MUTIARA KELUARGA: Membadut, Anak pun Menurut



(Cerita ini adalah fiksi, namun bisa terjadi kepada siapa saja)

membadut

“Aku mau di rumah saja. Main-main dan baca buku.” katanya, saat aku mengajak jalan pagi di sekitar rumah. Selain untuk menggerakkan badan, juga untuk menyerap kehangatan sinar mentari. Badanpun menjadi segar.
“Ayolah… Ibu kan sudah menjelaskan kalau jalan pagi itu wajib kamu lakukan.”
Dia menekuk bibir. Jelas-jelas menunjukkan rasa tidak suka. Tetapi, bukankah jauh-jauh masa, kegiatan ini sudah dikenalkan dan dibiasakan? Juga, sudah dijelaskan manfaatnya hingga mulut berbusa? Seharusnya, menginjak masa tujuh tahun kedua, dia bisa mengikuti dengan senang hati, kan? Ada perasaan tidak terima atas hasil yang di luar harapan ini.
Sayup-sayup, kudengar kesadaranku berbisik, bahwa ini adalah reaksi wajar. Mengingat masa tujuh tahun pertama dia habiskan dengan bermain bebas dan mengenal aturan; belum sampai taraf diwajibkan. Barulah ketika usianya menginjak 7 tahun, penegakan aturan mulai dijalankan.
Hatssyiii!!
“Nah tuh, gejala flu, ya?” Aku menyabet kesempatan, ketika mendapati dia bersin. “Sinar matahari bagus untuk–“
Aku menghentikan kata-kata, sebelum percakapan ini berubah menjadi sebuah kuliah umum tentang kesehatan. Aku pun merenung.
Aku suka Om Badut, Bu! Dia lucu banget, ya!
Terputarlah kenangan antusiasmenya usai menghadiri pesta ulang tahun seorang kawan sekolah. Dia bercerita, Om Badut itu pandai sekali mendongeng, membuat lelucon, dan trik sulap asyik. Acara berlangsung seru dan setiap anak yang hadir mau mengikuti instruksi apapun dari Om Badut dengan sukarela. Bahkan, sampai berebut.
Sukarela…
Ah, aku melupakan nasehat penting itu.
Patuh tidak sama dengan taat. Patuh dilandasi keterpaksaan, sementara taat dilandasi kesukarelaan atas dasar kesadaraan dan cinta.
Apa yang sesungguhnya kuharapkan? Anakku sekedar patuh, atau taat?
Aku berdehem. Kupaksa bibir dan mataku berekspresi konyol. “Hei, bagaimana kalau kita pergi ke Apotek Matahari?”
“Apotek Matahari?” Alisnya naik, menandakan tanya.
“Iya. Apotek Matahari punya banyak vitamin yang bagus untuk tubuh kita. Juga bisa mengurangi gejala flu-mu. Vitaminnya tidak diminum. Begitu cahayanya mengenai kulit, hangatnya akan meresap ke dalam tubuh bersama vitamin-vitamin itu.” kataku seraya membinarkan mata dan menggoyang-goyangkan badan, menggambarkan perasaan nyaman.
Ya, benar. Aku sedang membadut. Menggunakan ilmu Om Badut. Berusaha lucu, imajinatif, dan atraktif; supaya anakku sukarela mengikuti aturan yang sudah kami sepakati sebelumnya.
“Ayuk, Bu? Apakah apoteknya sudah buka?”

Aku bersorak. Matanya ikut berbinar bersamaku. Lain hari, aku gunakan akal yang sama ketika d


ia tampak berat menjalankan sholat. Aku berpura-pura menjadi setan.

“Hai… sahabatku… jangan mau sholaaaat… Ayo, kemariii… santai-santai denganku… aku punya game bagus… ayo siniii…” Aku menyeram-nyeramkan suaraku, seraya melambai-lambai lembut. Lalu, menarik-narik tangannya.
Anakku tertawa geli. Dia seru sambil menunjuk ke arahku, “Tidak mau! A’udzubillahi minasyaithonirrajiim!”
Aku langsung berteriak dan lari kalang kabut, bagai setan yang sedang kepanasan. “Tidaaaak! Kenapa kamu sholaaat? Nanti kamu disayang Allah… tidaaaak!!”
Lain waktu, aku mempraktekkan cara ini saat dia malas mandi. Dengan mulut manyun, dia mengeluh. “Aku kan masih ingin baca… kenapa harus mandi?”
Aku rasa, aku tak perlu menjelaskan alasan mengapa manusia harus mandi. Aku sudah melakukannya ribuan kali, dan pasti dia sudah hapal di luar kepala. Bukannya tak paham pentingnya mandi, dia hanya malas saja.
“Kenapa kamu tidak mau mandi?” kataku dengan bibir manyun ke bawah, menirukan ekspresi jengkelnya. Suaraku jadi terdengar aneh. “Bagaimana kalau badanmu jadi ditumbuhi jamur? Biar nanti kugoreng jadi jamur krispi. Huk-huk-huk!”
Antara masih jengkel dan ingin tertawa. Itulah ekspresi anakku. “Ya, baiklah, aku mandi…” katanya, sambil ngeloyor pergi dengan sedikit cekikikan.
Sungguh, aku tidak termasuk orang yang humoris seperti Gus Dur, Cak Kartolo, atau Cak Lontong. Tapi, aku yakin setiap orang memiliki rasa humor masing-masing, karena setidaknya, kita pasti suka dengan sesuatu yang lucu. Jadi, kita pun berpotensi mampu membadut beberapa kali sehari untuk anak, sebagai perimbangan ketegasan kita dalam menegakkan aturan keluarga.
Jangan khawatir, membadut tak akan menjatuhkan wibawa orangtua di mata anak. Bila sudah mahir mengatur sikap antara membadut dan tegas, insya Allah, anak akan respek, sekaligus merasa dekat dengan orangtua. Dia tidak akan sekedar patuh, tetapi taat dalam menjalankan aturan. Meski tentu, harus melewati proses yang tidak instan.
[Eryani W.]
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s