HAPPILY (NOT) EVERAFTER: Chapter One (Part 4)


wp-1477882813928.jpg

============================

ArtiKata>> Dojang: tempat latihan Taekwondo; Sabeomnim: sebutan untuk pelatih Taekwondo; Saseongnim: sebutan untuk grandmaster Taekwondo; Sabeom: sebutan untuk asisten pelatih; Jeondaetmal: (tingkat) bahasa formal; Banmal: (tingkat) bahasa informal; Joesunghamnida: maaf (formal); Ajussi: paman, sebutan untuk lelaki berusia matang

============================

Laras tak mengada-ada. Alin melihat kehadiran dua orang tamu dari Korea Selatan yang disertai oleh seorang penerjemah berkebangsaan Indonesia. Kedua tamu itu datang dari sebuah dojang ternama di Seoul; seorang grandmaster Taekwondo, dan seorang instruktur kepala sebagai pendamping beliau. Mereka sedang mengadakan tur ke beberapa kota di Indonesia, mengunjungi dojang-dojang*, ingin menyaksikan sendiri perkembangan Taekwondo di negeri ini.

“Nama beliau adalah Park Byungseok. Kalian bisa memanggil beliau dengan sebutan Park-Saseongnim atau Saseongnim* saja.” Awang-Sabeomnim membuka perkenalan pada para Taekwondo-in yang tengah duduk rapi. “Park-Saseongnim pernah jadi kapten polisi, ikut pelatihan FBI, dan menang dalam sebuah kejuaraan beladiri tingkat Asia!”

Alin dan Laras saling berpandangan. Kagum.

“Ras, Ras! Coba hitung stripnya!” bisik Alin. “Satu… dua… tiga.. empat… ha? Jadi, Park-Saseongnim itu Dan 9?!”

Dari jumlah garis-garis putih pada sabuk hitam yang Park-Saseongnim kenakan saja, Alin sudah bisa membaca kehebatan beliau. Suatu saat nanti, ia juga ingin memakai sabuk hitam dengan banyak strip putih seperti itu. Betapa bangga dan senangnya!

“Top banget, kan!” bisik Laras. Mereka berdua saling berpandangan kagum. “Tahu nggak? Waktu mendengarkan penjelasan penerjemah tadi tentang sebutan ala Korea, aku jadi ingat Yeonghun-Sabeom. Seperti Park-Saseongnim, seharusnya dulu kita memanggil dia Kim-Sabeom. Iya nggak? Eh, ngomong-ngomong, kenapa dia nggak ikut kemari ya, Lin?”

“Eh…? Y-yah… mana aku tahu? Belum tentu mereka satu dojang dengan Y-Y-Yeo–” Alin terhenti. Menghembuskan udara dari gembungan kedua pipinya. Sudah lama Alin tidak menyebut atau memikirkan nama itu. Ia sudah mengikhlaskan pemuda Korea itu pergi. Namun, gara-gara pertanyaan Laras, perasaannya jadi terusik kembali. “Ah, sudahlah. Jangan bahas dia!”

“Ish! Ada apa nih…? Sudah lama aku penasaran berat dengan hubungan kalian berdua. Di dojang seperti anjing dan kucing; tapi kelihatan banget kalau dulu kalian sama-sama care. Apakah kalian putus, gara-gara Yeonghun-Sabeom pulang ke Korea?” Laras mengedik-ngedikkan alisnya beberapa kali.

“Putus apanya? Kami nggak sampai jadian, kok!”

Nggak sampai--? Uwaah! Jadi benar kan, dulu kalian berdua saling suka? Aih, manisnya… ” Laras mencubit pipi Alin dengan gemas.

“Bu-bukan begitu– aduh…” Wajah Alin terasa terbakar oleh rasa malu. Ia bermaksud menutupi kisah masa silamnya dengan Yeonghun. Tetapi karena jawabannya terlalu polos, rahasia itu malah terbongkar.

