MUTIARA KELUARGA: Kasus yang Rumit


(*cerita ini adalah fiksi, namun bisa terjadi pada siapa saja dalam kehidupan nyata)

kasus

 

“Ibu, aku sedih sekali. Kecewa. Hari ini, tidak ada teman untuk diajak bermain.”

“Mau bermain dengan Ibu?”

“Aku inginnya bermain dengan teman.” Dia mulai menangis.

“Apakah kamu mau Ibu peluk?”

Dia pun menghampiriku. Kupeluk lembut badan mungilnya, sekaligus hatinya yang masih polos.

“Nak, setiap hari kebahagiaan dan kesedihan selalu bersama-sama mengunjungi kita. Mereka bergandengan tangan erat seperti dua sahabat. Jadi, di mana ada kebahagiaan, pasti ada kesedihan. Di mana ada kesedihan, pasti ada kebahagiaan.”

“Tapi, aku masih sedih…” Kakinya menghentak-hentak.

“Kamu bisa memilih, kok. Tuhan mengijinkan. Kebahagiaan atau kesedihan. Mana yang kamu pilih?” tatapku pada sepasang mata berkaca-kaca itu.

“Kebahagiaan…”

“Kalau begitu, ambil kesedihan dari dadamu…” Kugerakkan tanganku, seolah merenggut sesuatu dari dadanya. “Oh! Kesedihannya melarikan diri ke perut!” Kucengkeram sedikit perutnya, hingga dia tertawa kegelian.

“Letakkan kesedihan itu dalam keranjang ini….” Aku tahu, tak ada keranjang di sini. Tapi, dia tahu maksudku. “Dan biarkanlah kesedihan itu menguap oleh waktu. Sudah?”

“Sudah.”

“Sekarang, fokuslah pada kebahagiaanmu. Main mobil-mobilan yang seru, sambil menunggu sup kesukaanmu matang.”

Kutinggalkan dia tenggelam dalam dunia imajinasi, dengan perasaan bangga diri bak seorang detektif yang baru saja memecahkan kasus terumit sepanjang sejarah. Ah, kebahagiaan dan kesedihan… cukup sederhana untuk dipahami…

Namun, tak lama, kudengar rengekan frustrasi. Maka, kupeluk lagi dia. Kali ini, mobilnya rusak. Dia sedih lagi.

“Ingat… pilih yang mana–”

Tangisnya semakin kencang. Membuatku terhentak. Teringat sesuatu.

Aduh! Bagaimana bisa aku melupakan hal terpenting? Yaitu memberitahunya bahwa sebelum meletakkan kesedihan, terlebih dahulu dia harus menemukan pelajaran yang tersembunyi di dalam kesedihan itu.

Ah, terlalu banyak hal harus kuterangkan padanya tentang kebahagiaan dan kesedihan. Bagaimana bisa kurangkum pengalaman hidup selama tiga puluh tahun untuknya?

Bagaimana cara menjelaskannya? Adakah cara yang pas untuk memberikan pemahaman selain dia harus mengalami sendiri pahit-manis kehidupan?

Tiba-tiba, aku merasakan apa yang dia rasakan tadi. Sedih. Kecewa. Frustrasi. Dada dan kepalaku sesak.

Rupanya, sebelum menyelesaikan masalah anakku, aku harus menyelesaikan masalahku sendiri. Ah… benar-benar kasus yang rumit!

 

(Eryani Widyastuti)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s