KANCA WINGKING: Merenungkan Peran Lelaki dan Wanita dalam Rumahtangga


photogrid_1469378003336_1469378299346.jpg

Ibu Bekerja vs Ibu Rumahtangga adalah topik perseteruan abadi antar wanita yang sering kita jumpai di mana-mana, terutama di media sosial. Masing-masing bersikukuh dengan alasannya sendiri-sendiri. Kubu Ibu Bekerja merasa bahwa wanita harus mengaktualisasikan diri di luar rumah, membantu suami mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang semakin melambung dari hari ke hari, dan alasan-alasan lain. Kubu Ibu Rumahtangga membantah berbagai alasan tersebut, dan menyatakan bahwa wanita itu seharusnya berada di rumah, karena memiliki tanggungjawab utama merawat keluarga (terutama anak), sementara suamilah yang harus mencari nafkah di luar. Apapun alasannya, dapat disimpulkan jika masing-masing pihak menganggap bahwa pilihannya adalah dedikasi terbaik mereka sebagai seorang wanita.

Lalu, mana pihak mana yang benar dan pihak mana yang salah?

Itu adalah sejenis pertanyaan polos  yang bersifat hitam putih, sementara hidup ini mengenal warna abu-abu. Tidak hitam, tidak pula putih. Tidak ada yang sepenuhnya benar, dan tidak ada yang sepenuhnya salah.  Jika toh kita ingin mengetahui pada bagian mana suatu hal itu benar dan pada bagian mana suatu hal itu salah, maka kita harus mengetahui asal-usul dan sebab-musababnya terlebih dahulu. Kita tidak bisa serta merta menilai dari apa yang kita lihat. Yang mengetahui benar atau salah suatu kasus dalam lingkup rumahtangga adalah suami-istri itu sendiri. Bukan orang lain. Hanya mereka (dan Tuhan) yang tahu bagaimana situasi keluarga dan niat yang ada dalam hati kecil masing-masing ketika melakukannya.

Contohnya, tak mungkin kita melarang seorang  single-mom bekerja untuk menghidupi anak-anaknya. Tak mungkin juga melarang seorang wanita bekerja di luar rumah, ketika suaminya terkena PHK, sehingga tidak ada sumber pemasukan keluarga. 

Tak cukup berhenti di situ, kita masih harus merenungkan lebih jauh. Apakah wanita tersebut bekerja karena memang tak memiliki pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan rumahtangga, sehingga harus meninggalkan tugasnya mengurus rumah? Ataukah ia bekerja karena takut akan sempitnya rejeki yang dititipkan Allah lewat suaminya? Atau karena ia ingin memuaskan keinginan-keinginan pribadinya sebagai seorang individu (aktualisasi diri)? Apakah lelaki yang tidak bekerja/ lebih banyak di rumah tadi memang harus menggantikan peran istrinya mengurus rumah, ataukah ia sedang menikmati keadaan?

Lantas, apakah wanita yang sudah menjadi ibu rumahtangga dan suami yang bekerja memberi nafkah keluarga berarti menjamin keselarasan dalam kehidupan rumahtangga?

Belum tentu juga. Jangan buru-buru menepuk dada. Kita juga harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Apakah keputusan wanita ini menjadi ibu rumahtangga merupakan dedikasi penuh kesadaran atau hanya mengikuti norma yang berlaku tanpa ada penjiwaan? Bila sebatas memandikan anak sampai bersih, antar jemput sekolah, masak enak, menyuapi sampai kenyang, dan sejenisnya, bisa diwakilkan pada asisten rumahtangga atau supir. Tak perlu seorang ibu. Tetapi, getaran, sentuhan, dan pancaran sayang ketika memandikan, obrolan kecil yang menunjukkan kepedulian terhadap dunia sang anak ketika perjalanan pulang sekolah, penyelaman lebih mendalam terhadap karakter anak ketika menemaninya bermain atau belajar, bimbingan adab dan akhlak yang disisipkan ketika menyuapi, semua itu bisa terjadi secara utuh jika dilakukan oleh figur ibu; bukan asal wanita atau orang dewasa. Nah, sudahkah sang ibu rumahtangga menjalankannya? Di sisi lain, bagaimana dengan sang suami yang bekerja; apakah ia merasa telah memenuhi kewajibannya dengan menafkahi anak istri saja dan menyerahkan semua urusan rumah pada istrinya? Apakah ia telah menjalankan figur seorang ayah dengan baik dengan bermain, berdiskusi, mengobrol santai bersama anak dan memberikan teladan/inspirasi perilaku keutamaan?

