HAPPILY (NOT) EVERAFTER: Chapter One (Part 3)


A GIFT UNWRAPPED

photogrid_1477299693946

==============================

ArtiKata>> Annyeong haseyo: apa kabar; Joahaeyo: suka

==============================

Satu bulan sebelumnya.

“Maaf. Petugas pembersih toilet di tempat kami minimal harus berijazah SMA, Dik. Meskipun bisa membersihkan toilet sampai mengilap, tapi kalau tidak punya ijazah untuk memenuhi syarat administrasi, Adik tidak bisa melamar kerja di sini.”

Di balik meja, pegawai personalia supermarket itu menatap Alin dengan raut geli, agak meremehkan. Lelaki itu menolak, bahkan sebelum membuka amplop lamaran kerja yang dibawa Alin begitu mendengar gadis itu mengatakan tidak memiliki ijazah SMA.

“Hufff… ditolak lagi… ditolak lagi… sampai kapan?”

Gadis berkerudung kuning lembut itu meniupkan udara dari pipinya yang menggembung. Tak ada yang bisa ia lakukan selain berjalan gontai keluar ruangan. Ia merasa lelah. Sangat lelah, menghadapi banyak penolakan selama beberapa pekan terakhir ini. Dari sekian persoalan hidup yang dihadapinya, masalah inilah yang paling mengganggu.

Ck! Paling benci kalau harus jadi pengangguran! Apa boleh buat… itu satu-satunya tempat yang bisa kutuju. Meskipun Ibu dan Bapak pasti tak akan setuju bila tahu…”

Alin mengayuh Lemon Turbo, sepeda mini tua warna kuning kesayangannya, ke terminal bus dan menitipkannya di tempat parkir. Kemudian, ia naik bus kota selama lima belas menit menuju Pasar Seni; pusat perniagaan lukisan, baju batik, tembikar, dan barang-barang seni serta etnik lain kota kecil ini. Kehadiran Alin merupakan pemandangan unik. Bayangkan saja. Seorang gadis berkerudung rapi dengan pakaian berpotongan feminin, menyembul di antara deretan para seniman jalanan yang umumnya adalah lelaki bertato, bertindik, dengan gaya berpakaian lusuh seenaknya. Namun, Alin tak kelihatan canggung berada di tengah-tengah mereka. Dengan santai, ia duduk bersila di atas tikar milik kawannya, di bawah naungan pohon beringin tua, bersama enam seniman jalanan lain.

“Seharusnya orang itu melihat kemampuanku membersihkan toilet dulu, baru memutuskan untuk menolak atau menerimaku. Memangnya ijazah bisa dipakai menggosok lantai dan jamban?” Alin menyeka mulutnya dengan punggung tangan, sehabis meneguk sebotol teh. Dinginnya suhu teh langsung memadamkan terik siang yang membakarnya dalam perjalanan kemari.

“Udah, udah. Seniman kok ngegalauin toilet! Seharusnya, lu tuh galau, apakah karya yang lagi lu bikin itu punya ruh atau nggak!” sahut lelaki kerempeng bertato dan berambut gondrong gimbal di sebelah kanannya. Jey adalah seorang seniman yang menggunakan jemarinya untuk melukis di atas kanvas. Kelihaiannya mengombinasikan warna sudah terkenal di antara para seniman lukis dan para kolektor lukisan.

“Baik, Guru!” Alin membungkus salah satu kepalan tangan dengan telapak tangan lain, memberi hormat takzim seperti seorang murid pada guru kungfu-nya. Sebentar kemudian, tangan kirinya sibuk menggoreskan pensil di atas sebidang kertas gambar.

“Bagus to, kalau Dik Alin ditolak.” timpal Rebo, lelaki dengan rambut dicepol yang duduk di sebelah kanan Jey. Ia adalah seorang pembuat gelang yang canggih mengkreasikan berbagai bahan untuk dijadikan aksesoris etnik nan cantik. Kali ini, ia sedang asyik menganyam-anyam beberapa utas kabel warna-warni. “Apa bagusnya bekerja di tempat yang lebih menghargai selembar kertas berstempel, dibandingkan kemampuan sesungguhnya dari seorang manusia. Iyo, to? Wis, lanjut belajar bikin gelang kabel sama aku aja. Mumpung lagi sepi.”

“Oke, siap! Habis berguru sama Bang Jey, aku akan berguru sama Mas Rebo. Kalau perlu sama semua orang di pasar ini, aku akan berguru!”

“Kami ini tahu lah… asal jangan suruh lu balik ke sekolah, ya kan?”

“Ah! Annyeong haseyo*! Apakah anda mau digambar seperti ini?” Tiba-tiba saja Alin berseru. Sebentar kemudian, ia sudah asyik mengobrol dengan sepasang turis berwajah oriental. Keduanya tampak terkesan disapa Alin dalam bahasa ibu mereka. Langsung saja, mereka menyetujui tawaran Alin.

