HAPPILY (NOT) EVERAFTER [Prologue]


happilyprologue

 

A MOMENT OF FLASH BACK

 

==============================================

ArtiKata>> Nae Haebaragi: Bunga MataharikuUljima: jangan menangis; Nuna: panggilan untuk kakak perempuan yang diucapkan oleh adik lelaki; Sabeomnim: pelatih Taekwondo

==============================================

          Apa gunanya mengenal seseorang, menyayanginya, tapi Tuhan tak mengijinkan kamu bersamanya?

Pertanyaan itu sempat menghantuiku selama berbulan-bulan semenjak kepergian Kim Yeonghun kembali ke negaranya.

Waktu itu, 3 tahun lalu. Aku; seorang gadis Indonesia, kelas dua SMA, suka membantah dan serampangan; ditakdirkan Tuhan untuk bertemu dengan seorang mahasiswa Korea Selatan tingkat akhir yang sedang menjalani masa beasiswanya selama 3 bulan di Indonesia. Ia adalah adik dari istri kakakku; perempuan yang aku benci karena suatu alasan (yang kupikir amat serius dan penting pada saat itu). Kehadiran Kim Yeonghun semakin membuatku meradang, karena sialnya, dalam banyak hal, ia jauh lebih baik dariku. Lebih tinggi, lebih rajin, lebih pintar, lebih jago Taekwondo, lebih disayang Ibu Bapak, dan lebih dewasa dalam berpikir serta bertindak. Dan yang paling membuatku iri; ia mencintai Rasulullah lebih banyak daripada aku yang jauh lebih dulu memeluk Islam dibandingkan dirinya.

Sungguh permusuhan yang konyol! Untunglah, aku segera menyadarinya.

Lalu, badai itu tiba.

          Aku dikeluarkan dari sekolah. Gara-gara melesakkan tendanganku ke perut salah seorang siswa berandalan. Sialnya, orangtua anak lelaki itu adalah penyumbang dana terbesar di sekolah. Kepala Sekolah sudah barang tentu tak melihat ada keuntungan ekonomi bila berpihak padaku, meski aku di sisi yang benar. Di balik kata-katanya yang terdengar bijak, aku bisa melihat wajah sejatinya. Orang itu melotot bengis tanpa ampun, bak penyihir, dan mengacungkan telunjuknya dengan tegas pada pintu keluar. Pada telunjuk itu, aku melihat kuku tak kasat mata yang sangat panjang dan kotor.

          Lihat saja, Pak! Saya akan buktikan, bahwa saya bisa hidup bahagia tanpa sekolah!

Seandainya hari itu aku memiliki kesadaran sekuat sekarang, akan kuteriakkan kata-kata itu hingga menggema dalam ruangan Kepala Sekolah dan tetap terus menggema dalam kepala orang itu seumur hidup. Tapi saat itu, aku hanyalah seorang gadis keras kepala yang sedang kacau dan bingung. Menyesali kecerobohanku, mengkhawatirkan kekalutan Bapak, lelehan airmata Ibu… dan masa depanku sendiri.

          Aku akan hancur di sini! Itulah yang kupikirkan.

Nae HaebaragiuljimaTidak akan hancur, selama kamu menggenggam erat keyakinanmu pada Kemurahan Tuhan. Genggam erat dan jangan lepaskan! Kamu pasti bisa melewati ini semua.”

Kim Yeonghun menunjukkan dukungan. Bodohnya, ia kelihatan terlalu emosional, hingga nekat menggenggam erat tanganku. Sungguh bodoh! Di mana kedewasaan berpikirnya waktu di Taman Kota itu? Tindakan Kim Yeonghun mengentaskan perasaan itu dari alam bawah sadar kami masing-masing. Sesuatu yang sangat tak perlu. Sebab, toh akhirnya kami berpisah. Meski, aku ingin menahannya. Menahan aliran waktu, supaya Kim Yeonghun dan semua kenangan kami berdua tak perlu beranjak pergi dan meninggalkan perih.

“Kalau begitu janji; kita berdua tidak boleh saling melupakan!”

Tentu saja. Bagaimana aku bisa melupakan orang yang seringkali mendesis jengkel kepadaku itu? Pemuda jangkung berpenampilan serba hitam, yang secara kontras membalut kulit putihnya itu? Berambut hitam sedikit berantakan, suka mengenakan pakaian serba hitam, bersepatu hitam, bahkan bingkai tebal kacamatanya pun berwarna hitam. Terlalu ikonik untuk dilupakan.

Yah! Bagaimana saya bisa melupakan gadis sebandel kamu?”

Ternyata, aku juga terlalu ikonik bagi memorinya. Aku mendengarnya mendesis gelisah, sewaktu kami bercakap-cakap di kursi bambu panjang hari itu, dinaungi bayangan pohon mangga di halaman belakang rumah. Tapi, Kim Yeonghun tetaplah Kim Yeonghun. Ia tetap bersikukuh pada pendiriannya, meskipun aku menangis.