Semakin ditelusuri, topik Ibu Bekerja vs Ibu Rumahtangga ini akan semakin ruwet dan akan menjauhkan kita dari masalah diri sendiri, serta menyeret kita pada hal yang tidak pantas dilakukan, yaitu ikut campur dalam urusan rumahtangga orang lain. Namun, seandainya kita bersedia hening sejenak, kita akan segera menyadari sesuatu.

Keributan ini sesungguhnya hanyalah ombak di permukaan lautan. Ini ‘hanyalah’ tanda-tanda dari Sang Kuasa, supaya kita terdorong untuk menyelam lebih dalam ke dasar samudra dan menelusuri palung-palung tergelap demi menemukan sang intisari, yaitu pesan-pesan ruhani yang semestinya kita pahami. Salah satunya adalah bagaimana setiap wanita (dan lelaki) menjalankan perannya masing-masing dalam kehidupan rumahtangga. Entah ibu rumahtangga atau ibu bekerja, dua-duanya sama-sama harus memiliki pemahaman mengenai hal ini, supaya kehidupan rumahtangga menjadi bahagia.

Mari kita renungkan bersama bagaimana idealnya pembagian peran antara lelaki dan wanita (suami-istri) dalam kehidupan rumahtangga. Perenungan ini kita mulai dengan menggali sebuah filosofi kuno.

Filosofi Kanca Wingking

Berdasarkan filosofi Jawa, wanita sering dikaitkan dengan istilah Kanca Wingking dalam kehidupan rumahtangga. Agaknya, istilah ini kerap dinilai mendiskreditkan kaum wanita, terutama di mata orang yang menjunjung tinggi prinsip kesetaraan gender. Wanita dan lelaki harus diposisikan dan diberi hak yang sama. Wanita bukanlah sub-human. Jadi, kenapa wanita harus diletakkan di belakang (wingking)? Di dapur saja? Di rumah saja? Tidak boleh bekerja di luar rumah? Wanita itu harusnya juga sama-sama di depan seperti para lelaki. Bila perlu, wanita harus bisa membuktikan diri lebih unggul daripada lelaki. Rata-rata, begitulah bunyi protesnya.

Tapi, benarkah filosofi Kanca Wingking bermakna merendahkan martabat dan menjadi kerangkeng bagi kaum wanita?

Sebagai orang Jawa, saya curiga bahwa filosofi ini telah mengalami distorsi makna, akibat orang Jawa sendiri (termasuk saya) yang semakin hari semakin jauh dari ke-jawa-annya. Bukannya memaknai filosofi Jawa dengan merujuk pada sumber lokal, kebanyakan malah melihat filosofi ini dari kacamata orang asing/bangsa barat (pengusung feminisme), yang tentu masih harus dipertanyakan pemahamannya akan alam pikiran bangsa Jawa.

Bila membaca artikel Apa Makna “Kanca Wingking” yang ditulis oleh Bapak Ribut Achwandi, seorang dosen Universitas Pekalongan sekaligus seorang seniman, kita bisa memahami bahwa Kanca Wingking sesungguhnya meletakkan martabat wanita sejajar dengan lelaki. Penggunaan kata kanca berarti teman  yang membawa implikasi makna lain, yaitu sejajar dan kerjasama. Sementara kata wingking  berarti belakang, tidak harus bermakna lebih buruk atau lebih rendah. Dalang berada di belakang layar. Padahal kita tahu, dialah yang menggerakkan wayang dan merupakan sosok sejati di balik lakon wayang tersebut, Dapur yang kita semua tahu merupakan sumber kehidupan sebuah keluarga, juga terletak di bagian belakang rumah. Paramedis, penyedia logistik, tentara cadangan dalam perang juga diistilahkan orang-orang yang berada di garis belakang. Bayangkan apa jadinya sebuah pertujukan wayang tanpa dalang, sebuah rumah tanpa dapur, dan perang tanpa ada yang bersiap di garis belakang? Kita juga bisa saksikan sendiri, betapa kacaunya sebuah rumahtangga/keluarga ketika posisi garis belakang ini ditinggalkan/dilalaikan oleh seorang istri/ibu. Meski telah diisi oleh kakek/nenek, baby sitter, asisten rumahtangga, toh mereka ‘hanya’ berposisi sebagai ‘pemeran pembantu’ yang terbatas pada tanggungjawab yang bertujuan meringankan saja. Sementara penanggungjawab utama garis belakang tetap harus ada yang mengisi, yakni seorang istri/ibu.

