OLEH-OLEH SINAU BARENG CAK NUN: Pluralitas adalah Ciptaan Allah


dalam rangka Harlah Lembaga Pendidikan Nurul Islam, Pongangan-Gresik, 8 Desember 2016

photogrid_1481257827877

Kemarin malam, saya datang terlambat. Lapangan Pongangan yang berumput agak tinggi dan rapat itu telah dijejali oleh banyak orang. Masih beruntung, ada beberapa tempat kosong di antara kerumunan yang bisa saya pilih sebagai tempat duduk. Begitu menggelar tikar plastik di atas rumput yang terasa empuk ketika diduduki, panggung menyajikan tarian Remo, yang kemudian disusul oleh Macapatan oleh seorang budayawan Gresik yang sudah sepuh, berusia 85 tahun. Meskipun merasa menikmati lantunan lembut tembang Macapat, namun saya tidak memahami artinya. Mengingat tembang pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia Jawa di masa lampau, kondisi ini membuat saya miris.

Saya masih ingat cerita nenek, bahwa jaman dulu, belajar dan menasehati pun menggunakan metode nembang. Ada tembang yang memuat ilmu bumi, juga ada tembang yang memuat pitutur luhur mengenai kehidupan sejati. Rasanya, jauh sekali jarak saya dengan kebudayaan bangsa saya sendiri, yaitu bangsa Jawa. Jika saya sebagai orang Jawa sudah tidak mengenal Jawa, lantas siapakah saya ini? Sedang hidup dalam kebudayaan/peradaban apakah sekarang ini?

Dari lantunan Macapat yang menggugah kerinduan akan rasa Jawa, acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat Al Qur’an, yang kemudian dimantapkan oleh Kyai Kanjeng. Seluruh hadirin diajak menyanyikan lagu 20 Sifat Allah. Setelah meng-online-kan diri dengan Allah, giliran Cak Nun mengajak semua untuk menyambungkan hati dengan Rasulullah SAW. Beliau meminta hadirin membayangkan sedang berada di kota Madinah Al Munawarah, seolah tengah menyambut kedatangan Rasulullah SAW yang datang berhijrah dari Mekkah, seraya melantunkan syair Thala’al Badru ‘Alaina.

Atmosfer sinau bareng mulai terasa mengental, saat Cak Nun membuka kesadaran hadirin bahwa Indonesia sedang menjadi fokus (penjajahan) tingkat dunia, yang dilakukan oleh Barat (Amerika) dan Utara (Tiongkok). Oleh karena itu, rakyat Indonesia berusaha dipecahbelah dengan cara adu domba/saling dibenturkan. Karena dua kekuatan penjajah tersebut menyadari bahwa umat Islam adalah kekuatan terbesar di Indonesia, mereka berusaha menciptakan citra buruk mengenai umat Islam, dengan melimpahkan kesalahan atas peristiwa-peristiwa tertentu kepada umat Islam. Jadilah, seolah-olah, umat Islam merupakan umat yang intoleran. Serta, gambaran mengenai ketidakrukunan antar umat beragama Indonesia berusaha ditiup-tiupkan melalui berbagai strategi. Padahal, sesungguhnya yang terjadi adalah sebaliknya.

Usai mengajak hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Syukur bersama-sama, Cak Nun mempersilakan beberapa tokoh agama non Islam di Gresik, dari Hindu, Konghuchu, dan Kristen, untuk menyampaikan pengalamannya hidup dalam masyarakat mayoritas beragama Islam.

Tokoh dari agama Hindu mengatakan, bahwa beliau tidak mengalami hambatan dalam beribadah dan merasakan kedamaian. Seperti ketika menonton ceramah Cak Nun di JTV, meskipun berbeda pemahaman, tetapi beliau bisa merasakan pesan kedamaian dari apa yang disampaikan.

Tokoh dari agama Konghuchu juga memiliki kesan sama. Beliau bercerita, pernah ada wisatawan dari Cina yang terheran-heran melihat keberadaan kelenteng yang berada dekat perkampungan Arab dan masjid jami’. Padahal, jumlah pemeluk Konghuchu kalah banyak dengan pemeluk Islam (sekitar 500 orang). Namun ternyata, keduanya bisa hidup rukun berdampingan.

Tokoh dari agama Kristen pun mengungkapkan hal senada. Sejak kecil, beliau hidup di dalam lingkungan muslim dan tidak mengalami masalah. Bahkan, ketika akan diadakan acara perayaan Natal, saudara-saudara dari umat Islam menawarkan untuk menjaga.

Cak Nun menggarisbawahi pengalaman-pengalaman para tokoh di atas dengan menyatakan, bahwa hidup itu tidak harus seragam. Pluralitas itu merupakan ciptaan Allah yang hars dicintai dan diakomodasi. Ambil saja contoh buah mangga. Buah mangga memiliki jenis yang bermacam-macam. Begitu juga buah pisang. Cak Nun tampak ingin menekankan bahwa perbedaan itu wajar adanya dan tidak perlu dipermasalahkan, termasuk dalam memilih agama.

Tidak ada paksaan dalam memilih agama, sebab kebebasan memilih tersebut sudah dijamin oleh Allah. Lebih baik, kita berdoa, supaya agama yang kita yakini masing-masing diterima semuanya oleh Allah. Ini tidak berarti semua agama adalah sama. Tetap berbeda satu sama lain, tetapi mengenai kebenaran akidahnya, biarlah Tuhan yang menjadi Hakim Agungnya. Urusan manusia hanya sebatas (menilai) akhlak.

[ Eryani W.]

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s