HAPPILY (NOT) EVERAFTER: Chapter 2 (Part 3)


photogrid_1480252138835

YEONGHUN-SSI, ANNYEONG HASIMNIKKA? (3)

============================

ArtiKata>> Wesamchon: paman (dari pihak ibu); Appa: Ayah; Eomma: Ibu; Hyeong: panggilan untuk kakak lelaki yang diucapkan oleh adik lelaki; Nuna: panggilan untuk kakak perempuan yang diucapkan oleh adik lelaki; Eonni: panggilan untuk kakak perempuan yang diucapkan oleh adik perempuan; Mweo: Apa; Nae Haebaragi: Bunga Matahariku

============================

Alin buru-buru melesat ke kamar, mengenakan kardigan kuning tipis berlengan panjang dan kerudung instan warna putih. Sebelum keluar kamar, ia mengambil napas dalam-dalam, sambil merapalkan kata ‘move on’ sepuluh kali. Lalu, berbisik mantap pada diri sendiri,  membulatkan tekad.

“Di luar pintu kamar ini… ada Kim Yeonghun. Hm… oke! Aku tahu apa yang harus kukatakan padanya.”

Benar saja. Sekarang, di ruang keluarga, tampaklah Yeonghun, masih dalam pakaian kerja, sedang menggendong Hana yang menangis keras. Bocah itu meronta-ronta, menjulurkan tangan kepada Boram. “Eomma, takut… takut…”

Aigo… Kenapa kamu ini? Masih saja takut pada Wesamchon? Kamu juga, Yeonghun-ah. Jangan menggendong Hana tiba-tiba begitu… Dia jadi kaget… ” Boram mengambil alih Hana ke dalam gendongannya.

“Maaf… aku hanya ingin mengajak Hana main. Mumpung besok libur. Lihat Hana, Wesamchon bawa apa?”

Yeonghun mengeluarkan satu pak kembang api dari dalam tas kerjanya dan menyalakan satu batang. Hana kontan gembira melihat percikan bunga api itu. Tapi, ia tetap menolak untuk digendong Yeonghun. Bocah itu malah minta gendong Alin yang tengah mendekat ragu-ragu.

“Yeonghun-ssi, mainlah kembang api di halaman depan bersama Hana. Biar Alin menemani.” kata Bram.

“Ah… Apakah tidak apa-apa Hana tidur sedikit larut?” Yeonghun tampak senang mendengar perkataan Bram.

“Tak apa-apa. Dia sudah sehat, kok. Tempo hari, begitu Alin datang dan menghiburnya dengan gambar, Hana langsung bersemangat makan dan tidak demam lagi.” sahut Boram. “Tolong ya, Alin?”

Alin mengangguk cepat. Lalu, membisikkan sesuatu ke telinga Hana.

*****

“Terbang! Terbang! Terbang! Whiiiii… Kita terbang, Hana…”

Pekik tawa Hana terdengar bersahutan dengan tawa Yeonghun, memenuhi halaman depan rumah Keluarga Kim. Halaman yang hanya ditumbuhi sebuah pohon setinggi satu setengah kali orang dewasa dan beberapa gerombol tanaman semak berbunga itu tergolong sempit jika dibandingkan dengan halaman rumah Alin. Namun, tetap saja, yang namanya halaman rumah, selalu menyenangkan untuk dipakai bermain.

Di bawah langit malam kelam dan sedikit berbintang, Hana tampak amat gembira duduk di atas bahu Yeonghun yang tengah berlari-lari kecil mengelilingi halaman. Sepasang tangan mungilnya terentang bebas di udara, masing-masing menggenggam sebatang kembang api yang memercik riang.

“Hana, ini susu rasa pisang kesukaanmu!”

Di teras rumah, Alin muncul sambil mengacungkan sekotak kecil susu cair yang ia ambil dari dapur. Sedangkan tangan satunya membawa segelas air putih untuk Yeonghun.

“Mau! Mau!” Hana sontak melepaskan gagang kembang api dari dalam genggaman, cepat-cepat menghela Yeonghun dengan kedua kakinya, supaya berjalan menuju teras.

“Sebenarnya, apa yang kamu katakan pada Hana tadi? Kenapa tiba-tiba dia mau bermain denganku?” tanya Yeonghun setelah menuntaskan segelas air putih pemberian Alin. “Akhir-akhir ini, Hana takut kepadaku. Gara-gara, Nuna pernah menunjukkan video pertandingan Taekwondoku waktu SMA pada Hana. Aku menendang lawanku sampai keluar arena.”

