kawan seperjuangan. Tak kurang-kurang, Kampoeng Sinaoe pernah menerima guru tamu dari Finlandia. Negara yang tengah dikatakan memiliki sistem pendidikan nomer satu di dunia.

img_20161220_072449_hdr

 

Momentum, bukan Kebetulan

Umur tujuh tahun. Menurut perencanaan pendidikan keluarga saya, pada usia ini, anak sudah waktunya untuk belajar ketaatan dan kemandirian secara lebih nyata. Ia juga perlu lebih banyak terekspos pada ruang interaksi sosial yang lebih beragam untuk mematangkan landasan-landasan yang telah dimiliki.

Dengan tujuan tersebut, saya sekeluarga berusaha mengkreasikan berbagai cara, tetapi belum membuahkan hasil. Sementara ide baru belum muncul, saya sekeluarga ‘menunggu’ bantuanNya. Saat itulah, saya ‘dijodohkan’ dengan informasi tentang English Holiday Camp Kampoeng Sinaoe.

Inilah yang anak butuhkan; sebuah tempat di mana ia bisa belajar mematuhi peraturan, dalam suasana lingkungan yang berbeda dan beragam dibandingkan di rumah. Serta, dengan banyak berkurangnya kemudahan serta kenyamanan akan mendorongnya lebih mandiri, dan mencicipi apa itu ‘tirakat’.

Ketika kondisi di atas dijelaskan dan ditawarkan, ternyata anak langsung mengiyakan. Memang, Bahasa Inggris merupakan motivasi terbesarnya untuk saat ini.

Apakah temu-jodoh masalah dan solusi adalah sebuah kebetulan? Bukan. Kata ‘kebetulan‘ hanya ada dalam sempitnya ruang pandang manusia. Sementara dalam rentang pandang yang lebih luas, setiap helai daun yang jatuh pun tak bisa lepas dari perencanaanNya Yang Maha Detail. Ini adalah sebuah momentum dariNya, Sang Pendidik Sejati anak-anak kita.

Perjuangan dan petualangan pun dimulai! 

img-20170101-wa0010

 

Pengalaman English Holiday Camp di Kampoeng Sinaoe

Menemukan Kampoeng Sinaoe tidaklah sulit. Dari jalan raya Siwalan Panji, cukup berbelok ke sebuah gang, serupa jalan kecil seukuran satu mobil ditambah satu sepeda motor. Tak jauh dari mulut gang, akan tampak sebuah gazebo bambu tingkat dua bernuansa kecoklatan. Itulah lokasi Kampoeng Sinaoe.

Bila diperhatikan, sebenarnya, daerah ini merupakan lingkungan dengan rumah-rumah berdesain umumnya jaman sekarang. Tetapi, sentuhan bangunan bambu Kampoeng Sinaoe berhasil mengubah citra lingkungan menjadi terasa ‘kampung’. Ditunjang dengan keramahan para warganya yang masih mudah saling sapa dengan orang asing, hingga terlibat obrolan ramah tamah, membuat suasana kampung mengental. Masih lekat juga kebiasaan berbondong-bondong pergi ke masjid begitu adzan berkumandang. Tentu, sambutan penghuni Kampoeng Sinaoe tak kalah hangat dan ramah.

Selama dua minggu mengikuti English Holiday Camp, saya dan anak tinggal di sebuah kamar kos bersih dengan fasilitas tempat tidur, kipas angin, lemari, meja-kursi belajar, dan tentunya kamar mandi. Sebagian besar peserta tidak didampingi oleh orangtua; namun mereka bisa dikunjungi keluarga sewaktu-waktu. Untuk anak-anak tanpa pendamping, Kampoeng Sinaoe menyediakan kakak pendamping yang datang beberapa kali setiap hari untuk mengecek kondisi mereka.

Kegiatan belajar Kampoeng Sinaoe dimulai pukul 8 pagi hingga pukul 3:30 sore, dengan jeda makan siang serta sholat dhuhur; kemudian dimulai lagi pukul 7 malam hingga 9 malam. Kegiatan belajar bisa bervariasi. Mulai kegiatan akademis ala sekolah, dongeng, permainan tradisional, sampai kebersihan lingkungan, juga diajarkan. Tentu, komunikasi diusahakan tetap dalam ‘English Zone’. Saat suara adzan mengangkasa, pengajar mengajak anak-anak, bersama-sama, menuju masjid untuk sholat.

img_20161227_182455_hdr

Suasana makan pagi bersama sebelum berangkat ke Kampoeng Sinaoe

Perihal makanan, Kampoeng Sinaoe memiliki kantin, sebagaimana sebuah sekolah. Namun, untuk siswa camp yang mengambil fasilitas katering, Kampoeng Sinaoe menyediakan menu makanan yang dimasak oleh warga sekitar. Uniknya, tempat makannya pun di teras rumah si tukang masak, bersama dengan teman-teman lain.

Sebagai catatan khusus, Kampoeng Sinaoe tampak berusaha memberdayakan potensi lingkaran terdekat, termasuk warga sekitar. Selain katering, lokasi belajar juga memanfaatkan ruang depan beberapa rumah warga, dengan cara sewa. Tak lupa, setiap rumah yang dijadikan tempat belajar dipasangi gapura bambu khas Kampoeng Sinaoe. Sedangkan, untuk pengajar dan pendamping, Kampoeng Sinaoe banyak menugaskan alumninya sendiri.

Bagi anak-anak dhuafa dan yatim sekitar, Kampoeng Sinaoe mendorong mereka untuk ikut belajar bersama, dengan memanfaatkan dana subsidi yang diambilkan dari pembayaran peserta didik reguler. Hal ini telah disampaikan dalam informasi rincian biaya, seperti yang saya terima ketika mendaftar English Holiday Camp kemarin.

Menilik beberapa catatan khusus di atas, tak heran, bila suasana belajar Kampoeng Sinaoe cukup berbeda dengan tempat-tempat belajar lain yang mengutamakan profit.

Nuansa sederhana nan humanis membalut ketulusan mengabdi yang tercermin ketika pengajar dan pendamping berinteraksi dengan para siswa. Bagi anak saya yang paling sulit diminta menulis dan memiliki latar belakang ‘tidak sekolah’, dapat terangkul baik hatinya. Ia merasa diterima di Kampoeng Sinaoe.

Saya rasa, begitu pula perasaan siswa-siswa lain. Rata-rata, mereka menunjukkan raut dan perilaku positif selama belajar di sini.

img-20170101-wa0008

Dua anak yang berbeda. Yang satu tidak bersekolah, yang satu bersekolah. Yang satu suka sekali bicara dan berimajinasi. Yang satu suka meneliti dan bersikap serius. Tapi, kami bisa berteman baik.

Di sini, anak tidak hanya belajar berbahasa Inggris. Di sini, ia belajar apa itu ‘taat mengikuti aturan’ dalam suasana santai, meski masih sering terbata. Di sini, ia belajar bahwa berbeda-beda pun masih tetap bisa ceria bermain bersama. Di sini, ia belajar berjuang, melewati hari-hari yang seringkali tak sesuai keinginannya, tapi toh selalu ada saja kegembiraan baru yang didapatkan.

Merasa dimanusiakan. Mungkin itulah yang membuatnya ingin kembali ke Kampoeng Sinaoe.

(Eryani Widyastuti)

 

img_20161227_152754_hdr

Kenangan bermain hujan bersama teman-teman di Kampoeng Sinaoe

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s