Obrolan Matematika dan Dongeng Sejarah


wp-1479390983179.jpg

 

Lazimnya, belajar Matematika itu menggunakan buku pegangan, buku, serta alat tulis. Menurut tips keren dalam artikel, belajar Matematika bisa menggunakan lego, biji-bijian, atau apa saja yang bisa dikreasikan. Begitu pula dengan belajar sejarah. Lazimnya menggunakan buku-buku pelajaran Sejarah, mengunjungi museum, dan menonton film bertema sejarah.

“Aku tidak suka menulis. Aku juga tidak suka lego.” Begitu kira-kira kata anak. “Aku juga tidak begitu suka mengunjungi museum dan menonton film. Suasananya membuat aku merasa tidak nyaman.”

Nah, bagaimana bila cara-cara yang lazim dan cara-cara kreatif yang kita tawarkan dengan semangat ’45 ditolak mentah-mentah? Apa yang harus kita perbuat? Memaksa anak belajar dengan cara kita, atau menangis saja di pojokan kamar?

Kita yang selama ini dididik dengan cara sekolah, begitu amat sulit melepaskan diri dari kotak cara berpikir sekolahan. Hal-hal seperti belajar cuma berlangsung dalam periode jam tertentu dan ruangan tertentu, belajar harus dengan duduk manis dalam ruangan, belajar harus dengan cara menulis dan membaca, menghapal tahun-tahun peristiwa sejarah, serta lain sebagainya. Bukan berarti cara-cara tersebut salah. Yang harus kita bongkar adalah batasan-batasan yang kita buat sendiri dalam proses belajar. Bahwa proses belajar bisa berlangsung kapan saja meski bukan jam sekolah, di mana saja meski tidak dalam ruang kelas, dalam aktifitas apa saja meski tidak sedang duduk manis dan mengerjakan soal, tentang apa saja meski tidak termasuk jenis mata pelajaran dalam kurikulum, dan kepada siapa saja meski tak memiliki sertifikasi sebagai guru.

“Bu, tiga belas dikurangi sepuluh berapa?”

“Menurutmu berapa?”

“Tiga. Oya, kalau di dalam kandang ada sepuluh anjing, terus anjingnya kabur dua, berarti anjingnya tinggal delapan ekor, dong!”

“Hahaha. Iya juga. Kenapa dua anjing itu kabur?”

“Ya… karena mereka takut gelap dalam kandang. Tapi teman-temannya enggak takut, tuh!”

Terkadang, ada anak-anak yang belum menemukan kesadaran akan pentingnya ketrampilan menulis. Ada pula anak-anak yang lebih suka mengasah ketrampilan bicaranya dibanding ketrampilan motorik halus tangan. Itulah fitrah kecepatan belajar dan gaya belajar mereka. Jika kotak ala sekolahan berhasil kita dobrak, maka dalam kondisi tertentu, kita bisa belajar matematika dengan cara mengobrol santai.

“Ibu punya buku baru, lho. Tentang Ki Hadjar Dewantara.”

“Siapa itu?”

“Beliau adalah pahlawan pendidikan Indonesia. Orangnya keren sekali. Ketika semua orang tidak berani maju menerobos kepungan pasukan Jepang di Lapangan Ikada, Ki Hadjar yang pertama kali menawarkan diri.”

“Mau dibacakan, mau, mau!“

“Oke. Nanti sebelum tidur siang ya?”

“Malamnya bacakan dongeng Pak Cethil Menanak Batu ya, Bu?”

“Beres!”

Bila kita telah menyadari urgensi mengikuti fitrah seorang anak, maka kita tidak akan keberatan mengikuti cara ia belajar. Bahkan, ketika aktifitas itu secara lazim tidak digolongkan sebagai aktifitas belajar. Tak mengapa juga bila tidak menyumbangkan nilai bagus dalam rapor anak. Sebab kita sudah menyadari bahwa belajar bukan tentang mengejar nilai-nilai mati.

Belajar adalah tentang seberapa bermakna proses belajar itu sendiri bagi pertumbuhan jiwa anak. Mungkin anak tertinggal dalam ketrampilan berhitung dibandingkan anak-anak lain. Tetapi, anak tahu bahwa Matematika itu bukan mengenai menyelesaikan soal-soal dalam lembaran kertas, melainkan tidak terpisah dari imajinasinya yang kaya dan bersatu dengan kenyataan hidupnya.

Belajar Sejarah juga bukan soal menghapal tahun-tahun dan nama-nama tokoh. Lebih dari itu; belajar sejarah adalah bagaimana kita bisa memasukkan ruh perjuangan masa lalu ke dalam diri kita di masa kini, menghayati pemikiran-pemikiran brilian para tokoh, dan belajar pola-pola peristiwa, supaya kita terhindar dari pengulangan kisah-kisah kelam masa silam.

(Eryani W.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s