HAPPILY (NOT) EVERAFTER: Chapter 3 Part 3


photogrid_1482460544944

THE JOURNEY BEGINS (3)

============================

ArtiKata>> Cheonggyecheon: nama sungai di Korea Selatan;  Desa Hanok: desa yang dipenuhi rumah tradisional Korea; Kimbap: makanan Korea yang terdiri dari nasi yang dibungkus dengan rumput laut.

============================

“Mas Yeonghun masih belum selesai? Mmm, tidak apa-apa. Aku juga sedang sibuk menggambar, kok. Clarissa, teman kursusku, minta digambarkan karikatur untuk undangan pernikahannya. Kapan-kapan saja ke Jeonju.”

Alin menutup telepon. Dengan lesu, menopangkan dagu di atas meja kerja yang dipenuhi kertas-kertas gambar berserakan. Di luar apartemen, hawa dingin berkabut, diiringi hujan sesekali, menyaput kelopak-kelopak pucat bunga sakura yang bermekaran riang.

Pada pertengahan musim semi ini, pernikahannya dengan Yeonghun menginjak bulan kedua. Rencana siang ini, mereka akan berangkat ke Jeonju dengan kereta api, hendak menikmati nuansa masa lampau Korea di Desa Hanok.

Alin sudah menyiapkan berbagai macam alat gambar dan dua buku sketsa untuk merekam perjalanan mereka. Tetapi, ternyata, pagi-pagi, Yeonghun mendapatkan panggilan mendadak dari kantornya untuk menyelesaikan pekerjaan. Kini, jam dinding telah menunjukkan pukul 11 malam. Sayang, pekerjaan Yeonghun takkunjung selesai.

“Halo? Ah, Clarissa, aku sudah mengirim file gambarnya dari tadi siang. Tidak ada? Mungkin masuk Spam. Coba cek.”

Alin mendengus. Ia pikir, telepon barusan dari Yeonghun yang hendak mengabarkan sudah memesan tiket ke Jeonju untuk besok. Ternyata, bukan. Tamasya ke Jeonju benar-benar batal total. Ia patah hati dan menangis sesegukan seperti anak kecil yang direbut permennya.

Alin merasa, Yeonghun tidak memahami, bahwa akhir minggu adalah momen amat krusial bagi dirinya. Tak seperti momen makan siang yang singkat di tepi Cheonggyecheon, di akhir minggu, ia bisa bersama Yeonghun sepanjang waktu. Lebih leluasa menambal lubang sepi di hatinya, akibat ditinggal bekerja seharian, mulai Senin sampai Jumat. Lebih cepat memulihkan daya tahan untuk menanggung kesepian pada minggu berikutnya.

“Kim Yeonghun bodoh. Bodoh. Apa pekerjaan itu lebih penting dibandingkan janji dengan istrimu?”

Kalau sudah begini, ingin rasanya Alin berlari pulang ke Indonesia, dan menangis sepuasnya dalam pelukan Ibu.

Ibu tidak melarang kalian menikah. Tapi, coba ditunda dua-tiga tahun lagi. Saat Alin sudah lebih dewasa. Pernikahan membutuhkan keteguhan, tidak sekedar modal cinta.

Gara-gara perasaan homesick barusan, ia jadi teringat pesan Ibu sebelum dirinya menikah.

Adikmu… apakah dia sanggup memikul tanggungjawab sebagai seorang istri? 

Alin mengusap genangan air di matanya. Ia juga teringat ungkapan keraguan Boram pada Bram dalam sebuah pembicaraan tengah malam di ruang makan Keluarga Kim.

“Tidak boleh. Aku tidak boleh menyerah seperti ini. Meskipun aku sangat kesepian. Meskipun aku sangat rindu Ibu dan Bapak. Meskipun aku sangat ingin pulang ke Indonesia. Meskipun aku sangat kesal pada suamiku– Akan aku buktikan. Aku sudah cukup dewasa untuk menjadi istri Kim Yeonghun!”

Bunyi langkah-langkah kaki Alin menuruni tangga, menuju lantai bawah, memecah keheningan ruang apartemen.

“Pokoknya malam ini, aku tidak mau makan Kimchi! Aku mau makan pakai tangan, dan bukan sumpit! Aku mau makan sesukaku! Indonesia tidak boleh dijajah Korea Selatan! Merdeka!” serunya geregetan, sembari membuka pintu kulkas, mengambil sebongkah sambal pecel, lalu menyiapkan nasi panas di piring.

