HAPPILY (NOT) EVERAFTER: Chapter 3 Part 1


img_20161214_175934

THE JOURNEY BEGINS (1)

============================

ArtiKata>> Omo yeoppeuda: wah, cantiknya; Annyeong: hai; Mweo: apa; Kamsahamnida: terimakasih (formal); Appa: Ayah; Eomma: Ibu; Uri-nunsaram: manusia salju; Daeri-nim: panggilan untuk asisten manajer

============================

Alin mematut dirinya di depan cermin. Memakai setelan kebaya serba putih yang telah disesuaikan modelnya dengan kerudung. Sederhana, namun anggun. Tertutup, tanpa terlalu ketat atau longgar. Wajahnya tetap tampak natural dan segar dengan sapuan riasan ringan.

Omo yeoppeuda…” Boram mencubiti lengan Yeonghun yang mengenakan setelan jas hitam terbaiknya dan sebuah kopiah beludru hitam.

Sama dengan kakaknya, ia ikut terpesona melihat kemunculan Alin di ruang keluarga untuk melaksanakan upacara ijab kabul.

A-annyeong…” jawab Yeonghun gugup, ketika menghampiri Alin. Sementara otaknya terus merapal kalimat dalam bahasa Arab yang akan ia ucapkan pada penghulu. Kalau sampai gagal tiga kali, pernikahan ini tidak bisa disahkan. Gawat!

“Mas Yeonghun…” Alin mendongak menatap Yeonghun. Lalu, meringis jahil sambil memberikan tanda jari victory. “Bagaimana? Aku cantik, kan?”

M-m-mweo? Heissh…” Seketika muka Yeonghun memerah. Antara tersipu malu karena pertanyaan Alin dan tegang karena hapalan ijab kabul. “I-itu bukan wajahmu yang asli!”

“Hah? Mas Yeonghun payah–”

Baru saja Alin hendak menjulurkan lidah, mendadak ia menangkap pandangan Ibu ke arahnya. Pandangan tajam penuh peringatan. Membuat Alin mengurungkan niat mengejek Yeonghun.

Ya, ya… aku lupa. Aku harus serius… ini upacara sakral… Sabar, Alin. Sebentar lagi, balaslah si jangkung ini.

Rupanya kenyataan berkata lain. Setelah Penghulu menyatakan sah, Alin bermaksud memberikan penghormatan pertama dengan mencium punggung tangan Yeonghun, lalu mengejutkan Yeonghun dengan juluran lidah yang tertunda tadi.

Namun, begitu jemari mereka bersentuhan, Alin malah terhenyak. Kulit tangan Yeonghun seolah mengirimkan sejuta kehangatan yang mengalir deras ke dalam pembuluh darahnya.

Seketika, Alin teringat betapa banyak yang telah dilakukan Yeonghun untuknya dulu. Betapa lelaki ini berjuang untuk sabar menghadapi dirinya yang keras kepala, dan setelah tiga tahun, masih memilih untuk kembali ke sisinya.

Mas YeonghunKamsahamnida….”

*****

Di Korea nanti, menurutlah pada Nak Yeonghun. Jangan bandel….

Ibu… jangan menangis… Aku janji… tidak akan bandel. Kalau Ibu menangis, aku jadi ikut menangis…

Terdengar isakan saling menyahut.

“Ibu… Ibu…”

Sebuah telapak tangan empuk, lebar, dan hangat mengusap-usap, hingga kepala Alin sedikit bergoyang-goyang. Tangan Ibu? Bukan. Bapak?

“Alin.”

Alin terbangun dan menemukan dirinya bersandar pada pundak Yeonghun. Buru-buru, ia menegakkan posisi duduknya dan melihat sekeliling. Bangku-bangku. Orang-orang. Jendela kecil. Gumpalan awan. Langit.

“Aku lupa kalau sekarang sedang di pesawat. Kupikir, tadi aku sedang tidur di kamarku…” Mimpi tadi terasa amat nyata, sampai-sampai membuat perasaannya sesak ketika terbangun.

