MUTIARA KELUARGA: Menjadi Air Bagi Api


(*cerita ini adalah fiksi, namun bisa terjadi pada siapa saja dalam kehidupan nyata)

api air

“Wah, Anak Ibu, pagi-pagi sudah main game.” Aku menyapanya saat ia asyik menyentuh-nyentuh layar gadget dengan jemarinya.

“Aku kan sudah sholat subuh tadi. Sudah mandi. Sudah sarapan. Semua kewajiban sudah kulakukan. Jadi sekarang, waktunya main game.” jelasnya, bak seorang diplomat ulung.

Aku tertawa. Memang begitulah bunyi kesepakatan yang kami buat dalam rumah ini. Kewajiban harus didahulukan sebelum kesenangan. “Oke, deh. Tumben nggak main ke rumah Faiz. Ini kan hari minggu.”

“Nggak usah. Jam sembilan nanti, Faiz mau pergi belanja dengan orangtuanya.”

“Masih ada waktu bermain dengan Faiz, sebelum ia berangkat, kan? Tuh, Faiz sedang bermain di halaman rumahnya.” Aku melongokkan kepala ke seberang jalan, tempat rumah Faiz berada. Anak itu sedang asyik bermain robot-robotan. Hobi yang sama persis dengan anakku. Makanya, mereka berdua akrab sekali.

“Aku nggak kepingin main dengan teman sekarang. Aku mau main game saja.”

Benar nih, nggak menyesal? Sungguh, aku ingin melontarkan kalimat itu. Tapi, kupikir tak bijak juga bila terus-terusan mengkritisi keputusan anakku. Pasti akan terasa menyebalkan baginya.

“Baiklah. Ibu mau cuci baju dulu ya. Nanti jam 9, waktu bermain game selesai, ya?”

“Siap!” sahutnya.

Jam 9 lebih sepuluh menit, selesai mencuci baju, aku menghampiri anakku dan mengingatkan bahwa waktu bermain game telah usai. Ia mengucek-ucek mata sebentar, lalu menyerahkan gadget itu padaku.

“Aku mau main ke rumah Faiz, ah!” katanya, seraya berpamitan padaku.

Tak berapa lama kemudian, ia kembali ke dalam rumah dengan wajah tertekuk dan kusut. Terdengar suaranya menahan kecewa. “Faiz sudah berangkat…”

“Katamu jam 9 Faiz pergi dengan orangtuanya, kan? Ibu tadi sudah mengingatkanmu. Tapi, kamu lebih memilih bermain game daripada bermain dengan Faiz. Seharusnya tadi, kamu main dulu dengan Faiz. Setelah ia berangkat, baru kamu bermain game.” Aku coba menasehati, supaya ia sadar akan kesalahannya tadi. Tapi, kata-kataku semakin memicu amarahnya. Ia meledakkan teriakan dan airmata.

“Aku benci belanja! Kenapa Faiz harus belanja?! Seharusnya Faiz tidak boleh belanja! Huaaaa….”

“Apakah kamu mau Ibu peluk?” tawarku, seraya merengkuh tubuhnya. Tapi, ia malah memukuli lenganku untuk melampiaskan kekesalannya. Dengan kekuatan seorang anak kecil, pukulan itu sama sekali tidak sakit. Meski tidak sakit, tindakan memukul dengan amarah ini tetap tidak bisa dibenarkan.

“Kalau kamu memukul Ibu, kamu akan menyakiti Ibu. Lebih baik, kita tidak berpelukan dulu, sampai kamu mau berjanji tidak memukul Ibu lagi.” Aku menjauhinya. Ia tetap mendekat dengan penuh amarah, memaksaku untuk memeluk. Tentu saja aku menolak.

“Ini salah Ibu…! Ini salah Ibu…!” teriaknya dengan amarah tak terkendali. Ia meneriakiku tepat di dekat telingaku.

Aku merasa tak nyaman. Harga diriku sebagai individu mulai terusik. Tapi, aku putuskan tidak menyambut amarah itu dengan amarahku. Jika ia menjadi api, aku akan menjadi air. Jika ia berteriak, aku akan diam.

“Huuuuuh…!” Ia berteriak lagi. Jengkel, karena tidak mendapatkan reaksi yang diharapkannya. Bila aku marah, ia memiliki alasan untuk semakin melampiaskan amarahnya. Tapi, ketika aku diam, kemarahannya seolah limbung tak menemukan pijakan untuk naik. Jelas ini berlawanan dengan sifat amarah yang selalu ingin meninggi tanpa batas.

Lalu, ia memukuli pahaku.

“Memukul dengan amarah adalah perbuatan merusak dan tidak disukai Tuhan. Jadi, lebih baik Ibu masuk kamar, supaya kamu berhenti memukul Ibu.” kataku dengan nada menahan gusar.

Aku masuk kamar tidur, dan mengunci pintu. Ia semakin marah. Menggedor-gedor pintu dan memaksaku keluar. Tapi, aku berusaha tetap tenang dalam diam.

Lambat laun, aku dengar, teriakan marahnya semakin mereda dan akhirnya hilang sama sekali. Aku keluar kamar dan menemukannya sedang bermain robot-robotan di lantai untuk menghibur diri.

“Sudah selesai marahnya?” Aku duduk di sebelahnya.

“Sudah.” suaranya terdengar lebih tenang. “Maaf ya, Bu? Aku tadi marah.”

“Iya.” Aku memeluknya dan ia memeluk balik. “Apakah kamu mau membicarakan masalah tadi dengan Ibu?”

“Iya, mau. Setelah bicara, kita main bersama ya, Bu?”

“Mau banget! Aku suka bermain dengan anakku.”

Aku lingkarkan tanganku pada pundak mungilnya. Kami pun mulai membicarakan kejadian hari ini. Tanpa amarah lagi.

 

(Eryani Widyastuti)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s