HAPPILY (NOT) EVERAFTER: Chapter 2 (Part 2)


photogrid_1479823383796

YEONGHUN-SSI, ANNYEONG HASIMNIKKA? (2)

==============================

ArtiKata>> Ajeossi: paman, panggilan untuk lelaki paruh baya; Aigo: ya ampun; Oppa: panggilan kakak lelaki yang diucapkan oleh perempuan; Dan: tingkat sabuk hitam dalam Taekwondo; Dojang: tempat latihan Taekwondo; Saseongnim: Master; Namdongsaeng: adik lelaki

==============================

“Itu… gambar apa? Boleh lihat?”

Atmosfir familiar yang lahir di luar dugaan ini mendorong Yeonghun berani bersikap lebih terbuka kepada Alin. Ia letakkan buku sampul biru langitnya di pangkuan, lalu mengambil begitu saja buku sketsa dari tangan gadis kidal itu. Alin hanya sempat mengangkat bahu karena kaget, tanpa bisa mencegah.

“H-hei… Yeonghun-ssi…”

Dalam buku sketsa itu, sebuah ilustrasi lucu bergaya sketchy tergores secara simpel namun artistik. Di sebuah taman bermain berlatar langit biru dan semak-semak hijau berbunga, si brokoli sedang bermain jungkat-jungkit dengan si lobak, si sawi putih sedang semangat mendorong ayunan si wortel…

“Yah… apa ini? Tidak bisakah Alin-ssi menggambar sesuatu yang lebih dewasa sesuai usiamu?”

“I-itu untuk Hana… Lagipula, tidak ada hubungan antara kedewasaaan saya dan gambar yang  saya buat. Huuh… Yeonghun-ssi payah.”

“Coba pikir. Siapa yang lebih payah? Orang yang memberi saran positif untuk gambarmu atau orang yang melindas kaki saya tadi? Menyebut saya ajeossiaigo… Apakah saya kelihatan setua itu?”

Alin meringis konyol. “Maaf… Soalnya, penampilan Yeonghun-ssi serius sekali… oh, tidak. Saya rasa, Yeonghun-ssi terlalu lama dalam kandungan, sehingga begitu lahir langsung kelihatan tua. Bayi tua…”

“Bayi tua katamu?” Yeonghun menepukkan buku sketsa lembut ke atas kepala Alin dengan gemas, dan langsung ditangkap oleh gadis itu. “Apapun alasannya, jangan bicara terlalu formal seperti ini. Saya tidak menerima panggilan Yeonghun-ssi, apalagi ajeossi. Ju-juga jangan panggil oppa. Aneh sekali kedengarannya.”

“Yeonghun-ssi sendiri, dari dulu selalu bicara formal meskipun dalam bahasa Indonesia. Selalu berkata saya… saya… dan memanggil saya Alin-ssi.”

Yah-itu karena…” Nada Yeonghun sempat meninggi, lantas merendah lagi. “Itu karena kamu adalah adik Beuram-ssi. Orang yang sangat saya hormati.”

“Saya tidak akan bicara formal kalau Yeonghun-ssi berhenti bicara formal pada saya.”

Yeonghun menunduk sebentar, memijit ruang sempit di antara kedua alisnya dengan ibu jari dan telunjuk. Kemudian, ia mengangkat wajah dengan mantap. “Baik, aku setuju… Alin.”

Wajah Yeonghun yang memerah dan tegang, serta kalimat yang terdengar sangat aneh dan menggelikan itu, kontan membuat Alin terbahak. “Mas Yeonghun lucu sekali… kamu benar-benar lucu… hahahaha!”

Heissh… Diamlah…” Yeonghun langsung memasang bukunya di depan wajah. Kembali membaca. Diam-diam senang Alin memanggilnya dengan sebutan itu lagi.

“Mmm… oya! Mas Yeonghun sekarang sudah Dan berapa?”