“Kami mengigau tadi.” Yeonghun memiringkan kepala untuk melihat lebih jelas ekspresi Alin. “Menangis?”

“Aku…” Alin meraba kedua matanya. Basah. “Tidak. Aku tidak apa-apa… aku cuma…” Airmata tak terbendung meleleh dari pelupuk matanya.

“Kemarilah.” Yeonghun meraih kepala Alin dan menyandarkannya dalam pelukan. Terdengar lirih isakan Alin.

“Aku ingin pulang… bertemu Ibu dan Bapak… aku kangen…” Perasaan sesaknya pecah.

Yah… jangan bertingkah seperti bayi. Bukankah kemarin kamu yang paling antusias ingin segera berangkat? Lagipula, kita baru beberapa jam meninggalkan Indonesia…”

“Mas Yeonghun tidak mengerti. Sekarang, aku sudah jauh dari orangtuaku. Rasanya… rasanya seperti melepas jaket di tengah salju. Rasanya– seperti kehilangan senter dalam gua yang gelap. Rasanya–”

Tenggorokan Alin seolah tersumbat. Tak mungkin ia mengatakan bahwa sesungguhnya ada rasa takut berpisah jauh dari kedua orangtuanya untuk menuju level kehidupan yang asing baginya. Pernikahan… kehidupan seperti apakah itu sesungguhnya? Benarkah sama seperti angannya selama ini? Atau jangan-jangan…

“Apakah tidak ada artinya aku berada di sampingmu?” tanya Yeonghun lugas.

Alin mengangguk cepat-cepat. Menahan isak. Yang bisa ia lakukan hanyalah bersembunyi dalam pelukan Yeonghun, seraya menyebut namaNya berulang-ulang.

*****

“Pak, makan malam dulu. Ibu masak pecel lele kesukaan Bapak.”

“Wah, sedap pasti.”

“Oiya, kira-kira kapan Alin dan Nak Yeonghun sampai Korea ya, Pak?”

“Menurut perhitungan Bapak, mereka akan tiba besok pagi.”

Dua piring hidangan makan malam telah siap disantap, namun hanya dipandangi dalam diam oleh orangtua Alin.

“Sepi, ya? Biasanya, Alin ribut protes kalau tahu Ibu masak pecel lele. Dia kan paling tidak suka ikan lele… ”

“Iya, ya. Anak itu… ternyata… suara ributnya yang membuat rumah ini terasa hidup, ya Bu?” Bapak menghela napas. “Meskipun agak bandel, Alin tidak pernah menolak kalau Bapak suruh pijit kaki. Semakin dipikirkan, malah semakin kangen Alin. Hahaha…”

“Seandainya… Ibu tidak sering memarahi Alin karena nilai-nilai sekolahnya jelek, mempersulitnya berlatih Taekwondo, membanding-bandingkan dengan Bram…” Ibu ikut-ikutan menghela napas.

“Seandainya Ibu sedikit saja mengerem ego… Mungkin Alin akan lebih banyak tertawa daripada bertengkar dengan Ibu. Mungkin saja, Alin tidak perlu dikeluarkan dari sekolah.  Melanjutkan kuliah, menjadi juara nasional pertandingan Taekwondo, dan berprestasi dengan bakat gambarnya. Seandainya Ib–”

“Bu. Tidak ada gunanya. ‘Seandainya’ tidak akan mengubah apa-apa. Ibu dan Bapak sudah berusaha. Alin juga. Kita semua berusaha. Tapi, tetap saja manusia tempatnya salah. Yang terpenting, ketika menyadari kesalahan itu, kita mau bergerak untuk memperbaiki.”

Tangis sesegukan mengusik sunyi di meja makan.

