HAPPILY (NOT) EVERAFTER Chapter 3 Part 2


 wp-1482035054149.jpg

THE JOURNEY BEGINS (2)

============================

ArtiKata>>Cheonggyecheon: nama sungai di Korea Selatan; Arasseo: mengerti (informal); Algesseumnida: mengerti (formal); Daeri-nim: panggilan untuk asisten manajer; Jeona: Yang Mulia, panggilan untuk raja; Samgyeopsal: masakan panggang dari daging perut babi yang berlemak dan tebal; Eorin sinbu: pengantin kecil; Kwajangnim: manajer; Haksaeng: panggilan untuk pelajar; Ajumma: Bibi, panggilan untuk perempuan paruh baya; Ajeossi: Paman, panggilan untuk lelaki paruh baya; Nunsaram: manusia salju

============================

“Aku ikut.”

Alin berdiri di pintu apartemen mungil mereka, melepas Yeonghun berangkat kerja. Seperti pagi-pagi biasanya, ia selalu mengucapkan kalimat itu dengan tatapan seekor anak kucing yang akan ditinggal induknya.

Yeonghun mendesis dalam senyum. Dengan lembut, menyelipkan seuntai rambut Alin yang lolos dari gelungan, ke belakang telinga. “Siang ini tidak usah ke Cheonggyecheon. Hemat energi untuk acara makan malam nanti. Jadi, makan siang sendiri, tidak apa-apa, kan? Cari restoran sekitar apartemen saja. Tapi, hati-hati memilih menu. Lebih baik, cari restoran muslim, atau yang berlabel halal, atau–”

“Menu vegetarian. Arasseo.” Alin mengangguk.

Setiap jam makan siang, ia selalu pergi ke tepi sungai Cheonggyecheon untuk makan siang bersama Yeonghun. Toh, dirinya juga tidak memiliki kesibukan yang mengikat. Hanya kursus bahasa dan budaya Korea selama dua jam di gedung pusat bahasa, sekitar 15 menit berjalan kaki dari sini. Selebihnya, waktu ia gunakan untuk mengurus pekerjaan rumah, memasak, mengasah kemampuan menggambar, dan mendekorasi dinding apartemen supaya terkesan lebih ceria.

“Bagus. Sebelum berangkat kursus, pastikan kompor sudah mati. Jangan lupa bawa kartu apartemen.”

“Algesseumnida, Kim-daerinim.” Alin mengangguk dalam-dalam.

“Juga, jangan pergi ke tempat yang belum pernah kita datangi. Aku tidak mau kamu tersesat seperti tempo hari. Dan ingat, jangan sembarangan mengakrabkan diri dengan orang asing–”

Algesseumnida, Jeonaaa….” potong Alin lantang. Ia mulai bosan mendengar pesan-pesan Yeonghun.

Kali ini, ia tak hanya mengangguk dalam. Lebih jauh lagi, menirukan cara dayang Korea menghormat kepada raja. Kedua lengan disikukan, diangkat hingga di depan dada. Kemudian, kedua telapak dihadapkan ke bawah, dan dipertemukan ujungnya. Sementara kepala ditundukkan, dan lutut sedikit ditekuk.

Heiissh!” Yeonghun tersipu, setengah jengkel. Ia mengaitkan lengan panjangnya ke leher Alin dengan gemas. Lalu, mencium kening istrinya. “Hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja tanpa aku. Nanti, aku telepon. Assalamu’alaikum.”

Setelah puas menatap punggung Yeonghun hingga menghilang ke dalam lift, Alin menutup pintu. Lalu, berlari melewati lemari tinggi warna putih dan kamar mandi mungil yang saling berhadapan di kanan-kiri, menuju sofa abu-abu di bawah jendela kaca yang lebar. Sambil berlutut pada keempukan sofa, ia mengamati jalanan di bawah sana.

Saat melihat sosok suaminya berjalan menuju halte bus di balik sebuah tikungan, mata Alin membulat sebentar, lantas sayu.

“Cepat pulang…” Embun napas Alin memburamkan permukaan kaca jendela.

Langit tanpa awan dan bungkukan bukit-bukit pucat jauh dari seberang jendela, tampak bagai lukisan musim panas yang menyimpan sepi dan jenuh.  Sesepi dan sejenuh waktu yang akan ia lewati hingga malam nanti tanpa Yeonghun. Perasaan yang berulang setiap hari, kecuali akhir pekan, tentu.