“… di sana tempat lahir beta… dibuai dibesarkan bunda… tempat berlindung di hari tua… sampai akhir menutup mata…”

Lagu Indonesia Pusaka terdengar fals sekaligus menyayat hati ketika dinyanyikan oleh Alin. Sementara tangannya menyuapkan cuilan sambal pecel yang dikepung oleh nasi putih ke dalam mulutnya.

“Yang ini juga pasti akan berlalu... ” Ia menirukan kata-kata Nabi Sulaiman yang terukir pada cincin Nabi Daud, sang ayah. “Aku pasti sanggup bertahan…”

Alin menghela napas berat. Sudut-sudut matanya mulai basah. Padahal, tantangan musim panas belum juga dimulai.

*****

“Mas Yeonghun kekanak-kanakan sekali, sih! Kalau ada yang tidak disukai, bilang, dong. Jangan ngambek begini.”

Alin menutup pintu apartemen, setelah Yeonghun masuk mendahului. Ia kesal sekali, karena gagal mendapatkan tanggapan, walaupun sudah mencoba berbicara pada suaminya sepanjang perjalan menuju rumah.

“Siapa kekanak-kanakan? Aku atau kamu?” Yeonghun melepaskan ikatan dasi dari lehernya dengan kasar. Meradang juga dituduh kekanak-kanakan dan ngambek oleh orang yang empat tahun lebih muda dari dirinya.

“Tunggu!” hadang Alin, saat Yeonghun hendak masuk ke kamar mandi. Ia mendongak. “Mas Yeonghun aneh sekali malam ini. Seperti bukan Kim Yeonghun yang aku kenal. Aku tidak mengerti kenapa kamu harus  berpura-pura dingin dan ketus kepadaku di depan teman-temanmu? Aku memang tidak tahu alasannya. Tapi, aku bisa merasakan perubahan sikapmu.”

“Apa pedulimu?” sahut Yeonghun datar. Tak mau menatap wajah Alin. “Toh, di mobil tadi, kamu menolak mendengarkan nasehatku. Kamu juga terus saja bercerita tentang pengalaman pribadi kita pada mereka, saat aku bilang cukup. Kamu tidak peduli telah membuatku malu di hadapan mereka.”

“Kapan aku membuat Mas Yeonghun malu? Semua temanmu tertawa, dan mereka terlihat menyukaiku–”

Alin tercekat, ketika Yeonghun menunduk, menatapnya tajam. “Jangan sembarangan bicara. Kamu tidak tahu apa yang aku perjuangkan selama ini.”

“Kalau begitu, beri tahu aku.” Alin balas menatap tajam.

“Tidak perlu. Lakukan saja sesukamu.” Yeonghun mendorong Alin ke samping, masuk ke kamar mandi, dan menutup pintunya.

“A-apa? Tidak perlu tahu? Kenapa? Bukankah aku istrimu? Mas Yeonghun! Mas Yeonghun!”

Yeonghun tidak menjawab. Malah, menghidupkan shower sebagai peredam suara. Tepat di depan pintu kamar mandi, Alin mendesis kesal. Kemarahan semakin menambah pengap pori-pori kulitnya yang masih menyimpan kegerahan hawa musim panas dari luar tadi. Malam bertambah larut, dan pertengkaran mereka pun terus berlanjut.

“Cepat naik ke atas dan pergi tidur. Jangan ikuti aku terus.” Yeonghun merebahkan diri di atas sofa bawah jendela. Menutup wajah dengan bantal sofa. “Tolong, biarkan aku sendiri. Aku janji, tidak akan ada kemarahan lagi besok.”

“Mana bisa begitu? Masalah harus dibicarakan, bukan malah ditinggal tidur–”

Yah!” Yeonghun menurunkan bantal dari muka. Mendesis jengkel pada Alin yang berdiri di dekat sofa. “Haruskah aku mengatakan bahwa kamu masih saja keras kepala, semaumu sendiri, dan tidak memikirkan posisi suamimu? Lebih baik, kamu diam saja selama makan malam tadi.”

“Tega sekali… A-aku sudah berusaha sebaik mungkin supaya tidak mengecewakan Mas Yeonghun seperti janjiku.” Alin sungguh tak menyangka Yeonghun bisa berucap setajam itu. “Mas Yeonghun pikir aku suka berada di restoran tadi? Aku tidak suka! Aku benci berada di antara orang mabuk. Aku tidak suka mendengar gurauan teman-temanmu yang menyebutku Eorin Sinbu! Pengantin kecil apanya? Aku ini perempuan dewasa! Tapi… tapi, aku berusaha bertahan dan mencoba membaurkan diri… Aku telan semua ketidaknyamananku! Apakah masih belum cukup?”

Heishh… Tapi tidak dengan cara menceritakan kisah pribadi kita!”