“Tugas kita membesarkan anak sudah selesai sampai di sini. Bram dan Alin harus meniti masa depan mereka sediri. Lalu kita? Ayo, Bu. Kita lebih berusaha lagi mempersiapkan diri— memasrahkan pada Tuhan urusan-urusan dunia yang biasa kita genggam erat, perasaan-perasaan yang masih mengganjal… Bila dipanggil Tuhan nanti, kita akan siap. Baik yang meninggal maupun yang ditinggal. Kepasrahan kita akan menjadi kekuatan tak terlihat yang menyokong kehidupan Alin dan Bram.”

*****

Siang hari pada penghujung musim dingin. Butiran es dari langit mulai jarang turun. Sementara, salju yang menyelimuti tanah, sungai, dan tetumbuhan mulai mencair karena pergeseran cuaca menuju musim semi.

Meskipun begitu, Alin masih saja menggosok-gosok kedua lengannya yang terbungkus mantel karena kedinginan. Tapi, sepertinya hanya ia yang kedinginan. Sebab Yeonghun dan beberapa pengunjung pemakaman yang lain tampak biasa saja dengan suhu menggigit ini.

Apes bagi Alin, syalnya ketinggalan di apartemen, dan ia sudah kadung menolak tawaran syal dari Yeonghun, sambil sesumbar bahwa ia kuat menahan hawa dingin. Gengsi kan, kalau harus menjilat ludah sendiri.

Eomma… Appa… Perkenalkan… istriku. Maaf kalau dia kelihatan sedikit canggung. Dia belum terbiasa memakai rok.”

Yeonghun menyampirkan ujung syalnya ke samping, berjongkok di depan gundukan tanah berselimut rumput yang mulai menghijau, dengan batu nisan tegak tertancap. Makam orangtuanya.

“A-aku bukan canggung. Tapi, kedinginan, tahu.”

Alin ikut berjongkok di samping suaminya. Ia menjulurkan lidah dengan jengkel, karena Yeonghun terus menggoda penampilan barunya semenjak berangkat dari Indonesia kemarin. Kalau tidak karena Ibu sudah membelikannya begitu banyak rok panjang, ia akan tetap bertahan memakai celana panjang.

Nah, jadi istri harus mau berpenampilan feminin. Pakai rok. Tidak boleh pakai sandal jepit dan sepatu kets lagi. Nak Yeonghun rapi jali begitu, masa’ istrinya mirip bocah hilang begini?

“Alin. Ucapkan sesuatu.” Suara Yeonghun memutus lamunan pendek Alin.

A-annyeong hasimnikka… Nama saya Anindya Lintang. Orang-orang biasa memanggil saya Alin.”

Alin belum pernah berbicara pada makam atau pun orang meninggal sebelum ini. Jadi, ia merasa agak bingung. “Apakah mereka bisa mendengar kita? Mereka kan sudah meninggal.”

“Tubuh mereka memang sudah menjadi satu dengan tanah. Tapi jangan lupa, jiwa mereka masih hidup dalam genggaman Allah. Makanya, aku selalu memohon agar Allah akan menyampaikan kata-kataku pada mereka.” Yeonghun menghirup satu tarikan napas. Menengadahkan kepala ke langit mendung yang masih dikuasai musim dingin. “Aku sangat merindukan mereka sekarang… Heissh… ”

Alin menangkap kilatan bening di balik kacamata Yeonghun. Segera, ia genggam tangan suaminya. “Sekarang ada aku. Mas Yeonghun jangan sedih…”

Lantas, ia memejamkan mata. “Ya Allah, tolong bilang pada Eomma dan Appa; jangan khawatir. Aku akan melindungi Kim Yeonghun.”

“Heishh… Berlagak kamu…”

“Au! Sakit… Jangan cubit pipiku…”

“Hehe. Dari dulu aku ingin melakukannya…”

“Ah, salju! Sudah mau musim semi, kok masih turun salju?”

Alin berdiri tegak, seraya menengadahkan kepala ke arah langit. Butir-butir putih turun perlahan, anggun, seolah sengaja menggoda dirinya yang baru kali ini menyaksikan salju di luar layar televisi dan lembaran buku. Alin membuka telapak tangan . Ketika kulitnya mulai bersentuhan dengan serpih-serpih air beku dari angkasa itu, ia merasakan sesuatu yang kecil, lembut, dan dingin pelan-pelan mencair, meresap ke dalam pori-porinya. Anehnya, hati Alin menghangat.

