HAPPILY (NOT) EVERAFTER: Chapter 2 (Part 1)



photogrid_1479530501186

YEONGHUN-SSI, ANNYEONG HASIMNIKKA? (1)

==============================

ArtiKata>> Incheon: bandara Korea Selatan; Hangeul: huruf Korea; Aigo: ya ampun; Joesunghamnida: maaf (formal); Ajeossi: paman, panggilan untuk lelaki paruh baya/berusia matang; Annyeong hasimnikka: apa kabar (formal); Ye: iya (formal); Oppa: panggilan kakak lelaki yang diucapkan oleh perempuan yang lebih muda; Ye, matseumnida. Geu-geoseun… imnida: Ya, benar. Itu adalah… (formal); Mweo: Apa; Gochujang: Pasta cabai

==============================

“Assalamu’alaikum! Sudah sampai Incheon, kan?”

Suara Bram terdengar antusias di telepon genggam, saat Alin keluar dari pintu geser bandara sembari menyeret sebuah tas troli tanggung dan menggendong ransel kuning bututnya. Seketika, ia disambut oleh sengatan matahari musim panas. Terik dan pengap. Kontras sekali dengan suhu dalam gedung bandara yang disejukkan oleh mesin-mesin pendingin udara.

“Wa’alaikum salam! Sudah, Mas! Duh, panas banget! Jadi tahu rasanya ayam masuk oven! Huaah…” Alin memicingkan mata menahan silau dan gerah. Terus berjalan menyusuri lantai bandara yang mengkilap. Sesekali, ia mengipas-ngipaskan telapak tangan kanan ke wajahnya yang mulai mengembunkan keringat dengan sebal.

“Cocoklah kamu. Ayam panggang bumbu kecap!” Bram terkekeh. “Memang begini Korea di musim panas. Suhu udara naik; tingkat kelembaban juga tinggi. Sabar saja. Banyak-banyak minum. Lagian, dulu siapa ya yang ingin sekali pergi ke Korea, sampai ngambek segala? Sekarang terkabul, malah mengeluh.”

“Heheheh… jangan bahas itu. Bikin malu aku saja…” Alin meringis. Ia iseng berhenti di depan sebuah dinding kaca bening yang memantulkan refleksi lalu lalang orang-orang dan tiang-tiang bandara. Juga dirinya.

Alin mendesah panjang seraya mengamat pantulan kaca itu. Remaja perempuan berambut keriting pendek dan berpakaian serampangan itu sudah tak ada lagi. Sepasang mata bulat yang emosional itu juga sudah melembut. Lembaran kerudung dan lembaran pengalaman hidup telah menundukkan semuanya.

“Allah itu misterius banget ya, Mas Bram? Tiga tahun lalu, aku pernah mati-matian menginginkan hal ini terjadi dalam hidupku. Uniknya, Allah baru mengabulkan ketika aku sudah melepas-ikhlaskan keinginan itu.”

“Itulah yang mendewasakanmu.” Baru saja Alin tersipu mendengar komentar Bram, tiba-tiba, ia dikagetkan oleh seruan kakaknya. “Astaghfirullah, hampir lupa memberi tahu kamu! Aku tidak bisa menjemput! Ada rapat mendadak siang ini. Boram-ssi juga tidak bisa menjemput. Hana agak demam dari kemarin. Susah makan. Tapi, tenang saja. Aku sudah meminta Yeonghun-ssi untuk menjemputmu.”

Hah? Dijemput Kim Yeonghun?!

Burung-burung kecil imajiner dalam kepala Alin bercicip-cicip riang. Tak menyangka ia akan bertemu kembali dengan Yeonghun secepat ini! Ia senang, sekaligus panik.

