TENTANGMU TAK SELALU TENTANG CINTA



photogrid_1478200805465

Sesaat setelah jejaruman air tumpah dari gelayutan awan-awan mendung di langit, hewan-hewan membuat orkestranya sendiri malam ini. Merayakan bau basah tanah di awal musim.

Kung… kong… kung… kong…! Kriik… kriik… kriik…! Weerr… weerr… weerr…!

Suara katak bersahutan dalam parit-parit sawah dan saluran-saluran air desa, perpadu dengan irama gesekan sayap jangkrik jantan yang bersembunyi di pojok-pojok gelap, dan diiringi oleh ributnya laron-laron mengerubungi cahaya lampu neon yang terpasang di rumah-rumah dan jalanan desa. Sesekali, deru sepeda motor menyelingi.

Tetapi, di telinga Embun, suara Ibuk tetap menjadi yang utama. Mereka berdua sedang duduk di ruang tamu berkursi anyaman rotan. Mengobrol sambil sesekali menghalau laron-laron yang beterbangan di dekat mereka.

“Keluarga Pak Sudiro kan bukan orang lain, to? Pak Sudiro itu sahabat Bapakmu. Asal desa kita juga. Dan, kamu juga sudah sering bertemu dengan Jun.” Ibuk duduk di samping Embun, mengelus pelan pundak putri bungsunya yang berusia 24 tahun itu. Beliau menangkap kegelisahan di wajah lembutnya.

“Buk… Aku ketemu Jun cuma pas Hari Raya saja, waktu keluarga mereka mudik ke desa ini. Itu pun juga jarang… Aku ndak begitu kenal Jun… hampir ndak pernah ngobrol…” Embun sedang mengacu pada hubungannya dengan Jun selepas masa kanak-kanak hingga kini. Jemarinya menari-nari gelisah, membelit-belit ujung rambut kepangnya yang tersampir panjang melewati bahu.

“Kok bisa kamu bilang ndak kenal? Waktu kecil, kalian kan sering main bersama, kalau Jun pulang ke sini!” sergah Ibuk. Beliau lupa, hubungan pada masa kanak-kanak dengan hubungan pada waktu remaja dan dewasa punya dunia yang amat berbeda. Bahkan bisa jadi tidak berkaitan.

Embun hanya diam. Bola matanya mengarah ke bawah, seolah tenggelam dalam kantung matanya yang tak pernah mengempis meski tidak sedang menangis. Gara-gara mata sembab itu, Embun sering dikira habis menangis jika sedang lelah.

Pikirannya melayang ke masa lalu. Seperti umumnya anak lelaki, Jun tentu lebih memilih bermain dengan kakak-kakak lelaki Embun daripada dengan dirinya. Bahkan seingat Embun, Jun jarang berinteraksi dengannya, kecuali melontarkan ejekan Ikan Mas Koki – merujuk pada kantung mata Embun yang menonjol.

“Pak Sudiro adalah pengusaha kaya. Tapi, Jun sama sekali ndak mau memanfaatkan kekayaan ayahnya. Ia bekerja mencari uang sendiri sejak SMA. Ndak pernah minta uang jajan pada Pak Sudiro, kecuali untuk keperluan sekolah. Dan sekarang, Ibu dengar, Jun juga sudah sukses bekerja di Ibukota. Kata Pak Sudiro, Jun membuat film dengan teman-temannya.”

Baik Ibuk, Embun, dan Bapak tak banyak tahu tentang pekerjaan Jun. Meski sebenarnya, pernah suatu kala, Jun sering muncul dalam pemberitaan televisi setelah menerima penghargaan perfilman nasional. Tetapi, di keluarga Embun –dan juga di desanya—televisi memiliki porsi amat kecil dalam kehidupan. Seperti Bapak yang lebih suka sibuk mengurusi usaha kerajinan tembikarnya yang merangkul pembeli hingga Eropa, Ibuk yang lebih suka berkutat di dapur dan rumah, Embun yang menghabiskan waktu membaca buku sambil menjaga toko dan berlatih gamelan di Balai Desa, para tetangga Embun juga lebih suka menggarap sawah dan menggembalakan ternak daripada duduk pasif melahap sajian televisi.