“Ini ajaib! Kamu tahu, salju benar-benar ajaib! Seperti sihir dalam dongeng-dongeng!” seru Alin antusias.

“Beuram-ssi juga sama senangnya denganmu di musim salju pertamanya. Tapi, dia pandai menyembunyikan perasaan. Tidak seperti adiknya… Yah! Jangan makan salju!”

Yeonghun menarik mundur tudung mantel Alin, saat mendapati istrinya itu hendak menangkap sebutir-dua butir salju dengan juluran lidah. Lalu, ia memutar kedua pundak Alin, hingga mereka saling berhadapan. Membuat perbedaan tinggi keduanya semakin kentara. “Salju menyerap polusi yang bertebaran di udara.”

“Aaah, benarkah? Aku baru tahu…” Alin mengangguk-angguk. Pada saat yang sama, sepasang lelaki perempuan melewatinya seraya bertengkar. Tanpa sadar, kepalanya menoleh.

“Sudah kubilang, jangan beli alat pelembab udara merk itu! Kualitasnya tidak bagus! Kenapa kamu tidak pernah mendengarkan kata-kataku?”

“Jangan menuduhku begitu! Itu kan lagi promo. Aku ini berusaha menghemat pengeluaran kita. Seandainya kamu tidak salah memilih tawaran kerja tempo hari, kita bisa membeli alat pelembab udara yang lebih mahal dan bagus!”

Grep.

Tiba-tiba saja, kedua telinga Alin telah dibekap oleh telapak tangan Yeonghun yang lebar, dan kepalanya diputar kembali menghadap Yeonghun.

“Jangan menguping pembicaraan pasangan lain.”

Alin tersipu. Tapi, ada kekhawatiran tersirat dalam tatapannya. “Alat pelembab udara… Bukankah seharusnya mereka tak perlu bertengkar karena masalah sekecil itu?”

Yeonnghun mengangguk.

“Kita tidak akan bertengkar seperti mereka, kan? Dua orang yang menikah karena saling menyayangi tidak akan bertengkar sampai kapan pun, kan?” tanya Alin lagi, seraya mencari-cari kepastian dalam sorot mata suaminya.

Yeonghun tahu itu. “Kamu takut kita bertengkar? Kalau begitu, dengarkan kata-kata suamimu dan jangan keras kepala.”

Alin mengangguk kuat-kuat. Menatap Yeonghun sungguh-sungguh. “Aku tidak akan keras kepala lagi. Asalkan kita bisa terus seperti ini, aku akan melakukan apa saja.”

“Berjinjitlah.”

Sungguh. Kali ini, Yeonghun hanya iseng mengucapkannya, karena tergoda ekspresi tanpa dosa Alin. Namun, mengetahui istrinya yang biasa keras kepala itu menurut saja, ia merasa senang. Seraya tersenyum simpul dan sedikit merunduk, Yeonghun memasangkan syal putih miliknya ke leher Alin.

Saranghaeyo…

*****

3 bulan kemudian. 

Yeonghun baru saja keluar dari ruangan atasannya, ketika seruan dan tepuk tangan itu menyambut.

“Selamat ya, atas kenaikan jabatannya. Kapan kita makan-makan?”

“Ya. Sekalian berkenalan dengan Nyonya Kim. Setelah menikah tiga bulan lalu, kami belum diajak makan-makan juga.”

“Kalau begitu, acara makan-makan kali ini harus dobel spesialnya. Merayakan pernikahan dan kenaikan jabatan!”

Yeonghun mendengus. Ia tersenyum simpul dengan wajah terlihat memerah. Sementara rekan-rekan kerja prianya tampak menggoda habis-habisan sambil bergantian menepuk-nepuk pundaknya.

“Baru kali ini saya melihat uri-nunsaram tersenyum.” komentar seorang rekan wanita Yeonghun.

