MUTIARA KELUARGA: Surat Merah Jambu


(*cerita ini adalah fiksi, namun bisa terjadi pada siapa saja dalam kehidupan nyata)

surat merah jambu

Aku bukan pemarah. Tetapi, aku baru tahu bahwa aku juga bukan seorang penyabar, ketika dia lahir. Jika ada lirik lagu yang berbunyi ‘kaki di kepala, kepala di kaki’, itulah rasanya menjadi seorang ibu. Anakku seolah selalu tahu titik-titik lengahku dan batas-batas kesabaranku. Tanpa basa-basi, opening, maupun prolog, dia langsung menyerangku tepat pada topik dan saat di mana kewarasanku sebagai orang dewasa berada di titik terlemah. Saat aku sedang PMS, dia menangis sedih hingga delapan oktaf karena mainannya hilang, lalu tangannya tak sengaja menyenggol vas kristal kesayanganku hingga pecah berkeping-keping. Atau, seperti sekarang. Ketika aku sedang dikejar deadline mengemas pesanan risoles tetangga yang sudah matang, dia malah rewel tak karuan karena aku tidak mengijinkannya mencicip jajanan itu.

“Laras…!”

Seketika teriakanku membahana ke seantero rumah. Menggetarkan kaca-kaca jendela, mengecutkan niat kucing liar yang hendak mencuri ikan goreng di meja, dan tentu saja membuat keder Laras.

“Ibu tidak suka kamu teriak-teriak seperti itu! Telinga Ibu sakit mendengarnya! Sekarang, diam! Atau Ibu kunci kamu di dalam kamar mandi!” bentakku marah.

Aku tidak mencubit atau memukulnya. Namun, aku bisa melihat ekspresi Laras yang sangat terluka karena sikapku tadi. Dia terisak menahan tangis mati-matian, karena tidak mau mendapatkan hukuman dariku. Melihat situasi ini, aku jadi merasa bersalah telah membentak kasar anakku. Hanya saja, aku tidak tahu cara lain untuk mengubah perilaku buruk Laras yang suka sekali mengumbar emosi negatifnya, hingga membuatku hilang kesabaran.

“Ibu mau antar risoles ke rumah Bu Tika.” kataku ketus, seraya memasukkan risoles-risoles ke dalam kotak plastik.

Mbak Tika, begitu aku memanggilnya, adalah salah satu tetangga yang cukup akrab denganku. Ia seringkali membuatku iri, karena memiliki anak perempuan tunggal yang manis, baik penampilan maupun sikapnya. Rossi, anak Mbak Tika yang sekarang duduk di kelas tiga SMP itu, sewaktu kecil tidak pernah rewel, marah-marah, menangis meraung-raung seperti Laras. Dari dulu, Rossi selalu bersikap sopan, anteng, dan penurut. Ah, seandainya Laras bisa seperti Rossi…

“Ibu… aku ikut…” isak Laras takut-takut.

“Nggak. Ibu capek dengar kamu nangis dan marah-marah terus setiap hari. Kamu di rumah saja. Pintu depan Ibu kunci dari luar.” kataku emosi. Membandingkan Laras dengan Rossi semakin menambah kejengkelanku pada Laras. Entah mengapa, masih ada rasa ingin menghukum Laras, meski dia sudah tidak menangis.

“Ibu…! Ibu…! Jangan…! Aku takut…! Ikut…! Ikut….!”

C-klek!

Aku putar anak kunci pintu depan. Rasa puas memulas hatiku. Biar tahu rasa… Bisik hatiku amat-sangat-lirih. Lalu, aku pun melangkahkan kaki menuju rumah Mbak Tika yang berjarak lima rumah dari rumahku.

“Permisi… Mbak Tika….” Pintu depan rumah Mbak Tika terbuka. Dengan langkah pelan dan sedikit segan, aku langsung masuk ke dalam. Aku celingak-celinguk sebentar dan menjumpai kamar Rossi terbuka lebar. “Mbak Ti….”

Aku membatu. Kulihat Mbak Tika bersimpuh di sebelah tubuh Rossi. Rossi yang biasanya menyapaku ramah, kini terbujur kaku di lantai dengan mulut berbusa.

“Mbak Helen…!” Mbak Tika menyadari kehadiranku. Matanya nanar dan berurai air mata. Bahu dan tangannya bergetar hebat, seraya menyodorkan padaku selembar kertas merah jambu yang agak kusut dan lembab.