“Oh–” Ucapan Alin terhenti. Ia terpaku pada refleksinya sendiri di kaca. Tampaklah raut wajah yang kacau. Mengilap oleh keringat dan kusut karena perjalanan jauh yang melelahkan. Penampilannya pun jauh dari istimewa; setelan baju lengan panjang dan celana panjang longgar, dipadu dengan kerudung simpel yang ujungnya cukup panjang untuk menutupi dada, serta sepasang sandal jepit kuning motif anak ayam yang ia beli di pasar kemarin.

Ya ampuuun! Ke luar negeri kok malah pakai sandal jepit?! Malu dilihat orang!

Ah, tenang saja, Bu. Cocok, kok. Korea kan lagi musim panas.

Alin menyesal telah mengabaikan peringatan Ibu. Sungguh tak pernah mempertimbangkan bahwa ia akan merasa malu bila bertemu Yeonghun dalam penampilan begini. Dari pantulan refleksi dinding kaca di hadapannya, Alin baru menyadari bahwa setiap kali orang-orang melewati dirinya, mereka memperhatikan dengan tatapan aneh. Kening berkerut, mata curiga, dan mulut yang berbisik-bisik. Ah ya. Jika diperhatikan lagi, semua orang di sini tampak berpenampilan ala model majalah edisi summer; fashionable, dan bersepatu. Tak bersandal jepit. Tak ayal lagi, membuat Alin merasa seperti seorang gelandangan di negeri orang.

Kim Yeonghun tidak boleh melihatku dalam kondisi separah ini!

“Halo? Lin?” Suara Bram menyentil lamunan Alin.

“Ah! Hana sakit? Ka-kalau begitu, sampai di sana, aku akan menggambar banyak monster sayuran lucu untuknya. Hatinya pasti akan gembira, semangat makan, dan jadi lekas sembuh! Mmmm…” Mendadak, sebuah ide terbentik di kepala Alin. “Ah! Mas Bram. Aku tak perlu dijemput. Aku akan menemukan sendiri rumah Keluarga Kim! ”

“Hm? Jangan aneh-aneh, lah. Ini negara orang. Bagaimana kalau tersesat…”

“Nggak akan! Aku bisa berbahasa Korea sedikit dan aku juga sudah bisa mengoperasikan peta digital di smartphone yang tempo hari Mas Bram belikan.”

Alin kembali berjalan, seraya memperhatikan papan-papan petunjuk di sekelilingnya. Tulisan-tulisan hangeul terpampang di mana-mana. Meski sudah cukup lama belajar bahasa Korea, ia masih harus mengeja pelan-pelan untuk bisa membaca dan agak berpikir lama untuk paham artinya.

“Sudah, tunggu Yeonghun-ssi datang. Aigo, aku tadi lupa belum memberikan nomer HP-mu yang baru ke dia–”

Bram belum selesai berbicara, ketika Alin menutup teleponnya. Berkali-kali smartphone itu melantunkan nada panggil The Grand Piano Lesson milik Masha and The Bear, tapi ia tetap bersikukuh mengabaikan.

“Aku harus cepat-cepat menyingkir dari sini sebelum Kim Yeonghun datang!”

Alin mempercepat langkah, menyusuri teras bandara, menuju tempat pemberhentian shuttle bus. Sampai di ujung teras bandara, ia melihat sebuah bus menunggu agak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan panik, ia seret tas trolinya, khawatir ketinggalan kendaraan itu.

Gleduk!

“Aaa—aaaah!!”

Alin menoleh kaget. Seorang lelaki dewasa berhem putih lengan pendek sesiku, membungkuk kesakitan, memegangi kakinya yang tertutup sepatu kantoran. Roda tas troli Alin baru saja melindas kaki itu.

Joe-joesunghamnida, Ajeossi! Joesunghamnida, Ajeossi!

Usai membungkukkan badan berkali-kali, Alin buru-buru berlari pergi saat mendengar bus mengeluarkan bunyi hendak berangkat. Untung saja,  ia berhasil naik. Ketika hendak duduk, tak sengaja ia menoleh ke arah kaca belakang bus. Tampak seorang lelaki tengah berlari kencang. Mengejar bus ini. Sambil berseru-seru.