“Ah, tidak, tidak. Sejak menikah, ia jadi lebih banyak tersenyum. Saljunya sudah meleleh rupanya…” sambung yang lain.

“Bahkan sampai rela mencukur bersih kumis dan jenggot kesayangannya… Hahaha… “

Malam ini, Yeonghun naik bus dengan hati gembira menuju rumah. Sejak hari pertamanya bekerja di perusahaan itu, ia sudah bertekad untuk bekerja sekeras dan sebaik mungkin. Tujuannya satu, naik ke level karir berikutnya. Selain ingin membuat bangga Nuna dan orangtuanya yang telah meninggal, Yeonghun beranggapan bahwa kenaikan jenjang karir berbanding lurus dengan kebahagiaan hidup.

Bagaimana tidak? Kebutuhan dasar hidup dan masa depannya akan semakin aman terjamin. Ia juga bisa membelikan Alin pen tablet terbaru yang diam-diam diidamkan istrinya itu. Yah, meskipun Bram telah menasehati dirinya tentang uang dan kebahagiaan saat hendak menikah dulu, Yeonghun tidak bisa begitu saja membalik alur berpikir yang kadung melekat dalam benaknya tersebut.

“Mas Yeonghun kok baru pulang? Banyak pekerjaan?” Alin menyambut kedatangan Yeonghun di apartemen. Langsung memeluknya erat seolah sudah seratus tahun tak bertemu.

“Panggil aku Daeri-nim.” sahut Yeonghun, dengan mata berbinar dan penuh percaya diri. Lalu, mencium kening Alin.

“Oh.” Alin mendongak, menatapnya tak mengerti. “Apa itu artinya?”

Yeonghun mendesis gemas. “Suamimu asisten manajer sekarang. Dalam sejarah perusahaan, aku adalah karyawan yang paling cepat naik jabatan dari staff reguler ke asisten manajer.”

“Ooh… Kereen…” Alin manggut-manggut senang.

Sebenarnya, ia tak begitu paham apa enaknya jadi asisten manajer. Baginya, pekerjaan adalah pekerjaan. Apapun jabatannya, asal dikerjakan dengan senang hati, pasti enak juga. Namun, ia tetap ikut gembira karena Yeonghun terlihat cerah dan kata-kata suaminya tadi terdengar keren. Paling cepat dalam sejarah perusahaan… 

“Oya, besok malam, aku akan menjemputmu. Kita akan ada acara.”

“Acara apa?”

“Makan bersama. Merayakan kenaikan jabatanku. Sekaligus… aku akan mengenalkanmu pada teman-teman kantorku.”

“Benarkah? Asyiik! Aku ingin tahu–“

Mendadak kalimat Alin terhenti. Ia mundur selangkah, terpaku menatap kemeja Yeonghun. Membuat suaminya gugup. “Ke-kenapa?”

Yeonghun ikut menatap ke arah kemejanya sendiri. Ia melotot. Bercak-bercak cat warna-warni menempel pada kemeja putihnya. Ia baru sadar bahwa tadi Alin memeluknya dengan kaos belepotan cat.

“Ups… Maaf…” Alin menyeringai. “Aku lupa… ta-tadi aku sedang bereksperimen dengan cat cair… Aku akan membersihkannya sekarang juga!”

Alin buru-buru menyingkir sebelum kena marah Yeonghun. Ia langsung kalang kabut mencari bubuk pembersih noda yang tak ketahuan rimbanya.

“Laci dapur nomer satu, sebelah kanan!” seru Yeonghun kesal. Tapi, berusaha menahan diri. Berharap, semoga acara makan bersama esok malam tidak dikacaukan oleh kecerobohan istrinya, seperti kali ini.

Tetap saja, diam-diam, Yeonghun merasa khawatir.

(Eryani Widyastuti)

photogrid_1482360528751

==============================

Lanjut baca CHAPTER THREE [The Journey Begins], Part 2>>>

==============================

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s