OLEH-OLEH SINAU BARENG CAK NUN: Dilema Guru antara Penegakan Disiplin dan Pelanggaran HAM



Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng
Dalam Rangka Harlah Lembaga Pendidikan Nurul Islam

photogrid_1481468103838

Pendidikan menjadi topik utama pada acara Sinau Bareng Cak Nun, Selasa malam (8/12). Langit mendung sempat beberapa kali menurunkan gerimis tipis yang singkat. Sementara di atas panggung, salah seorang perwakilan dari Lembaga Nurul Islam menyampaikan kegelisahannya menghadapi fenomena dunia pendidikan yang serba dilematis, ketika guru harus menghadapi resiko tuntutan pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) dalam upayanya mendisiplinkan anak didik. Bagaimanakah solusinya?

Peradaban Kontinyuasi dan Peradaban Adopsi

Cakn Nun tidak menjawab langsung, namun memberikan gambaran besar terlebih dahulu untuk mendobrak cakrawala berpikir. Beliau mengemukakan, bahwa bangsa Indonesia tengah menjalankan peradaban yang tidak kontinyuasi, melainkan peradaban adopsi. Bangsa Indonesia tidak meneruskan dan mengembangkan peradaban lama yang telah dimiliki, tetapi membuat peradaban baru yang diadopsi/diambil dari peradaban Barat, secara tiba-tiba. Termasuk sistem politik, hukum, pendidikan, dan cara berpikirnya.

Adopsi peradaban asing yang mendadak ini menyebabkan benturan-benturan. Dalam dunia pendidikan, pesantren dan madrasahlah yang paling keras mengalami benturan. Sebab, pesantren dan madrasah adalah produk peradaban kontinyuasi dari peradaban Timur sebelumnya, dan bisa dikatakan memiliki cara berpikir yang amat berlawanan dengan cara berpikir peradaban barat. Peradaban kontinyuasi memiliki nilai-nilai sendiri, sebagai contoh bagaimana memaknai apa itu ‘benar-salah’, apa itu ‘pener’, yang tentu berbeda ukuran nilai dengan Barat. Laku prihatin/tirakat yang merupakan salah satu metode utama pendidikan jaman dulu, juga dinilai buruk sebagai kondisi kekurangan nutrisi oleh dunia medis Barat. Barulah akhir-akhir ini, dunia Barat mengakui kehebatan puasa setelah melakukan penelitian medis.

Gejala benturan peradaban ini juga terjadi dalam dilema yang dikemukakan di atas, mengenai tuntutan pelanggaran HAM terhadap guru yang mendisiplinkan anak didiknya. Harus disadari, bahwa teori HAM yang diterapkan di Indonesia bukanlah kontinyuasi dari nilai-nilai peradaban lama/budaya Indonesia, melainkan merupakan adopsi nilai-nilai Barat. Tindakan-tindakan pendisiplinan yang menurut budaya Indonesia wajar dilakukan selama ini, tiba-tiba dianggap melanggar HAM, di mana dalam teori Barat, bersentuhan saja berpotensi menjadi penyebab pelanggaran.

Penerapan Disiplin tanpa Melanggar HAM

Menurut Cak Nun, sekolah perlu merespon fenomena ini dengan melakukan ijtihad untuk menemukan kebijakan-kebijakan baru yang memungkinkan penerapan disiplin tanpa perlu melanggar HAM. Cak Nun memberikan ilustrasi; menaklukkan harimau dapat dilakukan melalui tiga cara. Dikalahkan oleh kekuatan fisik (militer), dengan kecerdikan (intelektual), dan dengan ilmu pawang. Tanpa melakukan apapun, asal ada sang pawang, sudah pasti harimau takluk. Dari tiga cara ini, metode pawang adalah cara yang paling cocok untuk dipraktekkkan guru. Guru harus mengembangkan kewibawaannya dalam mendisiplinkan anak didik, serta memahami batas dan ukuran tindakannya.