“Jun itu anak yang sopan dan mandiri. Di masa depan, dia juga akan mewarisi Kebun Jamur milik Pak Sudiro. Masa depanmu pasti terjamin!” lanjut Ibu bersemangat. “Meski Jun besar di Ibukota dan ndak bisa bicara bahasa Jawa halus, tetapi tindak tanduknya menunjukkan penghormatan kepada orangtua. Njawani! Sewaktu Ibu dan Bapak berkunjung ke rumah Pak Sudiro, Jun langsung sigap membantu membawakan barang-barang dan mengantar Bapak Ibu keliling kota. Pokoknya, hmm!” Ibu mengacungkan jempol. “Ndak seperti anak jaman sekarang yang tahunya cuma menghabiskan uang orangtua, bergaul ndak tahu batas, ndak mengerti tata krama—Gak jowo blas!

Embun mengamati laron-laron tanpa sayap yang berbaris lurus di lantai, saling mengait, seperti seekor ulat. “Mmm… dengar-dengar, dulu Jun pernah diskors oleh sekolah gara-gara terlibat tawuran—” Embun berusaha mengumpulkan memorinya tentang Jun. Mencari-cari celah supaya Ibuk berubah pikiran.

Ibuk tertawa renyah. “Nduk, orang berubah dari waktu ke waktu. Mungkin kejadian itu menjadi pengalaman yang mendewasakan dirinya.”

Embun mengapitkan bibir. Rupanya Ibu sudah mantap memilih Jun sebagai calon menantu. Namun, alasan potensi finansial Jun yang dikemukakan Ibuk malah semakin melemahkan kesan positif Jun. Serta, semakin menjauhkan hatinya dari kata setuju.

“Tapi…, aku ndak punya perasaan apa-apa pada Jun… Aku juga bukan perempuan mata duitan… ” ucapnya lirih.

“Lha terus, kamu mau menikah dengan siapa? Galih?” sahut Ibuk gusar, diiringi suara beberapa ekor laron yang tersengat panas lampu secara bersamaan.

Terbayang di benak beliau seorang pemuda sepantaran kakak kedua Embun, berpenampilan lusuh, serampangan, dan tidak jelas masa depannya. Ibuk tahu, ada sesuatu yang istimewa antara anak perempuannya dan pemuda itu. Tetapi, selama ini, hubungan mereka tidak pernah melampaui batas pertemanan dan hubungan baik antar tetangga. Jadi, beliau membiarkan saja.

MasMas-mu sudah menikah. Sekarang tinggal kamu, Nduk… Apalagi yang kamu tunggu?” Ibuk menatap Embun prihatin.

“Buk… aku kan sudah bilang, paling lambat akhir Desember ini, Mas Galih akan kemari…” Embun tetap menjaga rendah nada suaranya, meski hatinya mulai bergolak. Kemudian, meletakkan kepalanya di pangkuan Ibu. Ia teringat isi surat terbaru dari Galih dua bulan lalu.

Tolong sampaikan ke Bapak Ibu kalau saya dan keluarga mau sowan ke rumah, untuk melamar Dik Embun. Rencana saya, sebelum akhir tahun ini. Hati Embun melonjak senang waktu itu.

Ibuk menghela napas. Beliau menyadari emosinya sedikit lepas tadi, karena mendapatkan perlawanan kecil dari anak perempuannya. Memang, tidak biasanya, Embun membantah perkataan orangtua.

Beliau mengelus-elus rambut Embun. “Ibu mengerti, Galih juga anak yang baik. Tapi, apa kamu yakin, Galih akan datang kemari? Bahkan kamu sendiri ndak tahu dia sedang berada di mana sekarang.” Nada suara beliau terdengar prihatin.