Bola mata Alin hampir melompat dari rongganya.

Wah! Mati aku! I…. itu kan… si om-om yang tadi aku lindas kakinya! Jangan-jangan dia mau menuntut ganti rugi?? Bisa-bisa aku digelandang ke kantor polisi dan dideportasi, nih! Bagaimana ini??

Bus bandara baru saja berjalan lagi, setelah sempat berhenti sebentar tadi. Perputaran mesinnya halus sekali, hampir-hampir tak terasa getarannya.

“Boleh duduk di sini?”

Bahasa Indonesia?! Bahu Alin berjingkat. Merinding. Suara berat itu dekat sekali. Tepat di sebelahnya. Tunggu… kenapa tiba-tiba aku jadi pengecut begini? Payah!

Alin pun memberanikan diri menoleh ke atas. Benarlah perkiraannya barusan. Ini adalah lelaki yang kakinya ia lindas tadi. Iya, dia! Hem putih, celana panjang, berkacamata… Alin yakin sekali, meski tadi hanya melihat sekilas. Lelaki berpakaian rapi ini berhasil mengejar hingga masuk bis.

Orang Indonesia? Masa iya?

Sebagai tanda setuju atas permintaan lelaki di hadapannya, Alin memberikan anggukan kaku, disertai gerakan memepetkan diri pada dinding bus. Berupaya membuat jarak sejauh mungkin dari lelaki itu. Seraya menghadapkan wajah ke kaca jendela bus dengan mata terpejam was-was, ia membisikkan sembarang doa yang terlintas dalam kepala.

A’ūdzu billāhi minas-syaitānir-rajīm… A’ūdzu billāhi minas-syaitānir-rajīm…

Terbayang sosok lelaki itu. Kurus tinggi, wajahnya tegang kemerahan dengan napas memburu. Seakan hendak menerkam. A’ūdzu billāhi minas-syaitān–

“Alin-ssi… lupa pada saya?”

Hela napas Alin tertahan dalam saluran hidung. Suara berwarna berat itu baru saja menyebutkan namanya. Tidak. Lebih tepatnya, panggilan itu– hanya satu orang saja di dunia ini yang memanggilnya Alin-ssi.

Ia menoleh tak percaya. Memindai penampakan lelaki yang kini duduk di sebelahnya. Rambut hitam pendek berbelah pinggir dan disisir rapi ke belakang. Kacamata berbingkai tipis. Penampilan smart ala orang kantoran. Pada wajahnya yang bergaris kaku itu ditumbuhi kumis tipis dan jenggot pendek rapi. Sementara di tangan kanannya, tergenggam sebuah buku bersampul biru langit. Meskipun sosok itu tampak amat asing, sangat serius dan berwibawa, sorot mata dan cara bicara itu masih sama.

Alin tergetar. Tapi… benarkah??

“Saya pernah memasakkan kamu mi Bulgogi. Ingat?”

Sekarang Alin yakin. Ia tidak salah tebak. Kim Yeonghun!

Mendadak, Alin dilimpahruahi kegembiraan yang menggugupkan. Sosok Yeonghun seolah membesar, memenuhi tiap jengkal ruang bus. Aroma hangat yang dibawanya samar-samar membungkus tiap molekul oksigen dalam udara yang dihirup Alin.

“Mas Yeo– eh, Yeonghun-ssi, annyeong hasimnikka?

Alin segera memperbaiki sikap dan cara bicara. Menganggukkan kepala dengan hormat. Bahkan ia berusaha menggunakan bahasa Korea formal, meski masih rusuh tata bahasanya. Ia juga merasa tak berdaya untuk menegakkan wajah dan menatap lelaki itu, apalagi memanggilnya Kim Yeonghun tanpa sebutan hormat seperti yang pernah ia lakukan di masa lampau.