Binar-binar terlihat bertaburan pada sepasang mata bola milik Alin. Ia membuka topik baru, bermaksud menceritakan kemajuannya dalam taekwondo. Yeonghun pasti akan bangga mendengar bahwa ia telah memegang sabuk merah; dan hal itu bisa diraih dengan memakai metode yang pernah diajarkan Yeonghun padanya dulu; catatan gambar untuk menghapalkan rangkaian jurus kenaikan tingkat.

“Ya? Saya… ah, aku- ah, telepon.”

Nada petikan gitar Timur Tengah mengalun dari smartphone Yeonghun. Menyela percakapan.

“Assalamu’alaikum? Ya, Nuna. Alin-ssi.. ah–Alin sudah bersamaku. Apa? Heissh… iya, aku tidak lupa. Aku tahu tujuanmu sebenarnya… Ya, ya, baiklah. Setelah mengantar Alin ke rumah, aku akan menemui Haneul-ssi.”

Yeonghun menutup telepon, hendak melanjutkan kalimat yang terputus tadi. Namun, ia mendapati atmosfer di antara mereka telah berubah sedikit tegang. Alin tengah menatapnya penuh tanya.

“Apakah Mas Yeonghun akan pergi setelah mengantarku?”

Tatapan itu merambatkan kehangatan aliran darah ke wajah Yeonghun secara tiba-tiba. Ia terdiam menatap Alin. Berusaha menebak apa yang tengah dipikirkan gadis itu. Wajah lelahnya tampak gelisah berharap.

“Ya, aku harus kembali ke kantor. Ah, maksudmu… sebelum itu?” jawab Yeonghun gugup. Merasa harus memberi penjelasan, supaya Alin tidak salah paham. “Ah, Nuna menyuruhku menyerahkan barang titipan pada Haneul-ssi… Um, sebenarnya aku tidak mengenal gadis itu. Tapi, dia pesan kimchi pada Nuna… jadi aku…”

Alin mengerutkan kening. Penjelasan Yeonghun terdengar berputar-putar. Sejurus kemudian, ia menyadari sesuatu.

Apakah Mas Yeonghun akan pergi setelah mengantarku? Ia merasa bodoh dan malu atas pertanyaan murahan yang dilontarkannya secara emosional tadi.

“Haha. Maaf, tadi aku cuma asal bertanya. Mas Yeonghun tak perlu menjelaskan kalau merasa tidak nyaman… ”

“Ah, bukan begitu.” Yeonghun buru-buru menyahut. “Sebenarnya… Nuna suka sekali memaksaku berkenalan dengan gadis-gadis pilihannya–”

Jeda yang diambil Yeonghun, ditempati oleh Alin.

“Oh… aku tahu. Semacam perjodohan, kan?” Ia berusaha tersenyum lebar, meski hatinya mulai pahit.

“Tapi, akhir minggu ini aku akan makan malam di rumah Nuna.” Yeonghun spontan menyahut. Berinisiatif membuat kompensasi, meski secara logika tak perlu ada. Kompensasi untuk kesedihan yang baru saja meredupkan binar bola mata Alin.

Heissh… Apa yang baru saja kukatakan? Batin Yeonghun, seraya mengangkat bukunya di depan wajah dan berusaha mulai membaca di antara keriuhan isi pikirannya. Jaga sikapmu, Kim Yeonghun! Jangan memberikan sinyal yang kamu sendiri belum memikirkannya matang-matang!

Sementara itu, Alin yang cukup terkejut dengan jawaban Yeonghun, seketika terdiam. Memberikan anggukan pelan, lantas kembali menggambar.

Harga dirinya sebagai seorang perempuan terluka oleh perkataannya sendiri. Jawaban Yeonghun menunjukkan bahwa lelaki itu tahu maksud tersembunyi dari pertanyaannya tadi; bahwa ia masih ingin bersama Yeonghun lebih lama lagi, lagi, dan lagi. Ini sangat memalukan.