Pertengkaran bergulir semakin sengit dengan nada-nada tinggi.

“Kisah pribadi apa? Bukankah itu cuma kisah seru biasa yang tidak perlu dirahasiakan?”

“Apa? Heish… Jadi kamu tidak keberatan suamimu dijadikan bahan tertawaan gara-gara ceritamu?”

“Bukankah mereka jadi lebih akrab dengan Mas Yeonghun?”

“Sudahlah. Aku tidak mau bicara lagi. Kamu tidak akan mengerti dunia orang dewasa.”

“Oh… Begitu ya… ” Mendadak, Alin merasa perjuangannya selama tiga bulan untuk bertahan dalam sepi demi menjadi istri yang tangguh, sia-sia saja. Dimentahkan oleh kalimat Yeonghun. Ia benar-benar sakit hati. “Dunia orang dewasa? Jadi, kamu juga menganggapku anak-anak? Ya sudah, tidur saja sendiri di sofa sampai kiamat!”

Alin membalikkan badan, menaiki tangga menuju lantai atas dengan kemarahan pada setiap hentakannya.

Mweo?! Yah! Alin! Yah!” Yeonghun membanting bantal ke lantai, bangkit dari sofa, dan mendongak, mengikuti gerakan Alin.

“Aku sudah melakukan semua yang Mas Yeonghun mau! Aku tidak mencari pekerjaan di luar rumah seperti yang biasa kulakukan di Indonesia! Aku bahkan bersedia berhenti berlatih Taekwondo! Tapi, Mas Yeonghun masih saja menyebutku keras kepala… kekanak-kanakan…”

Dari lantai atas Alin berteriak. Meluapkan kekesalannya. Airmatanya berderai.

“Sssshh… Jangan berteriak keras-keras. Apa kamu mau tetangga kita dengar? Itulah yang aku sebut kekanak-kanakan.” Yeonghun menyusul, menaiki tangga ke lantai atas.

Alin bertambah kesal, sebab Yeonghun benar. Tapi, ia terlalu gengsi untuk menurunkan volume suara.

“Biar saja! Mas Yeonghun tidak tahu bagaimana aku harus berjuang menghadapi kesepian di apartemen ini setiap hari! Apa kamu pikir mudah?”

Alin membanting diri ke atas kasur tanpa dipan di hadapannya. Memunggungi Yeonghun yang mendekat dari arah tangga.

“Sebelum menikah, aku sudah menjelaskan bahwa aku sibuk bekerja. Kamu bilang, mau berjuang bersamaku. Baru tiga bulan saja sudah mengeluh.” suara Yeonghun melembut.

Sementara, Alin terisak-isak. Ia bisa merasakan henyakan kasur, ketika Yeonghun duduk pada tepinya.

“Mas Yeonghun selalu mengatur-ngatur aku. Mengekangku. Sepertinya, kamu tidak percaya kalau aku juga bisa melakukan sesuatu dengan benar tanpa peraturan darimu. Aku benci diperlakukan seperti anak kecil.”

Yeonghun tak membalas. Matanya tampak sedih menatap Alin dari belakang. Tangannya terulur, hendak menyentuh rambut istrinya, namun dibatalkan. Ia memilih berdiri, dan meninggalkan lantai atas, menuju sofa di lantai bawah.

“Jangan pergi… ” bisik Alin hampir tanpa suara.

Alin menyesal sudah membiarkan pertahanan emosinya jebol. Sebagai orang dewasa, ia seharusnya bersikap tenang dan menganggap enteng semuanya, supaya tak perlu ada pertengkaran. Bukankah begitu? Tapi, di sisi lain, ia tidak tahan lagi pada sikap bossy Yeonghun. Ia juga marah pada diri sendiri, karena gagal memahami alasan kemarahan Yeonghun malam ini.

“Aku tidak mau begini… tolong… aku tidak mau bertengkar lagi. Aku mau kita bahagia selamanya…”

Alin meringkuk di atas kasur, menggigil sedih, sebelum akhirnya terlelap ditemani airmata. Sedangkan di lantai bawah, Yeonghun menghabiskan malam penuh kegelisahan di atas sofa. Pertengkaran memang selalu menyisakan luka.

*****

Pagi keemasan. Matahari telah bersinar penuh di balik jendela. Apartemen pun telah lengang. Yeonghun sudah berangkat ke kantor, sedangkan Alin baru saja tergeragap dari tidur pulasnya.

“Ah, payah. Aku belum sholat subuh! Ampun, ya Allah…”

Ia buru-buru turun ke bawah, dan melakukan semua yang harus dilakukan di pagi hari. Termasuk membuat kimbap untuk makan siang bersama Yeonghun di tepi Cheonggyecheon seperti biasa.