“Dengarkan! Dengarkan! Park-Saseongnim punya sebuah pengumuman penting buat kalian semua!” Awang-Sabeomnim menepuk-nepuk tangan dengan keras hingga beberapa kali untuk mendapatkan perhatian semua murid.

Park-Saseongnim kemudian angkat bicara. Nadanya tegas, optimis, dan mengesankan keramahan yang tak dibuat-buat. Meski tak mengerti arti pembicaraan Park-Saseongnim, para murid tetap bisa menangkap bahwa beliau sedang menyampaikan kabar baik. Berbeda dengan Alin. Ia sedikit banyak bisa menangkap maksud beliau.

“Program… persahabatan?” gumamnya.

“Apa Park-Saseongnim bilang? Maksudnya apa?” tanya Laras penasaran.

“Aku tidak begitu jelas. Sesuatu tentang… persahabatan… dan mengundang kita latihan di dojang Saseongnim…” Alin mencoba meraba-raba makna tiap kata yang diucapkan Park-Saseongnim.

“Ke Korea Selatan?!” Laras terbelalak. Disambut anggukan Alin dengan ekspresi sama terkejutnya.

Benarlah perkiraan mereka berdua. Setelah sang penerjemah menerangkan maksud Park-Saseongnim, sontak seisi gedung menjadi riuh!

Baru saja mereka paham bahwa tujuan beliau datang kemari adalah ingin mencari satu orang Taekwondo-in Indonesia di setiap daerah yang dikunjungi. Bila sudah terkumpul, mereka akan diajak berlatih bersama di dojang beliau selama satu minggu. Biaya transportasi, termasuk tiket pesawat terbang pulang-pergi dan akomodasi lain selama di Korea Selatan akan ditanggung penuh oleh panitia.

Undangan ini merupakan bagian dari program persahabatan yang digagas oleh dinas pariwisata Korea Selatan, bertujuan untuk mempromosikan budaya Korea beserta keindahan negerinya pada orang Indonesia.

“Yang tertarik ikut, maju ke depan semuanya!” seru Awang-Sabeomnim tanpa basa-basi. “Peragakan gerakan terbaik kalian, dan katakan langsung pada Park-Saseongnim mengapa beliau harus memilih kalian!”

Sekitar sepuluh orang mengacungkan tangan; termasuk Alin.

“Kamu bisa berbahasa Korea?” tanya Park-Saseongnim, ketika giliran Alin untuk memperkenalkan diri tiba. Beliau senang mendapatkan sebuah kejutan kecil yang menarik.

“Mmm, hanya sedikit.” Alin tersipu malu.

“Hm, bagus, bagus. Saya suka. Sekarang, silakan berikan alasan yang kuat supaya kami memilihmu untuk berlatih bersama di Korea Selatan.”

Alin terdiam. Tiba-tiba saja pikirannya blank. Ia tak tahu hendak berkata apa. “Eeh… nggg…”

Lin, tahu apa yang menjadi kekuatanmu?

Mmm… apa itu, Pak?

Kesungguhan hati dalam menjalani apa yang kamu cintai, serta ketekunan dalam berjuang menghadapi tantangannya.

Potongan pembicaraan bersama Bapak di Toko Ijo mengalun tenang dalam memori Alin. Membimbingnya untuk menjawab.

“Per… pertama kali memenangkan sebuah pertandingan Taekwondo, saya merasa sangat hebat.” Alin meremas ujung sabuk Taekwondo warna merah yang dikenakannya. Suaranya terdengar bergetar. Jantungnya berdetak keras sekali. Selain merasa konyol mendengar suaranya sendiri bergema di aula, tatapan tajam Park-Saseongnim, instruktur kepala, serta kerutan dahi sang penerjemah cukup mengintimidasi ketenangan Alin. Jadi, ia memutuskan menatap kening ketiga orang itu saja, guna menghindari kontak mata.