Embun mengangkat kepala. Tampak binar-binar di matanya yang sembab. “Mu-mungkin di tengah samudra? Aku pernah cerita kan, kalau dia bergabung dengan Green Peace1? Atau mungkin, dia sedang di tengah hutan? Menyelamatkan seekor binatang langka yang tinggal satu-satunya di dunia ini. Dia kan juga pernah menjadi aktivis WWF2…”

“Apa kamu sudah siap menikah dengan orang semacam Galih? Maksud Ibuk, dunia Galih itu adalah dunia penuh gerak dan resiko. Kemungkinan, kamu akan banyak melewatkan hari-harimu tanpa suami. Bulan ini, dia akan berada di hutan. Bulan berikutnya, dia akan berada di laut. Bulan-bulan yang lain, mungkin dia sudah ada di Kutub Utara. Kamu siap dengan kehidupan seperti itu?”

Embun menyimpan bibirnya ke dalam mulut. Ada rasa pahit terselip mendengar pemaparan Ibu.

Benar. Kenyataan seringkali terlalu menyakitkan bila dihadapi. Mungkin itulah sebabnya, banyak orang memilih menutup mata akan kenyataan dan asyik dalam imaji yang diciptakannya sendiri. 

“Nduk, sampai kapan kamu menunggu? Seminggu lagi sudah tahun baru. Ingat, umur seorang wanita tidak membeku dalam penantian.”

Embun mengangguk kosong. Kata-kata Ibu benar adanya, tetapi sangat berlawanan dengan kehendak hatinya.

“Saran Ibu, mengobrollah dulu dengan Jun sebelum kamu memutuskan.”

Usai berbincang dengan Ibu, Embun masuk ke dalam kamar, meraih setumpuk foto yang disimpannya dalam laci terkunci. Satu persatu foto ia pandangi lekat-lekat.

Lembaran-lembaran foto itu mengisahkan pemandangan-pemandangan indah dari berbagai belahan alam. Matahari terbit dari kaki gunung Bromo yang megah berkabut, lautan biru cerah berpermukaan kaca bening di pantai pulau Belitung yang dikelilingi bebatuan raksasa, hutan hijau asri berpenghuni suku dalam Kalimantan — kesemuanya menjadi latar seorang pemuda tegap berkulit legam dengan rambut panjang kusam yang diikat sekenanya. Gayanya selalu sama. Melipat tangan di depan dada membusung sambil tersenyum lebar penuh kepuasan. Setiap akhir petualangannya, pemuda itu selalu pulang membawa selembar foto untuk ditunjukkan kepada Embun. Dan, pada ujungnya, percakapan mereka akan selalu bergulir begini.

“Wah, pemandangannya bagus sekali, Mas Galih!”

“Kalau suka, fotonya buat kamu.”

“Benar? Terimakasih, ya…”

Tetesan airmata mengenai foto-foto Galih. Buru-buru, Embun mengambil tisu, mengusap-usap permukaan kertas foto. Penuh kehati-hatian. Takut kalau-kalau foto-foto itu akan rusak karena basah.

Seandainya tidak ada perjodohan ini, ia akan tetap menunggu Galih. Tak peduli, meski tahun-tahun akan berganti; karena Galih adalah gambaran terbaik Embun tentang sosok lelaki idaman. Tetapi, sekarang, hatinya benar-benar terbelah dua. Antara mematuhi orangtua dan kecenderungan perasaannya sendiri.

Embun mengambil sebuah bola dunia kecil yang terbuat dari kuningan yang tadinya terletak di atas meja. Benda unik itu adalah hadiah dari Galih sewaktu pulang dari luar kota. Bola itu berputar pelan pada porosnya saat jemari Embun menyentuh dengan lembut.

Desember… Desember…

*****

“Ayah–tidak bercanda, kan?”