“Terkadang, Mas Yeonghun memang terlihat menyeramkan.” Alin tergelak pendek. Ia duduk melantai di samping Yeonghun, seraya membelai rambut Hana yang kini meringkuk tenang dalam pelukannya usai menyedot habis isi kotak susunya secepat kilat. “Tadi… aku hanya bilang, kalau Wesamchon bisa membuat dia terbang lebih tinggi daripada Appa.”

“Kamu sama kanak-kanaknya dengan Hana.” olok Yeonghun, seolah lupa telah berpura-pura terbang di angkasa bersama Hana tadi. Dengan sedikit merunduk, ia mengelus lembut pipi Hana. Bocah itu tampaknya mulai mengantuk. “Tapi… terimakasih banyak sudah membuat aku berbaikan dengan gadis kecil ini.”

Alin terdiam, tak menjawab. Ia tengah tertegun mendapati raut Yeonghun berubah amat lembut ketika menatap Hana. Seakan, dengan menatap Hana, lelaki itu sedang memuaskan dahaga kerinduannya terhadap sesuatu.

Yah, kenapa melihatku begitu?”

Pertanyaan Yeonghun sontak menyentak Alin. Gadis itu mengerjap sebentar, lalu menatap Yeonghun lurus-lurus. “Mas Yeonghun ingin punya anak sendiri, kan?”

Mweo?!” Yeonghun terbatuk-batuk seketika. “Hm! Kamu ini—” desisnya gemas. “Jangan bertanya yang tidak-tidak–”

“Kalau begitu Mas Yeonghun harus segera menikah!” potong Alin mantap. Hana, yang rupanya telah tertidur, menggeliat sebentar. Merengek. Ia terganggu oleh nada bicara Alin barusan.

“Bisa pelan sedikit? Kamu hampir saja membangunkan Hana.” kata Yeonghun dengan tampang gugup. Ia melongok ke arah pintu masuk rumah. Sepi. Tak ada tanda-tanda kemunculan Nuna dan Hyeong-nya setelah rengekan singkat Hana tadi. Apakah mereka sudah pergi tidur?

“Maaf, Hana…” Alin membelai-belai sebentar kepala Hana, lalu melanjutkan perkataannya dengan suara lebih pelan.

“Aku dengar dari Eonni kalau Mas Yeonghun selalu menolak dikenalkan pada gadis-gadis pilihan Eonni. Seperti… Haneul-ssi.”

Alin menghela napas, menahan pedih. Nama itu bagaikan sebilah pisau yang tengah menyayat luka. Ia sadar, di hadapan Yeonghun, imej gadis serampangannya sudah pasti dikalahkan telak oleh imej gadis sempurna milik Haneul-ssi.

“Gadis sebaik itu… kenapa Mas Yeonghun tidak mau menikah dengannya? Boram-Eonni sangat sedih.”

Aigo…” Yeonghun memegangi keningnya. “Apa Nuna yang menyuruhmu?”

Alin buru-buru menggeleng. “Ti-tidak, kok. Ini inisitifku sendiri! Aku berharap Mas Yeonghun mau memikirkan perasaan Eonni. Eonni melakukan semua ini demi kebaikanmu.”

“Demi kebaikanku? Nuna hanya ingin menenangkan dirinya sendiri dengan melihatku menikah.” sahut Yeonghun agak emosi. “Dan kamu… ayolah, jangan mencoba jadi pahlawan dengan menyuruhku menikahi Haneul-ssi. Dari wajahmu, aku tahu kamu tersiksa.”

Alin tertohok. Spontan, ia membuang muka. Menghindari bertatapan langsung dengan Yeonghun. “Mas Yeonghun ngomong apa, sih? Aku hanya ingin berbuat baik. Apakah itu salah?”

Yeonghun mendecak kecewa. “Baiklah. Aku akan mendengarkanmu. Bicaralah.”

Alin membulatkan pipi, sekaligus hatinya. Seraya menunduk, merapi-rapikan helaian rambut Hana, ia berkata.