Aku menerima kertas itu, melipatnya begitu saja, dan segera bersimpuh panik di dekat Mbak Tika untuk mengecek keadaan Rossi. Tanpa sengaja, kakiku menyenggol sebuah botol plastik besar warna putih bertuliskan merk obat pereda rasa sakit yang amat terkenal. Lalu, aku juga menginjak beberapa pil putih yang berserakan di dekat botol itu.

Tengkukku seolah dikompres balok es.

“Rossi kenapa, Mbak?! Ki-kita bawa ke rumah sakit,… a-aku telepon ambulans—”

………………………

…………..

Mama…

Kali ini, bukan Rossi yang harus dengerin Mama. Kali ini, Mama yang harus dengerin Rossi. Satu kali saja. Setelah ini, Mama nggak perlu dengerin Rossi lagi.

Mama… Selama ini, Rossi sudah berusaha sebisa mungkin untuk menjadi anak yang baik… seperti yang Mama mau…

Rossi nggak boleh marah, nggak boleh sedih, nggak boleh kecewa, nggak boleh protes… karena kata Mama, anak baik adalah anak yang sopan dan penurut. Rossi ingin disayang Mama, makanya Rossi turuti keinginan Mama.

Mama tahu, apa yang Rossi lakukan selama ini untuk menjadi anak seperti keinginan Mama?

Ketika Rossi sedih dan marah, Rossi berusaha menahan dalam dada, sampai dada Rossi sesak! Karena Mama nggak suka anak yang cengeng dan rese. Ketika Rossi menemui kesulitan dan kebingungan, Rossi berusaha menyimpannya dalam kepala, sampai kepala Rossi mau meledak! Karena Mama nggak suka anak yang sering mengeluh.

Padahal, Rossi kepingin banget nyeritain apa yang Rossi simpan dalam dada dan kepala Rossi pada Mama. Supaya sakit dalam dada dan kepala Rossi hilang selamanya. Tapi, setiap kali Rossi mulai cerita, Mama selalu bilang kalau Rossi cengeng dan tukang mengeluh. Mama tidak suka!

Rossi takut banget, kalau Mama benci Rossi! Padahal, di dunia ini, Rossi cuma punya Mama. Karena Tuhan terlalu jauh di langit sana, Papa selalu sibuk kerja dan tur sepeda sama temen-temennya, sementara temen-temen Rossi suka banget nelikung Rossi dari belakang…

Jadi, Rossi cuma punya Mama…

Rossi cuma pengen disayang Mama… nggak cuma ketika Rossi jadi anak baik dan penurut… tapi, juga ketika Rossi terpuruk, lemah, jelek, dan butuh bantuan Mama untuk memperbaiki diri… Rossi berharap diterima Mama dalam keadaan apapun…

Tapi, waktu kemarin Mama bilang, Mama nggak akan sayang Rossi lagi kalau Rossi nggak mau nurut masuk SMA yang Mama pilihin… Rossi jadi sadar, bahwa Mama sebenernya memang nggak sayang Rossi sejak awal. Mama cuma manfaatin Rossi buat menuhin keinginan Mama!

Jadi, buat apa Rossi hidup kalau di dunia ini sudah nggak ada yang sayang sama Rossi?

Sudah ya, Ma…

Rossi capek banget nahan sesak dada dan sakit di kepala…

Rossi mau tidur dulu… tidur yang lama… sampai Rossi nggak ngerasain, sesak, sakit, dan sedih lagi…

Makasih udah mau dengerin curhat Rossi…

Rossi sayang Mama…

Maaf…

Mataku dibutakan oleh genangan airmata, usai membaca kertas merah jambu pemberian Mbak Tika tadi. Surat perpisahan dari Rossi. Aku baru bisa membacanya ketika kami duduk di ruang tunggu rumah sakit. Menunggu dengan tekun selesainya prosedur pengurusan jenazah Rossi. Laras kubawa serta. Dia menatapku penuh tanya, tanpa berani bertanya. Bergantian mengamati ekspresi kalutku dan kertas surat yang semakin bergelombang terkena keringat dingin dari tanganku dan tetesan airmata.