“Assalamu’alaikum. Formal sekali…” Yeonghun membalas salam Alin, lalu berkata dalam bahasa Indonesia. “Kenapa tadi tidak menunggu saya? Beuram-ssi sudah memberi tahu kalau saya menjemput, kan?”

Y-ye… joesunghamnida… Oppa...” Alin salah tingkah. Berusaha merapikan kerudungnya diam-diam. Merasa penampilannya amat kacau. Ia sangat malu, entah karena apa. Padahal dulu, ia selalu cuek berpenampilan di hadapan Yeonghun.

Heish… sejak kapan Alin-ssi memanggil saya Oppa? Menggelikan sekali.” desis Yeonghun, masih dalam bahasa Indonesia. Sebentar kemudian, ia berdehem dan tampak sedang berusaha berbasa-basi. “Ehm! Apakah Alin-ssi tidak mengalami kesulitan sewaktu di perjalanan?”

“Ah, tidak, Yeo-Yeonghun-ssi. Semuanya lancar. Mmm, hanya saja, gara-gara memakai sandal jepit, orang-orang terus melihat saya dengan tatapan aneh. Hahaha.” Alin tertawa garing. Dalam bahasa Korea pas-pasan, ia mencoba ikut berbasa-basi untuk mengusir perasaan canggungnya. “Oh ya, Ibu menitipkan sesuatu untuk Yeonghun-ssi. Sebentar…”

“Hmm, bukan karena sandal.” Yeonghun tersenyum geli mengamati sandal jepit yang dipakai Alin. Sangat tidak keren dan terkesan serampangan. “Sekarang musim panas, sementara kamu mengenakan pakaian tertutup. Orang Korea adalah masyarakat homogen. Tidak begitu terbiasa dengan perbedaan-perbedaan yang sedikit mencolok…. oh, apa ini? Tempe?” Ia terbelalak senang ketika tahu bungkusan yang ia terima dari Alin berisi irisan tempe kering sebesar korek api berwarna kecoklatan. Rupanya Ibu masih ingat makanan favoritnya sewaktu di Indonesia.

Ye, matseumnida. Geu-geoseun… Kering Tempe Pedas… hehehe…” Alin masih berjuang berbahasa Korea sesopan mungkin.

“Terimakasih. Nanti, saya akan menelepon Ibu. Dan…ah, Alin-ssi. Silakan bicara dalam bahasa Indonesia saja. Saya bisa mengerti.”

Alin terperanjat. Kikuk. Telinganya menghangat. Baru menyadari bahwa sedari tadi ia menggunakan bahasa Korea, sedangkan Yeonghun yang notabene orang Korea malah berbicara dalam bahasa Indonesia.

“E-eh… Oh… Ba-baiklah…”

Untuk menyembunyikan kegugupannya, Alin buru-buru mengeluarkan buku sketsa dari dalam tas ransel. Lantas, mulai membuat coretan-coretan dengan beberapa marker.

Sementara itu, Yeonghun menyimpan tawa melihat reaksi kikuk Alin. Ia ingat tiga tahun lalu ketika datang ke Indonesia, Alin habis-habisan mengerjainya hingga malu. Lucu sekali; sekarang, Tuhan seolah membalik situasi. Alin yang berkali-kali salah tingkah di depannya.

“Sudah tiga tahun…” lirik Yeonghun sekilas, mulai membaca buku di tangannya.

Dari balik lembaran buku, mata Yeonghun mengamati perubahan sosok Alin diam-diam.

Cara berpakaian gadis ini lebih tertutup dan feminin daripada tiga tahun lalu, meskipun gelang-gelang tali dan jam tangan kuning besar masih melingkari pergelangan tangan kanannya. Ia juga terkesan dengan cara bicara serta ekspresi Alin yang lebih lembut dan kalem, meski dengan gaya yang kurang lebih sama. Perubahan-perubahan ini cukup membuat Yeonghun terkejut, sekaligus merasa senang.