Sekarang, kita bisa merasakan bahwa wingking/belakang memiliki makna yang sama pentingnya dengan ngajeng/depan. Dalam rumahtangga, keberadaan seorang teman/partner di garis belakang akan membawa keseimbangan dan keselarasan dalam rumahtangga. Ia akan bahu membahu dengan lelaki yang memiliki tugas untuk berada di garis depan. Ini bukanlah tentang mana yang lebih tinggi atau mana yang lebih rendah. Belakang atau depan adalah urusan pembagian peran. Ada peran yang secara kodrat/fitrah hanya bisa/seharusnya dilakukan oleh wanita (mengandung, melahirkan, menyusui, dan mengisi figur seorang ibu), ada pula peran yang memang sudah ditugaskan oleh Sang Maha Kuasa untuk dijalankan lelaki (memimpin keluarga, mencari nafkah, dan mengisi figur seorang ayah).

Bagi saya pribadi, perenungan di atas telah membawa saya pada kesimpulan yang jelas; inilah gambaran pembagian peran yang ideal dalam sebuah rumahtangga. Seorang ulama pernah berkata bahwa wanita merupakan penggambaran dari sifat Rahiim Tuhan; berkarakter mendalam dan memiliki dimensi pengkhususan. Sementara itu, lelaki merupakan penggambaran dari sifat Rahmaan Tuhan; berkarakter meluas dan mencakup banyak bidang. Mungkin inilah mengapa wanita cenderung berpikir secara detail dan rumit; sementara lelaki cenderung berpikir secara garis besar dan simpel. Bila dua-duanya bekerjasama, maka sebuah rumahtangga akan memiliki karakter yang utuh; memiliki kedalaman sekaligus keluasan.  

Nah masalahnya, kehidupan itu lebih mirip wahana rollercoaster yang hobi berkelok dan naik turun secara tak terduga. Bagaimanakah cara menjaga keseimbangan peran suami-istri ini supaya tetap pada rel dan tidak melompat keluar jalur?

Berikut beberapa prinsip yang patut dijalankan secara konsisten untuk menjaga keseimbangan peran dalam rumahtangga:

1.  Jadikan idealisme pembagian peran sebagai patokan

Tidak mengapa, bila suatu ketika terjadi kondisi darurat yang mengharuskan suami-istri bertukar peran dalam mengelola rumahtangga (suami di garis belakang, istri di garis depan). Hal yang perlu diingat adalah, suami-istri harus terus mengusahakan untuk kembali pada pembagian peran ideal yang sudah disepakati bersama. Bahwa keadaan darurat ini harus terus diusahakan untuk berubah dan berusaha tidak terlena dengan keadaan yang sedang dijalani.

Jika seorang suami baru saja mengalami PHK, sementara istri memang memiliki peluang untuk menutup lubang finansial keluarga, tak ada salahnya ia bekerja dan suami bertanggungjawab di garis belakang. Namun, jika keluarga tersebut memang memiliki keyakinan bahwa idealnya suami di garis depan dan istri di garis belakang, maka dua-duanya harus mengusahakan keadaan ideal tersebut kembali lagi. Bila suami telah menemukan garis start baru untuk kembali ke depan, istri harus kembali ke posnya yang semula di garis belakang. Walaupun dengan begitu, ia jadi mengorbankan karir, penghasilan, pengakuan masyarakat,  dan hal-hal lain yang kemungkinan besar akan hilang bila ia memutuskan kembali ke garis belakang. Semua ini demi keseimbangan dalam rumahtangga.