“Ternyata Rossi menyimpan lukanya sendiri tanpa aku tahu, Mbak Helen… Sejak kecil, aku selalu tegas menyuruhnya berhenti menangis, melarangnya marah, dan mengharuskannya patuh. Dia memang jadi anak yang baik… tapi tidak bahagia… dan rapuh… Oh, padahal ucapanku padanya kemarin hanya ancaman kosong… mana ada ibu yang berhenti menyayangi anaknya– Maafkan Mama, Rossi…!”

Mbak Tika tergugu di sampingku. Aku terus berusaha menenangkannya. Dengan tangan kiriku, kugenggam kuat jemari Mbak Tika. Sementara tangan kananku menggenggam erat tangan mungil Laras; sungguh aku tak ingin kehilangan dia seperti Mbak Tika kehilangan Rossi. Sekejap, aku tenggelam dalam bayangan pilihan-pilihan sikap yang kuambil dalam menghadapi tangis dan amarah Laras selama ini. Aku sangat menyesal. Apalagi tadi aku sempat membaca sebuah nasehat di media sosial yang berbunyi: bertindak atau mengucapkan sesuatu dalam keadaan marah hanya akan membuahkan penyesalan di masa depan. 

Nasehat itu memang benar adanya.

“Ibu, Mbak Rossi sakit apa, sih?”

Aku menunduk menatap Laras yang menggenggam erat tepian samping rokku, sambil mendongakkan wajahnya yang polos. Di hadapan kami berdua, terbaring tubuh Rossi di bawah gundukan tanah basah, berhias sepasang nisan putih dan taburan kelopak bebungaan.

“Ibu belum tahu penyebabnya.” Aku berjongkok, seraya tersenyum sendu. “Laras, kemarin Ibu berpikir lama sekali tentang sikapmu yang sering marah, menangis, teriak-teriak…”

“Ibu jangan marah…” potong Laras lirih. Bola matanya berkilat takut.

Aku menggeleng pelan. Ekspresi Laras membuatku miris. Ibu macam apa aku ini yang membuat anaknya sendiri merasa terancam? Bukannya menjadi tempat bernaung dan bermanja.

“Ibu minta maaf, kalau selama ini Ibu sering menyakiti hati Laras. Ibu baru menyadari kalau Laras marah, menangis, berteriak… itu bukan berarti Laras sedang nakal. Tapi, itu adalah cara Laras untuk menceritakan perasaan Laras pada Ibu. Laras ingin bercerita banyak, tapi Laras terlalu marah atau sedih. Akhirnya, kacau, deh.” Kucoba sedikit bercanda.

“Hehehe.” Laras hanya meringis malu.

“Bagaimana kalau kita buat perjanjian?”

“Apa itu, Bu?”

“Jika Laras merasa marah, sedih, kecewa, kesal, atau apa saja… Laras cerita ke Ibu, ya? Ibu janji mau mendengarkan cerita Laras. Ibu tidak akan marah.”

“He’eh!” Laras mengangguk-angguk semangat.

“Tapi, Laras juga harus janji untuk bercerita dengan suara pelan dan jelas. Jangan sambil teriak, nangis, atau marah. Nanti Ibu tidak bisa mengerti perkataan Laras.”

“Sulit… Laras nggak bisa…” Laras mencibir sedih.

“Kita berusaha bersama, ya? Ibu akan membantu dan menemani Laras, supaya Laras bisa mengontrol rasa marah dan rasa sedih, tanpa harus memendam perasaan–”

Laras tampak kebingungan dengan penjelasanku yang terlampau rumit untuk anak seusianya. Aku merenung sebentar, seraya menatap pusara Rossi. Menghayati rasa sesal Mbak Tika dan keputusasaan Rossi yang terkandung dalam tiap butir tanahnya.

“Kalau Laras masih ingin marah-marah dan menangis, boleh saja. Marah dan menangislah dalam pelukan Ibu. Setelah tenang, barulah Laras bercerita.”

Laras memeluk pinggangku erat-erat. Dia tak berkata apa-apa. Hanya tersenyum lebar, dengan mata berbinar. Aku menatap Laras dengan perasaan sayang yang tak terkatakan, kecuali bisikan dalam hatiku sendiri.

 Aku tidak bisa lagi mementingkan kenyamanan diriku dengan mengingkari sikap dan emosi negatif Laras. Aku harus menerimanya dengan lapang dada, memperbaikinya, bukan menekannya. Jika bukan orangtua yang mau menerima dan berusaha memahami sikap terburuk anaknya, lalu siapa lagi? 

(Eryani Widyastuti)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s