“Aku masih ingat, dulu Mas Yeonghun pernah bilang padaku ingin sekali hidup mandiri dan lepas dari Eonni. Menurutku, seandainya perjuangan hidup mandiri adalah sebuah game, maka menikah itu adalah level expert-nya. Coba bayangkan, Mas Yeonghun benar-benar keluar dari kerajaan Eonni, lalu membangun kerajaan sendiri. Juga, mengatur sendiri semua yang ada di dalamnya.”

Lantas, Alin teringat adegan drama yang ditontonnya malam ini. Ia pun tenggelam dalam perasaan romantis. Mendongak ke arah langit musim panas yang berbintang, sambil bergumam.

“Lagipula pasti menyenangkan, bisa bertemu dengan orang yang kita sayangi setiap hari… dan merasa bahagia… selamanya…”

Yeonghun ikut mendongak, memandang langit yang sama.

“Aku setuju tentang level expert kemandirian. Tapi… bahagia selamanya?” Yeonghun beralih membelai rambut Hana, dan berbisik pada gadis kecil yang tengah tertidur pulas tersebut. “Bukankah terlalu naif? Iya kan, Hana? Sudah berapa banyak drama Korea yang dia tonton di rumah?”

“Eh, baru satu kali–” Alin mengerjapkan mata. Kembali pada kenyataan.

“Alin.”

Entah berapa puluh laba-laba yang seolah merayapi kulit Alin di balik kardigannya akibat panggilan singkat itu. Panggilan ‘Alin‘ tanpa imbuhan ‘-ssi‘ setelahnya, terasa lebih mendominasi. Kini, pandangan matanya tenggelam dalam tatapan Yeonghun yang tajam. Anehnya, ia merasa nyaman.

“Pernikahan bukan seperti itu. Jangan bayangkan kita terus menjadi sepasang kekasih selama dua puluh empat jam seumur hidup. Situasi selalu berubah. Kita harus siap berganti macam-macam peran secara dinamis. Suatu ketika menjadi suami-istri, di saat lain menjadi koki, cleaning service, perawat, penghibur, sopir… belum lagi jika kita menjadi orangtua. Sangat berat tanggungjawabnya. Bisa-bisa, tak ada waktu bagi kita menjadi sepasang kekasih. Apa masih yakin kita bisa bahagia selamanya seperti katamu?”

“A-aku memang tidak begitu paham arti pernikahan…” Mendengar tanggapan kritis dari Yeonghun, wajah Alin merah padam. Ia merasa tertampar, sekaligus kehabisan kata. “Ah, pokoknya Mas Yeonghun harus menikah!”

“Coba pikirkan.” Yeonghun terus menerjang, tanpa mempedulikan kebingungan Alin akibat kalah argumentasi. “Hampir setiap hari, aku sibuk bekerja. Terkadang harus pulang larut malam. Gajiku tidak banyak dan aku hanya punya sebuah apartemen kecil. Apakah kamu yakin bisa bahagia bersamaku?”

“Bisa!” sergah Alin penuh emosi. Yakin sekali argumen yang sekarang terlintas dalam benaknya akan meluluhkan hati Yeonghun.

“Pernikahan itu juga berarti perjuangan. Contohnya orangtuaku. Awal menikah, mereka hanya mampu menyewa sebuah kamar. Bapakku harus bekerja keras dan ibuku harus pandai-pandai menghemat pengeluaran. Sampai akhirnya, kami punya rumah sendiri. Jadi, tak apa-apa hidup dengan gaji pas-pasan dan tinggal di apartemen kecil— asalkan mau melewati susah dan senang bersama-sama… pasti suatu hari juga bisa bahagia bersama-sama!”

Yeonghun mencondongkan tubuh ke arah Alin, seraya menaikkan posisi kacamatanya yang sempat melorot.

“Siapa yang bisa bahagia bersama?”

“Mas Yeonghun?” jawab Alin ragu. Ia bertanya-tanya melihat gelagat aneh Yeonghun.

“Aku dengan… siapa?”

“Ha-Haneul-ssi, kan?”

“Pikirkan lagi. Apakah dari tadi kita sedang membicarakan Haneul-ssi?” Yeonghun menegakkan kembali punggungnya. Menahan tawa melihat kebingungan Alin. Lalu, mengulangi salah satu kalimatnya.

“Apakah kamu yakin bisa bahagia bersamaku? ”

Alin terkisap. Mulutnya ternganga seperti orang bodoh. Ia baru menyadari kalimat itu. Tidak hanya kalimat itu… Sebelumnya, Yeonghun beberapa kali menyebutkan kata ‘kita’! Dan, ia merasa baru saja sukses masuk perangkap dengan berapi-api mengatakan ‘bisa!‘.