“Sampai kapan kamu akan memperlakukan aku seperti anak kecil yang harus diberi aturan ini itu… Aku ini sudah dewasa tahu–” gumamnya diam-diam.

Bukannya Alin tidak tahu bahwa Yeonghun seringkali bersikap bossy kepada dirinya. Dulu, ia menganggap, begitulah cara Yeonghun menunjukkan perhatian. Tetapi, setelah menikah, entah mengapa Alin sulit untuk mempertahankan anggapan positif itu.

Mendapati Yeonghun mengatur-ngaturnya hingga hal kecil setiap hari, lama-lama sebal juga. Selain wanti-wanti monoton yang rajin diucapkan setiap pagi, Alin juga diberi pesan tidak boleh menggambar hingga larut malam, tidak boleh bekerja di luar rumah, harus makan kimchi yang dibencinya setiap hari, dan yang paling parah, tidak boleh berlatih Taekwondo.

Kita sudah sepakat untuk segera punya bayi. Ingat?

Itulah salah satu argumen Yeonghun yang selalu berhasil memukul telak, ketika Alin mulai mengungkapkan protes. Tepatnya, tidak berani untuk protes lebih jauh lagi, karena ia benar-benar tidak ingin bertengkar dengan suaminya. Ia tidak ingin memicu sesuatu yang berpotensi merusak hubungan mereka berdua. Meskipun untuk itu, ia harus mengorbankan perasaannya sendiri.

“Aku mau kita bahagia… selamanya…” gumamnya lagi. Teringat peristiwa pertengkaran pasangan di areal pemakaman Eomma-Appa pada penghujung musim dingin lalu. Pedih mengiris setiap kali terbayang, andai dirinya dan Yeonghun berada pada posisi tersebut.

“Aaah… Asssaa!

Alin melompat dari sofa, sekaligus memberikan tendangan berputar menyabet udara, lalu mendarat di lantai dengan kuda-kuda kaki yang mantap.

Terdengar hela napas puas. Adrenalin mengalir dalam pembuluh darahnya. Ia rindu perasaan ini. Rindu berlatih Taekwondo lagi. Tapi, mengingat Yeonghun pasti tidak akan mengijinkan, Alin membungkuk lesu.

“Haaa… lebih baik aku mencuci baju saja…” Ia melangkah gontai menuju kamar mandi. Diiringi rasa sebal pada Yeonghun.

Biarkan baju-baju kotor itu. Aku akan mencucinya besok pagi. Kim Yeonghun sudah biasa mengurus diri sendiri. Aku juga akan mencucikan bajumu. 

Yah, masih capek? Mau bangun? Aku sudah memasak bubur untuk sarapan. 

Tersesat? Aigo! Bagaimana bisa? Aku sedang banyak pekerjaan– ah, sudahlah, tidak penting. Aku akan menjemputmu sekarang! Jangan kemana-mana! 

Alin memasuki kamar mandi, duduk di sebuah bangku kecil, dan mulai menyikat pelan selembar celana putih yang amat panjang, seakan milik seorang raksasa. Satu persatu sikap baik Yeonghun menghiasi benaknya. Mengikis mendung gelisah yang menyelimuti hatinya.

“Mas Yeonghun sudah menjagaku, bekerja keras untukku, dan menyayangiku. Sedangkan aku? Bahkan belum pernah melakukan hal spesial untuk membalas kebaikannya.” Ia mendengus. “Baiklah. Momen makan malam nanti akan aku gunakan sebaik-baiknya!”

Srak! Srak! Srak! 

Tanpa ampun, Alin mengerahkan kekuatan otot tangannya, menyikat celana putih itu penuh tenaga. Ia tengah berbunga-bunga, membayangkan senyum Yeonghun yang mengembang, sebab istrinya begitu pintar membawa diri di depan rekan-rekan kantornya.

*****

“Ini mobil siapa?”

Alin meletakkan tas selempang kainnya yang bergambar bunga matahari besar di samping kursi. Lalu, antusias melongok kanan-kiri, depan-belakang, atas-bawah bagian dalam mobil hatchback yang baru saja ia masuki. Maklum, dirinya jarang sekali naik mobil, kecuali taksi dan angkutan umum. Jadi, berada dalam kendaraan pribadi semacam ini serasa sedang mengendarai mobil James Bond yang mewah dan futuristik.