Suara seorang lelaki muda terdengar meninggi di ruang keluarga sebuah rumah besar bergaya campuran etnik dan moderen. Ia terhenyak di sofa panjang, terkejut mendapatkan kabar yang dibawa ayahnya, Pak Sudiro – seorang lelaki berambut putih yang sekarang duduk di sofa kecil di sebelahnya.

Pemuda itu, Jun. 24 tahun. Berhidung mancung besar seperti paruh burung, dengan pipi agak berisi dan bibir penuh berwarna merah gelap, melengkapi wajahnya yang bersih. Kepalanya tertutup rambut pendek yang berdiri-diri dibalut gel. Alis tegasnya menaungi sepasang mata yang menyorotkan polah semau gue dan tak bisa diam. Dan bila ditilik dari gayanya, jelaslah ia seorang pemuda yang memperhatikan cara berpenampilan — khas pemuda metropolitan.

“Memangnya, ada yang salah dengan pilihan Ayah? Embun itu gadis yang lembut dan anggun. Cocok untuk mengimbangi sifatmu yang keras. Kalau ibumu masih hidup, dia pasti juga setuju!” Pak Sudiro tertawa penuh kemenangan.

Jun dan ayahnya seringkali bersilang pendapat. Terkadang ayahnya yang terbukti benar, dan terkadang Jun yang menang argumentasi. Namun hari ini mati-matian Jun menahan rasa jengkelnya yang meluap, karena kalah posisi sebagai anak.

“Aku mengerti! Tapi kan – aku pikir…” Jun berlutut di depan Pak Sudiro. “Dia bukan tipeku…”

Terbayang seorang gadis pemalu, berambut kepang sepinggang, mengenakan rok lipit biru tua sampai bawah lutut, memakai blus putih. Jun tidak mengerti kiblat fashion-nya. Terlalu kuno untuk seorang gadis muda. Meski harus diakui bahwa senyumnya lumayan manis.

Tipe piye to maksudmu, Jun?! Apa maksudmu dengan tipe?! Mau dapat istri apa dapat pacar? Jangan aneh-aneh, lho! Kita sudah sepakat bahwa kamu akan menikah tahun ini dan menggantikan Ayah mengelola Kebun Jamur! Kondisi Ayah sudah tidak mungkin—” Mendadak napas Pak Sudiro berubah tersengal-sengal.

“Aku–” Hampir saja Jun membantah keras. Untung ia segera tanggap terhadap gelagat gawat ayahnya. Dengan tergesa-gesa, Jun mengambilkan segelas air putih. Mengabaikan perasaan tertekannya karena perjodohan ini.

Setelah memastikan Pak Sudiro bernapas lebih teratur usai menghabiskan air yang dibawakannya, Jun melanjutkan kata-kata dengan suara lebih pelan.

“Aku percaya pilihan Ayah… aku akan menemui Embun. Ayah atur saja.” ucapnya takzim. Berusaha berkompromi untuk mengurangi kekacauan sistem peredaran jantung ayahnya. “Tapi… tentang Kebun Jamur… Aku…”

“Jun… Ayah juga suka film. Masih ingat, dulu kita sering menonton film di bioskop? Jadi, jangan kira Ayah tidak memahami kecintaanmu terhadap dunia ini.” Pak Sudiro memutar-mutar telapak tangan pada dada kiri, lalu menarik napas panjang guna meredakan rasa berat di dada. “Kamu sudah cukup bersenang-senang dengan dirimu sendiri. Sudah waktunya kamu belajar mendedikasikan diri untuk orang lain. Ada banyak orang yang menggantungkan kehidupannya pada Kebun Jamur. Apa yang Ayah lakukan selama ini, dan apa yang akan kamu teruskan kelak, bukan sekedar untuk mencari nafkah. Tetapi juga, memberikan sumber nafkah bagi orang lain.”