Ingat Alin, kamu sudah move on. Jadi, jangan hanyut dalam nostalgia kecil ini, semanis apapun rasanya. Kamu dengar sendiri kan, Kim Yeonghun akan dijodohkan dengan gadis lain!

Setelah percakapan itu, nyaris tak ada percakapan lain antara Alin dan Yeonghun. Keduanya sama-sama asyik dengan pikiran dan aktifitas masing-masing; hingga akhirnya sampai di rumah Keluarga Kim dan berpisah di sana.

*****

Kim Yeonghun tidak menepati janji. Ia tidak datang malam itu. Tanpa kabar. Diam-diam, Alin yang malam ini sedang berbaring tengkurap di lantai kayu rumah Keluarga Kim, merasa patah hati.

Sebenarnya, apa yang aku harapkan? Anggap saja janji waktu itu hanya basa-basi saja. Tiga tahun ini… pasti banyak yang telah berubah… kami punya kehidupan masing-masing. Hanya aku saja yang masih terjebak perasaan masa lalu…

Alin tahu, seharusnya ia tak perlu gelisah. Seharusnya, ia fokus saja berlatih Taekwondo di dojang Park-Saseongnim, serta menikmati berkumpul bersama Bram, Boram, dan Hana. Tapi, kehangatan kenangan saat bertemu kembali dengan Yeonghun pada hari pertamanya di Korea Selatan, terus saja membayangi. Urusan hati memang tak bisa diduga arah lajunya.

“Jangan-jangan, Ibu benar. Aku belum bisa move on dari Kim Yeonghun.” gumam Alin resah. Tangan kanannya seraya menarik-narik kepangan rambutnya ke depan. Tangan kirinya memencet-mencet remot pasangan televisi di hadapannya. Sementara, punggungnya dijadikan alas gambar oleh Hana. “Itu artinya… percuma aku berjuang selama tiga tahun untuk mengikhlaskan dia? Apakah aku sepayah itu?”

“Minsu-ah, aku tidak peduli jika lautan mengering, atau gunung-gunung meletus, atau dunia ini hancur menjadi debu. Aku telah memutuskan untuk kembali bersamamu dan tidak akan ada yang bisa menghalangiku.”

Aktor drama Korea dalam layar televisi itu mengikat mata Alin. Pakaian serba hitam, jangkung, berkacamata… Mengingatkan ia pada sosok Yeonghun; kecuali wajahnya yang seolah berkilau dan cenderung tampan-cantik itu. Berbanding terbalik dengan wajah Yeonghun yang rata-rata.

“Kim Yeongjae, rasanya sudah seratus tahun aku menunggumu untuk mengatakannya. Aku senang semuanya telah berakhir, dan kita akan hidup bahagia. Selamanya.” sahut lawan mainnya, seorang wanita -yang menurut Alin- kalah cantik dari si pemain pria.

Apa? Kenapa namanya juga mirip? Drama ini sedang berkonspirasi terhadapku! Protes Alin dalam hati.

Tayangan drama itu ditutup dengan adegan pemain pria dan wanita sedang bersantai bersama di sebuah bangku taman berukiran manis. Mereka mengenakan pakaian serba putih. Sosok keduanya berpendar-pendar tertimpa sinar matahari yang lembut. Meninggalkan kesan akan kesucian cinta mereka yang abadi.

Alin ternganga. Entah mengapa, jantungnya berdegup tak kencang menyaksikan adegan terakhir itu. Tak bisa membohongi diri, bahwa adegan tadi adalah salah satu hal termanis yang pernah dilihatnya. Ia sangat suka, dan ingin… ingin sekali mengalaminya pula. Parahnya, satu-satunya lelaki yang terbayang untuk mengisi posisi aktor utama adalah… Kim Yeonghun.

“Ya ampun…” Alin mematikan televisi dengan kesal dan tiba-tiba bangkit duduk. Membuat Hana sedikit kaget dan menatapnya heran. “Aku ini sudah move on! Betulkan, Hana?”