“Weh… Dik Alin… boleh juga… Kemarin juga cas-cis-cus ngobrol sama bule…” Mendengar kalimat berbahasa asing yang tidak umum dikuasai orang Indonesia meluncur dari mulut Alin, Jey dan Rebo berpandangan dan saling menimpali. “E buset. Masa sih Alin dikeluarin dari sekolahnya? Rugi tuh sekolah!”

Lima belas menit kemudian, kedua turis itu sudah nampak cekikikan dan saling ejek memandangi potret diri mereka dalam versi manga tahun ’80-’90-an yang konyol. “JoahaeyoJoahaeyo*

Bersamaan dengan Alin menerima uluran uang dari konsumen pertamanya, mendadak terdengar lengkingan-lengkingan peluit panjang yang memekakkan telinga.

“Kabur, kabur, Lin… Boo, kabburrr!!”

Jey buru-buru menarik keras tangan Alin. Para seniman lain semburat berlarian ke tempat-tempat sekitar pasar untuk menyelamatkan diri dari kejaran sepasukan pria berseragam coklat muda dengan emblem bertuliskan Pamong Praja. Alin, Jey, dan Rebo memilih berlari masuk ke dalam pasar. Di belakang mereka, para pemburu mengacung-acungkan pentungan-pentungan kayu bercat hitam, mengejar dengan kecepatan penuh. Dan, tak lama kemudian…

“Pak, tiga orang – delapan puluh ribu, ya? Lepasin ya, Pak?”

“Tidak bisa, Jey. Seratus ribu per orang, atau masuk tahanan semuanya.”

Apes benar nasib Alin, Jey, dan Rebo hari ini. Bersama beberapa seniman jalanan lain, mereka dibawa ke kantor Pamong Praja untuk didisiplinkan. Padahal, perjuangan kabur mereka tak main-main tadi.

Jey sampai rela memakai daster dan menutupi kepala dengan selendang batik yang ia sabet dari dagangan orang. Rebo sendiri berhasil ditenteng para petugas dengan mudah karena terlalu percaya diri berakting sebagai tukang parkir. Sementara Alin tertangkap, ketika ia menghambur keluar dari salah satu bilik toilet umum di belakang pasar, gara-gara tak sengaja melihat limbah pencernaan manusia yang belum disiram. Percuma saja ia sekarat bermenit-menit, menahan siksaan bau pesing dan busuk di dalam sana.

“Anindya Lintang… dua puluh tahun?” Si petugas mengecek KTP Alin. “Paling kamu masih SMA, kan? Pasti kamu sudah memanipulasi umur di KTP ini untuk mendapatkan SIM C. Hayo, berapa nomer telepon rumahmu? Orangtuamu harus menjemput kemari!”

“Umur saya sudah dua puluh tahun, Pak! KTP-nya nggak bohong, kok! Tolong jangan kait-kaitkan urusan saya sama orangtua ya, Pak? Biar saya yang tanggungjawab sendiri. Tolong, Pak…” Alin menempelkan katupan kedua telapak tangannya pada bibir. Berusaha menyembunyikan kecemasannya.

“Kalau begitu, masuk sel sehari, mau?” Petugas itu melotot kepada Alin.

Alin menoleh sebentar pada Jey dan Rebo yang buru-buru menggeleng-geleng. Lantas, ia menatap balik sang petugas. “Boleh! Asal jangan telepon orangtua saya.”

Sang petugas jengkel juga pada reaksi nekat Alin. Menilik dari penampilan, ia berasumsi bahwa Alin bukan seniman jalanan ilegal, melainkan hanya seorang anak salah pergaulan yang butuh diberi pelajaran. Akhirnya, berbekal alamat yang tertera di KTP, sang petugas melacak sendiri nomer telepon rumah gadis itu.

“Jadi begini, Bapak dan Ibu. Pasar Seni ini bukan tempat yang baik buat pelajar. Di sini tempat berkumpulnya preman, copet, penodong, orang mabuk… Tolong lebih ketat mengawasi pergaulan Adik Anindya Lintang. Sayang sekali kalau dia sampai bergaul dengan orang-orang macam Jey dan Rebo yang tidak jelas masa lalu dan masa depannya ini.” Begitu pesan sang petugas, ketika Bapak dan Ibu datang menjemput Alin.

“Ah, tentu, Pak. Terimakasih banyak. Kami mohon pamit dulu.” ucap Bapak sopan. Beliau mengangguk pada Ibu yang membisu dari tadi. Ibu tidak mengomel ataupun memarahi Alin. Hanya diam, dengan bola mata berkaca-kaca dan mulut mengerut kaku.