Beribu resah berputar di dalam benak Jun. Terbayang senyum puluhan pekerja menyapanya di Kebun Jamur, sewaktu ia datang berkunjung. Meski tak terkatakan, Jun bisa merasakan; senyum-senyum itu berusaha mengungkapkan rasa terimakasih, dan pasang-pasang mata pasrah itu menatapnya dengan sejuta harapan akan keberlangsungan kehidupan keluarga mereka.

Jun tercekat. Nuraninya amat terusik. Kesehatan ayahnya dan harapan para pekerja itu tak meninggalkan pilihan lain bagi dirinya.

*****

Bulan Desember benar-benar berakhir tanpa ada kabar dari Galih. Mematahkan harapan Embun akan kedatangan orang yang memegang kunci hatinya itu untuk menemui Bapak Ibuk.

Nrimo ing pandum. Pasrah kepada gerakan pendulum takdir. Itu yang dilakukan Embun.

Jika ia masih ingin hidup damai, tak ada pilihan selain belajar melepaskan perasaannya terhadap Galih. Oleh karena itu, ia semakin menyibukkan diri dengan kegiatan gamelannya di Balai Desa, membuat beberapa pertunjukan musik kecil dengan teman-temannya, dan membantu Bapak di workshop tembikar. Setiap teringat Galih, Embun mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ketika terkenang Galih, Embun mengambil air wudhu dan sembahyang. Saat hatinya berdesir untuk Galih, Embun meraih kitab sucinya dan membacanya dengan lantunan terbaiknya.

Meski Embun memiliki perasaan yang peka, tetapi ia bukan jenis orang yang bersedia dipermainkan perasaan dan angan-angan terlalu lama. Boleh jadi, seorang perempuan mudah menangis dan tersakiti. Tetapi, perempuan itu selalu tahu bahwa ia harus tetap tegar untuk dirinya sendiri dan orang-orang yang mencintainya. Dan, itulah Embun.

Awal Januari adalah masa-masa tersulit baginya. Akhir Januari adalah awal baru. Embun menyetujui permintaan Ibuk untuk mengundang Jun dan ayahnya berkunjung ke rumah. Guna membicarakan ‘hal yang telah tertunda’.

Stasiun kereta api yang terletak perbatasan desanya, menjadi tempat dimulainya takdir Embun. Pada salah satu lajur rel, berhentilah sebuah kereta api kelas eksekutif dari Ibukota. Seseorang keluar dari salah satu gerbongnya.

Jun telah tiba.

Pemuda tampan yang memakai t-shirt biru bergaris dipadu luaran rompi putih itu berjalan penuh percaya diri dengan dagu sedikit terangkat, sewaktu keluar dari gerbong kereta api. Tetapi, begitu melihat sosok Bapak Ibuk yang menjemput bersama Embun, gaya soknya menghilang. Seolah menjadi orang yang berbeda, ia sedikit membungkukkan punggung dan lehernya dengan hormat, kemudian mencium tangan Bapak Ibuk, dan berbicara penuh sopan santun.

“Pakdhe, Budhe; maaf, Ayah menyusul kemari nanti sore. Masih ada janji dengan pelanggan.”

Namun, saat melihat Embun, ekspresinya berubah lagi. Jun tersenyum usil, sambil melewati dirinya menuju mobil Bapak. “Hey, … Ikan Mas Koki.

Embun menyudutkan bibirnya ke atas. Kaget dan sebal mendengar sapaan Jun. “Mungkinkah ada tiga macam Jun di dalam sana?” Hatinya terus bertanya.

Sampai di rumah, usai beramah-tamah, Bapak Ibuk mempersilahkan Jun dan Embun untuk berbicara secara pribadi di ruang tamu.

“Bun, sebelum bicara, aku ada satu permintaan.” ucap Jun, setelah mengobrol ngalor-ngidul tentang masa kecil mereka untuk mencairkan suasana yang tegang.

“Ya?”

Ternyata, perhitungan Embun masih kurang. Masih ada macam Jun yang lain lagi. Tenang dan berwibawa.

