HAPPILY (NOT) EVERAFTER: Chapter One (Part 1)


A GIFT UNWRAPPED

photogrid_1476859228899==============================

ArtiKata>> Hyeong: panggilan untuk kakak lelaki yang diucapkan oleh adik lelaki; Nuna: panggilan untuk kakak perempuan yang diucapkan oleh adik lelaki; Hangeul: huruf Korea; Nunsaram: manusia salju

==============================

          BUKK! BUKK!!

“Ya Allah… anak perempuan… Pagi-pagi sudah nendang guling.” Ibu muncul dari dalam ruang keluarga. Mengangkat kedua tangan ke atas, menggelung rambut yang mulai dihiasi helai-helai keperakan. Lalu, mengambil sapu lidi yang tersandar pada sebuah bangku bambu.

Kesejukan hawa Subuh masih terasa. Langit masih menggeliat sayu, belum juga ceria. Tetapi, sebuah guling besar padat sudah sibuk berayun-ayun pada sebuah tali yang digantung pada salah satu juluran dahan pohon mangga. Silinder kapas itu dijadikan sasaran tendang oleh Alin. Keringat membasahi piyama motif kelinci yang dikenakannya. Mengilapkan kulit coklatnya yang cenderung gelap. Sementara, kepangan rambut keritingnya yang sepanjang bahu, menyabet-nyabet udara.

“Eits–Ibu!” seru Alin terengah. Mengusap dahi dengan pergelangan tangan kanannya yang dilingkari beberapa gelang tali dan sebuah jam sport warna kuning. “Sudah–aku–sapu!”

“Sudah kamu sapu dan siram?” Ibu berhenti menyapu. Memandang sekeliling. Beliau baru sadar bahwa halaman belakang ini telah bersih, tak menyisakan sehelai daun pun. Juga, tanaman-tanaman penghuninya; tampak disegarkan oleh bulir-bulir air pada permukaan pada batang, daun, dan bunga.

“Iya–hap!” Alin memeluk guling yang berayun mantap ke arahnya. Tersenyum lebar. Menampakkan sepasang gigi depan yang sekilas mirip gigi kelinci. “Aku juga sudah buat teh hangat untuk kita bertiga. Terus, menanak nasi. Tadi, aku juga goreng tempe kesukaan Bapak. Tapi… kayaknya sedikit keasinan, deh… hehe…”

“Tidak apa-apa.” sahut Ibu cepat. Kata-kata Alin menggeliatkan rasa haru. Dari tahun ke tahun, putrinya yang dulu bandel, menunjukkan usaha keras untuk menjadi penyejuk hati orangtua. “Ayo, lekas mandi—”

“Ah, ya! Hampir lupa!” Alin merogoh saku piyama. Mengeluarkan selembar amplop motif bebungaan kecil warna-warni hasil gambaran tangannya. Untuk Ibu. Begitu bunyi tulisan bergaya latin yang tertera di situ.

Ibu tercenung sebentar. Setiap menerima gaji, Alin punya kebiasaan membelikan beliau kebutuhan dapur, seperti minyak goreng, telur, mi, dan lain-lain. Jumlahnya tak seberapa. Belum sampai dua minggu, bahan-bahan itu telah habis dipakai. Bagi beliau, hal sesederhana ini sudah sangat membahagiakan. Tidak dalam ukuran rupiah, namun dalam ukuran perhatian dan tanggungjawab yang ditunjukkan oleh putrinya.

“Cuma sedikit… tidak cukup untuk beli macam-macam seperti biasa. Jadi kupikir, lebih baik, kuberikan saja uangnya pada Ibu. Biar Ibu yang putuskan untuk beli apa.”

“Sudah, tidak usah… untuk uang sakumu ke Korea Selatan saja.” Ibu menyorongkan kembali amplop itu, setelah tahu bahwa isinya adalah kombinasi antara beberapa lembar uang sepuluh ribuan, lima ribuan, dan dua ribuan yang kira-kira hanya cukup untuk membeli dua liter minyak goreng murahan. Beliau sungguh trenyuh.

“Ibu tenang saja. Uang saku sudah disediakan panitia. Sudah cukup. Yang ini adalah murni hasil kerjaku. Lagipula, aku kan… sudah dua puluh tahun. Tapi, masih menumpang hidup di rumah orangtua. Sebenarnya, aku malu sekali pada Tuhan dan diriku sendiri. Jadi tolong, biarkan aku bertanggungjawab semampuku…” Alin mengerucutkan mulut, sedikit merajuk. Ia balas menyorongkan balik amplop itu ke tangan Ibu.

“Keras kepala…” Ibu menerima amplop itu, berusaha menahan getaran keharuan yang menyeruak. “Lekas mandi, nanti ketinggalan pesawat. Dan jangan lupa bawa titipan Ibu… Ha,  terutama untuk Nak Yeonghun–harus kamu sampaikan sendiri. Jangan dititipkan Bram. Dia sudah banyak membantu kamu selama di Indonesia dulu.”

“Itu… Hehehe…” Alin meringis. “Mas Yeonghun tinggal di distrik yang berbeda dengan Mas Bram… Aku khawatir, kami tidak sempat bertemu…”

Ibu mendengus heran, “Masa sudah tiga tahun masih mau kucing-kucingan sama Nak Yeonghun? Ditelepon juga tidak mau menerima…”

“Habis… Aku malas kalau jadi kepikiran yang dulu-dulu.”