“Kenapa suka sekali mengerjaiku…” Alin menggembungkan pipi. Membenamkan wajah pada bahu Hana. Ia tak hanya merasa bodoh dan malu, namun juga kesal pada keisengan Yeonghun.

Heissh… Gochujang. Bagaimana bisa kamu bertahan menyukai Kim Yeonghun selama tiga tahun? Dari reaksimu sekarang dan caramu memandangku waktu kita bertemu di bandara, aku bisa tahu…”

Wangi keringat bayi bercampur bau lembut sabun yang terhirup dari bahu Hana, mampu menyumbangkan sedikit ketenangan. Sehingga, Alin mampu lanjut bicara.

“Aku sudah move on dari Mas Yeonghun, tahu! Ini… Ini cuma gara-gara kita bertemu lagi dan semuanya menjadi kacau… Aku kesal sekali! Jadi, tolong lekas menikah dengan Haneul-ssi supaya aku tidak perlu bicara denganmu lagi seperti ini. Aku tidak tahan melihat Eonni sedih. Juga, tolong berhenti mengerjaiku… Kamu pikir lucu mempermainkan perasaan orang? Janji mau datang, tapi tidak ditepati–”

Rasa nyeri berdenyar dalam dada Alin, mengingat betapa ia diam-diam gelisah menanti kedatangan Yeonghun beberapa hari ini.

Heissh… Aku juga kesal! Kamu pikir, apakah aku kemari hanya karena ingin bermain dengan Hana dan iseng mengerjaimu? Coba pikirkan. Tepat saat aku bingung memikirkan pernikahan, kamu datang kemari, dan menyadarkan aku bahwa perasaan kita masih sama seperti tiga tahun lalu. Tapi malam ini, tiba-tiba saja, kamu suruh aku menikahi gadis lain!”

Perasaan kami masih sama seperti tiga tahun lalu?

Spontan, Alin mengangkat wajahnya yang tampak agak sembab. Setengah tak percaya mendengar penjelasan Yeonghun. Ia menggembungkan pipi, kali ini untuk menahan senyumnya supaya tidak melebar. Bisa-bisa, saking lebarnya, mulutnya akan sobek dari telinga ke telinga.

Aigo… Lihat tampangmu. Konyol sekali. Heissh… bagaimana nanti aku bisa melepasmu pulang ke Indonesia? Berpisah lagi denganmu?” dengus Yeonghun gemas.

“Maaf, jika aku melanggar janji tempo hari. Kamu hanya sebentar di Korea, kan? Makanya, saat itu aku berpikir, lebih baik aku segera mempertimbangkan kelanjutan hubungan kita sematang mungkin. Merenungkan nasehat Beuram-ssi tentang pernikahan, pertemuan kita di bandara, dan kemantapan hatiku sendiri.”

“Jadi, Eonni salah paham? Sebenarnya, Mas Yeonghun mau menikah?” Tanpa sadar, Alin mengayun-ayun pelan tubuh Hana dalam pelukannya. Kini ia mulai paham arah pembicaraan Yeonghun. Sepasang mata bolanya berbinar-binar malu.

“Aku memang sudah memiliki niat untuk itu. Tapi, tidak dengan Haneul-ssi. Melainkan denganmu, Alin. Aku sudah membuat keputusan kemarin. Aku akan menunggu sampai kamu siap. Baru kita menikah.”

Bukannya gembira mendengar penuturan Yeonghun, raut Alin malah berubah tegang.

“Kok, Mas Yeonghun memutuskan sendiri? Bukankah itu sama saja dengan yang dilakukan Eonni terhadapmu? Mas Yeonghun bahkan tidak menanyakan pendapatku.”

Yeonghun tampak tergugah.

“Aku siap, kok, menikah dengan Mas Yeonghun. Karena, itulah yang sedang aku perjuangkan saat ini. Kemandirian.”

“Tapi, kamu masih duapuluh– maksudku, dalam sebuah pernikahan, kita butuh kematangan sikap untuk saling memahami–”

“Me-memangnya selama ini kita tidak pernah bisa saling memahami?”