“Hari ini, anggap aku adalah sahabatmu. Aku juga akan menganggapmu sebagai sahabatku. Aku tahu, kita tidak akrab. Tapi, jika hari ini kita tidak jujur dan terbuka terhadap satu sama lain, maka hari ini akan menjadi hari yang akan kita sesali di masa depan. Dan aku—tidak mau menyesal.” Dengan lancar, Jun melontarkan kalimat-kalimat yang telah dipikirkannya baik-baik selama beberapa hari.

Sahabat? Permintaan Jun berada di luar jangkauan estimasi Embun. Ia pikir, Jun akan membangga-banggakan dirinya sendiri dan keluarganya untuk meyakinkan Embun akan perjodohan ini. Embun tidak menyiapkan tangkisan apapun, selain satu kalimat pamungkas: maaf, aku tidak bisa menyetujui perjodohan kita. Bagaimanapun, ia masih enggan menikah dengan orang yang tidak ia cintai. Dan mungkin saja juga tidak mencintai dirinya.

“Baiklah.” Embun tak mampu menolak. Bukan hal yang buruk. Batinnya.

“Baiklah.” sahut Jun. Terdengar mengulang perkataan Embun. “Apakah kamu menerima perjodohan kita?”

Embun terdiam. Pertanyaan Jun bagai sebuah serangan terbuka.

“Aku… belum memutuskan.” lanjutnya ragu. Embun memasang perisainya. Di balik perisai itu, ia memarahi dirinya sendiri. Bukankah ini kesempatan emas untuk menolak? Mengeluarkan kalimat pamungkas?

Jun mengangkat alis, bisa menangkap kegelisahan gadis yang tengah duduk di depannya itu.

“Supaya kamu tahu, aku bukan jenis orang yang suka diatur-atur. Terutama perihal dengan siapa aku menikah.” Jun mengambil napas. “Tapi, aku menerima perjodohan kita. Bahkan, sebelum aku bicara denganmu. Karena–” Jun terhenti. Seperti menahan sesuatu di bibirnya. “Aku ingin melihat ayahku bahagia.”

“E-eh… oh… ngg… Begitu ya…” Embun tergagap. Rupanya, Jun dalam pikirannya selama ini tidak sama dengan Jun di dunia nyata. Jun yang ini mulai membuatnya terkesan.

“Aku merasa, selama ini aku telah banyak menimpakan kesusahan pada ayahku. Sampai sakit jantung seperti sekarang… pasti itu juga gara-gara aku. Karena aku ini paling susah dinasehati. Hahaha.” Jun tertawa kecil. Lalu mendesah pelan. “Aku tahu, pasti sangat sulit membesarkan aku sesudah ibuku meninggal– kasih sayang Ayah kepadaku takkan sanggup aku lunasi.” Air mukanya berubah sedih.

Embun merasa tertampar.

Jun sama seperti dirinya. Keberatan dengan perjodohan ini. Bedanya, ia mau menerima, karena ingin berbakti kepada sang ayah. Sedangkan dirinya? Malah bertekad menolak; tanpa memikirkan betapa ia tak akan mampu membalas kasih sayang yang telah diberikan oleh orangtuanya. Bahkan, menjadi anak penurut seumur hidup pun tak akan mampu melunasinya.

“Tolong simpan ini sebagai rahasia. Aku menceritakannya padamu, karena hari ini kita adalah sahabat. Dan, tolong jangan menangis—apa kamu bisa?”

Embun mengangguk-angguk. Jemarinya menyeka pipi yang tanpa sadar dialiri oleh airmata. “Maaf…”

Titik pembicaraan itu telah menyentuh hati Embun.

Keterbukaan Jun memang membuat Embun jengah, karena ia tidak terbiasa berkomunikasi secara terang-terangan kepada orang lain, selain keluarganya. Tetapi, rasa jengah itu pelan-pelan berkompetisi dengan perasaan lain di hati Embun. Perasaan lega.