“Dia bahkan tidak pamit padaku… Huh…” gerutunya, seraya menggulung kimbap. Kemarahan akibat pertengkaran semalam masih banyak tersisa dalam hati. Namun, Alin mencoba meredakannya. “Mungkin, kami bisa membicarakan masalah semalam, saat makan siang nanti.”

Dua jam berikutnya, Alin telah menyandang tas ransel, siap berburu obyek gambar di luar sana,  demi mengasah ketrampilan menggambar sketsanya. Ia menutup pintu apartemen, lalu berjalan cepat menuju lift. Tak menyadari, bahwa di meja makan telah tersedia sepiring nasi goreng wortel ala Yeonghun yang menjadi favoritnya. Selembar kertas post-it warna kuning, berisi pesan, tertempel pada permukaan meja.

Jangan lupa sarapan. Nanti, tidak usah ke Cheonggyecheon. Aku akan menggunakan waktu makan siangku untuk menyelesaikan pekerjaan. Jadi, bisa pulang tepat waktu, supaya kita bisa segera membicarakan masalah semalam. Maaf. 

Alin tidak membaca pesan itu. Jadi, menjelang jam makan siang, ia sudsh duduk mematung di tepi Cheonggyechon, menunggu kedatangan Yeonghun. Ditemani keindahan permukaan air sungai yang berkilau tertimpa sinar mentari. Airnya begitu jernih, sampai-sampai bebatuan di dasarnya terlihat jelas. Tentu saja, hingga jam makan siang berakhir, Yeonghun tidak muncul.

“Jadi, begitu? Marah besar, sampai memusuhiku seperti ini? Menyebalkan!”

Alin mendesis dengan mata memerah tergenang cairan bening. Merasa amat sendiri, sebab tidak diinginkan lagi oleh suaminya. Segera, tangannya meraih smartphone. Bukan untuk menelepon Yeonghun, melainkan mematikan gawai pintar itu. Ia memutuskan tak ingin dihubungi atau pun berbicara dengan Yeonghun. Ia ingin pergi. Ke mana saja. Asalkan, tidak kembali ke apartemen.

*****

Rumah Keluarga Kim. Malam hari.

“Hana menunggang kucing. Meow… Meow… Hana menunggang kucing…”

Boram tergelak lepas menyaksikan sandiwara Bram yang tengah merangkak ke sana ke mari menjadi tunggangan Hana. Suaminya berubah-ubah peran menjadi berbagai jenis hewan, dari kuda, hingga kucing.

Ting-tong!

“Assaalamu’alaikum, Eonni. Ini aku… Alin.”

Terdengar suara parau dari interkom yang terhubung dengan interkom lain di luar pagar.

“Wa’alaikum salam. Tunggu, aku bukakan pintu!” Boram berjalan keluar, seraya berkomentar. “Apakah interkom-nya rusak? Kenapa suaranya tidak jernih lagi? Jagiya, sudah diperbaiki kemarin, kan?”

Bram mengangguk pelan. Ia ikut heran. Entah mengapa, perasaannya tidak enak. Dan, benar saja. Beberapa menit kemudian, Boram berdiri di hadapan Bram. Merangkul Alin yang tampak kusut masai, tersenyum muram, dengan wajah amat sembab.

“Lin, kenapa?”

“Alin bilang, mau menginap di sini untuk sementara waktu. Dia sedang bertengkar dengan Yeonghun.”

Bram berdecak. Menyerahkan Hana pada ibunya, lalu memeluk Alin.

“Mas Bram…” Airmata Alin tumpah pada bentangan dada kakak lelakinya. “Aku mau pulang ke Indonesia saja…”

“Sssh… sssh…. Tenangkan diri dulu. Aku buatkan teh hangat, ya?” Bram mengusap-usah kepala Alin. Jantungnya berdesir ngeri ketika mendengar permintaan Alin. Pulang ke Indonesia dalam keadaan bertengkar? Apa jadinya pernikahan adiknya yang baru seumur jagung ini?

Jagiya… “

“Ya?”

Boram mengacungkan smartphone-nya sambil menutupi bagian speaker dengan salah satu jari. “Yeonghun-ah… Dia bertanya, apakah Alin ada di sini? Aku harus jawab apa?” bisiknya.

Bram melipat bibir ke dalam mulut. “Katakan padanya, Alin tidur di sini malam ini. Jemput saja besok pagi, sekalian sarapan bersama.”

(Eryani Widyastuti)

photogrid_1482461446872==============================

Lanjut baca CHAPTER THREE [The Journey Begins], Part 4>>>

==============================

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s