DONGENG ANAK: Pak Cethil Menanak Batu


(Dongeng ini ditulis berdasarkan cerita pendek berjudul Pak Cethil Adang Watu yang pernah dimuat di majalah Jaya Baya tahun 90-an. Saya lupa nama penulis aslinya. Dongeng ini adalah salah satu dongeng masa kecil yang abadi dalam hati. Setiap tidur di rumah Nenek, saya selalu minta dibacakan cerita ini oleh beliau, hingga saya duduk di bangku SMP. Masih terngiang suara Nenek yang bermode getar saat membacakannya. Ketika dongeng lagi seru-serunya, tiba-tiba beliau malah tertidur. Bubar deh dongengnya… 😀

Untuk mengenang semua itu, saya ingin menuliskannya kembali berdasarkan ingatan saya, dengan aransemen ulang. Mohon ijin menceritakan kembali dan salam takzim untuk sang penulis asli.)

pak cethil

Pak Cethil ingin sekali makan ketan bubuk kedelai buatan Bu Loman yang punel dan gurih itu. Tapi, ia tidak ingin berbagi dengan siapapun! Balasan apa yang akan didapat Pak Cethil atas sifat kikirnya ini?

photogrid_1464649327246.jpg

Jaman dahulu, rumah-rumah di desa masih banyak yang berdindingkan anyaman bambu. Termasuk rumah sepasang suami istri, bernama Pak Cethil dan Bu Loman.

“Bu, aku ingin membuat rumah baru berdinding batu di sebelah rumah kita yang lama. Supaya lebih kokoh.” usul Pak Cethil pada istrinya.

“Kalau begitu, kita harus meminta bantuan para tetangga. Aku akan masakkan mereka hidangan yang enak setiap hari.” kata Bu Loman senang.

“Tidak perlu, Bu. Aku akan mengerjakannya sendiri. Aku tidak mau uang kita habis untuk mengenyangkan perut tetangga.”

Begitulah kikirnya Pak Cethil. Ia tidak rela jika miliknya berkurang atau menjadi milik orang lain. Lebih baik, ia bersusah payah sendirian mengangkut batu-batu kali, memotong kayu, dan membangun rumah, mulai pagi hingga malam.

photogrid_1464649354655.jpg

“Bu, besok siang, buatkan aku ketan bubuk kedelai, ya?” pinta Pak Cethil, suatu siang, saat istirahat dari pekerjaan membangun rumah. Sudah lama ia tak makan ketan buatan istrinya yang super enak itu. Ia membayangkan, betapa lezatnya makan ketan punel dan gurih sehabis lelah bekerja. Mmmm!

“Boleh saja, Pak. Kalau begitu, sekarang antar aku ke pasar untuk membeli bahan-bahannya. Supaya besok pagi, aku bisa langsung memasak ketan.”

Pak Cethil menyanggupi permintaan Bu Loman. Ia sangat bersemangat mengantar istrinya ke pasar, menumpang angkutan kereta kuda. Sepulang dari pasar, mereka menuju kebun pisang tetangga.

“Pak, boleh minta daun pisang?” pinta Bu Loman pada sang pemilik kebun.

“Oh, silakan, Bu Loman. Wah, mau masak apa gerangan?” tanya sang pemilik kebun ramah.

“Ketan bubuk kedelai!” sahut Pak Cethil penuh semangat.

“Ketan buatan Bu Loman pasti enak. Kalau sudah matang, bolehkah saya ikut mencicipi?” pinta sang pemilik kebun.

Belum sempat Bu Loman menjawab, Pak Cethil berkata, “Jangan, jangan! Ketan buatan Bu Loman keras! Sekeras batu! Hihihi.”

Sang pemilik kebun bersungut-sungut. Ia sudah hapal sifat Pak Cethil yang kikir. Ucapannya tadi pasti hanya alasan saja.

“Pak, jangan begitu. Menyakiti hati tetangga. Apa salahnya jika kita berbagi dengan mereka?” nasehat Bu Loman.

“Tidak boleh. Cuma aku yang boleh makan ketan itu. Kamu juga tidak boleh makan lo, Bu!” peringat Pak Cethil.

Bu Loman menggeleng-geleng prihatin. Bahkan, ia yang memasak ketan itu pun tidak boleh ikut makan. Pak Cethil benar-benar keterlaluan!

photogrid_1464649366678.jpg

Esok harinya, Pak Cethil bersiap membangun rumah lagi. Ketika masuk dapur, dilihatnya Bu Loman sedang sibuk mengaduk bulir-bulir ketan yang sudah direndam semalaman.