Hati Embun menjadi sedikit ringan. Ia siap untuk terlibat pembicaraan yang lebih jauh lagi dengan Jun hari ini.

“Jun…, kamu punya bayangan apa tentang keluarga?” kata Embun memberanikan diri untuk membuka topik baru, setelah beberapa topik di awal pembicaraan selalu berasal dari Jun.

“Mmm…” Jun berpikir sejenak, lalu menatap gadis itu lurus-lurus. “Keluarga adalah tempat pulang dari hiruk pikuk dunia luar. Hmm…, tunggu. Ada lagi. Anak-anak nakal yang suka menaiki punggung ayahnya, berteriak-teriak ribut, memberantakkan rumah, dan memakan lahap masakan ibunya. Rumah yang ramai, tetapi di dalamnya penuh kedamaian. Kamu?”

“Sepertinya, akan menguras banyak tenaga… Hehehe… ” Embun membuang pandangan ke arah ubin-ubin lantai yang kuning kusam termakan gesekan alas kaki. Menyembunyikan ekspresi terkesan oleh penjelasan Jun tadi. “Keluarga yang manis…”

“Jadi, kamu juga suka ide itu? Haha. Ternyata, kamu cukup…” Jun memutar bola mata, mencari kata yang tepat. “… menyenangkan.”

Jun berdehem keras. Merasa malu atas kata-katanya sendiri tadi. Embun juga tampak tersipu.

Setelah jeda kecil itu, Embun membuka percakapan kembali. “Kalau aku, Jun. Aku ingin keluarga yang ayem tentrem… Dalam ke-ayem-an dan ke-tentrem-an itu, kita bisa menemukan hening… Dan, dalam hening, kita bersama-sama menemukan kedekatan dengan Sang Pencipta…”

Jun terkisap. Puluhan ekor semut seolah merayapinya dari tangan, kaki, menuju wajah. Bisa jadi, Jun salah lihat waktu itu. Tapi, raut Embun tampak berbeda dari semula. Sepasang mata ikan mas koki itu menjadi sebuah telaga yang bening dan sejuk.

“Kalau aku…” Jun berusaha menguasai perasaan ganjil yang menyelinap dalam hatinya. “Ah, ya. Itu—ide yang bagus. Filosofis sekali.” Ia mengusap wajah. “Ya. Aku sependapat dengan kamu. Ya, tentu saja…” Otaknya berusaha keras mencerna kata-kata Embun. Seakan tadi Embun berbicara dengan bahasa asing yang tidak ia pahami.

“Tapi, Jun. Aku tidak tahu caranya.” Embun memutar-mutar ujung rambut kepangnya dengan gelisah. “Aku rasa, konsep keluarga yang kamu miliki bisa menerjemahkan konsep yang aku punya. Bukankah… kita memiliki tujuan yang sama? Kedamaian dalam keluarga…”

Jun tersenyum simpul. “Maksudmu, kamu mau aku yang jadi suamimu?”

Kening Embun berkerut tak mengerti. Namun, wajahnya segera bersemu ketika menyadari penafsiran tersembunyi dari kalimatnya barusan. Sesuatu yang menurut Jun, sama sekali di luar maksud gadis itu. “Ah—bukan begitu—tidak, kok… tidak…” Embun tergagap.

“Jujur, aku terkesan dengan kata-katamu tadi. Tapi, aku masih harus banyak belajar untuk menerjemahkan konsepmu.” Jun mencondongkan tubuhnya ke arah meja marmer yang terletak antara dirinya dan Embun. “Aku rasa, hubungan persahabatan ini harus diperpanjang supaya kita bisa lebih saling memahami. Bagaimana?”

Embun menunduk. Tersipu mengangguk. Ia tak menyangka, pembicaraan mereka berlangsung begitu lancar, hingga secara natural bermuara pada kehendak kedua orangtua mereka, yaitu pernikahan. Obrolan ini, situasi ini, chemistry singkat antara dirinya dan Jun, seperti puzzle-puzzle yang diletakkan pada tempatnya. Ada desain tertentu yang sedang berjalan di luar kehendak dirinya.

