Nguping BBW Oktober 2016: MEMAKNAI KETAATAN


bbwtaat

(tulisan ini bukanlah reportase, melainkan gambaran berdasarkan catatan pribadi dan persepsi subyektif penulis)

 

Senang sekali rasanya bisa melingkar lagi dalam Forum Maiyah Bangbang Wetan, setelah berbulan-bulan hanya bisa memandangi jadwal yang terpampang di halaman Facebook dan membaca reportase resminya. Dikawani oleh bulan yang tengah andadari (purnama) di langit sana, saya (bersama anak plus suami) melangkah menuju Taman Budaya Cak Durasim Surabaya, masuk melalui celah sempit pagar depan, dan memilih duduk di tepian pendapa.

Malam itu, semua yang hadir bersama-sama memaknai kembali kata taat. Pada awal diskusi, muncul pemahaman bahwa ketaatan adalah kepatuhan terhadap peraturan, terlepas kepada siapa ketaatan itu ditujukan dan apa motivasi yang melatarbelakanginya. Bila dihubungkan dengan kondisi terkini (diwakili oleh ilustrasi tema di atas), ketaatan manusia cenderung mengarah pada materialisme. Jadi, barangsiapa yang memegang kekuatan materi (harta, tahta, wanita), maka ia/merekalah yang menjadi kiblat ketaatan manusia-manusia lainnya.

Pemahaman mulai bergeser ketika Kyai Muzzammil dan Mas Sabrang (Noe ‘Letto’) mengupas makna taat dan memberikan beberapa ilustrasi mengenai perbuatan taat, agar pemahaman menjadi semakin benderang.

Benarkah Taat sama dengan Patuh?

Menurut Kyai Muzzammil, kata taat berakar dari kata tha’ah dalam bahasa Arab, yang bermakna sukarela dalam melakukan sesuatu. Kyai Muzzammil melandaskan pemaknaan ini pada dua ayat Al Qur’an.

===================================================

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa“. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.(Fushilat: 11)

===================================================

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari. (Ar Ra’du: 15)

=====================================================

Salah satu cara memaknai sebuah kata adalah dengan menemukan lawan katanya. Dalam kedua surah di atas, suka hati/kemauan sendiri (thau’an) atau sukarela dipasangkan secara kontradiktif oleh Allah dengan terpaksa. Berarti, kata taat tidak bisa mengandung makna terpaksa, karena keterpaksaan adalah lawan dari ketaatan. Sementara kepatuhan bisa disebabkan oleh keterpaksaan. Jadi jelas sudah, bahwa taat tidak sama dengan patuh.

Jika seseorang mematuhi hukum; misalnya memakai helm saat berkendara sepeda motor di jalan raya dengan motivasi takut ditilang polisi, maka orang tersebut tidak bisa disebut taat hukum, sebab ada unsur keterpaksaan dalam memakai helm. Ia patuh hukum, tetapi tidak taat hukum (tidak sukarela menjalankan peraturan/hukum yang berlaku). Seseorang baru bisa disebut taat hukum, bila ia memakai helm bukan karena takut ditilang polisi, melainkan karena sadar bahwa memakai helm membawa keselamatan bagi dirinya, sehingga ia memakai helm dengan sukarela. Ada atau tidak ada polisi yang akan menilang, ia tetap memakai helm ketika berkendara. Bahkan, sekalipun tak ada peraturan memakai helm, ia akan tetap memakai helm dengan senang hati.

Contoh lain adalah mengenai ketaatan dalam sholat. Bila seseorang melaksanakan sholat karena motivasi (takut) neraka atau (ingin) surga atau karena kewajiban, maka ia bisa dikatakan patuh beribadah, namun belum bisa disebut taat beribadah. Mengapa? Karena sholatnya belum mengandung unsur sukarela. Baru bisa dikatakan taat beribadah (sukarela beribadah), jika ia sholat karena termotivasi oleh kerinduan kepada Allah dan kenikmatan berasyik masyuk dengan Allah, sekalipun (seandainya) Allah tidak mewajibkan sholat tersebut.

Pada contoh lain, jika ada orang yang memaksa tutup warung saat bulan Ramadhan, memaksa orang lain untuk puasa, sholat, dan lain-lain, maka orang tersebut belum bisa dikatakan mengajak manusia menuju ketaatan kepada Allah. Sebab, kunci taat adalah sukarela, bukan paksaan.

 

3 Tingkat Ketaatan Manusia

Taat bukan tentang perilaku mematuhi,  tetapi tentang kuda-kuda sukarela. Ini adalah konsep yang amat fundamental dan bisa diaplikasikan ke dalam banyak hal. Kurang lebih, begitulah yang disampaikan oleh Mas Sabrang ketika menyambung penjelasan Kyai Muzzammil mengenai taat.