“Bagaimanapun juga, masih ada tahun-tahun baru di depan kita. Masih banyak hal yang akan terjadi, di luar perkiraan kita hari ini. Jadi, sebaiknya, kita tidak membuat janji yang kita sendiri tidak yakin bisa menepati atau tidak. Janji adalah tanggungjawab. Kim Yeonghun belum bisa bertanggungjawab atas hidupnya sendiri dan masih menggantungkan diri pada Nuna-nya. Bagaimana dia bisa membuat janji seperti itu dengan Alin-ssi?”

Bila takdir Tuhan sudah bicara, tak ada yang bisa dilakukan manusia, kecuali mengikutinya. Aku sedih. Aku sangat kehilangan satu-satunya orang yang peduli pada cerita Edward Tulane, novel anak favoritku. Orang yang telah membuka mataku pada duniaku yang sesungguhnya; dunia menggambar. Kepergiannya terlalu berharga untuk aku murami. Aku memilih tersenyum lebar.

“Kamu harus tetap tumbuh. Meskipun kita bukan musuh, tapi kita ini rival. Seperti Yin dan Yang, dua sisi yang berlawanan, tetapi tumbuh bersama. Jika yang satu semakin kuat, maka yang lain juga akan bertambah sama kuat.”

Dari kata-katanya itu, aku merasa Kim Yeonghun juga sama. Berusaha menegarkan hati. Jadi, aku memutuskan memberinya sebuah tugas yang sulit, supaya ia tidak sempat bersedih di Korea nanti.

“Aku banyak memikirkan tentang kebahagiaan akhir-akhir ini. Jalan kebahagiaan setiap manusia memang berbeda. Untuk itu, manusia harus mendengarkan kata hatinya sendiri, bukan kata dunia. Jika manusia mendengarkan kata hatinya, maka dia akan sampai pada pertanyaan; untuk apa aku dilahirkan? Itulah yang seharusnya dikejar manusia, bukan sekedar mengejar cita-cita, bersekolah, dan bekerja. Bila manusia berhasil menemukan jawaban itu, maka Tuhan tersenyum padanya. Dengan begitu, manusia bisa hidup bahagia.”

Tapi, Kim Yeonghun tetaplah Kim Yeonghun. Ia balik memberiku tugas sulit pula.

“Manusia tidak bisa hanya mengikuti kata hati. Manusia harus bertindak realistis, meskipun itu berlawanan dengan kata hatinya. Manusia harus sekuat tenaga mengejar cita-cita, bersekolah, dan bekerja, meskipun ia tidak ingin melakukannya. Sebab, manusia tidak bisa memakan cinta, tidak bisa meminum impian, dan tak bisa tinggal di rumah angan-angan. Manusia harus membumi dan hidup nyata untuk meraih kebahagiaan. Itulah hal yang harus Alin-ssi renungkan dari saya.”

Dasar, Kim Yeonghun! Selalu saja tahu cara membalik kata-kataku. Lihat saja sekarang! Aku terus tumbuh. Karena aku memilih untuk tumbuh! Meskipun ia tidak di sampingku lagi.

“Nak Yeonghun?! Alhamdulillah, kami semua sehat di sini. Iya, malam-malam begini Bapak masih di kantor. Tiap hari lembur. Tapi, ini bukan lembur biasa. Sebentar lagi, Bapak akan pensiun. Iya, mengajukan pensiun lebih awal. Kata Bapak, ingin membayar hutang pada Alin. Kejadian itu… membuat Bapak ingin lebih banyak mendampingi Alin…”

Bumi tetap berputar. Menyobek lembaran hari-hari pada kalender di dinding. Meskipun belum pernah berkunjung kembali kemari, aku perhatikan, setiap tahun, selalu ada saja barang yang Kim Yeonghun kirimkan untuk kami. Alat kesehatan untuk lansia, makanan khas Korea dalam bentuk kering, hiasan dinding,  dan lain-lain. Ia juga cukup rajin berkirim kabar pada orangtuaku lewat telepon. Lulus kuliah, ikut wajib militer, hingga akhirnya diterima bekerja di sebuah perusahaan. Seperti waktu itu.

“Ah, kebetulan Alin ada di dekat Ibu. Dia sedang mengerjakan komik untuk majalah anak. Mau bicara? Sebentar… Loh? Alin! Ini– telepon dari Nak Yeonghun! Kok malah kabur?”

Kupikir, aku akan baik-baik saja setelah hari perpisahan kami. Nyatanya, hatiku pecah berkeping-keping setiap kali mendengar namanya. Aku ingin lari dari semua kenangan tentang Kim Yeonghun. Tapi bahkan, aula tempat aku biasa berlatih Taekwondo disesaki oleh kenangan sosok dan suara berat Kim Yeonghun ketika ia masih menjadi asisten pelatih Awang-Sabeomnim.

“Alin! Jangan melamun saat latihan!”

“Maaf, Sabeomnim! Sa-saya minta ijin ke toilet dulu!”

“Loh… belum diijinkan sudah lari duluan. Eh, jangan-jangan tadi dia… menangis?”

