Ketika Tuhan Memalingkan WajahNya


berpaling

Pria itu baru saja mati pada episode terbaik dalam hidupnya. Terkena serangan jantung karena terlalu gembira menerima penghargaan Karyawan Paling Berprestasi tahun ini.

“Bangun!”

Sebuah suara mengagetkannya. Pria itu membuka mata. Sejauh penglihatannya memandang, ia hanya menjumpai ruang hampa berlatar gelap yang tak bertepi. Semacam aurora kelabu keperakan yang tumbuh dari latar gelap itu, adalah satu-satunya penerang.

Lalu, kesadaran menghampiri pria itu.

Aku sudah mati? Ya, aku sudah mati! Ia bergumam sendiri. Gembira! Sebab tahu, bahwa hari keberuntungan terbesarnya telah tiba. Orang hebat dan sholeh seperti dirinya, apalagi balasan yang paling tepat selain kenikmatan surga? Sungai-sungai susu dan madu, buah-buahan siap petik, kemudaan dan kerupawanan fisik, bidadari-bidadari suci nan jelita…. semua untuk dirinya… semua akan ia reguk sebentar lagi.

“Jadi, apa yang telah kau lakukan di dunia sebelum habis masa hidupmu?”

Suara itu terdengar lagi. Tunggu dulu. Sebenarnya, ia tidak sedang mendengar apapun. Kelima inderanya tumpul. Bahkan ia tidak melihat ruangan ini dalam arti sebenarnya, seperti seseorang yang melihat dengan bola mata. Ini adalah indera-indera yang lain. Seolah batinnya yang memiliki mata, telinga, dan mulut. Suara itu juga terdengar oleh batinnya. Tak ada gelombang suara. Ia mendengar dan melihat dengan rasa!

“Tuhan!” Pria itu menyeru dengan suara batinnya.

“Jawablah pertanyaanKu tadi.” sahut Suara Tanpa Suara itu.

Pria itu tergelak lega. Bangga.

“Oh, saya adalah salah satu makhluk terbaikMu. Saya menjalani hidup dengan baik sekali. Sewaktu sekolah, saya adalah murid yang pintar dan sering memenangkan olimpiade. Lalu, saya bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan besar. Berbagai penghargaan prestisius saya terima karena kinerja saya yang bagus. Oya, saya punya istri yang cantik , anak-anak yang cerdas dan manis, dan teman-teman hebat serta menyenangkan.”

“Siapa yang menyuruhmu untuk bekerja di perusahaan itu? Aku tidak menciptakanmu ke dunia untuk menjadi akuntan perusahaan besar. Kau kuberi kemampuan untuk mudah menumbuhkan apa yang kau tanam di ladang. Tugasmu adalah mengelola tanah dan menanam.”

Rentetan Kalimat pembungkam yang dahsyat bagi pria itu. Ia tercenung, teringat masa kecilnya di desa. Betapa melimpah gelora semangat dalam pembuluh darahnya, ketika bapaknya yang seorang petani, mengajaknya turun ke sawah.

Suara Tanpa Suara itu berkata lagi. Tanpa kata-kata.

“Ingatkah proyek besar yang kau kerjakan dengan kawan-kawanmu dulu? Mengapa uangnya kau belikan Jaguar, apartemen, dan ruko? Rejeki itu Kuberikan padamu supaya kau membeli sawah dan mengelolanya. Setelah kau berhasil dengan lahanmu, Aku akan memberimu ilmu untuk membimbing anak-anak muda pengangguran di desamu. Mereka tak akan lagi menjadi pemabuk dan penjudi. Mereka akan menjadi petani-petani mandiri yang mampu menopang kehidupan sendiri dan keluarganya.”

Pria itu terkisap. Kebahagiaan menyelinap, bagai kekicauan burung yang menerobos jendela kamar tidur di pagi hari.  Membayangkan betapa anak-anak muda bertampang kusut yang sering ia jumpai main gaple di gardu saat dirinya mudik, akan menjadi pemuda-pemuda berwajah dan bermasa depan cerah. Matahari harapan bersinar kembali di desanya yang semakin pucat pasi tergerus urbanisasi dan modernisasi. Tapi, ia tak dapat mengulang keputusan yang telah putus. Penyesalan besar melubangi batinnya. Kemarahan menyeruak dari lubang itu.