2. Lelaki rindu memimpin wanita, wanita rindu dipimpin lelaki

Ketika wanita harus bekerja mencari nafkah karena suatu kondisi/alasan tertentu, sementara lelaki lebih banyak mengurus rumah; bukan berarti kepemimpinan keluarga beralih dari lelaki ke wanita. Bekerjanya wanita untuk mencari nafkah haruslah merupakan kesepakatan bersama yang merupakan hasil dari kepemimpinan lelaki dalam keluarga. Beberapa wanita, terutama yang mandiri secara finansial, sering dipandang sebagai pesaing lelaki dalam perihal kepemimpinan keluarga. Tetapi, sesungguhnya, dalam hati kecil wanita manapun, sekuat dan semandiri apapun, mereka tetap rindu untuk dipimpin oleh seorang lelaki. Begitu juga lelaki, selemah apapun dalam pandangan orang lain, ia pasti rindu memimpin seorang wanita. Dengan begini, tidak akan ada dua kepala yang memimpin satu tubuh, saling ingin mendominasi, sehingga arah keluarga menjadi bercabang dan tidak fokus, membuat bingung para anggota keluarga. Juga, tidak akan terjadi kosongnya tampuk kepemimpinan keluarga akibat saling mengalah untuk menghindari konflik suami-istri. Karena, suami sadar, setiap keputusan yang terjadi haruslah dalam koridor kebijakannya dalam memimpin, sekalipun yang digunakan dalam keputusan adalah pendapat sang istri.

3. Meskipun sibuk bekerja, suami harus meletakkan hatinya pada keluarga

Beberapa kenyataan yang kita jumpai dalam kehidupan menunjukkan bahwa ada suami-suami yang menganggap peran dirinya hanya sebagai pemenuh kebutuhan keluarga secara material. Asalkan sudah memberikan sandang, pangan, papan, pendidikan, hingga kebutuhan yang bersifat tersier, maka tugasnya sebagai seorang lelaki telah selesai. Lantas, ia merasa berhak bersenang-senang dengan dirinya sendiri, menekuni hobi yang ternyata malah memisahkan dirinya dengan keluarganya. Ia lupa bahwa ada kebutuhan batin keluarga yang harus dipenuhi. Ia lupa bahwa ia harus memiliki sensitifitas sebagai seorang pengayom dan pembimbing untuk keluarganya. Bagaimana ia memiliki keluasan untuk menampung segala keluh-kesah istrinya, sigap membantu urusan rumah dan anak-anak, dan menyediakan waktu-waktu khusus untuk bercengkerama dengan mereka. Meskipun secara fisik, seorang suami banyak beraktifitas di luar rumah, bukan berarti ia harus menomorduakan rumahnya. Di manapun ia berada, sesibuk apapun, hati seorang suami harus tetap terletak pada keluarganya.

4. Menyadari bahwa istri juga memiliki potensi positif yang harus dikembangkan

Setiap manusia, baik laki-laki atau perempuan, memiliki potensi positif dari Tuhan yang umumnya tergambar dalam passion masing-masing. Suami atau istri sudah sewajarnya mendapatkan kesempatan sama untuk mengembangkan potensi tersebut. Kebanyakan, suami lebih mudah mendapatkan kesempatan mengembangkan potensi diri karena ruang geraknya lebih luas daripada istri yang berperan di garis belakang. Untuk itu, rumahtangga harus dikelola sedemikian rupa, supaya istri juga memiliki kesempatan mengembangkan diri, meski seandainya ia harus banyak berada di lingkungan rumah. Pastilah hal ini akan membawa pengorbanan.

Misalnya, istri mengikuti pelatihan/kursus menjahit di luar rumah, sementara suami harus mengorbankan kegemarannya memancing di hari libur untuk menjaga anak-anak. Adakalanya istri juga berkorban demi pengembangan potensi suami. Sadar karena sekarang adalah momen penting bagi sang suami untuk menekuni bakat lukisnya, sementara anak-anak masih sangat kecil dan butuh perhatian ekstra dari seorang ibu, maka sang istri mem-puasai diri untuk mengasah ketrampilan menulisnya dan memilih fokus mengurus anak-anak, serta memberi ruang bagi sang suami. Di sisi lain, ketika melihat pengorbanan sang istri, sang suami juga tidak mau egois menenggelamkan diri dalam mengembangkan bakatnya. Secara sadar, ia berinisiatif membuat batasan-batasan terhadap kepentingan pribadinya, sehingga ia tidak sampai mengabaikan kebutuhan anak-istri terhadap kehadirannya sebagai seorang ayah dan seorang suami. Bukankah lebih menyenangkan, bila kedua pihak sama-sama berusaha memahami dan berusaha berkorban demi kepentingan pasangan, mencoba membuat kesepakatan-kesepakatan, bukan malah memperuncing perbedaan dan meninggikan tuntutan-tuntutan.