Jun sendiri mendapatkan semacam perasaan jernih dalam pertemuan ini.  Ia pernah mengalaminya; sewaktu menangis hebat di depan makam ibunya, dan tiba-tiba di ujung air matanya, perasaan itu datang menyeruak. Seolah ada gemericik sungai sejuk di telinganya. Setelah itu, rasa kehilangan akan seorang ibu tak lagi menguasai hari-harinya. Hari ini, perasaan itu terulang kembali berkat gadis yang ia sebut ‘bukan tipeku’ ini.

“Bun, aku tahu. Kita memang tidak saling mencintai. Setidaknya, kita tidak saling membenci. Benar, kan?”

Embun yang dari tadi tampak canggung dan malu-malu, tiba-tiba menatap Jun secara langsung, dan mengangguk yakin. “Aku memang masih merasa asing denganmu. Tapi, aku tidak membencimu. Seperti yang sudah kita bicarakan tadi; kita berniat baik untuk membahagiakan orangtua dan berniat baik untuk membangun sebuah keluarga. Aku yakin… benih kebaikan akan menumbuhkan pohon dan buah kebaikan juga.”

Graakkk! 

Kaki-kaki kursi Jun berderak akibat bergesekan dengan ubin. Rupanya, pemuda itu berdiri mendadak dan menjura sejenak. Menunjukkan salut terhadap kata-kata Embun barusan. Kemudian, ia duduk kembali, menyahut penuh semangat.

“Ha! Dan juga, ayahku bilang; witing tresno jalaran soko kulino…” ucapnya kagok. Disambut oleh tawa geli Embun.

Pepatah tua itu. Pepatah yang telah dilupakan banyak orang. Bahwa cinta bisa tumbuh karena telah terbiasa mengarungi kehidupan bersama-sama. Sama suka. Sama duka. Sama rasa.

“Ah iya. Ada satu lagi. Kebun Jamur ayahku punya banyak pekerja. Aku tidak ingin mereka terlalu bergantung pada Kebun Jamur. Ini semacam misi sosial, untuk kepentingan mereka, bukan aku. Nah, caranya itu yang aku masih meraba-raba…”

“Aku bisa membantu, Jun. Bapakku selalu mendorong para pekerjanya untuk mandiri dan kalau bisa membuka usaha sendiri. Sedikit banyak, aku tahu gambarannya.”

“Benarkah? Mantap, deh! Kupikir aku akan pusing sendirian menghadapi masalah ini. Ayahku memang tidak salah memilih calon menantu…”

“Jun… sudah…”

“Iya, iya… Nggak usah pakai nangis begitu.”

“Aku ndak nangis, kok!”

“Tapi matamu… Hahaha… ”

“Mataku memang begini sejak lahir, Jun. Jangan mulai, ya… ”

“Ikan Mas Koki…”

“Jun!”

Langit di luar semakin memerah, tanpa gelayutan awan. Angin sejuk telah meniupnya entah kemana. Di ujung sore itu, Embun menitipkan ucapannya untuk Galih melalui hembusan angin.

Mas Galih, tentangmu selalu tentang cinta. Begitu indah, namun sayang hanya di awang-awang tanpa kepastian kapan hendak membumi. Aku harus mengucapkan selamat tinggal pada angan dan menyapa kenyataan. Ini bukan tentangmu lagi. Ini tentang Jun. Kami tak memiliki cinta seperti yang kita miliki. Tapi, kami akan menumbuhkannya. Bersama. 

(Eryani W.)

Keterangan:

1 Green Peace: Organisasi independen yang aktif melakukan aksi-aksi penyelamatan lingkungan global.

2 World Wildlife Fund: Organisasi nirlaba yang mengusahakan perlindungan terhadap satwa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s