Aku sedih dan kehilangan. Jika perasaan itu dimaknai sebagai gelap, maka ia pasti hadir bersama terang. Seperti kehadiran malam dan siang yang berpasangan. Saat aku berusaha merenungkan sisi terang itu, aku menemukan bahwa kehadiran Kim Yeonghun telah melubang-lubangi cangkang egoku secara paksa. Lubang-lubang itu menjadi jalan bagiku untuk menerima cercah cahayaNya yang menjadi petunjuk hidupku.

          Ah, itulah gunanya Tuhan pernah mempertemukan kami.

Aku mengerti. Kim Yeonghun, serta semua peristiwa masa laluku, hadir untuk menempaku menjadi lebih kuat dan mampu tersenyum lebih lebar dalam situasi-situasi yang lebih sulit di masa depan.

——–

—-

“Dooorrr!!!”

“Heiii!” Alin sungguh kaget setengah mati. Lamunan self talk-nya kacau. Mood melankolisnya berantakan. Suara melengking itu menghentak, disusul tawa cekikikan dan hempasan tubuh-tubuh mungil pada kaki Alin. Mengganggu keseimbangan, mengakibatkan kuas berlumuran cat kuning yang sedang ia pegang, mendarat pada kerudung dan sebagian pipinya.

“Ahahahaha! Kak Alin payah! Hahahaha!”

Enam murid TK telah mengerubunginya, ketika ia sedang mengerjakan dekorasi dinding halaman sekolah mereka. Anak-anak itu menarik-narik bajunya, dengan keriuhan yang saling bersahutan. Sementara beberapa anak lain malu-malu mendekat, lalu berdiri ragu tak jauh dari situ.

“Kak Alin… Halo, Kak Alin…”

“Eh, jangan gitu, dong. Kak Alin kan sedang bekerja… Duh, kenapa mereka tidak bisa bertingkah sedikit manis, sih?”

Alin menunduk, seraya mengusap cat dari pipi dengan geregetan. Tapi, cat itu malah semakin melebar menyaput pipinya. Anak-anak semakin riuh tertawa. Emosi Alin tersulut. Ia memicingkan mata dan menggembungkan pipi, menahan jengkel. Tak mengerti mengapa anak-anak ini suka sekali memanggil-manggil namanya dan mengitari dirinya bak sepasukan lebah mendengung ribut.

“Lanjutkan cerita Kancil, Kak! Pakai gambar yang bagus! Aku suka banget ceritanya! Iya, aku juga!”

Tapi anehnya, begitu menyaksikan antusiasme anak-anak itu, tiba-tiba saja Alin lupa akan kejengkelannya tadi. Seolah dihipnotis, ia langsung berjongkok dan mulai menggambar di atas tanah menggunakan patahan ranting. Anak-anak itu ikut berjongkok mengelilinginya. Alin memulai ceritanya seatraktif mungkin.

“Kenapa Harimau selalu mengejar Kancil? Apa dia nggak kapok-kapok dikerjai Kancil? Kan masih banyak binatang lain untuk dimakan! Kenapa? Iya, Kenapa?”

“Karena… mmmm….” Alin menerawang sebentar. Alih-alih fokus memikirkan Harimau dan Kancil, pikirannya malah hanyut terbawa bayangan Yeonghun. Semenjak pergi tiga tahun lalu, pemuda itu tak pernah lagi menginjakkan kaki di Indonesia. Kabarnya hanya bisa Alin curi dengar lewat cerita Ibu yang terkadang ditelepon langsung dari Korea, atau lewat tutur Boram dan Bram yang tinggal senegara dengannya. Boram adalah kakak perempuan Yeonghun yang menikah dengan Bram, kakak lelaki Alin.

          Kenapa aku jadi mirip Harimau? Setiap kali mengharapkan dia kembali, aku menjadi Harimau yang selalu tertipu oleh Kancil.

“Kak Alin! Mau cerita lagi! Yang lain… yang lain…”

“Eh…” Lamunan Alin terpecah. Lalu, ia menatap menatap wajah-wajah polos di sekitarnya satu per satu. Bening bola mata mereka memancarkan kehangatan hati yang murni dan antusiasme tanpa kepura-puraan. Perasaan melankolisnya yang sempat muncul karena teringat Yeonghun tadi, lambat laun terkikis oleh cahaya mentari yang terbit dari horizon senyuman mereka. Alin sangat tersentuh.

          Kehilangan satu cinta, lalu dikuatkan oleh bentuk cinta yang lain. Tuhan selalu begitu.

Alin tersenyum penuh syukur. Ia kembali mengguratkan ujung ranting di atas tanah. Mulai bercerita dengan penghayatan maksimal.

“Ini adalah kisah seorang gadis kecil yang bertemu kembali dengan sahabatnya dari negeri di seberang lautan, si raksasa yang baik hati. Mau dengar ceritanya?”

==============================================

Lanjut membaca CHAPTER ONE [A Gift Unwrapped1]>>> 

==============================================

Advertisements

2 thoughts on “HAPPILY (NOT) EVERAFTER [Prologue]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s