“Apakah kamu masih bandel seperti dulu? Berkelahi? Melompati pagar? Kamu masih menggambar dengan tangan kiri?”

Mendengar pertanyaan Yeonghun, Alin menggembungkan pipi. Menahan tertawa, sekaligus merasa malu mengingat kelakuannya dulu. Melompat pagar ketika terlambat sekolah, dikejar guru, kena marah guru karena tidak memperhatikan pelajaran…

“Nggg… sebenarnya, beberapa waktu lalu saya hampir masuk sel tahanan karena jadi pelukis jalanan ilegal… hehehe…”

Kini, Yeonghun sepenuhnya menoleh pada Alin. Diiringi raut cukup syok. “A-apa? Heissh… Bagaimana bisa–”

Menangkap gelagat Yeonghun hendak memarahinya, Alin cepat-cepat memotong.

“Ah! Yeonghun-ssi juga… Apakah masih suka membaca sambil berjalan? Suka berpakaian hitam-hitam? Bagaimana dengan permen kopi? Saya sudah jarang makan permen lemon sekarang…”

Kalimat Alin memudar, saat matanya tak sengaja tertumbuk pada segaris bekas luka pada lengan bawah tangan Yeonghun. Bekas luka itu tak perlu ada jika dulu ia mau sedikit saja mendengarkan larangan Yeonghun.

“Permen kopi? Saya juga sudah lama tidak makan permen. Tidak disangka, kamu ingat sedetail itu.”

Alin tersenyum sendu. Tak pernah sekalipun Yeonghun menyalahkan dirinya atas luka itu.

“Tentu saja…” Alin menunduk lagi. Lanjut menggambar. “Saya tidak akan lupa, Yeonghun-ssi sudah banyak membantu saya… mengajari saya untuk tidak egois, mengajari saya Kibon Pumse, mendorong saya untuk memakai kerudung ini, mempertemukan saya dengan dunia menggambar…”

Beberapa butir airmata Alin jatuh. Ia menyekanya, lalu menyeringai lebar pada Yeonghun.

Yeonghun terhenyak. Cukup terkejut mendapati reaksi Alin. Karena tak tahu harus bereaksi bagaimana, ia hanya mendesis lembut.

“Seseorang berubah karena ia punya kemauan untuk berubah. Setelah tiga tahun, Alin-ssi kelihatan lebih dewasa sekarang. Pasti, sudah banyak hal yang saya lewatkan. Tidak menyangka, Alin-ssi juga bisa tumbuh sedikit lebih tinggi. Meskipun tetap tak bisa melewati bahu saya.”

Alin mencibir. Tersipu jengkel.

“Yeonghun-ssi pikir saya ini kurcaci? Tidak bisa tinggi? Yeonghun-ssi yang terlalu tinggi untuk ukuran manusia. Payah…” Spontan, Alin menjulurkan lidah.

Mweo? Heissh… Gochujang…” Yeonghun menutup bukunya keras-keras dan mendesis jengkel.

Aksi-reaksi yang terlontar barusan membuat Alin dan Yeonghun saling berpandangan, lantas terdiam.

“Hmm… Hahaha…”

“Hmmmph… Hihihi…”

Mendadak, mereka sama-sama menyemburkan sedikit tawa yang sebagian besar tertahan dalam mulut. Suasana merambat menghangat. Matahari pagi terbit di ufuk hati Alin dan Yeonghun. Meski masih canggung, mereka mulai bisa merasakan cairnya keakraban yang pernah hadir tiga tahun lalu. Kerinduan pun mengintip di balik bilik kenangan.

photogrid_1479513821850

==============================

Lanjut baca CHAPTER TWO [Yeonghun-ssi, Annyeong Hasimnikka? 2] >>>  

==============================

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s