Suara Alin yang meninggi tadi membuat Hana terbangun dan menangis rewel. Untung, Yeonghun sigap mengambil alih Hana ke dalam pelukannya.

Seraya memberikan beberapa tepukan lembut pada punggung kecil itu, Yeonghun merenung.

Kata-kata sederhana Alin membuatnya merinding. Kata-kata itu benar adanya. Meskipun usia mereka terpaut empat tahun, Yeonghun selalu merasa terkoneksi baik saat berkomunikasi dengan Alin. Bahkan, Yeonghun bisa bersikap terbuka kepada Alin, lebih daripada kepada Nuna-nya sendiri.

Tak lama kemudian, ketika Hana telah kembali tertidur, terdengar helaan napas Yeonghun yang disusul ucapan basmallah terulur panjang.

“Sebelum ini, aku berusaha berpikir serasional mungkin. Tapi, aku lupa. Berurusan denganmu memang selalu membuatku sedikit nekat. Kalau memang begitu maumu, kita akan menikah secepatnya.”

Yeonghun merasa amat lega. Rantai keraguan yang membelenggunya selama beberapa bulan terakhir ini pecah berkeping-keping.

“Ah, tunggu.” sahut Alin tiba-tiba.

“Apa lagi? Berubah pikiran?”

“Bukan… nggg… Kenapa Mas Yeonghun memilihku? Aku ini tidak sebaik Haneul-ssi… Aku ini orang yang keras kepala dan susah diatur…”

“… kekanak-kanakan, impulsif, serampangan… Memangnya selama ini aku tidak tahu kalau kamu begitu? Anggap saja, Haneul-ssi adalah gadis yang sempurna. Lalu? Tetap saja, hatiku tidak tergerak padanya. Dan, bukan aku yang menggerakkan hati ini. Allah Yang Maha Menggerakkan. Mengerti?”

Alin mengangguk-angguk kecil. Ia bermaksud tersenyum lebar. Namun, isak haru mendahuluinya. “Selama tiga tahun, tidak ada yang pernah bisa menempati hatiku, selain Mas Yeonghun. Aneh sekali, kan? Padahal, aku tak pernah menguncinya… Pasti Allah… Allah yang menjaganya…”

Heissh… Nae Haebaragi…” Yeonghun berbisik pelan. Tak dapat menyembunyikan rasa senang yang muncul akibat kata-kata Alin. Kulit wajahnya memerah. Darahnya bergolak. Dadanya yang berdebar kencang.

Sesaat, ia bermaksud nekat merengkuh bahu Alin, mengekspresikan luapan kepedulian dan kerinduannya pada gadis itu. Tetapi, demi menjaga kewarasan batas-batas antara mereka berdua, Yeonghun beralih menepuk-nepuk lembut punggung Hana, membuang muka ke tanah, lantas menggeser pembicaraan.

“Hm! Tapi, jangan senang dulu. Dengar. Aku tidak punya rencana untuk memanjakan istriku dengan barang-barang mewah. Dan, kemungkinan besar, waktu pribadinya untuk menggambar dan berlatih Taekwondo akan termakan habis karena mengurus rumah dan anak-anak. Kamu siap?”

Yeonghun menatap Alin lagi.

“Si-siap!” Alin mencoba meyakinkan Yeonghun dengan pandangan matanya, namun gagal. Ia menunduk sebentar, lalu menatap Yeonghun lagi. “Agak tidak siap… tapi, aku mau berusaha!”

Yeonghun tersenyum simpul. Tangannya menepuk-nepuk punggung Hana, sembari sedikit mengayun-ayunkan tubuhnya ke depan dan ke belakang.

“Aku percaya dengan tekad dan semangatmu.”

“Aku juga percaya… aku akan baik-baik saja bersama Mas Yeonghun.”

Sementara itu, di balik pintu, Boram menatap Bram dengan mata dan mulut terbuka lebar. Amat terkejut. Sementara Bram hanya menggumam tenang.

“Sudah mengerti mengapa kita perlu memberikan ruang bagi mereka untuk bicara? Dua anak itu… Sejak awal aku sudah menduga. Alin yang serampangan dan keras kepala… Yeonghun-ssi yang penuh tanggungjawab serta kehati-hatian dalam bersikap… Kita lihat saja bagaimana kelanjutannya.”

photogrid_1480209360763

==============================

Lanjut baca CHAPTER THREE [The Journey Begins] >>>  

==============================

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s