Cak Nun juga memandang perlunya upaya untuk merumuskan perjanjian yang berisi kriteria pelanggaran HAM dalam penerapan disiplin di lingkungan pendidikan. Pihak sekolah dan wali murid duduk bersama membahas kriteria-kriteria ini sejelas mungkin, dengan menghadirkan pula LSM dan instansi lain yang terkait dengan HAM, sebagai referensi. Jika batas antara perbuatan yang melanggar HAM dan yang tidak telah terang benderang, maka guru tidak perlu mengalami dilema lagi dalam menegakkan disiplin.

Bila terjadi indikasi pelanggaran HAM oleh guru kepada anak didik, naluri pertama yang harus dimiliki orangtua adalah memastikan anak bersalah atau tidak. Orangtua tidak diperkenankan serta merta menyalahkan sekolah. Sebab di hadapan Allah, kata Cak Nun, tanggungjawab utama pendidikan anak berada pada pundak orangtua. Sekolah hanyalah asisten. Kedua cara berpikir ini akan membantu orangtua untuk menghasilkan sikap seimbang antara menyalahkan diri/keluarga dan menyalahkan pihak luar/sekolah.

Terakhir, pastikan guru/sekolah tidak melakukan contoh-contoh kasus pelanggaran HAM yang berhasil dibawa ke dalam ranah hukum. Cak Nun berpendapat bahwa sesungguhnya masih luas kemungkinan pola-pola pendisiplinan tanpa melanggar HAM.

Untuk menemukan pola-pola ini, sekolah perlu memahami konsep disiplin secara lebih kualitatif. Harus dipahami bahwa disiplin bukanlah substansi, melainkan metode yang bertujuan agar anak berhasil mencapai sesuatu. Dengan memahami bahwa bentuk tindakan pendisiplinan tidak terikat pada suatu jenis perbuatan tertentu, guru bisa memilih cara-cara lain yang lebih cenderung bersifat software dan menghindari cara-cara hardware/kontak fisik semacam mencubit dan memukul. Dengan begitu, resiko pelanggaran HAM bisa diminimalisir.

Distribusi Konsentrasi

Selain menggunakan pola-pola software dalam menegakkan disiplin, sekolah harus melakukan Distribusi Konsentrasi. Tidak boleh melulu berkonsentrasi pada penegakan disiplin, sementara masih banyak hal lain yang juga penting untuk diperhatikan oleh sekolah dan diajarkan kepada anak didik. Dengan meluaskan konsentrasi, Cak Nun merasa, potensi pelanggaran HAM bisa dikurangi.

Jadi, apa yang harus dilakukan sekolah agar bisa melakukan Distribusi Konsentrasi? Cak Nun mengatakan bahwa sekolah perlu meng-ijtihad-i, memahami secara kualitatif, serta mengembangkan terminologi/konsep yang ada dalam dunia pendidikan. Beberapa diantaranya:

1 . Konsep Tingkat Pendidikan dalam Islam

Cak Nun mengajak meng-ijtihad-i dan mengembangkan konsep pendidikan Islam yang telah ada sejak masa lampau (kontinyuasi). Beliau menjelaskan, tingkat SD memiliki tujuan sebatas hapal, bisa membaca, berhitung, dan sejenisnya. Tempatnya disebut madrasah, aktifitasnya disebut tadarus/tadris. Tingkat SMP memiliki tujuan pemahaman, aktifitasnya disebut ta’lim. Tempatnya disebut mad’hamah/ma’lamah. Tingkat SMA memiliki tujuan pendalaman. Aktifitasnya disebut ta’rif. Tempatnya disebut ma’rafah.

Secara kolektif, pendidikan berlangsung dari proses tadris-ta’lim-ta’rif, kemudian menuju ke ta’dib (setingkat universitas/ma’dabah), yaitu tak sebatas tahu, paham, dan mendalami, namun menjadi orang yang adil dan beradab. Puncaknya adalah tarbiyah, yaitu tingkat yang menggambarkan keluasan dan kaffah-nya proses pendidikan. Tarbiyah berasal dari kata rabbun; bermakna kehadiran Allah yang Mengasuh, Ngemong, Mengayomi, dan Menuntun.