“Bagaimana saya bisa tahu? Engkau tidak pernah memberitahu mengenai apa yang harus saya lakukan!”

“Aku memberitahumu. Lewat hobimu merawat taman di rumahmu yang besar itu. Aku memberitahumu lewat saudaramu dari desa yang menawarkan tanahnya untuk kau beli. Kau mengkonsultasikan setiap keputusan hidupmu pada logikamu, tapi bukan pada DiriKu. Kau tidak pernah bertanya padaKu untuk apa kau lahir di dunia ini. Kau tidak pernah mencarinya. Kau tidak pernah melihat ke dalam dan meneliti dirimu sendiri. Sesuatu yang kau sebut ‘mencari kebahagiaan’ sebenarnya adalah kamuflase untuk mencari kenikmatan hidup, bukan mencari Diriku. Sang Kebahagiaan Sejati.”

“Tapi ini semua juga takdirMu!” Pria itu mulai panik.

“Hei, Manusia! Kau memang terikat dalam takdirKu. Setiap pilihan yang kau buat, yang manapun itu, selalu bermuara pada takdir-takdirKu. Tapi dalam liputan Kuasa dan KehendakKu, Aku telah memberimu kebebasan untuk memilih. Pada setiap pilihan, telah Kusediakan takdirnya masing-masing. Apa yang telah kau pilih? Berusaha Kembali padaKu atau berusaha mempertahankan kenikmatan duniamu?”

“Tapi-tapi-tapi….” Pria itu mencoba membela diri. “Saya sudah bersyahadat, sholat, puasa, zakat, dan haji. Oh-oh-oh! Tidak hanya zakat! Saya bahkan bersedekah lebih banyak daripada orang-orang umum! Dan, haji? Hahaha, jangan Engkau tanya. Saya sudah sepuluh kali melakukannya!”

“Aku memang melihatmu beberapa kali di Mekkah. Bukankah kau selalu menyikut orang lain demi mencium Batu HitamKu? Hm, lalu sedekah-sedekahmu yang gila-gilaan…. itu bukanlah sedekah di MataKu. Kau hanya mencoba berdagang denganKu. Jika kau menyedekahkan mobilmu, dalam otakmu, kau menghitung perkalian berapa rupiah uang akan mengalir dariKu. Zakat, puasa, sholat, dan syahadatmu… Tak perlu Kuingatkan motif-motif tersembunyi di baliknya. Kau pasti sudah tahu.”

“Eh… tapi…. saya tetap masuk surga, kan? Engkau sudah berjanji dalam Kitab Suci…” tuntut pria itu agak segan.

“Masuklah ke dalam surgaKu. Itu yang paling kau inginkan, bukan? Tapi, jangan harap kau mendapatkan kenikmatan tertinggi.”

Pria itu linglung untuk beberapa lama. Kenikmatan tertinggi?

Apa yang lebih nikmat selain surga yang dipenuhi makanan minuman lezat, pemandangan indah, dan pelayanan para bidadari bermata jeli, wahai Tuhan?” tanyanya naif.

“Kenikmatan tertinggi bagi hamba-hambaKu…. adalah pertemuan mereka dengan WajahKu.”

Suara Tanpa Suara itu terasa menghentak relung pria itu. Warna kelabu keperakan yang menyerupai aurora itu lenyap dalam sekejap. Semua pekat. Hasrat pria itu terhadap kenikmatan surga mendadak sirna. Ia hampa dan tercekat.

Pertemuan dengan Yang Maha Indah…. Pemilik Surga dan Alam Semesta? Wajah Sang Ar-Rahmaan…. Ar-Rahiim…! Mengapa aku tak pernah menginginkanNya? Aku telah tertipu oleh nafsuku sendiri! Selama hidup di dunia, aku hanya terjebak angan pemuasan nafsu belaka!

Pria itu tak dapat melihatnya, namun ia tahu, Tuhan telah memalingkan WajahNya. Sebab, ia sendiri yang telah menolakNya terlebih dahulu.

 

(Eryani Widyastuti)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s