“Lalu, ketika ada seseorang yang mengalahkan saya… Saat itulah saya sadar, ternyata ada banyak orang yang lebih hebat dari saya dalam Taekwondo. Saya sempat kecewa pada diri saya, mengapa begitu lemah sehingga mudah dikalahkan orang. Anehnya, dengan perasaan kecewa itu, saya masih saja datang ke dojang dan tetap tekun berlatih.”

Aula menjadi hening. Seolah, selain para manusia, jendela-jendela, pintu, lantai, atap, alat-alat latihan, juga menyimak setiap kalimatnya.

“Semua peserta menceritakan kehebatannya dalam memenangkan pertandingan. Mengapa kamu malah menceritakan kekalahanmu?” tanya Park-Saseongnim.

“Karena ternyata menang-kalah itu sama saja. Tidak peduli apapun hasil pertandingannya, saya tetap suka berlatih Taekwondo. Saya berlatih, tidak untuk menjadi yang terhebat dan mengalahkan orang lain. Saya melakukannya, hanya karena saya sangat menyukai Taekwondo. Itu saja. Seperti saya menyukai segelas es jeruk di hari yang panas. Saya harap, Saseongnim bersedia mengajari saya banyak hal lagi tentang Taekwondo, supaya saya lebih menyukainya dan menjadi lebih giat berlatih!”

Alin mengakhiri kata-katanya dengan bungkukan tubuh sembilan puluh derajat.

Park Saseongnim tampak tersenyum lebar. Bahasa Korea Alin masih mengandung banyak kesalahan di sana-sini, seperti kosakata jondaetmal yang campur aduk dengan banmal, namun maksudnya tetap dapat dipahami. “Siapa yang mengajarimu bahasa dan tata krama Korea seperti ini?”

“Eh… saya belajar bahasa Korea lewat internet. Dan… mmm… sebenarnya, saya punya keluarga di Seoul. Kakak lelaki saya menikah dengan perempuan Korea.”

Park-Saseongnim mengangguk-angguk. Tapi, reaksi beliau tidak menjamin apa-apa. Toh, beliau juga mengangguk-angguk pada setiap peserta. Menilik alotnya proses rembukan antara Park-Saseongnim dan sang instruktur kepala, Alin tahu bahwa kesempatannya untuk terpiih sangat tipis. Para peserta lain memiliki prestasi dan kemantapan jurus yang jauh lebih baik dari dirinya. Ia hanya bisa memejamkan mata dan berdoa supaya hatinya cukup lapang untuk menerima kekalahan ini.

Sabar… syukur… sabar… syukur… bisiknya pada diri sendiri. Mencoba meredam gelora ambisi untuk terpilih.

“Hem! Hem! Mohon perhatian semua!” Akhirnya sang penerjemah menggemakan kembali suaranya, memecah gumaman para Taekwondo-in yang mengobrol lirih seperti dengungan ratusan lebah. “Nah, sekarang ijinkan saya mengucapkan selamat pada…. Anindya Lintang!!”

Alin menoleh cepat pada Laras. Mereka berdua sama-sama ternganga gembira, lalu berpelukan heboh. Dalam pelukan Laras, riuhnya ucapan selamat, dan tepukan-tepukan mantap di bahunya, Alin berseru dalam hati.

Aku mengerti… inilah mengapa Allah seolah mempersulit aku untuk mendapatkan pekerjaan!

Tidak, tidak, tidak. Aku salah. Allah tidak mempersulit aku… Malah, Allah memudahkan aku… Supaya aku tidak terikat tanggungjawab pekerjaan apapun dan bisa bebas pergi ke Korea Selatan!

Alin merasa, kali ini, ia berhasil membuka bingkisan dari Allah dan menemukan mutiara hikmahnya.

Korea Selatan, aku dataaaangg! [ ]

============================

Lanjut baca CHAPTER TWO [Yeonghun-ssi, Annyeong Hasimnikka? 1] >>>  

============================

photogrid_1477913868380

Enter a caption

 

Advertisements

2 thoughts on “HAPPILY (NOT) EVERAFTER: Chapter One (Part 4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s