“Aku pinjam dari teman kantorku.” Yeonghun menyetir dengan gaya khasnya; cepat, namun penuh perhitungan. “Kamu suka?”

Alin mengangguk-angguk semangat. Mengetuk-ngetukkan tumit sepatu kanvasnya pada lantai mobil dengan riang, lantas menegakkan hidung. Mengendus aroma ruangan mobil.

“Aku suka baunya. Bau kayu-kayuan. Mmm, sepertinya familiar.”

Yeonghun tergelak.” Heish… Lupa dengan bau parfum suamimu sendiri?”

Alin terbelalak menatap Yeonghun. Kemudian, meringis malu. “Pantas, aku suka…” katanya lirih.

“Kamu pakai sesuatu di wajahmu?” sambung Yeonghun.

“Eh? Cu-cuma bedak dan lipbalm? Apa terlihat aneh?”

“Terlihat… segar. Warna kerudungmu juga bagus.”

Pakk!! 

Yeonghun mendesis kesakitan. Baru saja, Alin mendaratkan tepukan keras pada bahunya.

Yah… Kamu ini– Aku tidak akan memuji lagi!”

Alin hanya menjulurkan lidah. Tersipu-sipu.

“Saat makan malam nanti, jangan menjulurkan lidah seperti itu. Jangan–mmh!”

“Stop.” Dari samping, Alin membekap mulut Yeonghun sesaat. “Aku bukan anak kecil. Jangan menasehatiku. Biarkan aku melakukan dengan caraku. Janji, aku tidak akan mengecewakan Mas Yeonghun.”

“Hufff… oke.”

Mobil hatchback yang dikendarai Alin dan Yeonghun berbelok ke area pertokoan dan restoran di tepi jalan yang ramai dilalu-lalangi berbagai macam orang. Rata-rata, para pegawai kantoran.

… Double S Discount… Samgyeopsal & Soju Special Price…

Alin mengernyitkan dahi. Tulisan hangeul yang tertera di kaca pintu masuk sempat terbaca olehnya, ketika Yeonghun menggandengnya menuju bagian dalam salah satu restoran.

Segera, indera penciumannya disambut oleh aroma daging bakar dan bumbu-bumbu masakan yang bersinergi dengan sejenis bau aneh menyengat. Sementara pandangan matanya berkali-kali tertumbuk pada kelompok-kelompok pengunjung pada setiap meja.

Orang-orang berwajah merah mengacungkan botol-botol serta gelas-gelas kaca seraya berseru keras dan tertawa lepas. Di tengah meja, terdapat alat pemanggang yang mengepulkan asap dan beberapa jenis hidangan lain.

“M-Mas Yeonghun, apakah kita juga harus minum soju dan makan daging babi?” bisiknya, mulai khawatir. Tanpa sadar meremas jemari Yeonghun. Perutnya tiba-tiba mulas.

Alin berhasil mengenali bahwa bau aneh menyengat tadi bersumber dari minuman beralkohol khas Korea yang bernama soju. Dan, lembar-lembar daging di atas alat pemanggang itu pastilah samgyeopsal. Ia masih ingat pelajaran dalam kelas kursus bahasa dan budaya; orang Korea sangat suka makan daging babi dan minum soju. Bodohnya, ia baru menyadari, bahwa bagaimanapun juga, suaminya adalah orang Korea tulen yang pasti masih terpengaruh budaya bangsanya, meskipun telah menjadi mualaf.

“Kamu punya rasa takut juga?” Yeonghun mendesis geli. Jemarinya mengusap-usap jemari Alin untuk menenangkan, sementara matanya menyapu ruangan, mencari-cari rekan-rekan kantornya di antara puluhan pengunjung yang memadati restoran.

“Jangan khawatir. Aku tidak segila itu, sampai berani melanggar larangan Allah. Tahu kan, aku tak mungkin mengajak teman-temanku makan di restoran halal. Orang Korea tidak akan bisa bergembira tanpa soju dan daging babi. Jadi, kita harus sedikit berkompromi.”

Kim-daerinim! Sebelah sini!”