“Nah, itu tandanya kamu belum move on.” Ibu tersenyum simpul.

“Sudah kok, Bu! Beneran!” Alin mengangguk-angguk mantap, berusaha meyakinkan Ibu. Lalu, menatap lekat guling di hadapannya.

          Buakk! Alin menghadiahi guling itu dengan satu tendangan pamungkas, lalu berlari masuk rumah. “Akan aku buktikan nanti!”

*****

          Tiga hari sebelumnya. Korea Selatan.

“Kimchi lagi?”

Dalam apartemennya yang serba minimalis —baik desain, ukuran ruang, maupun perabotan- Kim Yeonghun memeriksa isi sebuah tas kain. Tas itu baru saja diletakkan Bram di atas meja yang berpasangan dengan sebuah sofa abu-abu panjang di bawah jendela berkaca lebar.

“Saya masih punya banyak persediaan kimchi.” Pemuda Korea berpostur jangkung-kurus itu membuka pintu kulkas, melongok ke bagian dalam. Sekitar lima kotak warna-warni berisi kimchi berjajar rapi pada salah satu rak. “Kalau Nuna* terus-menerus mengirimi saya kimchi, akhir pekan, lebih baik saya berjualan kimchi di pinggir jalan.”

Ditilik dari penampilan, Yeonghun telah bertambah matang dari sosoknya tiga tahun lalu. Ia menumbuhkan kumis tipis dan jenggot pendek pada wajah kakunya yang kini cenderung beraut dingin. Juga, mengganti frame tebal kacamatanya dengan tepian yang sangat tipis. Membuat ia lebih mirip lelaki yang mendekati usia 30-an dibandingkan seperempat abad.

“Saya sudah mengingatkan. Tapi, Boram-ssi bersikeras, khawatir kamu kehabisan kimchi.” Bram tersenyum simpul. Kakak ipar Yeonghun yang berkebangsaan Indonesia itu lalu berkata. “Ah, sekalian, saya ingin meminjam buku tentang Ali bin Abi Thalib versi hangeul*. Yeonghun-ssi punya, kan?”

Yeonghun mengusung kotak-kotak plastik berisi kimchi dari dalam tas kain ke pelukannya. “Di atas.” Memberi tanda dengan tengokan kepala pada Bram ke arah ruang lantai dua yang terbuka, tempat ia tidur dan menyimpan buku-buku. “Hyeong* cari sendiri. Saya harus segera memberi label tanggal pembuatan kimchi-kimchi ini. Supaya tahu mana yang harus dimakan lebih dulu. Heiissh apa Nuna lupa—aku tidak suka kimchi yang terlalu lama disimpan.”

Sementara Bram mencari-cari buku di lantai atas, Yeonghun sibuk mengurusi kotak-kotak kimchi-nya, menelepon Boram, menanyakan tanggal pembuatan kimchi, sekaligus melancarkan protes. Lima belas menit kemudian, ia mematikan telepon dan melihat Bram sudah duduk di sofa, membuka-buka buku yang dimaksudnya tadi.

“Sejak kapan Yeonghun-ssi tertarik pada pernikahan?” celetuk Bram.

Yeonghun terkisap. Aigo…! Ceroboh sekalibukubuku tentang pernikahan itumasih tertumpuk di meja lantai atas!

Ia jadi teringat hal yang dilakukannya untuk mengisi waktu senggang selama tiga bulan terakhir. Semacam rahasia terdalamnya sebagai seorang Kim Yeonghun. Lelaki yang selalu menekankan pada diri sendiri dan orang lain, bahwa hanya karir yang berhak menempati ruang pikirnya saat ini. Tak ada tempat untuk bersenang-senang, mengenal perempuan, apalagi menikah. Tak heran bila rekan-rekan kantornya menjulukinya Nunsaram-ssi*, gara-gara sikapnya yang serba serius dan dingin.

          Heissh… ini memalukan! Yeonghun jadi teringat rekan kerjanya yang digoda habis-habisan di kantor,  karena pernah mengatakan akan melajang sampai akhir tahun, namun ketahuan mengencani seorang perempuan secara diam-diam awal musim panas kemarin. Kini, Yeonghun bisa merasakan betapa malunya rekannya itu. Apakah Hyeong juga akan menertawakan aku?

“Duduklah.” Bram mulai menata sikap. Juga mengatur nada bicara untuk menegaskan posisinya sebagai seorang kakak lelaki. Jelas sekali Bram tidak menganggap enteng buku-buku yang baru saja ia temukan di lantai atas.

Dengan tegang, Yeonghun menempati kursi di hadapan Bram. Ia menatap segan pada lelaki Indonesia itu. Dari tahun ke tahun, aura kebapakan Hyeong-nya semakin menguat. Terutama setelah keponakannya, Kim Hana, lahir dua setengah tahun lalu. Dan, entah karena pengaruh iklim sub tropis atau apa –tentu bukan karena kosmetik, kulit Indonesia-nya yang berwarna coklat gelap, tampak semakin cerah seolah memendarkan cahaya samar. Kewibawaan Bram seolah tak menyisakan ruang bagi Yeonghun untuk berkelit.

          Hyeong… tolong…  jangan membuatku benar-benar tergoda untuk menikah!

==============================

Lanjut membaca CHAPTER ONE [A Gift Unwrapped2]>>>  

==============================

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s