ANAK ADALAH RAJA: Fase Pertama Perkembangan Anak (0-7 Tahun)- Bagian I


photogrid_1466262088983.jpg

7 tahun pertama, 7 tahun kedua, 7 tahun ketiga… 

Familiar dengan istilah di atas? Ketiga istilah tersebut merupakan fase perkembangan seorang manusia (mulai anak hingga dewasa) berdasarkan riwayat Rasulullah, yang kini acapkali menjadi pembahasan di mana-mana. Oleh karena itu, wajar bila penafsiran atas makna 3 Fase perkembangan anak ini menjadi beragam.

Saya pun, dalam artikel ini, akan mencoba membangun sendiri penafsiran saya mengenai Fase Pertama (0-7 tahun) dari perkembangan anak tersebut. Mengapa hanya Fase Pertama? Sebab, pengalaman saya mempraktikkan konsep 3 Fase ini baru selesai sampai pada fase ini, sementara dua fase selanjutnya hanya saya pahami secara teoritis saja. Pembahasan Fase Pertama ini akan terbagi menjadi 2 artikel, yaitu ANAK ADALAH RAJA: Fase Pertama Perkembangan Anak (0-7 Tahun)- Bagian I dan Bagian II.

Mari kita mulai! 🙂

Konsep 3 Fase Perkembangan Anak

Fase perkembangan anak ini pertama kali saya kenal ketika membaca buku Munif Chatib yang berjudul Orangtuanya Manusia. Dalam buku itu disebutkan, bahwa Rasulullah pernah menjelaskan teori-teori perkembangan anak, yang selanjutnya disebut sebagai Fase  Status dan Fase Ruang Lingkup (halaman 18-20).

FASE STATUS

“Dalam tujuh tahun pertama, anak adalah RAJA; tujuh tahun kedua, menjadi PEMBANTU (yang harus taat dalam menjalankan perintah); sedangkan tujuh tahun ketiga, menjadi WAZIR (menteri) yang bertanggungjawab terhadap tugas-tugasnya.”

 

FASE RUANG LINGKUP

“Biarkanlah anak-anak kalian bermain dalam tujuh tahun pertama, kemudian didik dan bimbinglah mereka dalam tujuh tahun kedua, sedangkan tujuh tahun berikutnya, jadikan mereka bersama kalian dalam musyawarah dan menjalankan tugas.”

Saya cukup terkejut ketika mengetahui bahwa ternyata Bapak Pendidikan Nasional kita (Ki Hadjar Dewantara) juga menggunakan konsep perkembangan anak yang setipe dengan penjelasan Rasulullah di atas. Dalam buku Bagian I: Pendidikan (halaman 28-29), Ki Hadjar Dewantara memberikan acuan sebagai berikut.

Untuk keperluan pendidikan, maka umur anak-anak didik itu dibagi menjadi 3 masa, masing-masing dari 7 atau 8 tahun (1 windu):

a. Waktu Pertama (1-7 tahun) , dinamakan masa kanak-kanak/kinderperiode

b. Waktu ke-2 (7-14 tahun), yakni masa pertumbuhan jiwa fikiran (intelectueele periode)

c. Masa ke-3 (14-21 tahun), dinamakan masa terbentuknya budi pekerti (sociale periode)

Mirip, bukan? Dari sini kita tahu bahwa Ki Hadjar dan Rasulullah sama-sama sepakat bahwa ada tiga fase penting dalam kehidupan seorang anak, di mana setiap fasenya memiliki penanganan yang berbeda-beda. Pada setiap fase ini, orangtua harus benar-benar jeli dan bijak dalam menyikapi.

Lantas, apa yang menjadi tujuan dari pembagian 3 Fase Perkembangan ini? Apakah supaya anak menjadi cerdas, menjadi orang sukses, menjadi presiden, dokter, direktur, mudah mencari pekerjaan di masa depan?