Selanjutnya, Mas Sabrang melemparkan sebuah contoh konsep yang berkaitan dengan taat: cinta tidak butuh pengorbanan. Cukup mengejutkan. Padahal, sudah lekat dalam benak orang awam, di mana-mana cinta selalu butuh pengorbanan. Hal ini senada dengan konsep pengorbanan cinta yang sering diusung dalam sinema-sinema dan buku-buku. Namun, bila konsep taat (sukarela) dijadikan landasan dalam cinta, maka tidak akan ada namanya pengorbanan cinta. Mengorbankan diri basah kuyup kehujanan demi menemui orang yang dicintai dan berharap mendapatkan balasan/sambutan yang sesuai bukanlah suatu tindakan yang didasari kesukarelaan. Ini adalah pamrih, bukan cinta. Seseorang yang mencintai tidak akan merasa berkorban bila berbuat sesuatu untuk orang yang dicintai, sebab ia melakukannya dengan kerelaan hati/senang hati.

Menyambung contoh Kyai Muzzammil mengenai sholat yang pamrih terhadap surga-neraka, Mas Sabrang mengiris lebih dalam dengan sebuah pertanyaan. Jika berpotensi membuat manusia tidak taat (tidak sukarela) dalam beribadah, mengapa Tuhan tetap menawarkan konsep surga-neraka?

Jawabannya tentu bukan karena Tuhan tidak menghendaki manusia menjadi taat/sukarela dalam beribadah, namun hal ini berarti bahwa Tuhan sangat memahami kondisi psikologis manusia. Tentu, Tuhan sangat tahu bahwa manusia memiliki tingkat ketaatan yang berbeda sesuai motivasi masing-masing. Pada tingkat ketaatan/kesukarelaan awal, motivasi surga-neraka memang diperlukan untuk mengantar manusia menuju tingkat selanjutnya.

Berikut 3 tingkat ketaatan manusia yang dijabarkan oleh Mas Sabrang:

1. Sukarela, tetapi hati terpaksa

Tingkat di mana seseorang paham bahwa suatu perbuatan itu baik dan rela melakukannya, namun hatinya masih belum suka/merasa terpaksa. Menyadari situasi ini, ia berjuang mengondisikan (memaksa) diri dalam melaksanakannya.

Sebagai contoh; seseorang paham bahwa perintah sholat lima waktu membawa kebaikan dan memang diwajibkan untuknya, tetapi dalam hati masih ada perasaan enggan dalam melaksanakan. Meskipun begitu, orang tersebut tetap berusaha menjalankan sholat, disertai keyakinan/pengharapan bahwa saat ini ia sedang berproses menuju tingkatan sukarela. Ketika saat itu tiba, ia akan mampu melaksanakan sholat dengan senang hati.

2. Benar-benar sukarela (senang hati)

Tingkat di mana seseorang paham bahwa suatu perbuatan itu baik, rela melakukannya, dan tidak ada unsur keterpaksaan dalam hatinya (suka). Memakai contoh sholat sebelumnya, orang tadi sudah paham mengenai kebaikan sholat dan kewajibannya, melaksanakan dengan rela, disertai hati yang senang/menikmati sholat. Tak ada lagi keengganan. Namun di sini, (menurut penulis) hatinya  masih dipengaruhi oleh kenikmatan rasa bangga karena mampu beribadah dengan baik.

3. Ikhlas 

Tingkat di mana seseorang paham bahwa suatu perbuatan itu baik, sukarela/senang hati melakukannya, dan menganggap bahwa perbuatan tersebut merupakan bagian dari fitrah manusia (sesuatu yang memang sudah seharusnya).

Contoh gampangnya; manusia manapun pasti rela ketika ia (maaf) buang air besar, melakukannya dengan gembira (bahkan menyegerakan), dan ketika telah selesai tidak berusaha mengingat-ingatnya lagi.  Tidak mengharap imbalan dan tidak merasa bangga/senang karena mampu melakukan aktivitas tersebut. Sebab, dengan (maaf) buang air saja, ia sudah merasa sangat lega dan bahagia.

Ketaatan beribadah pada tingkat ini tak lagi terpengaruh faktor surga-neraka. Seseorang beribadah benar-benar murni karena Allah,  dan tidak berbangga diri karenanya. Apa yang mau dibanggakan, kalau beribadah dengan sepenuh jiwa adalah suatu hal yang sudah seharusnya/sewajarnya dilakukan manusia- bagian dari fitrahnya? 