Pengaruh Keseimbangan Pembagian Peran Suami-Istri terhadap Keluarga

Adakah kita pernah berpikir mengenai fenomena para pekerja kantor yang enggan pulang ke rumah setelah jam kerja, malah memilih lembur atau hangout bersama kawan-kawannya? Padahal di rumahnya yang apik dan ber-ac, telah menunggu istrinya yang cantik dan anak-anaknya yang menggemaskan. Bagaimana dengan fenomena anak-anak sekolah yang malas pulang ke rumah atau pulang ke rumah langsung masuk kamar dan ketus sekali bila ditanyai orangtuanya? Padahal fasilitas hiburan dan segala kebutuhan sudah dipenuhi oleh orangtuanya. Mengapa ini terjadi? Bukankah rumah seharusnya adalah sebuah tempat yang senantiasa dirindukan manusia untuk pulang, untuk kembali? Di sinilah ia bisa merasakan damai tanpa harus memasang topeng dan menipu diri sendiri. Di sinilah ia bisa beristirahat dari carut marut dunia luar. Di sinilah manusia bisa menemukan kasih sayang tulus dan tangan-tangan terbuka yang senantiasa menerima ia apa adanya. Tanpa takut diomeli, tanpa khawatir kehilangan kehormatan, dan tanpa merasa lelah karena dituntut-tuntut.

Fenomena-fenomena di atas terjadi karena rumah hanya didefinisikan sebagai bangunan di mana manusia bertempat tinggal. Guna membangun rumah tempat pulang yang senantiasa dirindukan, bangunan fisik bukanlah syarat utama. Sebab, esensi utama sebuah rumah adalah keluarga. Sedangkan untuk membangun sebuah keluarga yang bisa menjadi rumah bagi para penghuninya, salah satu kunci utamanya adalah adanya keseimbangan peran antara suami dan istri dalam rumahtangga. Jika tidak, akan ada banyak rasa kecewa, frustasi, sumpek, ruwet, dan aura-aura negatif lain yang berkeliaran dalam rumah tersebut, yang membuat penghuninya enggan pulang dan merasa terasing di tengah keluarganya sendiri.

Keseimbangan peran suami dan istri dalam keluarga akan menciptakan suasana rumah yang lebih tertata, nyaman, sehingga keluarga tersebut bisa fokus mengadakan perbaikan-perbaikan atas kekurangan diri, seraya merekam memori-memori manis tentang bagaimana kehangatan seorang ibu, pengayoman seorang ayah, serunya berpetualang dan tumbuh bersama anak-anak, serta pelajaran penting tentang saling berkorban, saling menghormati, kesetiaan, persahabatan dari sepasang suami-istri. Peristiwa-peristiwa itulah yang akan menjelma menjadi sebuah rumah bagi para anggota keluarga. Seorang suami/ayah adalah rumah bagi istri dan anak-anaknya. Seorang istri/ibu adalah rumah bagi suami dan anak-anaknya. Anak-anak juga rumah bagi ayah, ibu, dan saudara-saudaranya.

Bayangkanlah; seorang anak yang kesepian tinggal di negeri orang, sehingga malas pulang ke apartemennya. Begitu sang ibu berkunjung, ia akan merasa sangat bersemangat pulang ke apartemen. Apartemen yang sama, yang hari-hari sebelumnya membuat ia malas pulang. Ya, sebab kehadiran sang ibu telah mengubah apartemen dingin itu menjadi hangat. Apartemen itu telah menjadi sebuah rumah yang ia rindukan untuk pulang. Ibu, sebagai simbol dari hal sakral bernama keluarga, adalah rumah yang sesungguhnya. Bukan apartemen itu. Di manapun kita berada, saat bertemu anggota keluarga kita, maka saat itu pulalah kita akan merasa pulang.

“Manusia bisa saja berhasil membangun sebuah rumah megah. Namun bila ia gagal membangun sebuah keluarga, sesungguhnya ia bagaikan membangun istana pasir di tepi pantai. Sia-sia belaka.”

 

*Narasi: Eryani Widyastuti

*Ide: Wahyu Herdianto & Eryani Widyastuti

*Sumber referensi: 

Artikel Apa Makna “Kanca Wingking” oleh Ribut Achwandi, dosen Universitas Pekalongan

http://infokampusonline.com/makna-kanca-wingking.html

 

Advertisements

2 thoughts on “KANCA WINGKING: Merenungkan Peran Lelaki dan Wanita dalam Rumahtangga

    • Iya Mbak… sayang sekali kalau energi kita habis di topik ini… padahal ada topik lain yang lebih mendasar untuk direnungkan… terimakasih sudah membaca… 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s