“Terimakasih, Pak… Bu… sudah menolong kami.” Bergantian Jey dan Rebo menyalami Bapak Ibu erat dan penuh semangat,hingga bahu kedua orangtua Alin berguncang-guncang. Bapak baru saja membayar uang jaminan untuk membebaskan Alin, sekaligus Jey dan Rebo.

“Nanti ketemu lagi ya—” Alin tercekat, ketika Jey dan Rebo menggeleng lemah.

“Ayo pulang, Lin.” Ibu menggamit lengan Alin dan menariknya pergi dari kantor itu. Nada bicara beliau terdengar sangat gusar. Menilik ekspresi tegang Ibu, Alin tahu sangat tipis kemungkinan bagi mereka bertiga untuk bertemu kembali.

*****

Toko Ijo. Fotokopi & Alat Tulis Kantor.

Toko kecil di halaman rumah Alin ini adalah toko yang baru dibangun Bapak dua tahun lalu. Bercat hijau lembut di lingkungan semak dedaunan luntas, kemangi, beberapa pohon pepaya, belimbing, dan tanaman-tanaman lain, menginspirasi Bapak untuk menamainya Toko Ijo yang berarti toko hijau.

Bapak memutuskan pensiun dini dan ingin membangun sebuah toko di halaman rumah kita. Dengan begitu, Bapak bisa lebih fokus menemani perjuanganmu. Bapak ingin membayar hutang atas waktu yang tak pernah Bapak punya untukmu. Bapak selalu mengandalkan Ibu untuk mengurus rumah, Bram, dan kamu. Itu adalah kesalahan besar, karena rumah ini tetap membutuhkan figur seorang bapak untuk melengkapi figur seorang ibu…

Di dalam toko itu, Alin sedang mendesah lesu, menyelonjorkan kepala dan tangan di atas meja kasir. Terngiang dalam telinganya kata-kata Bapak, saat beliau mengabarkan telah resmi mengundurkan diri dari kantor. Sementara itu, lengan jarum jam dinding baru saja mendetak tegas, menunjuk tepat pada angka 8. Sudah malam. Jarak kedatangan antar pelanggan semakin jauh. Yang terakhir sudah pergi tiga puluh menit lalu.

“Ibu masih marah, Pak?” Alin menegakkan punggung begitu tahu Bapak datang. Teringat kejadian siang tadi, sepulang dari kantor petugas keamanan kota. Bapak memang terlihat santai, tapi Ibu berwajah sangat tegang. Alin tahu Ibu sedang menahan marah. Berkali-kali, ia meminta maaf. Namun, Ibu lebih banyak diam dan hanya berucap datar, iya… sudah. Ibu maafkan. Lantas, beliau masuk kamar tidur.

“Yah, sepertinya begitu.” Bapak duduk di kursi di depan Alin. “Wajar, kan? Orangtua mana yang tidak khawatir mengetahui anaknya ditangkap petugas kamtib bersama para berandalan bertato.”

“Mereka bukan berandalan! Mereka seniman! Mereka… teman-temanku.” Alin tidak terima Bapak seolah mencap buruk kawan-kawannya sebelum mengenal mereka. Sedetik kemudian, ia menunduk. Tatapan tenang Bapak menyebabkan kemarahannya kehilangan pijakan untuk terus naik. Digantikan oleh rasa bersalah. Apapun alasannya, ia telah mencederai perasaan orangtua.

Bapak tersenyum, mengilaskan kekecewaan tipis. “Sebenarnya, ada masalah apa, sampai kamu harus bergaul dengan mereka? Bapak dan Ibu sudah memberikan kepercayaan dan ruang seluas-luasnya untuk kamu. Mengijinkan kamu tidak bersekolah, tetap berlatih Taekwondo, dan bekerja seperti maumu. Kami tidak menuntut apa-apa. Tapi, kami sangat berharap, kamu mengerti batas, demi kebaikan dirimu sendiri.”

Seraya menghapusi butiran airmata yang terus berjatuhan, Alin menjawab muram. “Aku bukannya tidak mengerti batas, Pak. Aku tidak punya pilihan lain. Aku sudah tidak bisa jadi asisten komikus lagi, karena Kak Tyas pindah ke Jakarta. Bapak tahu sendiri, kan? Terus, majalah-majalah anak yang biasanya memakai jasaku untuk membuat ilustrasi juga sudah gulung tikar semua. Aku coba bekerja di percetakan ujung jalan sana, di tempat printing kaos, mendekorasi dinding sekolah… semuanya tidak ada yang bertahan lama. Apalagi sekarang sedang sepi job. Mau banting setir jadi tukang bersih-bersih toilet juga ditolak. Aku… cuma punya Pasar Seni.”