Dari arah kiri, tak jauh dari posisi mereka berdiri, seseorang memanggil Yeonghun dan mengacungkan tangan.

“Ah, itu mereka. Ayo.” gumam Yeonghun. Suaranya berubah datar, dan mendadak melepaskan genggaman tangannya. Kontan, Alin terkejut.

“Mas Yeonghun, kenapa–“

Alin tak menyelesaikan pertanyaannya. Ia segera menyusul Yeonghun, hingga tiba di sebuah meja yang telah dikelilingi oleh lelaki-perempuan berpakaian kerja semacam Yeonghun. Sekitar sepuluh orang. Mereka tampak ramah. Yang jelas, tidak bermuka merah dan tidak tertawa keras takkaruan seperti pengunjung-pengunjung yang tadi ia lihat. Mejanya pun bersih tanpa botol soju dan alat pemanggangnya kosong. Alin lega sekali.

Tidak perlu khawatir. Teman-teman Mas Yeonghun pasti berbeda dari orang-orang itu. 

*****

“Jadi ini istri Daerinim? Tidak ada yang istimewa selain matanya yang lebar. Tidakkah dia masih terlalu kecil untuk menikah?”

“Benar juga. Katanya, umur duapuluh. Aku rasa, masih sekitar tujuh belas atau delapan belas. Jangan-jangan, Daerinim melakukan pemalsuan dokumen?”

Telinga Alin serasa berdenging mendengar kasak-kusuk picik antara dua rekan perempuan Yeonghun yang duduk tepat di sampingnya. Hatinya mendidih dikatakan masih terlalu kecil untuk menikah. Selalu begitu. Orang seringkali memandangnya aneh saat bersama Yeonghun. Benar-benar mengesalkan! Tapi yang lebih membuatnya ingin lekas angkat kaki adalah perubahan suasana di meja ini.

Daerinim, minumlah sedikit! Ayolah! Kamu ini lebih pengecut dari perempuan… cuma berani minum air putih!”

Ternyata, lama-lama, rekan-rekan Yeonghun sama kacaunya dengan para pengunjung lain. Mulanya, mereka bersikap sopan dan ramah. Namun, begitu soju disajikan, suasana menjadi tak terkendali. Hampir semua orang tampak mabuk dengan kadar berbeda-beda, kecuali dirinya dan Yeonghun yang cuma memesan air putih dan menu vegetarian.

Yah! Hentikan omongan itu. Daerinim yang mentraktir hari ini. Tunjukkan rasa terimakasih!”

“Hei… sudah, sudah.”

Rekan-rekan Yeonghun yang tidak begitu mabuk, melerai dua orang yang tengah mabuk berat itu. Sedangkan Yeonghun tidak menunjukkan ekspresi apapun. Termasuk, ketika Alin mengeluhkan kasak-kusuk dua rekan perempuannya tadi. Reaksi lelaki itu dingin sekali.

“Nikmati saja makanannya.” katanya tanpa ekspresi.

Alin terhenyak. Keheranan. Seolah, ia baru saja berbicara dengan orang asing. Sikap Yeonghun barusan, tempat dan suasana asing ini, membuat Alin merasa semakin tidak nyaman.

Bagaimana caranya kabur dari sini secepat mungkin? Ah, tapi aku sudah berjanji tidak akan mengecewakan dia. 

Uri-eorin sinbu… ceritakan pada kami… Bagaimana Kim-daerinim bisa banyak berubah setelah menikah denganmu? Lihat saja penampilannya sekarang. Kelihatan jauh lebih muda dan fresh.

Ucapan lembut seorang rekan perempuan Yeonghun yang berpenampilan paling anggun dan berwibawa di antara lainnya, berhasil mengembalikan ketenangan suasana.

Kim Yeonghun banyak berubah karena aku?

Alin melebarkan mata, merasa tersanjung dengan pertanyaan itu. Ngg… Saya tidak tahu. Mungkin karena–“

Kwajangnim, itu hanya kebetulan saja. Tidak berhubungan.” potong Yeonghun.

“Biarkan istri anda yang menjawab. Saya perhatikan dari tadi, anda yang terus menjawab pertanyaan kami.”

Yeonghun terdiam. Segan. Sementara Alin langsung menyambut kesempatan ini untuk beramah-tamah sebaik mungkin.