“Bu, begitu ketan sudah matang, langsung beritahu aku ya!” pesan Pak Cethil pada Bu Loman.

Tak berapa lama kemudian, Pak Cethil sudah sibuk menyusun bebatuan dengan perekat semen basah. Sementara Bu Loman memarut kelapa dan membuat bubuk kedelai sembari menunggu ketan masak di atas tungku. Bau ketan yang dimasak menyeruak, terbawa angin menuju hidung Pak Cethil.

“Ketan, ketan, ketan! Enak, enak, enak! Punel, Punel, Punel!” begitu dendang Pak Cethil seraya membayangkan kelezatan ketannya nanti.

Mereka berdua tidak sadar, bahwa ada sepasang mata yang mengintip dari luar rumah. Seseorang tengah menunggu lengahnya Pak Cethil dan Bu Loman.

“Pak, aku bantu bekerja, ya?” Bu Loman menghampiri Pak Cethil di rumah mereka yang sedang dibangun, ketika matahari hampir tegak lurus di atas kepala.

“Lho, memang ketannya sudah matang?” Pak Cethil heran melihat kemunculan istrinya.

“Sebentar lagi matang. Tapi, api tungku sudah kumatikan. Kukusannya masih aku tutup, supaya ketannya benar-benar tanak.”

“Ketan, ketan, ketan! Enak, enak, enak! Punel, Punel, Punel!” Pak Cethil berdendang gembira, kembali bekerja dengan dibantu Bu Loman.

photogrid_1464649381157.jpg

Sementara itu, si pengintip tadi menyelinap ke dalam dapur rumah lama Pak Cethil. Rupanya, ia seorang pencuri.

“Wah, aku tidak punya banyak waktu di sini. Pemilik rumah ada di dekat sini. Sebentar lagi, mereka pasti kembali. Sebaiknya, apa yang kuambil?”

Si pencuri memandang sekeliling dapur. Tidak ada yang menarik di sini, kecuali sebuah kukusan yang mengepulkan bau sedap di atas tungku. Pencuri itu membuka tutup kukusan menggunakan lap kain. Dalam kukusan itu tampaklah sebuah bakul bambu berisi buntalan daun pisang. Ketik si pencuri membuka buntalan daun pisang itu, ia melihat segumpal besar ketan putih punel yang sudah matang.

“Hmmm. Menggiurkan! Lumayanlah. Daripada tidak ada hasil.”

Si pencuri mengambil buntalan ketan beserta wadah bambunya. Lantas, ia mengambil sebuah batu pengganjal pintu yang tergeletak di dekat situ dan memasukkannya ke dalam kukusan. Ia pasang tutupnya kembali, lalu lekas-lekas kabur.

Tepat saat itu, Bu Loman berkata, “Pak, ayo pulang! Pasti sudah tanak ketannya.”

Pak Cethil segera berhenti bekerja. Ia buru-buru menuju rumah lama, masuk dapur, dan mencuci tangan.

“Biar aku yang buka, Bu! Biar aku yang pertama kali membuka kukusan. Ini ketanku!” Pak Cethil menepis tangan Bu Loman yang hendak membuka kukusan. Ia bahkan tidak mengucapkan terimakasih pada istrinya yang telah memasakkan ketan.

“Ketan, ketan, ketan! Enak, enak, enak! Punel, Punel, Punel!” Pak Cethil sengaja berseru keras-keras, supaya para tetangganya dengar bahwa hari ini ia akan pesta makan ketan!

Pak Cethil membuka tutup kukusan dengan gerakan pelan. Tapi, o-oh! Yang ia temukan bukan gumpalan ketan punel berwarna putih. Melainkan sebongkah batu kali warna hitam mengilap yang mengepulkan asap.

“B-bu…! Te-ternyata, ke-ketannya… jadi ba-batu!” pekik Pak Cethil amat terkejut. Brukk! Seketika itu, ia jatuh pingsan.

Begitulah kisah Pak Cethil yang kena batunya karena memiliki sifat kikir. Ia benar-benar mendapatkan sebongkah batu.

(Diceritakan kembali oleh Eryani Widyastuti)

photogrid_1464649054260.jpg

 

 

—————————————————————————–

Ingin membaca dongeng-dongeng lain? Klik di sini.

—————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s