BOS (Bocah Ora Sekolah): ENGLISH HOUR


 

B.O.S. (Bocah Ora Sekolah)
Ora Sekolah, Tetep Sinau
photogrid_1480885457206

Meskipun bernama English Hour, tujuan utama kegiatan ini bukanlah penguasaan bahasa Inggris. Melainkan, proses pembelajaran KETAATAN (fase ‘tujuh tahun kedua’). Kegiatan harian yang terstruktur kami pahami sebagai salah satu media yang tepat untuk belajar taat.

Awalnya, kami kesulitan untuk merumuskan kegiatan ini secara mandiri. Kami berangkat dari konsep bahwa kegiatan terstruktur tersebut harus tetap mengandung semangat kemerdekaan belajar/tidak melawan fitrah anak. Padahal, sesuatu yang terstruktur biasanya membuat pelakunya merasa terpaksa. Bagaimana cara merangkul dua hal yang kontradiktif dalam satu kemasan?

Pertama, kami tanyakan dulu apa yang ingin dipelajari oleh BOS. Dia menjawab, “Bahasa Inggris.” Kami tak heran dengan pilihannya. Menurut pengamatan kami, BOS memang memiliki minat besar dalam bidang bahasa. Sebenarnya, kami cenderung ingin BOS memanfaat energi minat bahasa tersebut untuk belajar bahasa Jawa dan belajar membaca rangkaian huruf Hijaiyah. Dua bahasa tersebut kami anggap sebagai pintu masuk untuk memperkuat akar budaya (Jawa) dan akar agama (Islam). Tetapi, kami harus mawas diri, supaya jangan sampai ‘menelikung’ fitrah minat BOS.

Jadi, diambillah jalan tengah: silakan belajar bahasa Inggris, tetapi sebagai bentuk ketaatan terhadap bimbingan orangtua, BOS mulai membiasakan diri berbicara dalam bahasa Jawa lebih sering daripada biasanya, dan menjalankan kegiatan Madrasah Kecil yang diisi dengan belajar membaca huruf Hijaiyah-menyimak sirah Rasulullah-membaca terjemah Quran. Setelah sepakat, mulailah kami jatuh bangun melaksanakannya. BOS berjuang melawan keengganannya, sementara orangtua memeras otak-hati-tenaga demi menjaga kegiatan tetap berlangsung menyenangkan bagi BOS. Dan yang paling berat adalah menjaga konsistensinya. Seperti belajar membaca huruf Hijaiyah yang terpaksa dihentikan, karena BOS amat tersiksa menjalankannya.

“Tak apa-apa. Yang penting kamu sudah mau mencoba mempelajarinya dan berhasil menyelesaikannya hingga jilid 1, meskipun sebenarnya kamu tidak suka. Lain waktu kita coba lagi.” Kami berusaha mensyukuri perjuangannya dan progres sekecil apapun yang telah dicapainya.

“Aku mau belajar baca Hijaiyah lagi umur delapan tahun.” katanya berinisiatif.

Kedua. Bersama BOS, kami bekerjasama melakukan bongkar pasang menu yang dicantumkan dalam English Hour. Awalnya, kami mengikuti saja menu English Hour versi BOS, untuk terus menumbuhkan inisiatifnya. Ternyata, dia terjebak pada menu ‘Playing in English’, dimana dia dan kami bercakap-cakap menggunakan mainan-mainannya. Menu yang telah kami sepakati bersama, seperti Writing pun jadi tak tersentuh. Padahal BOS sudah merasakan sendiri sulitnya bila tak bisa menulis. Inilah saatnya, kami membimbing.

Tarik ulur pun terus terjadi, sampai kami menemukan menu yang paling bisa konsisten kami jalankan bersama: Watching Video, Workbook (Writing, Spelling, Vocabulary), Read and Discuss, dan Playing in English. Ini adalah menu di mana kemerdekaan belajarnya bertemu dengan ketaatan. Watching Video dan Playing in English adalah menu inisiatif BOS. Sedangkan, Workbook dan Read and Discuss adalah menu bimbingan dari orangtua.

Kami sadar, seiring bergulirnya waktu, manusia dan situasi senantiasa berubah. Oleh karena itu, kami harus menjaga kesiapan diri untuk tidak mandek pada sebuah titik. Ke depannya, akan ada banyak cara berpikir dan metode yang harus kami rombak serta rumuskan kembali demi perbaikan.

“Perjalanan kita masih panjang, Nak!”

(Eryani W.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s