“… Selalu saja ada alasan untuk menolak setiap perempuan yang kukenalkan padanya. Apakah dia tidak tahu kalau Nuna-nya begitu khawatir…”

Alin mendongak, ketika Boram dan Bram memasuki ruang keluarga, sehabis mencuci piring bekas makan malam di dapur. Kemudian, mereka duduk di belakang meja makan berkaki pendek, tak jauh darinya.

“Siapa yang akan merawatnya ketika sakit? Siapa yang akan mengingatkannya untuk makan malam? Siapa yang akan menemaninya saat sepi dan sedih… Ah, bocah itu. Sampai kapan dia akan bersikap seperti ini?”

Begitulah. Semenjak hari pertama Alin menginjakkan kaki di rumah Keluarga Kim, Boram dan Bram seringkali membahas perihal Yeonghun. Terutama Boram. Raut wajahnya yang cerah seringkali berubah gelisah setiap kali menyebutkan nama Yeonghun. Seperti hari ini, Boram tampak penuh beban dan berkali-kali menyeka kening dengan punggung tangan. Udara malam ini memang cukup gerah. Namun kelihatannya, bukan cuma itu yang menyebabkan keningnya berkeringat.

“Aku mengerti kekhawatiranmu. Tapi, pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Juga bukan sebuah perlombaan. Pernikahan harus dilakukan dengan kesadaran dan kerelaan penuh antara kedua pihak. Kita harus sabar dan mencari pendekatan yang tepat. Sebab, semakin Yeonghun-ssi dipaksa, dia akan semakin menghindar.” Bram- kakak lelakinya- memberikan tanggapan penuh ketenangan. Mirip sekali dengan sosok Bapak.

Mereka sedang membicarakan Kim Yeonghun dan siapa? Alin memasang telinga baik-baik.

“Ah, entahlah.” Boram mendesah lesu. “Sekali ini saja; aku ingin adikku mencoba mengenal Haneul-ssi. Dia adalah calon istri yang sempurna. Lembut, penyayang, pandai memasak, dan dia juga seorang muslimah yang taat. Benar-benar sayang kalau Haneul-ssi harus lepas begitu saja.”

“Tenanglah. Dalam hati, Yeonghun-ssi sudah memiliki keinginan untuk menikah. Dia hanya butuh pemicu yang tepat untuk mengubah keinginan itu menjadi sebuah niat. Lain waktu, aku akan bicara lagi padanya. Doakan berhasil.”

Alin sungguh tidak tega. Ia merasa kasihan terhadap Boram. Hana saja yang tidak memahami permasalahan, bisa merasakan aura ceria eomma-nya berubah muram. Makanya sedari tadi, gadis kecil itu memilih bermain dengan dirinya. Menolak dijodohkan dengan gadis sebaik itu… Kenapa tidak memikirkan perasaan Eonni, sih? Ah! Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus membantu Eonni untuk bicara dengannya!

Greeekkk!

“Assalamu’alaikum!”

Semua orang di ruang keluarga menjengit kaget mendengar suara geseran pintu depan dan ucapan salam itu.

“‘Alaikum salam… Omo… Uri-namdongsaeng…! Kenapa tidak bilang akan kemari? Makan malam baru saja selesai…” sambut Boram tergopoh-gopoh menuju pintu depan, seraya menyeka tepian matanya yang basah.

Ki-Kim Yeonghun datang?! Sementara itu, perut dan dada Alin berdesir ngilu. Secara mendadak mendengar suara berat Yeonghun membuatnya grogi setengah mati. Cepat sekali Allah menagih kesungguhan kata-kataku… padahal aku kan belum menyiapkan diri! 

photogrid_1479745653933

==============================

Lanjut baca CHAPTER TWO [Yeonghun-ssi, Annyeong Hasimnikka? 3] >>>  

==============================

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s