Kwajangnim, rasanya, saya ingat penyebabnya!”

Setiap pasang mata di meja tersebut langsung terpaku pada Alin. Siap menyimak, bahkan dua orang yang mabuk tadi juga ikut terdiam.

“Alin. Jangan.” bisik Yeonghun tegas dalam bahasa Indonesia. Namun, Alin mengabaikannya.

“Seorang ahjumma yang tinggal di sebelah apartemen kami, pernah berkata begini sewaktu berpapasan dalam lift. Haksaeng, bergaul lah dengan anak seusiamu. Kamu tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Ajeossi di sampingmu itu.”

Orang-orang tertawa mendengar totalitas penuturan Alin yang mirip pendongeng, sampai menirukan suara seorang ajumma.

“Keesokan harinya, Yeonghun-oppa langsung mencukur bersih kumis dan jenggotnya, lalu memakai kacamata lamanya yang berbingkai hitam tebal itu.” Alin menunjuk ke arah kacamata Yeonghun. “Ketika kami bertemu lagi dengan ajumma itu, dan mendapatkan komentar yang sama, Yeonghun-oppa langsung menunjukkan dokumen pernikahan kami. Sejak hari itu, beliau tidak pernah berkomentar lagi tentang kami.”

Semua orang di meja itu tergelak habis-habisan. Mereka semakin bersemangat minum dan berkomentar riuh.

“Lagi, lagi! Ceritakan lagi! Hal gila apa yang pernah kalian lakukan berdua?”

“Cukup.” sahut Yeonghun. Tetapi, suaranya tenggelam dalam keriuhan suasana. Ia menyenggol-nyenggol kaki Alin, juga tak digubris.

“Ada, ada!” Merasa diterima hangat oleh rekan-rekan Yeonghun, Alin semakin bersemangat bercerita. “Kami pernah berkelahi dengan berandalan. Lengan Yeonghun-oppa sampai harus dijahit, karena terkena sabetan pisau!”

Kulit wajah Yeonghun memerah. Kedua sudut tulang rahangnya bergerak-gerak gelisah, menyimpan amarah. Jelas-jelas ia tidak suka situasi ini. Kehidupan pribadinya diumbar, menjadi konsumsi publik. Parahnya, oleh istrinya sendiri.

Omo… kalian bisa berkelahi?”

“Yeonghun-oppa itu pemegang sabuk Dan Satu Taekwondo. Saya pemegang sabuk merah.”

“Ini benar-benar mengejutkan! Tak disangka, Uri-Nunsaram menyimpan banyak rahasia menarik di balik sikap dingin dan misteriusnya…”

“Nun-saram? Dingin dan misterius? Tidak, kok. Yeonghun-Oppa adalah lelaki paling cerewet dan paling perhatian yang pernah saya kenal.”

“Benarkah? Aigo… manis sekali kalian. Cerita lagi! Cerita lagi!”

Riuh. Semarak. Suasana makan malah semakin hidup karena cerita-cerita Alin. Meja itu menjadi meja paling ribut di restoran, hingga mencuri perhatian pengunjung-pengunjung lain.

“Uri-Eorin Sinbu… saranghaeyo…! Hahaha!”

Acara makan malam itu akhirnya selesai dengan keberhasilan Alin memenangkan hati rekan-rekan kantor Yeonghun. Mereka bahkan berencana untuk mengadakan acara makan-makan lagi, dengan syarat, Alin harus ikut.

“Mas Yeonghun, tunggu!”

Setelah mengobrol sebentar dengan Kwajangnim yang anggun itu, Alin lekas-lekas menyusul Yeonghun. Meraih tangan suaminya, lalu memeluk lengannya yang panjang dengan erat. “Bagaimana? Aku menepati janji, kan? Hari ini, aku membuat teman-temanmu senang.”

Yeonghun menarik lepas lengannya, melangkah lebih cepat. “Bus sudah datang. Cepat naik.”

Senyum lebar di wajah Alin perlahan terhapus. Digantikan ekspresi pias, usai menerima reaksi penolakan tak terduga Yeonghun barusan.

Di-dia marah?! Apa salahku?! 

(Eryani Widyastuti)

==============================

Lanjut baca CHAPTER THREE [The Journey Begins], Part 3>>>  

==============================

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s