“Aku tahu…” lanjutnya semakin muram. “Bapak dan Ibu tidak akan suka lingkungan itu… makanya aku tidak cerita. Aku hanya tidak ingin Bapak Ibu ikut repot memikirkan masalahku. Aku ingin menyelesaikannya sendiri. Tapi, aku tidak pernah membayangkan kejadiannya akan seperti ini— ditangkap petugas. Aku sudah mengecewakan Bapak Ibu.”

Bapak menutup wajah dengan telapak tangan kanan selama beberapa detik. Lalu, menghela napas, seraya mengangguk-angguk. “Bapak salut dengan semangatmu untuk mandiri. Perkara uang, tidak perlu sampai jadi tukang bersih-bersih toilet atau jadi pelukis jalanan. Bapak masih kuat menanggungmu.”

“Bukan, Pak! Bukan tentang uang! Asalkan bisa bekerja, penghasilan berapapun aku terima dengan senang hati!” Kedua alis Alin bertaut sedih. Kedua mata bulatnya melebar dan berkilat. Suaranya terdengar berapi-api. “Ini– tentang betapa payah seorang manusia yang tidak punya kesempatan berkarya dan tidak punya kesempatan berdiri di kakinya sendiri! Rasanya benar-benar tidak berguna… Lebah saja bisa berkarya dan hidup dengan bekerja membuat madu. Madu itu bermanfaat pula bagi kehidupan makhluk lain. Bukankah memalukan jika aku yang manusia, yang katanya diciptakan sempurna oleh Allah, malah berpangku tangan saja? Jika begitu caranya, bagaimana Allah mau tersenyum padaku, Pak?”

Bapak terhenyak. Alin selalu sulit untuk beliau duga. Terkadang, ia tampak begitu naif dan serampangan seperti kanak-kanak. Namun tiba-tiba, bisa menghentak dengan kedalaman berpikir.

“Jujur, aku kesal sekali–” lanjut Alin dengan suara bergetar dan bola mata yang semakin basah. Perasaan frustasi yang selama ini berusaha ia redam sendiri, akhirnya muncul ke permukaan. “Selama ini, aku merasa sudah bersungguh-sungguh berusaha dalam hal apapun… tapi Allah malah mempersulit jalanku! Cuma masalah pekerjaan… apa susahnya bagi Allah untuk mengabulkan?”

Bapak menepuk-nepuk kepala Alin. Setelah mengagetkan beliau dengan pemikiran tentang lebah dan manusia, kini putrinya kembali menunjukkan kepolosannya.

“Lin. Setiap peristiwa merupakan bingkisan istimewa dari Allah. Isi bingkisan itu bisa jadi terbungkus oleh rasa sakit, nasib malang, kesedihan, dan lain sebagainya. Sayang, manusia seringkali terjebak pada bungkus dan melupakan isi. Andai manusia mau bersabar dan bersyukur dalam berproses, maka bungkus akan sirna dan tampaklah keindahan isinya. Yaitu, mutiara hikmah yang membahagiakan.”

Punggung tangan Alin menyapu lelehan cairan dari hidungnya. Ia menatap Bapak penuh tanya.

“Sabar dan syukur… aku masih tidak mengerti…” sahut Alin lirih. Airmatanya mulai mengering.

“Bersabar dalam berproses dan berusaha menemukan hal-hal yang bisa disyukuri, meskipun hasil berproses itu tidak sesuai keinginanmu. Itu saja yang perlu kamu lakukan. Jika waktunya tiba, kamu akan mengetahui alasanNya di balik semua kejadian ini. Yaah… semacam waktu kamu dulu dikeluarkan dari sekolah. Apa hikmahnya? Kamu terpacu untuk berubah menjadi orang yang lebih baik. Dan… lebih bahagia.”

*****

Alin telah memutuskan untuk tidak kembali lagi ke Pasar Seni demi menjaga perasaan Ibu dan Bapak. Ia memilih menggunakan waktunya untuk lebih tekun mencari pekerjaan baru. Bahkan pagi ini, dalam perjalanan menuju tempat latihan Taekwondo, ia sempatkan untuk mengetuk pintu-pintu peluang yang ada. Begitu sampai dojang, ia disambut heboh oleh Laras, Taekwondo-in perempuan yang paling akrab dengannya di sini.

“Lin! Kamu lihat nggak anak-anak berkerumun tadi?”

“Lihat. Kenapa memang?” Alin mengerutkan kening, berjalan menuju ruang ganti perempuan. Laras yang sudah berseragam lengkap, mengikuti di sampingnya.

“Ada Grandmaster Taekwondo dari Korea yang datang ke sini!”

“Apa??” Lekas-lekas, Alin kenakan seragam latihan dan mengikatkan sabuk merahnya di pinggang, lalu bergegas menuju aula.

photogrid_1477701095271

==============================

Lanjut membaca CHAPTER ONE [A Gift Unwrapped4]>>> 

==============================

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s