Menurut hemat saya, baik Rasulullah maupun Ki Hadjar Dewantara tidak pernah memaksudkan konsep pendidikan ini untuk meraih sesuatu yang bersifat materi. Tetapi, lebih dari itu. Pendidikan sesungguhnya lebih mengarah pada sebuah kerja spiritual. Jadi, tujuannya pun tentu lebih bersifat spiritual. Ini tidak berarti kita menafikkan materi. Materi hanyalah efek samping dari kesuksesan spiritualitas kita. Sebagai contoh, orang yang hebat, berprestasi, memiliki kedudukan tinggi, atau memiliki banyak harta belum tentu bahagia. Sementara orang yang memiliki sedikit harta, tidak terkenal, tidak memiliki prestasi atau kedudukan terhormat di mata manusia/secara materi, juga belum tentu menderita/tidak bahagia. Mengapa begitu? Sebab materi memang bukan penentu kebahagiaan manusia. Materi hanyalah alat/ kendaraan untuk hidup, tetapi bukanlah tujuan hidup itu sendiri. Ki Hadjar Dewantara telah menetapkan Manusia Merdeka  sebagai tujuan dari konsep pendidikan yang beliau usung. Pengertian Manusia Merdeka yaitu manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri (Bagian I: Pendidikan, halaman 3). Sementara Rasulullah telah menyampaikan bahwa Tuhan menghendaki manusia sebagai Khalifah Allah/wakil Tuhan di bumi.

wp-1466238817211.jpeg

Anak adalah Raja?

Sang Raja kecil tidak membutuhkan kewenangan untuk menghukum atau membuat peraturan bagi rakyatnya. Mereka hanya butuh kelembutan dan kasih sayang dari orangtuanya. Berbicaralah yang lembut, memeluk, atau menciumnya, dan biasa memanggil mereka dengan sebutan=sebutan yang indah dan positif.

(Orangtuanya Manusia, halaman 35)

Bila di awal tadi kita sudah membicarakan tentang konsep dasar 3 Fase Perkembangan beserta tujuannya, kini saatnya kita menginjak pada pembahasan makna frasa ‘Anak adalah Raja’. Apakah itu artinya anak benar-benar harus bertindak seperti seorang Raja? Dituntut membuat keputusan, memerintah, bertindak tanduk sempurna sesuai etika, dan bertanggungjawab atas banyak hal? Apakah mungkin anak usia 0-7 tahun mampu melakukan semua hal itu? Jangankan mereka, orang dewasa saja belum tentu bisa melakukannya dengan baik.

Jadi apa maksud Rasulullah mengatakan bahwa anak usia 0-7 tahun adalah Raja? Sebelumnya kita harus memahami bahwa bila Rasulullah mengatakan/melakukan sesuatu, maka pemaknaan hal tersebut tidak bisa berhenti pada pemaknaan harfiah/fisik/lahiriah saja. Kita semua pasti tahu bagaimana Rasulullah begitu menekankan aspek spiritual manusia. Bahkan beliau juga mengatakan bahwa semua perbuatan itu sangat tergantung pada niatnya. Bisa jadi, perbuatan yang sama memiliki makna berbeda di hadapan Tuhan karena perbedaan niat.

Berangkat dari pemikiran ini dan juga setelah membaca beberapa artikel serta buku, saya menyimpulkan bahwa tidak masuk akal bila Rasulullah menuntut anak usia 0-7 tahun untuk bersikap sebagai seorang Raja. Apalagi, seorang Raja yang baik tidak bisa hanya asal memerintah atau memutuskan. Ia harus memiliki kebijaksanaan dan memiliki kedekatan tinggi dengan Tuhan. Jangankan untuk berkewajiban bersikap seperti seorang Raja, bahkan kewajiban sholat saja belum dibebankan pada anak usia ini. Bila melakukan kesalahan pun juga belum dikenai dosa oleh Tuhan. Jadi, frasa ‘anak adalah Raja’ ini lebih tepat ditujukan kepada orangtua, bukan kepada si anak.

Pembahasan mengenai bagaimana orangtua mengasuh Sang Raja kecil, bisa dibaca pada artikel ANAK ADALAH RAJA: Fase Pertama Perkembangan Anak (0-7 Tahun)- Bagian II. 🙂

-oleh Eryani Widyastuti-

 


*Sumber rujukan:

-Orangtuanya Manusia (Cetakan I, 2012). Munif Chatib. Penerbit Kaifa.

-Bagian I: Pendidikan (Cetakan II, 1977). Ki Hadjar Dewantara. Penerbit Majelis Luhur Taman Siswa Yogyakarta.

Sumber gambar Empat Tahapan Manusia: Forum Maiyah


 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s