DONGENG ANAK: Petualangan Bersama Ayah


photogrid_1463753439855.jpg

Rio diajak Ayah pergi ke desa dengan mengendarai sepeda motor. Apakah mereka berhasil melewati rintangan yang menghadang?

Ayo, ikuti perjalanan Rio dan Ayah! 🙂

photogrid_1464649327246.jpg

“Pergi ke rumah Kakek dan Nenek di desa? Liburan nanti? Mau, mau!”

Sepasang mata Rio berbinar, saat Ayah mengejutkan dirinya dengan rencana yang sangat asyik itu. Rio belum pernah sekalipun pergi ke rumah Kakek dan Nenek. Biasanya, merekalah yang mengunjungi Rio kemari. Tapi, sudah dua bulan Rio tidak bertemu Kakek dan Nenek. Rio sudah rindu sekali pada mereka.

“Tapi…” Rio teringat sesuatu. “Kakek pernah cerita kalau jalan menuju rumahnya sulit dilewati mobil. Harus melewati jalan tanah, sempit, dan tidak beraspal. Jadi, bagaimana kita bisa pergi ke sana, Yah?”

“Kita akan mengendarai sepeda motor.” Ayah tersenyum lebar.

“Se-sepeda motor?” Mendengar kata sepeda motor, jantung Rio berdebum-debum. Rasa khawatir menyeruak.

“Apakah kita akan baik-baik saja pergi jauh tanpa mobil?” tanya Rio.

“Ya, mau bagaimana lagi? Naik motor lebih menguntungkan kita daripada naik mobil,” kata Ayah sambil tersenyum. “Kamu ingin bertemu Kakek dan Nenek?”

Rio berpikir sebentar. “Baiklah. Aku mau, Yah!” sahutnya lantang.

photogrid_1464649354655.jpg

Esok paginya, Rio dan Ayah sudah siap berangkat ke rumah Kakek dan Nenek. Rio tampak menguap. Semalam, Rio tidak bisa tidur. Ia tegang, menanti perjalanan ini. Apalagi ini pengalaman pertamanya. Ehm, semoga semuanya lancar, gumam Rio dalam hati.

Rumah Kakek dan Nenek terletak di desa Gandusari, Blitar. Dari Kediri, kota tempat tinggal Rio, kira-kira butuh 3 jam untuk sampai di sana. Dengan iringan doa dan lambaian tangan Ibu, Rio dan Ayah pun berangkat pada pukul 6 pagi.

“Di belakang aman?” Ayah setengah berteriak guna menyaingi deru sepeda motor. Setelah setengah jam perjalanan, mereka mencapai perbatasan terluar kota Kediri.

“Aman!” sahut Rio. Ia berpegangan erat pada pinggang Ayah. Ia merasa tegang berpapasan secara terbuka dengan banyak kendaraan. Seolah, kendaraan-kendaraan itu sengaja mendekat untuk menakuti-nakutinya.

Rasa tegang mulai berganti keasyikan begitu sepeda motor memasuki daerah bendungan Ir. Sutami. Jalanan aspal halus juga mulai berkelok-kelok tajam. Diapit jurang curam dan bukit hijau. Rio terpesona oleh pemandangan asri ini dan terbuai sejuknya angin. Ia merasa bebas. Bagai seekor burung terbang di udara.

“Kita menepi dulu.” kata Ayah tiba-tiba. Menghentikan sepeda motor di pinggir jalan. “Sampai di sini, Ayah lupa jalannya. Hahahaha.”

Semangat Rio langsung anjlok. “Kenapa tiba-tiba lupa jalan? Ayah kan sering ke Blitar.”

“Biasanya, Ayah lewat jalan lain.” Ayah mengeluarkan ponsel layar sentuh dari dalam saku. “Nah. Kita pakai peta digital, ya? Kamu jadi navigator. Ayah sudah pernah mengajarimu mengoperasikannya, kan?”

“Siap!” Rio menegakkan punggung. Ia bangga ditugasi Ayah sebagai navigator. Semangatnya terpompa kembali. “Ambil arah lurus hingga 500 meter. Lalu, belok kiri!”

photogrid_1464649366678.jpg

Rio dan Ayah melanjutkan perjalanan. Dengan petunjuk arah dari Rio, akhirnya sampailah mereka di jalan masuk desa Gandusari. Sawah padi membentang bak karpet hijau lembut. Pada tepiannya, mengalir selokan berair jernih. Tak seperti air selokan kota yang hitam, bau, dan digenangi sampah.

“Tempat ini asyik sekali, Yah! Aku suka!” seru Rio senang.

Ketika sepeda motor memasuki area persawahan yang sepi, jalanan menjadi semakin sempit dan berbatu-batu. Mendadak, laju sepeda motor menjadi aneh. Berat dan terseok-seok.

“Waduh, waduh, waduh…” keluh Ayah. “Ban kita bocor, Rio. Tolong bantu Ayah mendorong!”

photogrid_1464649381157.jpg

Di bawah sengatan matahari, Ayah mendorong setir sepeda motor. Sementara Rio mendorong dari belakang. Sekuat tenaga, hingga berpeluh deras. Sepeda motor Ayah terasa seberat monster alien!

“Uuh… mana ada tukang tambal ban di tengah sawah luas begini?” Rio mulai mengeluh. Setelah mendorong sepeda motor sejauh satu kilometer bersama Ayah, ia menjadi sangat lapar, haus, dan capek.

“Sabar sebentar… Ah! Itu dia!” seru Ayah lega.

Sebuah gubuk bambu bertuliskan TAMBAL BAN berada tak jauh di sana. Ketika Ayah dan Rio datang, seorang lelaki menyambut ramah. Dengan cekatan, ia menangani kebocoran ban. Sementara itu, Rio dan Ayah memilih menunggu di bawah pohon. Mereka membuka bekal dari Ibu. Nasi, tempe, tahu, sambal, dan sayur bening bayam.

“Ayah lapar! Kamu juga?”

Rio mengangguk-angguk. Tak butuh waktu lama, bekal buatan Ibu pun licin tandas.

“Ini adalah makanan terlezat yang pernah aku makan, Yah! Meskipun lauknya bukan daging dan telur ayam favoritku.” komentar Rio puas.

“Kakek pernah bilang. Lauk paling lezat adalah rasa lapar.” sahut Ayah. “Orang lapar tidak peduli, apakah makan tempe, tahu, telur, atau daging. Semua terasa lezat!”

“Kita benar-benar kelaparan! Hahaha!” Rio dan Ayah tergelak bersama.

Setelah ban sepeda motor selesai ditambal, mereka melanjutkan perjalanan. Ternyata, hanya perlu waktu setengah jam untuk sampai. Kakek dan Nenek kelihatan sangat gembira mendapatkan kejutan manis ini.

Usai melepas rindu dengan Kakek dan Nenek, Rio berbisik pada Ayah. “Kapan-kapan, kita coba petualangan lain ya, Yah!”

“Ayo, siapa takut!” jawab Ayah.

Rio senang sekali. “Ternyata tidak perlu takut mencoba hal baru ya, Yah! Apalagi ternyata tidak menakutkan seperti yang kita bayangkan,” kata Rio.

Ayah mengacungkan jempol pada Rio.

(Eryani Widyastuti)

photogrid_1464649054260.jpg

—————————————————————————–

Ingin membaca dongeng-dongeng lain? Klik di sini.

—————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s