Secara personal, sebenarnya masih ada satu tingkat lagi di atas tarbiyah. Setelah ta’dib/memperadabkan semua yang dipelajari, maka seseorang akan mengalami proses spiritualiasi vertikal. Pencapaian proses ini disebut ta’lih; berasal dari kata Ilahun, yaitu mendapatkan pencapaian-pencapaian yang sifatnya hikmah/spiritual kepada Allah. Ia memiliki tujuan menyambungkan semua yang telah dipelajari  ke Allah.

2. Konsep Akibat dan Tujuan

Jangan menjadikan kaya dan sukses secara material sebagai tujuan, sebab keduanya hanyalah merupakan akibat dari daya perjuangan manusia. Jika manusia mau bekerja keras, bersikap jujur,  dan mempertahankan kualitas-kualitas baik lainnya, maka mau tidak mau, kaya dan sukses akan menghampiri dengan sendirinya. Tugas manusia sebatas menanam, sementara Allah lah yang berhak menentukan panennya.

Manusia, kata Cak Nun, kalau bisa menjadi Wisanggeni; setara makna dengan kata wasi’un (luas) dan ghaniyyun (kaya). Mempunyai keluasan pikiran dan kekayaan jiwa, sehingga jika ia kaya secara material, itu disebabkan karena kekayaan jiwanya. Bukan karena bertujuan ingin menjadi kaya secara material.

3. Konsep Unggul

Menurut Cak Nun, konsep unggul harus diperbaiki. Manusia tidak boleh memiliki tujuan unggul, karena itu namanya takabur. Hanya Allah yang Mutakabbir. Seandainya berkualitas unggul pun, bukan diri sendiri yang mengaku, melainkan orang lain yang memberikan pengakuan. Sementara manusia hanya boleh mengungguli dirinya sendiri. Ungguli nafsu dan masalahmu,  tapi jangan sok mengungguli orang lain, pesan Cak Nun.

4. Konsep Profesi

Ada tiga pekerjaan yang diperkenankan Allah untuk dijadikan profesi/mencari penghidupan, ungkap Cak Nun; yaitu bercocok tanam, teknologi, dan berdagang. Pekerjaan di luar itu, seperti guru, dokter, presiden, insinyur, pegawai negeri tidak boleh dijadikan profesi. Artinya, kita tidak boleh menjadi guru atau dokter, misalnya, dengan tujuan supaya mendapatkan uang/penghidupan.

Contohnya, dokter. Dokter adalah pekerjaan moral, spiritual, kemanusiaan, kasih sayang, bukan pekerjaan material. Jika seorang dokter menyuntik sambil membayangkan uang yang diperoleh, itu berarti kehidupan sang dokter dibangun dari penderitaan para pasiennya.

Namun, memang tak dapat dipungkiri, dalam dunia medis ada keperluan material, seperti pengadaan alat/obat medis untuk pasien. Hal ini bisa dirundingkan dengan pasien. Bahwa ternyata setelah menolong pasien, sang dokter mendapatkan materi/uang, ini merupakan kewajiban dari si pasien dan negara.

Terutama negara, memiliki kewajiban untuk menjamin kelangsungan bidang-bidang yang tak boleh diperdagangkan (menurut konsep Maiyah), yaitu agama, pendidikan, kesehatan, dan budaya. Negara juga yang harus menjamin kelangsungan kehidupan para pekerja di empat bidang tersebut.

Analoginya, orang bertamu tidak boleh bertujuan mencari makan. Namun, sudah menjadi kewajiban sang tuan rumah untuk menyuguhi tamunya. Ini merupakan tanggungjawab moral sang pemilik rumah, namun bukan hak sang tamu untuk meminta.

Sekitar jam 2 dini hari, saya melipat tikar dan membalikkan badan. Pulang. Ada rasa enggan meninggalkan acara ini. Berkali-kali saya menoleh ke belakang, menatap rindu ke arah panggung. Dalam kepala, kata-kata Cak Nun semalaman ini bersahut-sahutan riuh dengan pemikiran saya sendiri, menimbulkan kesegaran semangat menjalani hari baru. Sementara itu, hati saya terus membisikkan rasa terimakasih dan takzim yang tak terhingga kepada Sang Guru Kehidupan.

(Eryani W.)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s