Konsep ketaatan semacam ini juga bisa berlaku dalam bidang ekonomi. Jika ingin bekerja, kata Mas Sabrang, carilah pekerjaan yang kamu sukai, jadilah expert (ahli) di bidang yang kamu sukai itu, dan jika kamu sudah menjadi expert, maka orang akan berani membayarmu dengan harga tinggi.

Sebagai ilustrasi; ada seseorang yang amat suka menggambar asap. Dengan gembira dan rela (taat), ia mengamati dan menggambar berbagai tipe asap yang dihasilkan oleh beraneka benda. Asap dari ranting yang terbakar akan berbeda gambarnya dengan asap dari air atau daun yang terbakar. Dari waktu ke waktu, ia terus taat dan bersungguh-sungguh melakukan aktifitas tersebut. Hasilnya, ia menjadi seorang animator (khusus) asap, dan dicari banyak orang karena keahliannya itu.

Demikianlah gambaran ketaatan manusia yang ikhlas. Ia tak hanya sukarela, tetapi juga cinta terhadap apa yang dilakukannya, meski tanpa imbalan. Ia tidak butuh kata sukses untuk menjadi bahagia, tidak perlu menunggu esok, tidak perlu menunggu hari gajian untuk bahagia; sebab dengan melakukan saja sudah bisa membuatnya bahagia. Maka, lakukanlah pekerjaan dengan rasa cinta dan kesungguhan; insya Allah, Dia akan membukakan pintu-pintuNya. Sebab, keikhlasan adalah puncak dari ketaatan, di mana kesukarelaan, kesadaran, dan rasa cinta bermuara.

Menumbuhkan Ketaatan

Sekarang pertanyaannya, bagaimanakah caranya menumbuhkan ketaatan, baik dalam skala negara maupun keluarga? Apakah peraturan/hukum harus dijadikan panglima untuk membuat manusia taat/sukarela mengikuti (kebijakan-kebijakan yang dibuat) Ulil Amri?

Kyai Muzzammil menjawab, bahwa hukum tidak dapat menciptakan ketaatan,  tetapi kepatuhan. Hukum bersifat kaku dan memaksa. Bila semua hal diselesaikan dengan pendekatan hukum, maka yang tumbuh dalam masyarakat/keluarga adalah keterpaksaan. Selanjutnya, akan tumbuh pembangkangan.

Tak heran, bila para nabi/rasul menempuh jalan kelembutan dan cinta dalam berdakwah. Mereka tidak memaksa orang untuk taat kepada Allah dan rasul/nabi, melainkan menyampaikan ajakan, supaya orang mengikuti dengan sukarela. Dan sebelum ajakan itu disampaikan, para nabi/rasul terlebih dahulu menjelma menjadi sosok yang mudah untuk dicintai.

Lagipula, bukankah Allah juga memberikan teladan yang sama?Terlebih dahulu, Dia memenuhi kebutuhan manusia dengan menggelar bumi langit beserta isinya; menyediakan udara untuk bernapas, air untuk minum, hewan beserta tumbuhan untuk makanan, dan masih banyak lagi. Setelah itu, barulah Dia meminta manusia untuk mematuhi perintah dan laranganNya.

Demikian pula dalam pengelolaan sebuah negara. Pemerintah harus terlebih dulu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dan berusaha merengkuh hati masyarakat, supaya mereka terdorong untuk mengikuti kebijakan-kebijakan Pemerintah secara sukarela; karena mereka mencintai ulil amri-nya. Sebaliknya, cinta masyarakat terhadap Pemerintah tidak akan bisa tumbuh jika Pemerintah bersikap represif, baik terselubung maupun terang-terangan, serta berkomunikasi menggunakan bahasa ancaman dan arogansi kekuasaan.

Konsep yang sama juga bisa diaplikasikan dalam lingkup yang lebih kecil, yaitu keluarga. Ubahlah pola hubungan orangtua-anak yang bersifat kaku dan menakutkan layaknya bos-bawahan. Orangtua, sebagai ulil amri keluarga, harus tampil penuh cinta dan kasih sayang, sehingga anak-anak akan mengikuti bimbingan/arahan orangtua secara sukarela, atas dasar rasa cinta. Sebab sesungguhnya, taat itu lebih dekat dengan cinta.

 

“Tanda cinta itu taat

Tanda cinta itu ingat

Tanda cinta baca sholawat

Semoga kita dapat syafaat”

(Kyai Muzzammil)

 

[Eryani Widyastuti]

 

 

Sumber referensi:

-http://quranterjemah.com

-http://www.bangbangwetan.org/taat-kuncinya-sukarela

Baca juga>> Nguping BBW Oktober 2016: Pendulum Kehidupan 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s